#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
37.


__ADS_3

Dita dan Kei masih saling berpelukkan diatas trotoar. Dita masih terus menangis histeris.


"Sayang, kita masuk. Aku temani kamu malam ini?" ucap membujuk Kei.


Dita dengan menahan tangisnya mengangguk pelan.


Lalu perlahan Kei melepas pelukannya dan merogoh tas Dita untuk mencari kunci rumah wanita itu. Setelah membuka gerbang dan juga pintu rumah Dita, Kei kembali ke tempat Sang Kekasih dan menggendong Dita ala bridal style.


Di dudukkan Dita, di kursi meja makan dekat dapurnya.


Lalu Kei mengambilkan air putih untuk diberikan pada Dita.


"Diminum dulu...," ucap Kei sambil mengambil tangan Dita, agar wanita itu bisa menggenggam gelas yang diberikan oleh Kei.


Kei kemudian mengusap kedua pipi putih Dita dari air mata yang masih terus mengalir, sambil bersimpuh di depan wanita muda itu.


"Kei, Kei. Karla pasti akan kembali, pasti. Bams, kenapa? Kenapa dia masih saja jadi bayang - bayang dalam hidupku? Kei, apa jangan - jangan dia memang mengikuti selama ini? Tapi dimana? Dimana...," ucap Dita yang ketakutan dan putus asa, setelah selesai meminum air putihnya.


Kei mengambil gelas di tangan Dita. Lalu kembali memeluk gadis buta itu.


"Tenang sayang, nggak ada yang ngikutin kamu. Orang itu hanya mau menakut - nakuti mu. Selama ada aku, tidak ada yang akan berani menyentuhmu lagi. Sekarang kamu yang tenang, gimana kalau sekarang kamu mandi? Habis itu baru makan. Heum?" ucap Kei mencoba menenangkan dan membujuk Dita.


Lalu pria itu melepaskan pelukannya dari tubuh Dita, sambil kembali mengusap pipi gadis itu. Dita melihat kearah Kei, lalu diraba wajah Sang Kekasih.


"Kei, kamu. Kamu janji ya, jangan tinggalin aku. Tolong Kei...," ucap memohon Dita.


Kei dengan wajah sendunya terus menatap wajah Dita.


"Cup. Pasti. Jadi, kamu mau mandi sekarang sendiri atau mau aku mandikan, heum?" ucap menggoda dan jahil Kei, sambil mencium pipi Dita.


Plak...

__ADS_1


Plak...


Pukul Dita pada pundak pria itu.


"Kei, kamu genit." jawab Dita dengan sedikit senyum kemudian terkembang diwajahnya akibat ucapan jahil yang di dengarnya.


Kei pun tertawa saat melihat senyum tipis sudah terkembang di wajah Dita.


...----------------...


Saat Dita sedang mandi, Kei pun menyiapkan makan malam dan mengatur meja makan. Disela - sela itu, dia mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang. Tidak lama kemudian, ponsel pria muda itu bergetar.


Lalu Kei mengintip kearah kamar Dita dan kemudian dia keluar ke area teras rumah wanita itu. Lalu dia menggeser tombol jawab di ponselnya.


"Halo...," ucapnya pelan.


"Sore Tuan Bams, maaf. Maksud saya Kei. Kami sudah menyelidiki siapa orang yang mengancam Nona Dita selama ini. Dia adalah Nona Karla, gadis yang selalu bersama Tuan dulu dan juga Nona Karla serta keluarganya baru - baru ini melakukan pertemuan makan malam dengan kedua orang tua Tuan. Dimana, Tuan tidak bisa hadir waktu itu." jelas salah satu anak buah Bams/Kei.


"Halo, Halo Tuan...," panggil anak buahnya di seberang, karena tidak mendengar suara Kei di seberang.


"Ya, saya masih disini. Malam ini, kalian beri pelajaran pada Karla. Ingat, hanya buat di trauma. Jangan sampai terluka parah dan jangan sampai kalian ketahuan. Mengerti? Satu lagi, mulai sekarang. Kalian harus menjaga Dita 24 jam kemanapun, dimanapun dia berada." perintah Kei dengan tatapan tajamnya.


"Baik Tuan." jawab singkat orang suruhan Kei diseberang.


Lalu Kei menutup teleponnya dan digenggam erat ponselnya itu.


"Karla. Karla. Karla, iya - iya. Aku ingat sekarang, gadis berwajah angkuh dan juga egois itu. Dia selalu mengikuti ku kemana pun aku pergi. Berani - beraninya dia menyentuh Dita ku. Apa motivasinya?" gumam Kei dengan hati yang masih sangat kesal dan juga pertanyaan besar yang muncul di benaknya.


Disaat bersamaan, Dita yang sudah selesai mandi. Kemudian memanggil - manggil pria yang masih berdiri di teras itu. Lalu dengan cepat Kei memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan langsung masuk kembali ke dalam rumah.


...----------------...

__ADS_1


Hari ini Sarah sedang berada di taman villanya, setelah kejadian mabuk waktu itu. Dia memutuskan untuk mengasingkan diri sesaat ke villa milik keluarganya. Di taman itu dia melakukan hobi lamanya, yaitu melukis. Dengan dress panjang dan juga tatanan rambut kuncir kuda serta bandana warna pink pastel menghiasi rambut berkilaunya, gadis itu terlihat sangat manis. Sarah tidak sendiri, dia ditemani oleh Kevin dan beberapa pengawalnya yang lain. Saat itu, Kevin sedang menyirami bunga - bunga di taman itu atas perintah Sarah. Ternyata, Kevin dijadikan Sarah sebagai objek lukisannya.


Dengan gemulainya, dia mengulas kuas di atas kanvas yang awalnya putih, kini sudah terlihat kerangka gambar Kevin beserta bunga - bunga disekitarnya. Senyum terkembang di wajah Sarah, lalu dia mulai memilih cat - cat berwarna di sampingnya. Dengan lihai dia mulai mewarnai lukisan itu. Hingga dia tidak sadar, Kevin sudah berdiri di belakang kanvasnya.


"Nona, saya sudah selesai...," ucap Kevin dengan kedua tangan disilangkan di depan tubuhnya dan kepala yang sedikit tertunduk.


Sarah menghela napas dan kemudian meletakkan kuasnya dengan kasar, setelah dia mendengar ucapan Kevin. Lalu ditatap Kevin dengan tajam.


"Udah berapa kali aku bilang? Jangan panggil aku dengan kata " Nona". Kevin, kita disini cuman berdua. Nggak ada orang lain, tolong. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menurut sekali saja? Panggil aku seperti dulu, sewaktu kita kecil. Kamu selalu memperlakukanku seperti temanmu. Bisa kan...," ucap Sarah dengan emosi dan satu tarikan napasnya.


Kevin hanya terdiam.


Sarah terlihat semakin kesal, lalu gadis itu mengangguk - angguk.


"Baik. Sekarang kamu pergi, saya muak ngeliat muka kamu." ucap Sarah dengan kata - katanya yang menyakitkan.


Kevin yang selalu tenang, lalu undur diri tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Sepeninggal Kevin, Sarah lalu berhenti melukis. Dia mengambil cardigan yang diletakkan dibangku taman, lalu dia berjalan kearah pintu belakang taman yang juga merupakan salah satu pintu keluar vila. Dengan wajah memerah karena emosi, gadis itu berjalan tidak tentu arah. Hingga dia masuk ke dalam hutan, mendaki bukit. Tanpa memperhatikan ke sekitarnya, Sarah terus berjalan untuk menghilangkan rasa emosi di dirinya.


"Kevin brengsek. Ada apa dengannya? Sejak kapan, dia jadi sulit untuk diajak bicara? Sejak kapan pula, dia jadi asistenku? Aku sendiri lupa? Kenapa dia begitu kaku, padahal aku kira dia sudah berubah, saat dia membelaku di depan Papa? Cih, dasar. Akh....," ucapan emosi Sarah berubah menjadi teriakannya.


Ketika tiba - tiba dia terperosok di sebuah jebakan yang dibuat oleh petani sekitar. Dia terjatuh disebuah lubang besar, lalu gadis itu berusaha untuk berdiri namun, tidak berhasil karena luka sobek di lutut hingga betisnya cukup panjang dan lebar. Ditambah pergelangan kakinya yang seperti terkilir.


"Tolong. Tolong, Kevin...," teriaknya dari dalam lubang.


Beberapa kali dicobanya berteriak hingga suaranya serak, namun ternyata tidak ada yang mendengar. Sarah akhirnya jatuh terduduk, sambil bersandar di dinding tanah jebakan itu. Air mata Sarah mulai muncul dan kini dia duduk dengan satu kaki yang diluruskan dan satunya di tekuk. Dia menenggelamkan wajahnya diatas lutut.


"Tidak ada yang mendengar ku. Hari mulai gelap, sebentar lagi juga akan turun hujan. Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini. Hiks. Hamba belum mau mati sekarang. Kevin, tolong aku...," ucap dan doa Sarah dalam tangisnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2