#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
21.


__ADS_3

Supir pribadi Darius yang sekaligus adalah bodyguardnya, tidak sengaja melihat kearah kaca spion belakang. Matanya mendapati Sang Majikan yang sedikit tertunduk, serta wajahnya yang menahan rasa sakit.


"Tuan Muda. Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya khawatir pria cukup kekar itu pada Darius.


Lalu Darius memandang ke arah kaca spion.


"Ohhh. Tidak - tidak, saya hanya merasa pegal, karena terlalu banyak bekerja. Beritahu saya, jika kita sudah akan sampai. Saya ingin memejamkan mata sebentar." jelas Darius berkilah, dia berhenti memegangi dadanya. Ditahan rasa sakit dan panas di dadanya, sambil dia memejamkan mata untuk berusaha mengurangi rasa tidak nyaman itu.


"Kinanti. Aku seperti pernah mendengar namanya dan juga. Seperti pernah mengenal dia, tapi dimana?" batinnya Darius, saat mengingat nama asisten di kantor barunya.


"Akh, pasti hanya perasaanku saja." batinnya lagi, kini sambil menggelengkan kepalanya.


Lalu Darius memutuskan untuk benar - benar beristirahat, hingga dia sudah tertidur pulas.


Tibalah dia di alam mimpi.


Di dalam alam mimpinya, Darius berada di sebuah pada rumput yang sangat luas. Dia berjalan menyibak rerumputan yang sangat hijau dan indah. Angin sepoi - sepoi mengibas - ngibaskan rambut lurus lemas dan agak panjang miliknya.


Pemuda itu terus berjalan hingga sampai di dekat sebuah bangku kayu panjang, menghadap ke sebuah pohon besar.


"Hahhhh. Sungguh pemandangan dan udara yang menyegarkan juga menenangkan." ucap Darius sambil merentangkan kedua tangannya, ketika sudah duduk di bangku tersebut dan sudah menikmati udara di sekitarannya.


Tidak lama kemudian, tiba - tiba telinganya mendengar suara tawa riang dari seseorang.


Lalu perlahan Darius menurunkan kedua tangannya, dia celingukan ke kiri dan kanan di padang rumput yang sangat luas itu.


Namun tidak ditemukan orang lain, selain dirinya. Pemuda itu pun penasaran, karena masih terus mendengar suara tawa ceria itu. Lalu dia bangun dan memutuskan berjalan kearah sebelah kanan dirinya, dia berjalan lurus terus yang Darius sendiri tidak tau ujung dari padang rumput itu.


Hingga setelah berjalan cukup jauh, dia melihat sebuah pagar kayu rendah yang membatasi dirinya dengan seseorang di depannya.


"Seorang, perempuan?" ucap Darius, setelah melihat seorang perempuan dengan dress selutut, rambut panjang agak bergelombangnya dan juga sebuah topi lebar yang dikenakannya. Perempuan itu sedang menggendong seekor domba kecil, sambil mengajaknya berdansa.


Darius pun memicingkan matanya, guna melihat wajah sang perempuan. Namun tidak berhasil, karena wajah perempuan itu sangat buram. Lalu dia memutuskan untuk mencoba memanjat pagar pembatas di depannya.


Dugh...


Suara kakinya yang membentur sebuah pembatas tidak terlihat. Betapa terkejutnya dia, ternyata ada sebuah tembok pembatas tidak terlihat yang membatasi dirinya, pagar kayu dan juga perempuan itu.


Dugh...


Dugh...


Dugh...

__ADS_1


Suara tangan Darius yang mulai memukul - mukul tembok itu, guna menarik perhatian Si Perempuan. Namun, nampaknya Si Perempuan itu kunjung menyadarinya. Karena semakin Darius memukul tembok itu, Si Perempuan malah tiba - tiba pergi menjauh.


"Hei. Tunggu, Tunggu. Jangan, jangan pergi dulu. Hei." teriak Darius sambil terus memukul tembok tak kasat mata itu.


Di dalam dunia nyata.


Ternyata Darius masih ada di dalam mobil. Namun mobil itu sudah berhenti, Si Bodyguard pun terkejut dengan kondisi Darius yang tertidur pulas dan sambil mengigau.


"Tuan. Tuan. Tuan Darius." panggil pelan pria kekar itu dari balik kemudinya dengan sudah menoleh kearah Sang Majikan dan menggoyang pelan lutut Darius.


Namun Darius tidak kunjung bangun dan masih juga mengigau.


"Jangan, jangan. Jangan pergi. Hei, jangan...," suara mengigau Darius terhenti, ketika suara teriakan keras memanggil dirinya, tiba - tiba terdengar di telinganya.


"Tuan. Tuan Darius. Bangun. Tuan. Tuan." teriak Si Bodyguard sambil menggoyangkan hebat lutut pemuda tampan itu.


Mata Darius terbuka dengan tiba - tiba, peluh sudah muncul di beberapa bagian wajahnya.


"Ohhh. Apakah kita sudah sampai?" ucap Darius dengan mata yang masih merah.


"Iya Tuan, kita sudah sampai." jawab pria kekar itu, yang kemudian segera berjalan keluar guna membukakan pintu untuk Sang Majikan.


Darius sendiri segera membenahi penampilannya dan menarik napasnya sesaat, sebelum akhirnya turun.


Lalu dia mengancing jas yang digunakannya, sebelum akhirnya dia masuk ke sebuah gedung tinggi menjulang dengan tubuh tegap, wajah kaku namun tampannya.


Pemuda itu terus berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit tersebut, di dalamnya terdapat sebuah lobi luas telah menyambut dirinya juga dengan beberapa orang staff yang sedang berada disana. Darius menuju ke salah satu liftnya, setelah masuk ke dalam kotak besi tersebut. Dia langsung memencet sebuah tombol untuk menuju ke sebuah lantai.


Ting...


Suara lift yang sudah sampai di lantai tujuan pemuda tampan itu.


Darius berjalan keluar, setelah berbelok ke kiri, dia bertemu dengan sebuah meja resepsionis yang sangat panjang. Seorang gadis tinggi, cantik dengan dandanan minimalis menyambutnya. Darius berhenti di depannya.


"Selamat Siang Tuan Muda Darius. Silahkan Tuan. Tuan Mauris sudah menunggu." ucap gadis tersebut, lalu membukakan sebuah pintu kaca dengan cara memencet sebuah tombol di mejanya.


Darius hanya mengangguk dan langsung segera masuk, untuk melanjutkan langkah tujuannya.


Dia terus berjalan dengan pemandangan, sepanjang lorong meja - meja bawahan Sang Kakak. Darius bertemu dengan beberapa karyawan yang menyadari kehadirannya, mereka lalu sedikit menunduk dan menyapa sopan Darius. Pemuda itu hanya mengangguk, sebagai balasan sapaan para pekerja disana.


Tok...


Tok...

__ADS_1


Tok...


Suara ketukannya pada pintu ruangan Sang Kakak berada.


Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Darius langsung masuk.


Ceklek...


Suara gagang pintu yang dibuka, dengan masih menunduk Darius kemudian masuk dan segera menutup pintu tersebut.


Lalu saat dia mendongak, betapa terkejutnya dia melihat Sang Kakak sedang bermesraan dengan seorang gadis. Mereka sedang berciuman sangat panas, Si Gadis yang sudah dipangku oleh Mauris. Mereka bahkan sampai tidak menyadari kedatangan Darius.


"Ehem." deham keras Darius.


Lalu bibir Si Perempuan melepas tiba - tiba ******* panas Mauris dan menoleh kearah asal suara. Dengan segera dia loncat turun dari pangkuan Mauris, perempuan itu membalik tubuhnya ke kaca jendela di belakang meja Mauris guna membenahi pakaiannya yang juga sudah sedikit terbuka, beberapa kancingnya. Juga menyisir rambutnya dengan jemarinya.


"Pak. Pak Mauris. Saya, saya permisi dulu. Ingat untuk segera di tanda tangani file - file ini Pak, sebelum nanti akan saya ambil kembali." ucap perempuan itu terbata dan segera berlalu dari hadapan Mauris juga berjalan menunduk saat melewati Darius, karena menahan malunya.


Darius terus menatap tajam kearah perempuan itu, hingga dia menghilang keluar ruangan Sang Atasan.


"Ck. Darius - Darius, my little man. Kamu ya, kebiasaan. Nggak tunggu jawaban kakak dulu, main masuk - masuk aja. Ahhh, padahal kakak belum ngapa - ngapain dia. Ckckckckck. Malang bener, nasibku hari ini." ucap Mauris sambil membenahi pakaian dan juga tatanan rambutnya, setelah permainan bibir yang dilakukannya dengan salah satu bawahannya itu usai.


Darius kemudian melepas satu kancing jas dan langsung duduk di bangku depan meja Sang Kakak.


"Sampai kapan kakak mau main - main dengan wanita - wanita rendahan seperti mereka? Terlebih yang tadi adalah satu satu bawahanmu. Heum? Segeralah menikah. Berbuat hal mesum seperti tadi dengan istri kakak jauh lebih nikmat. Ketimbang wanita - wanita tidak jelas seperti mereka." ucap Darius memberi saran.


Mauris kemudian menatap terheran kearah Sang Adik.


"Hahaha. Wah - wah. Udara Eropa, sudah merubah adik kecilku, menjadi pria dewasa yang berpikiran lurus. Hahaha." ucap Mauris lagi dengan tawa menggelegar nya, beberapa kali saat mengejek Sang Adik.


"Well, dek. Kakak rasa, setelah ini kamu yang masih perjaka ini. Tidak akan bisa menahan kesucianmu lagi. Kakak akan memperkenalkan mu dengan seseorang." ucap Mauris dengan senyum miringnya.


Satu alis Darius naik, karena bingung pernyataan Sang kakak.


Kemudian terdengar suara ketukkan pintu lagi.


"Masuk." jawab Mauris.


Lalu seseorang masuk dengan suara pijakan sepatu heelsnya terdengar tajam.


Senyum Mauris berubah menjadi lebar, mempesona dan juga cerah, saat melihat sosok yang masuk ke ruangannya itu.


Darius lalu memutar kursinya, mengikuti arah pandang Sang Kakak. Matanya memicing saat mencoba mengenali orang yang sudah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Siapa dia?" batin Darius bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2