
Mendekati lokasi selanjutnya, Zhang pun memecah keheningan dalam perjalanan. Ia pun berkata, “Lokasi selanjutnya adalah Hutan Bambu Nan Gu. Kita harus berhati-hati ketika memasuki hutan itu.”
“Benar. Hutan itu dikuasai oleh Pendekar Guzheng Berdarah,” Jiao menyambung.
Meskipun Shuwan sudah mengetahui jalan ceritanya, tapi ia masih sempat-sempatnya untuk bergurau dengan mengatakan, “Guzheng? Sejak kapan hutan menjadi tempat pertunjukan musik?”
Zhang pun kemudian memperingatkan Shuwan, “Hei, Shuwan, tidak bisakah sedikit serius? Dia bukan sembarang pendekar. Apa kau tahu itu?”
Jiao pun sedikit menjelaskan, “Pendekar hutan bambu itu dikenal dengan julukan ‘Pendekar Guzheng Berdarah.’ Siapa pun yang mendengar petikan Guzheng pendekar itu ia akan mati.”
“Aku pernah menyaksikan secara langsung pertarungan pendekar Guzheng dengan seorang pengembara seperti kita. Yah, meskipun setelah pertarungan itu aku sempat berhadapan dengannya. Tapi akhirnya aku berhasil lolos dan melarikan diri dari sana.
Mulanya pengembara itu bermaksud merebut Guzheng milik pendekar itu, tapi ia tewas karena tidak sanggup menahan kekuatan dari Guzheng itu.
Ketika pendekar itu memainkan Guzhengnya, aku seperti melihat ada kekuatan gelap yang mengelilinginya, dan setiap petikannya dapat membuat orang gila karena suaranya. Setelah lawannya lemah karena gila, ia akan membunuhnya dengan memainkan lagu selanjutnya. Petikan dari lagu kedua inilah yang akan berubah menjadi jarum-jarum beracun untuk menghabisi lawannya.”
“Karena hal itu juga, Hutan Bambu Nan Gu ini disebut sebagai ‘Hutan Ranjau.’ Jika kita bisa mengalahkan pendekar itu, kita bisa melewati hutan bambu dengan selamat. Tapi jika kita yang dikalahkannya, maka kita akan bernasib sama dengan pengembara itu,” jelas Zhang.
Shuwan menanggapi cerita kedua temannya itu, ia mengatakan, “Kekuatan yang muncul ketika memainkan Guzheng? Bukankah itu artinya titik kelemahannya juga ada pada Guzheng itu sendiri? Mengapa tidak menghancurkannya saja?”
Zhang menghela napas dan menjawab pertanyaan Shuwan, “Jangankan untuk menghancurkan Guzhengnya, untuk menyentuhnya pun juga sangat sulit.”
Shuwan pun tenggelam dalam lamunannya. Cerita dalam buku merah menjelaskan bahwa Pendekar Guzheng itu mati di tangan Zhang. Zhang bisa menghadapinya. Tapi pendekar itu menjadi pembunuh karena terpengaruh oleh sihir hitam dari Guzheng itu. Jika bisa menyelamatkannya akan lebih baik. Aku harus bisa menyelamatkannya dan mengubah akhir dari cerita ini.
“Mungkin aku bisa menyelesaikan permasalahan ini, jika aku bisa melihat secara langsung seperti apa kekuatan dari Guzheng itu,” kata Shuwan.
Zhang seakan tidak percaya pada perkataan Shuwan, dan ia pun melemparkan pertanyaan padanya, “Menyelesaikannya? Apa rencanamu?”
“Bisa berhenti sebentar? Aku akan menjelaskan rencananya pada kalian.”
Mereka pun berhenti sejenak untuk menyusun rencana sebelum memasuki Hutan Bambu Nan Gu.
Shuwan menjelaskan secara detail rencananya pada Zhang dan Jiao.
Sesampainya di hutan bambu, Zhang dan Jiao masuk terlebih dahulu dengan mengendarai kuda. Sedangkan Shuwan, masuk setelah mereka dengan berjalan kaki. Ia berjalan perlahan agar keberadaannya tidak disadari.
Tepat setelah Zhang dan Jiao masuk ke dalam hutan, Pendekar Guzheng Berdarah itu pun muncul. Pendekar itu turun dari atas rimbunnya pohon bambu, dan langsung berhadapan dengan mereka.
Rupanya Pendekar Guzheng Berdarah itu adalah seorang perempuan. Ini adalah kali pertama Zhang dan Shuwan bertemu dengannya. Sedangkan bagi Jiao, ini adalah kali kedua bertemu dengan pendekar itu.
“Rupanya kau lagi, Gadis Kecil?” ucap Pendekar Guzheng Berdarah yang mengenali Jiao.
Jiao membalas perkataan perempuan itu, “Kita bertemu lagi, Zhi Ruo.”
“Heh, apa kalian berusaha melewati hutan bambu ini? Jangan harap kalian akan keluar dengan selamat!”
Pendekar Guzheng itu pun langsung maju menyerang Zhang dan Jiao, namun mereka bisa menghidarinya.
Petikan lagu pertama Pendekar Guzheng Berdarah tidak bisa mempengaruhi mereka, hanya membuat mereka sedikit sakit kepala karena gelombang suara yang dihasilkan dari petikan Guzheng.
Sesuai rencana, Zhang dan Jiao pura-pura terpengaruh oleh petikan Guzheng, dan ini membuat Zhi Ruo sang Pendekar Guzheng Berdarah tertawa puas. Ia pun bersiap memainkan lagu kedua dengan Guzheng nya.
Ketika Guzheng telah dipetik dan jarum-jarum beracun telah keluar, Zhang dan Jiao berhasil menghindar. Secara bersamaan, muncul jarum dari arah berlawanan yang menahan jarum-jarum beracun itu hingga akhirnya kedua jarum berlawanan arah itu terjatuh ke tanah.
“Siapa yang berani mengacaukan permainanku?” teriak Zhi Ruo.
“Itu adalah aku,” ucap Shuwan dari balik pepohonan.
Shuwan pun muncul dari arah Zhang dan Jiao memasuki hutan. Kemudian ia pun tersenyum melihat kegagalan Pendekar Guzheng Berdarah memainkan lagu nya.
***
Sebelumnya...
__ADS_1
“Apa kau gila? Ini terlalu berisiko!” kata Zhang yang khawatir dengan rencana Shuwan.
“Benar yang dikatakan Zhang. Bagaimana bisa kau mencoba menyelamatkan penjahat yang telah banyak membunuh orang?” sambung Jiao.
Dengan tenang Shuwan menjelaskan maksud dari rencananya, “Yang bersalah bukan orangnya, melainkan Guzheng yang memiliki kekuatan iblis itu. Sepertinya kalian sudah termakan dengan api kebencian. Apa kalian tahu, jika kalian membalas kebencian dengan kebencian maka tidak akan ada akhir yang damai? Kalau demikian yang terjadi, rantai kebencian di antara manusia tidak akan bisa terputus. Ia hanya akan melahirkan kebencian lain yang semakin besar.”
Zhang dan Jiao hanya terdiam, hal yang dikatakan Shuwan sepertinya telah membuka pikiran dan hati mereka.
Shuwan pun melanjutkan pembahasan rencananya, “Kalian bisa menjadi umpan untuk memancingnya keluar. Ketika serangan itu dia luncurkan, aku yang akan menghadapinya.”
“Tapi bagaimana menghadapi suara dari Guzheng itu?” tanya Jiao.
“Itu mudah. Aku akan membuat penyumbat telinga dengan kapas yang ada di kantong obatku.”
“Penyumbat telinga?” ucap Zhang dan Jiao bersamaan karena tidak tahu apa itu penyumbat telinga.
“Benar. Jiao bilang jika Guzheng itu mengeluarkan kekuatan gelap dan bisa membuat orang yang mendengarnya jadi gila. Dengan menggunakan penyumbat telinga yang aku buat, kita bisa menghalangi suara itu masuk ke saraf melalui telinga. Khawatirnya, bukan hanya efek suara tapi juga pengaruh racun yang dibawa bersama udara ketika Guzheng dimainkan. Jadi, penyumbat telinga ini berfungsi menjadi penyaring, sehingga baik udara maupun suara tidak masuk ke telinga secara langsung,” terang Shuwan.
Zhang pun memuji ide Shuwan untuk membuat penyumbat telinga, “Itu ide yang bagus!”
Shuwan pun melanjutkan pembahasan rencananya, “Setelah kalian berhadapan langsung dengan Pendekar Guzheng itu, ikuti alur permainannya. Ketika ia meluncurkan permainan keduanya, aku akan muncul untuk berhadapan langsung dengannya.”
“Apa kau tidak khawatir jika sesuatu menimpamu?” ucap Zhang khawatir dengan Shuwan.
Shuwan tersenyum dan berkata, “Kenapa aku harus khawatir? Kan ada kalian berdua.”
“Kalau begitu berhati-hatilah,” kata Zhang.
“Baiklah, Zhang. Jika aku butuh bantuan, kalian harus menolongku, ya?”
“Kau tenang saja, ada aku, Zhang yang gagah dan perkasa yang akan melindungimu.”
“Huh... Percaya diri sekali!”
Jiao yang menyaksikan Zhang dan Shuwan berdebat pun hanya tertawa, dalam hatinya ia berbisik, semoga Dewa Jodoh berada dipihakku untuk bisa menjodohkan mereka berdua.
Jiao pun menaggapi, “Tidak apa-apa Shuwan, lagi pula ini demi kebaikan kita sendiri.”
Zhang menyambung dan berkata, “Benar yang dikatakan Jiao. Kita melakukan ini demi kebaikan diri kita sendiri juga, jadi kamu tidak perlu minta maaf.”
“Terima kasih.”
Zhang dan Jiao pun masuk ke dalam hutan bambu dengan menunggangi kuda. Shuwan mengikuti mereka di belakang dengan berjalan kaki.
***
Jadi ini Pendekar Guzheng Berdarah itu? Guzheng itu... Harus segera dimusnahkan! batin Shuwan.
“Kau sudah berani merusak rencanaku, dan sekarang rasakanlah akibatnya!” teriak Zhi Ruo yang langsung memainkan Guzhengnya.
Shuwan pun tidak bergeming dengan permainan Zhi Ruo. Hingga Zhi Ruo selesai memainkan lagu pertamanya, ia berkata, “Bagaimana mungkin kau tidak terpengaruh oleh permainanku?”
“Kenapa aku harus terpengaruh oleh permainan jelekmu itu?” ucap Shuwan memprovokasi.
Zhang yang berada di sisi lain pun mengatai Shuwan, “Shuwan bodoh! Kenapa dia malah memprovokasinya? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?”
“Kau tenanglah. Shuwan memprovokasinya dengan tujuan untuk mengacaukan permainan Zhi Ruo. Ketika emosinya terpancing, ia akan marah dan kehilangan fokus untuk memainkan lagu selanjutnya. Begitulah taktik yang dilakukan Shuwan,” terang Jiao.
“Tidak kusangka kalau dia memiliki pikiran yang begitu licik, tapi aku suka,” kata Zhang.
Bukankah sejak awal kamu memang menyukainya? Batin Jiao sambil tertawa kecil.
Kembali ke pertarungan Shuwan dengan Zhi Ruo.
__ADS_1
“Kurang ajar! Kalau begitu rasakan ini...”
Zhi Ruo pun memainkan lagu keduanya, jarum-jarum beracun pun keluar dan mengarah ke Shuwan. Tapi Shuwan dan membalikkannya dengan melempar jarum-jarum miliknya.
Zhi Ruo menghindar dari serangan balik Shuwan. Pertarungan sengit pun terjadi di antara mereka. Hingga tenaga mereka berdua pun terkuras karena pertarungan ini.
Kemudian Shuwan berkata, “Sebaiknya hentikan pertarungan ini, dan bertobatlah selagi kau masih memiliki kesempatan hidup.”
“Diam kau! Aku tidak butuh ceramahmu! Aku akan menghabisimu sekarang juga!”
Zhi Ruo kembali meluncurkan serangan, tapi ia kalah cepat dari Shuwan.
Shuwan memang bertarung dengan memanfaatkan kecepatan yang ia peroleh dari hasil latihan fisik yang rutin ia lakukan. Selain itu, dia mampu menembus pertahanan lawan melalui titik buta mata lawannya.
Sehingga Shuwan pun berhasil menghentikan serangan Zhi Ruo dengan menotok titik lemahnya dengan memanfaatkan titik buta mata Zhi Ruo.
Akibatnya Zhi Ruo pun tidak bisa bergerak akibat totokan Shuwan.
Shuwan kemudian mengambil Guzheng milik Zhi Ruo dan berkata, “Mereka yang terikat dengan aliran ilmu hitam selamanya akan terjerat di sana. Satu-satunya agar selamat adalah dengan menghancurkan pusakanya dan bertobat pada Yang Maha Kuasa.”
Sementara itu Zhi Ruo masih berusaha melepaskan diri dari totokan Shuwan untuk menyelamatkan Guzhengnya, tapi semua itu sudah terlambat. Setelah mengambil Guzheng dari tangan Zhi Ruo, Shuwan pun menghancurkannya dengan Pedang Hitam miliknnya.
Seketika Zhi Ruo pun terkulai lemas, dan tumbang. Kekuatannya sudah hilang bersamaan dengan hancurnya Guzheng miliknya itu. Kemudian Shuwan mendekati Zhi Ruo, dan memfokuskan kekuatannya untuk memasang segel di tubuh Zhi Ruo untuk melepaskan kekuatan gelap yang tersisa di tubuh Zhi Ruo.
Zhi Ruo sempat memberontak, ia berkata, “Apa yang kau lakukan? Lepaskan!”
Namun Shuwan tidak menanggapinya. Tangan Shuwan menyentuh kening Zhi Ruo, dan ia pun mulai fokus membaca mantra. Perlahan segel itu muncul di kening Zhi Ruo, dan membuat Zhi Ruo berteriak kesakitan.
Zhang dan Jiao hanya terpaku menyaksikan apa yang sedang dilakukan Shuwan.
Segel itu bersinar, dan secara perlahan kekuatan gelap yang tersisa keluar dari tubuh Zhi Ruo. Zhi Ruo pun semakin lemas dibuatnya.
“Kau.. Kau menghancurkan hidupku..!” teriak Zhi Ruo seraya menangis karena apa yang dilakukan Shuwan dianggap telah menghancurkannya.
“Aku menyelamatkanmu dari kekuatan gelap yang telah menghitamkan hatimu itu. Dengan begin, kau bisa bertobat dan menjalani kehidupan yang baru. Apakah kau tidak ingin hidup seperti orang normal lainnya? Kau masih bisa melakukan banyak kebaikan untuk mengobati rasa sakit yang telah kau derita selama ini.”
Zhi Ruo yang mendengarkan perkataan Shuwan hanya menangis. Perkataan Shuwan telah mengingatkannya pada janji yang ia punya pada mendiang adiknya, bahwa adiknya ingin ia hidup dengan tenang tanpa melakukan kejahatan lagi hanya untuk mendapatkan uang.
“Kami akan mengantarkanmu ke kuil, agar kau bsia lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dan menebus semua dosamu pada orang-orang yang telah kamu habisi. Dengan begitu, hidupmu akan kembali tenang.”
Zhi Ruo mengangguk tanda setuju.
Zhang dan Jiao yang sedari tadi menyaksikan pertarungan Shuwan pun berlari mendekatinya.
Mereka pun bergegas mencari kuil yang dirasa aman untuk Zhi Ruo tinggal dan menebus dosanya. Setelah sampai disebuah kuil di tepi sebuah lembah. Tempatnya asri, dan menenangkan. Kuil itu bernama kuil Chang Ling.
Setelah masuk, Shuwan membicarakan maksud dan tujuan kedatangannya pada kepala biarawan. Kepala biarawan pun menyetujuinya dan berjanji akan menjaga Zhi Ruo.
“Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini. Aku juga sudah meminta izin kepada kepala biarawan,” ucap Shuwan dengan lembut.
“Terima kasih banyak. Jika tidak ada kalia, mungkin aku akan tetap menjadi seorang pembunuh. Kalau boleh tahu, siapa kalian?”
“Namaku Lin Shuwan, panggil saja aku Shuwan. Kedua temanku itu, Zhang dan Jiao.”
Zhang dan Jiao pun tersenyum sambil melambaikan tangan pada Zhi Ruo. Zhi Ruo pun kembali membalas senyuman Zhang dan Jiao.
Zhang pun mendekat dan berkata, “Karena hari sudah petang, bagaimana jika kita menginap di sini dan melanjutkan perjalanan besok?”
“Benar yang dikatakan Zhang. Kau juga terlihat kelelahan setelah bertarung dengan Zhi Ruo, Shuwan,” ucap Jiao.
“Baiklah kalau begitu, kita akan bermalam di sini.”
Tidak ada balas dendam terbaik selain menjadikan diri lebih baik lagi. Selagi masih diberi kesempatan hidup, kenapa tidak berbuat kebaikan untuk menebus dosa? Meski jalannya sulit, jika mau berusaha, pasti bisa mencapainya. Tidak ada kata terlambat selama ada kemauan untuk berubah seburuk apapun masa lalunya.
__ADS_1
Dengan bertobatnya Zhi Ruo, maka berakhirlah juga kisah Pendekar Guzheng Berdarah.
Sedangkan perjalanan panjang Shuwan, Zhang dan Jiao menuju Negeri Awan pun masih berlanjut.