1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Bersahabat dengan Kematian


__ADS_3

Andai aku bisa bersahabat dengan kematian


Maka aku ingin pergi dengan cara yang paling tidak menyakitkan


Andai aku bisa bersahabat dengan kematian


Maka aku ingin pergi dengan penuh arti dan kedamaian


---


Shuwan masih bertahan dalam lilitan perempuan setengah ular itu.


Apakah... Benar-benar tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghabisi siluman ini? Aku sangat tidak ingin mati dengan cara seperti ini.


Tampak darah segar mengalir dari mulut Shuwan. Luka dalam yang dideritanya ternyata kembali memburuk. Perempuan setengah ular itu semakin puas melihat penderitaan Shuwan.


“Kau sudah lemah seperti ini, sebaiknya segera serahkan benda itu padaku!”


“Jika aku menyerahkannya padamu, bukankah artinya aku sama jahatnya denganmu?”


Siluman itu tampak kesal. Matanya melotot setelah mendengar ucapan Shuwan.


“Beraninya kau!”


Greb...


Shuwan menjadi semakin tak berdaya. Sangat jelas terasa bahwa tubuhnya kini hancur oleh lilitan siluman ular yang semakin kuat mengikatnya.


"Uhuk!!!"


Shuwan terbatuk, ia kembali memuntahkan darah segar yang tak sedikit lagi jumlahnya. Luka dalamnya tampak begitu parah. Pandangannya pun seakan mulai kabur.


Dalam kepasrahannya, tiba-tiba saja Shuwan mendapatkan sebuah ide untuk menghabisi perempuan jadi-jadian itu.


“K-kau menginginkan Air Mata Naga bukan? Baiklah, aku akan memberikannya padamu.”


“Hahaha! Akhirnya kau tahu apa yang harus segera kau lakukan sebelum ajal menjemput,” permpuan itu kegirangan melihat Shuwan yang akhirnya akan menyerahkan benda yang sangat diinginkannya itu.


“Tapi, kau harus melonggarkan lilitanmu terlebih dahulu,” pinta Shuwan.


“Kenapa aku harus melakukannya? Bagaimana jika kau tiba-tiba saja berbalik menyerangku setelah aku melonggarkan lilitan itu?”


“Jadi, kau tidak mau melakukannya? Baiklah. Tidak apa jika kau sudah tidak menginginkan benda itu lagi. Kalau aku mati, maka benda itu juga akan kubawa ke alam akhirat.”


Wajah siluman itu berubah. Sejenak ia memutarkan bola matanya, berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, agar tidak salah langkah dalam menghadapi permintaan Shuwan.


“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta. Tapi, jika kau berbuat macam-macam, maka akan aku hancurkan langsung tubuhmu tanpa ampun!” ancam siluman itu.


Lilitan yang melingkar di tubuh Shuwan perlahan melonggar. Kini ia bisa sedikit merasakan tubuhnya.


Shuwan langsung menengadahkan tangan, berusaha memantik kekuatannya untuk mengeluarkan benda itu. Tidak lama, cahaya keluar dari tangan mungilnya, dan perlahan meredup menampilkan sebuah botol kristal mini berisikan Air Mata Naga.


“Bagus, bagus.” Siluman itu pun langsung mendekati Shuwan tanpa pikir panjang. Ia mengambil botol itu dari tangan Shuwan.

__ADS_1


Baru saja siluman itu bereuforia karena berhasil mendapatkan ramuan langka, sekarang tiba gilirannya bertarung dengan kematian.


Jlebb...


Shuwan menancapkan sebuah tusuk rambut emas yang diberikan oleh Ying Jie tepat ke dada kiri siluman perempuan itu. Ia mengambil tusuk itu dengan cepat dari dalam bajunya.


---


Flashback on


Di dalam ruang tengah kediaman Ying Jie.


“Shu’er,” Ying Jie memanggilnya dengan suara yang lembut.


“Hm?”


“Aku ingin memberikan sesuatu untukmu,” kata Ying Jie seraya menyerahkan sebuah kotak berwarna putih pada Shuwan.


“Apa ini?” tanya Shuwan karena penasaran. Kotak apa ini? Apakah dia memberikanku ramuan herbal termahal dan paling langka? Batin Shuwan merasa kegirangan membayangkan apa yang ada di dalam kotak itu.


“Kau buka saja.”


Shuwan langsung membuka kotak itu. Seketika tampak raut kekecewaan di wajahnya.


“Tusuk rambut? Kenapa kau memberikan barang seperti ini padaku?”


“Aku pikir, kau akan sangat cantik menggunakannya ketika kau mengenakan pakaian wanita. Jadi aku memberikannya padamu. Selain itu juga, benda itu adalah pemberian almarhum ibuku. Katanya, aku boleh memberikan benda itu pada wanita yang aku sukai.”


“Begitu rupanya.” Shuwan tidak memperhatikan dengan serius ucapan Ying Jie. Dirinya masih fokus memegang dan menatap pemberian Ying Jie itu.


Shuwan mengangguk dengan tatapan yang masih menatap tusuk rambut yang dipegangnya. “Baiklah, aku akan menyimpannya, dan memakainya suatu hari nanti,” ucap Shuwan seraya tersenyum pada Ying Jie tanpa memperhatikan ucapannya yang sebelumnya.


Padahal aku berharap dia memberikanku obat-obatan langka. Ternyata sebuah warisan tusuk rambut. Hm, tidak apa Shuwan.


Ini adalah pemberian. Tidak seharusnya kau menolak. Lagi pula, tusuk rambut ini juga kelihatan sangat cantik.


"Terima kasih ya, Ying Jie," kata Shuwan.


Senyum mengembang di wajah Ying Jie setelah Shuwan menerima pemberiannya. "Iya, sama-sama," balasnya lembut.


Flashback off


---


Ying Jie, kau lihat bukan? Aku sudah menggunakannya. Tapi tidak dalam wujud cantik mengenakan pakaian wanita. Maaf, karena harus melumurinya terlebih dahulu dengan darah siluman ini.


Setelah menancapkannya dalam-dalam, Shuwan mencabut tusuk rambut itu, dan merebut kembali dengan paksa Air Mata Naga yang ada ditangan siluman setengah ular itu.


“Ah!!!”


Brug...


Shuwan dilemparkan jauh dari siluman itu. Tubuhnya terbentur dengan batang pohon yang ada di sana. 

__ADS_1


“Ugh!”


Shuwan kembali muntah darah. Napasnya tersengal-sengal. Di sisi lain, ia berhasil mengalahkan siluman itu. Namun di sisi lainnya, dewa kematian masih setia menantinya.


Siluman itu hanya mengerang kesakitan. Wajahnya perlahan mulai bersisik. “Kau! Beraninya kau!” Wanita itu semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. “Tu-tubuhku! Tidak!!!”


Klingg...


Tubuh wanita itu menghilang, menjadi asap hitam yang kemudian lenyap bersama hembusan angin. Sebuah lonceng pun terjatuh dari tubuhnya.


Shuwan berusaha merayap mendekati lonceng itu dengan tenaga yang tersisa. Akhirnya, setelah bersusah payah, Shuwan berhasil meraih lonceng itu.


Klingg.... Klingg... Klingg....


Shuwan membunyikan lonceng itu tiga kali.


Bluk...


Shuwan tak sadarkan diri. Tubuhnya sudah cukup lemah untuk bertahan dari rasa sakit.


Sementara itu, perlahan Zhang dan yang lainnya mulai sadar.


Zhang membuka matanya. “A-apa yang terjadi padaku?” ucapnya seraya memegangi sisi kiri kepalanya. Ia kemudian duduk dan melihat sekitar. “Kenapa tempat ini jadi berantakan seperti ini?” Matanya tak henti memandangi sekitar yang telah porak poranda. Hingga, pandangannya terhenti setelah mendapati Shuwan yang tergeletak di tanah dengan tangan yang memegang tusuk rambut penuh darah.


“Shuwan!” teriak Zhang panik. Ia berlari mendekati tubuh Shuwan. Begitu sampai, ia langsung meraih kepala Shuwan dan meletakkannya di pangkuannya.


“Shuwan? Shuwan? Ayo bangun Shuwan!” Zhang berusaha menyadarkan Shuwan dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya.


“A-apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?” Jiao panik. Air matanya menetes begitu melihat kondisi Shuwan yang mengenaskan.


Begitu pula Yu Hao, yang panik, bingung, dan cemas. “Jiao, periksa Shuwan sekarang,” pintanya.


Jiao pun memeriksa Shuwan. Seketika tangisnya kembali pecah.


“Apa... Apa yang terjadi padanya, Jiao?” kata Zhang dengan terbata setelah melihat ekspresi sedih Jiao.


“Shuwan... Dia kemungkinan sudah...”


Zhang menggeleng-geleng tak percaya dengan hal mengerikan yang bahkan tak sanggup dikatakan Jiao. Matanya berkaca-kaca, lidahnya kelu karena tak sanggup mengatakan apa pun. Cairan hangat yang sejak tadi menggenangi matanya pun luruh membasahi pipi.


“Shuwan!!” teriak Zhang dengan penuh isak tangis. Ia tak percaya bahwa wanita yang dicintainya pergi begitu saja. Ia merasa tak berdaya karena lagi-lagi harus gagal melindunginya.


“Tidak Shuwan. Bangun. Ayo bangun!” Zhang tidak henti-hentinya mengguncang tubuh Shuwan. Memintanya bangun, dan memanggilnya lagi. 


Namun semua itu sia-sia. Shuwan tak pernah sadar dalam panggilannya. Seketika, hutan itu terasa sangat hening. Hanya ada isak tangis Zhang, Jiao, dan Yu Hao yang menggema keras di dalam hutan.


Kreskk... Kreskk...


Di tengah mengharu birunya suasana, tiba-tiba saja terdengar suara bising dari balik semak.


“Siapa di sana?” teriak Yu Hao dengan kerasnya.


Sosok yang berada di balik semak itu pun menampakkan dirinya di hadapan Zhang, Jiao, dan Yu Hao.

__ADS_1


Sontak mereka bertiga bergidik ketakukan melihatnya. Bagaimana tidak? Tubuh sosok itu tinggi besar, dipenuhi bulu, wajahnya tampak begitu menyeramkan. Taring tajamnya menyeringai seolah menyapa siapa pun yang ada di hadapannya. Kedua matanya, melotot hingga menampilkan guratan-guratan merah dari otot matanya.


“S-siapa kau?” tanya Zhang dengan suara dan tubuh yang bergetar karena ketakutan.


__ADS_2