
“Uhuk... Uhuk...” Han Ji terbatuk karena tersedak arak.
“Han Ji, tidakkah kau ingin berhenti minum?” tanya Shuwan dengan perhatian.
“Aku akan berhenti, tapi tidak untuk saat ini. Mungkin nanti, sampai aku tidak sadarkan diri,” ucap Han Ji pasrah. “Aku sudah bersahabat dengan arak. Dia menjadi obat dari rasa sakit yang aku derita ini. Meski sementara, setidaknya ini bisa membuatku sedikit tenang,” sambung Han Ji dengan pandangan sayu sembari terus menenggak araknya.
Otak Shuwan masih berpikir keras. Ia berusaha menemukan hal yang tepat untuk dikatakan pada Han Ji.
“Kau masih begitu muda, Han Ji. Apakah sepanjang hidupmu kau hanya akan begini?” tanya Shuwan.
“Shu’er, jujur saja, aku mulai lelah dengan kehidupan ini. Ingin rasanya aku pergi sejauh mungkin agar tidak merasakan pedihnya kehidupan ini,” Han Ji menjawab Shuwan dengan air mata yang meleleh di pipinya.
Dia menangis? Sungguh pemandangan yang langka bagi seorang laki-laki. Luka hatinya mungkin sudah menganga terlalu lama. Ia hidup bersama keluarganya, tapi baginya seperti tidak ada keluarga. Shuwan membatin setelah melihat Han Ji menangis. Pandangannya kembali tertuju pada gelas arak yang ada di meja.
“Lalu, apakah kau akan langsung menyerah begitu saja?” Shuwan kembali bertanya. “Rasanya sia-sia dewa menciptakanmu jika kamu menyerah seperti ini,” ketus Shuwan mencoba membangkitkan kembali Han Ji.
Han Ji tertunduk lesu, mulutnya diam seribu bahasa. Kondisinya yang mabuk berat membuatnya seperti orang yang hampir semaput.
“Aku masih ingin diakui oleh kedua orang tuaku. Aku masih ingin dianggap ada oleh mereka. Tapi rasanya, apapun usahaku, tetap tidak merubah pandangan mereka padaku. Lagi pula, keluarga ini juga berdosa karena telah memfitnah keluarga Wu,” emosi Han Ji tiba-tiba meledak. Tanpa sadar ia mengatakan hal yang selama ini telah disembunyikannya dengan sangat baik.
Mata Shuwan terbelalak, ia pun terkesiap mendengar ucapan Han Ji. Dia mengatakannya sendiri? Sepertinya ini lampu hijau untuk melanjutkan investigasi. Batin Shuwan.
“Memfitnah keluarga Wu? Kenapa keluargamu melakukannya?” tanya Shuwan berusaha mendapatkan informasi lainnya. Ia menyeruput arak di gelasnya, sembari menanti jawaban Han Ji. Manis. Apakah ini efek karena sudah tidak lama minum? Batin Shuwan setelah mencicipi arak di gelasnya.
“Ini... Ini karena mereka adalah saingan dagang keluargaku. Beberapa tahun terakhir usaha mereka begitu sukses, ayah menjadi takut tersaingi hingga memaksanya melakukan tindakan tidak terpuji ini. Terlebih, ayah dan ibu si Feng itu tidak lagi di sini,” ucap Han Ji di tengah kondisi mabuknya.
“Bukankah jika itu ketahuan bisa membahayakan keluargamu sendiri?” Shuwan kembali bertanya.
“Hah.. Apa yang bisa aku lakukan? Semua itu adalah rencana ayah. Di kediaman ini, tidak ada yang berani menentangnya,” singkat Han Ji. “Ayah memanfaatkan koneksinya untuk bekerja sama dengan beberapa pejabat pemerintahan hanya demi menyingkirkan satu per satu anggota keluarga Wu,” sambung Han Ji.
Tanpa membuang waktu, Shuwan melanjutkan investigasinya, “Kalau begitu, bukti apa yang digunakan ayahmu untuk menjebak keluarga Wu?”
Tampak kepala Han Ji yang mulai bersandar pada sandaran kursi, tapi ia masih meladeni Shuwan yang ada di hadapannya saat ini. “Itu... Ayah membuat dokumen palsu untuk menjebaknya. Dokumen-dokumen itu, disimpan dalam ruang rahasia miliknya di kediaman ini,” Han Ji menjelaskan hingga akhirnya ia terlelap karena sudah benar-benar mabuk.
__ADS_1
Sudah tertidur? Shuwan melambaikan tangan kanannya di depan wajah Han Ji. Investigasinya berjalan cukup baik. Syukurlah. Sekarang tinggal memikirkan cara untuk menemukan ruang rahasia itu, dan menemukan bukti lainnya.
Sementara itu, di depan pintu, ketiga teman Shuwan masih setia menunggu. Tiba-tiba seorang pemuda yang mirip dengan Han Ji datang menghampiri mereka.
“Maaf, apakah kakakku masih ada di dalam?” tanya pemuda itu.
“Benar, dia ada di dalam. Saat ini, dia sedang minum bersama guru kami,” Yu Hao menanggapi. “Wajah Anda sedikit mirip dengan Tuan Muda Han Ji, apakah Anda...” ucap Yu Hao terputus.
“Benar. Aku adalah Liu Yuwen, adik Han Ji. Karena beberapa urusan, aku berada di luar kota. Hari ini aku baru kembali, dan ingin menemui kakakku,” terang Yuwen.
“Ah... Begitu rupanya. Kalau begitu silakan masuk,” Yu Hao memperkenankan Yuwen untuk masuk.
Yuwen hanya membalasnya dengan tersenyum. Ia pun masuk ke dalam ruang belajar itu, dan mendapati kakaknya sudah terlelap karena mabuk. Sedangkan Shuwan menyambut dirinya di sana.
“Aih... Kakakku ini memang sulit sekali berubah ya?” Yuwen menepuk jidatnya melihat kondisi kakaknya. “Dia pasti sudah mempersulitmu ya, Nona?” Yuwen bertanya pada Shuwan.
Dia terlihat mirip dengan Han Ji. Dia pasti adiknya. “Shu’er, Anda bisa memanggilku guru Shu’er. Dia hanya sedang butuh teman untuk minum, dan aku setuju untuk menemaninya. Jadi, ini bukanlah salahnya,” Shuwan menjelaskan kondisinya saat itu.
“Karena gurunya sendiri yang berkata demikian, maka aku tidak akan menyalahkannya. Sejak dahulu, dia memang seperti ini. Aku berusaha mendekatinya, tapi, dia selalu saja menolakku. Padahal, kami kakak beradik, tapi rasanya malah seperti orang asing.” Raut muka Yuwen seketika berubah setelah mengatakannya. Terlihat seperti ada kesedihan dalam dirinya.
“Kau bisa memanggilku Yuwen,” jawabnya sembari memperkenalkan dirinya. “Aku mengerti akan hal itu. Aku juga kasihan padanya yang terus berusaha dengan keras agar diakui keluarga kami. Orang tuaku menganggap kakakku sebagai sebuah kegagalan. Untuk itulah, mereka tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan olehnya. Sewaktu kecil, aku sering melihatnya menangis. Namun, saat aku mendekatinya, dia segera menghapus air matanya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja,” Yuwen menceritakan sedikit kisah masa lalunya.
Shuwan tersenyum, ia mengatakan, “Aku hanyalah orang asing yang kebetulan mendapat kesempatan mengajar di sini. Tidak ada hak bagiku untuk mencampuri masalah pribadi keluarga kalian. Aku hanya berharap, bahwa Anda sebagai adiknya bisa memberinya sedikit kasih sayang agar ia punya alasan untuk tetap hidup.”
“Aku... Aku akan terus berusaha memperbaiki hubunganku dengannya,” kata Yuwen dengan optimisnya.
“Karena hari sudah semakin larut, aku dan pengawalku pamit undur diri. Besok, aku harus kembali untuk mengajar lagi,” Shuwan memberikan hormat.
Yuwen mengangguk, “Baiklah, kalau begitu silakan. Biar aku saja yang mengurusi kakakku,” terangnya.
“Baik, Tuan,” Shuwan berjalan melewati Yuwen. Ia segera keluar dari sana dan mendapati ketiga temannya yang sudah menanti dirinya.
“Akhirnya kau keluar juga,” ucap Jiao senang.
__ADS_1
“Maaf sudah membuat kalian menunggu lama. Kalau begitu ayo kita pulang sekarang. Mataku mulai mengantuk,” ajak Shuwan.
Mereka bertiga pun pulang bersama, menyusuri jalan yang sama seperti biasanya.
Sesampainya di rumah, Zhang langsung mengajukan pertanyaan pada Shuwan, “Shuwan, Han Ji tidak melakukan apapun padamu ‘kan?”
Shuwan menggeleng, “Kau tenang saja. Dia sebenarnya pemuda yang cukup baik,” jawab Shuwan.
“Baik? Dilihat dari segi mananya?” Zhang kembali bertanya karena penasaran. Pria seperti itu dianggapnya baik? Apakah matanya Shuwan rabun? Batin Zhang seakan tidak percaya.
Shuwan tertawa, “Tentu saja dari bagian yang tidak terlihat oleh orang lain.” Ucapan Shuwan ini sontak menimbulkan kesalah pahaman pada Zhang, Jiao, dan Yu Hao.
“B-bagian yang tidak terlihat? Jangan-jangan maksudmu adalah...” Zhang tidak melanjutkan perkataannya.
Shuwan menghela napas panjang, “Itu tidak seperti yang kalian bayangkan. Han Ji adalah pemuda yang rapuh hatinya, karena kurang perhatian dari orang tuanya sendiri. Sisi inilah yang aku lihat tadi sepanjang menemaninya minum,” jelas Shuwan meluruskan kesalah pahaman di antara mereka.
Kini giliran Zhang yang menghela napas, seolah beban pikirannya terangkat sudah. Aku pikir dia bermain api dengan Han Ji di dalam. Syukurlah kalau itu hanyalah pikiran sampahku yang tidak berguna ini. Batin Zhang yang merasa konyol.
“Oh, iya. Apakah kau tidak mendapatkan petunjuk apapun mengenai pemberontakan itu?” tanya Yu Hao penasaran.
“Tentu aku mendapatkannya. Tapi, akan kuceritakan besok saja bersama Feng. Hari ini aku sangat lelah. Mataku mengantuk, aku butuh istirahat sekarang,” Shuwan menguap setelah selesai mengatakannya.
“Tidak bisakah kau mengatakannya sekarang?” pinta Yu Hao.
“Aku tetap pada pendirianku. Aku ini tipikal orang yang malas bercerita berulang kali, loh.” Shuwan menegaskan.
“Sudahlah, sudah... Kita akhiri saja dahulu hari ini. Besok kita baru membicarakannya bersama Feng. Kalau begitu silakan istirahat semuanya, besok bangunlah lebih awal,” seru Zhang pada teman-temannya.
***
Sementara itu di kediaman Liu.
Liu Yuwen masih menemani kakaknya, Han Ji yang tadi mabuk setelah minum bersama Shuwan.
__ADS_1
“Kak, berjuanglah untuk tetap hidup. Meski ayah dan ibu tidak lagi memberimu kehangatan keluarga, tapi kamu masih memiliki aku, adik kecilmu. Aku akan menjagamu, sebisa mungkin,” kata Yuwen sembari memegang tangan kakaknya yang sedang terlelap.