
Bau tanah. Tanganku... Rasanya seperti memegang rerumputan. Perelahan namun pasti, Shuwan mulai membuka matanya. Benar rupanya. Aku sudah keluar dari tempat itu.
Ia pun bangkit dan terduduk. Ia memandangi sekelilingnya dan mendapati teman-temannya yang juga tertidur sepertinya.
“Zhang, bangunlah. Kita sudah selamat,” ucap Shuwan sembari mengguncang tubuh Zhang.
Mata Zhang yang tadinya tertutup, perlahan terbuka. Matanya silau karena ia berada pada posisi telentang, dengan pandangan lurus ke arah matahari. Sesegera mungkin ia bangkit dan duduk. “Ada di mana kita?” tanya Zhang.
“Entahlah, tapi, coba lihat ke depan sana,” kata Shuwan sembari menunjuk lurus ke arah depan.
Tiba-tiba saja Yu Hao tersadar. “Kenapa kalian tidak membangunkanku?” kata Yu Hao sedikit kecewa. Ia kemudian meluruskan pandangannya sebagaimana Zhang dan Shuwan masih fokus menatap ke depan. “Apakah mungkin itu kota Luoyang? Hah... Akhirnya setelah sekian lama kita berjalan di belantara, ada juga tempat yang layak dikunjungi,” ucap Yu Hao kegirangan.
“Luoyang?” Zhang kaget. “Kalau begitu, bukankah artinya kita melenceng dari jalan utama menuju Negeri Awan?” tanya Zhang untuk memastikan dugaannya.
“Kau benar, kita mungkin melenceng dari jalan utama. Tapi, kita tetap akan sampai. Hanya dengan merubah rutenya,” ujar Yu Hao.
“Uh.... Kalian melupakan aku,” Jiao terbangun dan langsung mengatakannya.
Shuwan pun tertawa lembut, “Maaf Jiao, kami terlalu bahagia sehingga melupakanmu,” kata Shuwan.
“Bahagia? Apa karena kita sudah keluar dari penjara bawah tanah itu?” tanya Jiao bingung.
“Tentu saja. Tapi ada hal lain yang membuat kita bahagia. Coba lihat ke depan sana,” kata Shuwan sembari menunjukkan kota Luoyang yang ada di bawah bukit tempat mereka berada saat ini.
“I-itu... Bukankah itu perkotaan? Aku pikir kita hanya akan menyusuri lembah, hutan, gunung, dan sungai. Hufft...” Jiao merasa lega dengan kondisi yang membawa mereka saat ini.
Jalan cerita Buku Merah benar sudah berubah. Kemungkinan yang akan terjadi, aku tidak bisa memprediksi. Perjalanan baru benar-benar sudah di mulai. Apakah aku mampu untuk menyelesaikan rintangan yang akan menghadang nanti? Batin Shuwan yang terus dihinggapi kekhawatiran.
“Karena kita sudah sampai sini, kita harus mampir ke sana untuk membeli beberapa bahan persediaan,” ucap Zhang dengan lapang dada mengajak teman-temannya untuk menuju kota.
“Tapi... Kita tidak punya cukup uang untuk membelinya,” kata Shuwan menjelaskan kondisi keuangan mereka.
__ADS_1
“Mungkin kita harus mencari pekerjaan di sana,” ujar Jiao memecah keheningan.
“Apa yang dikatakan Jiao benar,” Yu Hao menimpali.
“Masalahnya, kita bukanlah penduduk asli Kota Luoyang, bagaimana kita akan mencari pekerjaan?” tanya Shuwan.
Jiao pun tersenyum, ia memulai penjelasan pekerjaan yang ia maksudkan. “Latar belakang kita adalah pendekar. Dengan memanfaatkan kemampuan yang kita punya, kita bisa menjadi seorang pengawal bayaran. Bagaimana menurut kalian?”
Zhang memegang dagunya. Otaknya bekerja dengan keras agar tidak salah langkah. “Boleh saja. Tapi, kita hanya akan menerimanya jika itu adalah untuk menegakkan keadilan atau menolong yang lemah,” kata Zhang dengan bijaksana.
“Itu bisa diatur,” Yu Hao menanggapi seraya merangkul Jiao.
“Karena kita sudah memutuskan, kalau begitu ayo bergegas ke sana,” seru Zhang untuk segera menujut ke Kota Luoyang.
Entah kenapa aku merasa sedikit tidak yakin tentang pekerjaan ini. Apa benar bisa menghasilkan hanya dengan menjadi seorang pengawal bayaran? Batin Shuwan yang terus saja bergejolak, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya pada orang lain.
Mereka pun menuruni bukit, dan berjalan dengan santai agar tidak kelelahan. Kehangatan musim semi ditambah dengan pesona bunga-bunga yang mekar membersamai mereka dalam perjalanan menuju Kota Luoyang.
“Benar. Cobalah ceritakan pada kami, supaya kami ini tidak penasaran dibuatnya,” pinta Yu Hao.
Shuwan menghela napas, “Baiklah. Karena kalian memintanya aku akan menceritakannya pada kalian.” Shuwan menceritakan kembali apa yang terjadi pada mereka saat ada di istana itu.
Setelah mendengar ceritanya mereka menjadi kaget, “Apa?” ketiganya mengucapkannya dengan serentak.
“Ya, begitulah yang terjadi. Bersyukurlah, karena kita sudah selamat dari sana,” kata Shuwan menghakhiri ceritanya.
Zhang hanya memandangi Shuwan, tapi Shuwan tidak menyadarinya. Shuwan, kau memang selalu menarik dengan setiap misteri yang selalu kau hadirkan. Batin Zhang yang merasa takjub pada Shuwan.
Tidak terasa, akhirnya mereka sampai di gerbang Kota Luoyang. Zhang menunjukkan token istimewanya agar bisa melewati penjaga dan masuk ke dalam kota.
“Hah... Ini benar-benar pemandangan yang sangat kurindukan. Meskipun baru melakukan perjalanan beberapa waktu yang lalu, tapi rasanya seperti sudah hampir setahun,” kata Yu Hao senang.
__ADS_1
“Setidaknya, kita nikmati sebentar suasana di sini. Yah, hitung-hitung sebagai penghibur diri dan pelepas penat,” Jiao menimpali.
Zhang yang wajahnya terlihat serius pun mulai berbicara, “Ingat, jangan lupa apa tujuan kita ketika sampai di sini. Kita tidak punya cukup uang untuk sekedar bersenang-senang.” Yu Hao dengan santainya merangkul Zhang.
“Kau tenang saja. Aku sudah menemukan tempat di mana kita akan memulainya,” kata Yu Hao. Ia kemudian menunjuk ke sebuah tempat yang ada di depan mereka, “Di sana. Dekat kedai teh itu. Aku yakin yang datang pasti orang-orang yang kaya. Semoga saja ada yang mau mempekerjakan kita,” terangnya.
“Aku setuju,” jawab Shuwan yang sedari tadi hanya terdiam memandangi sekitar. “Itu akan menjadi tempat yang cocok untuk kita memulai usaha,” sambung Shuwan.
“Baiklah, aku rasa kalian memang benar. Kalau begitu kita akan mulai di sana. Tapi, kita harus mencari sebuah papan iklan agar orang-orang menyadari kalau kita membuka jasa sebagai pengawal bayaran,” terang Zhang.
Mereka pun berkeliling di tengah kerumunan pasar, hingga akhirnya menemukan papan yang bagus untuk ditulisi.
Akhirnya, Shuwan yang bertugas menulis di papan. Ia juga membuatnya terlihat indah dengan beberapa ornamen berwarna. Setelah selesai membuat papan iklan, mereka duduk di depan kedai teh. Mereka menunggu dengan sangat lama.
“Ternyata memang sulit mencari uang. Perutku sudah mulai keroncongan,” kata Jiao.
Shuwan hanya tersenyum karena melihat polah Jiao yang lucu, ia kemudian berkata, “Tenanglah Jiao, sebentar lagi pasti akan ada yang mempekerjakan kita.”
Jiao menghela napas panjang, “Aku harap begitu,” katanya.
Tidak lama setelah Shuwan dan Jiao berbincang, datanglah seorang pemuda yang berperawakan tinggi dan berhenti tepat di depan iklan mereka. Matanya lalu memandangi Shuwan dan yang lainnya.
Orang ini... Terlihat seperti seorang anak manja. Lihat saja caranya memegang kipas. Dia pasti berasal dari keluarga berada dan selalu dituruti keinginannya. Batin Shuwan.
Zhang dengan wajah ramah kemudian menanyakan pemuda itu, “Tuan, apakah Anda tertarik untuk menyewa jasa kami?”
Pemuda itu pun menjawab, “Yah, aku memang tertarik,” singkatnya. “Aku tertarik padanya,” sambung pemuda itu seraya menunjuk Shuwan yang menjadi daya tariknya. Tentu itu membuat yang lainnya kaget dan saling menjatuhkan pandangan.
Shuwan hanya terdiam dengan sorot mata tajam yang ditujukan ke pemuda di hadapannya itu. Apa maksud pemuda kurang ajar ini? Kata-katanya membuatku kesal. Batin Shuwan emosi. Ia pun memilih untuk membuang pandangannya dari pemuda itu.
“Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, tubuhnya proporsional, ditambah rambut dan mata hitamnya yang menawan. Sangat cocok untuk dijadikan seorang istri,” kata pemuda itu yang sontak mengagetkan mereka berempat dan membuat semuanya memandangi Shuwan.
__ADS_1
Sedangkan Shuwan, ia masih tetap diam dan tidak melontarkan sepatah kata pun atas pernyataan yang mengagetkan dari pemuda asing di hadapannya saat ini.