1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Sebuah Cincin


__ADS_3

Selang beberapa waktu, Zhang akhirnya keluar dari kamar Shuwan. Yu Hao dan Jiao yang menunggu di luar pun langsung teralihkan padanya.


Yu Hao mendekati Zhang, “Karena Shuwan belum sadar, apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Di mana alkemis itu? Aku ingin bertemu dengannya,” kata Zhang.


“Dia ada di ruang belajarnya. Masuk dari pintu ini, lalu lurus hingga bertemu ujung. Di sana ada sebuah pintu yang dilukis dengan ornamen pohon bambu,” Jiao menjelaskan.


“Baru sehari kita di sini. Kau tampaknya sudah paham betul dengan tempat ini,” puji Zhang setelah memperhatikan Jiao yang mampu memahami seluk beluk kediaman Luo Shu dalam waktu singkat.


Jiao tampak tersipu malu. “Kau terlalu berlebihan. Tentu saja aku harus memahaminya, terlebih aku adalah calon muridnya.”


Yu Hao dan Zhang terkesiap setelah mendengar ucapan Jiao .


“Murid?” tanya Yu Hao penasaran.


Jiao mengangguk. “Tadi, selesai mengobati Shuwan, aku memohon padanya untuk menjadikanku muridnya. Aku ingin memperdalam ilmu medis dan juga obat-obatanku.”


“Itu bagus. Dengan dasar kemampuan yang kau miliki, aku yakin kau akan menjadi murid yang bisa diandalkan,” imbuh Zhang. 


“Terima kasih, Zhang.”


“Nah, kalau begitu aku ingin menemui alkemis Luo Shu terlebih dahulu. Bisakah kutitipkan Shuwan pada kalian sebentar?” pinta Zhang kepada kedua temannya.


“Baiklah, Zhang. Sebenarnya aku juga ingin bertemu dengan alkemis itu. Siapa tahu dia juga mau menerimaku menjadi muridnya,” Yu Hao menimpali.


“Apa kau melamar menjadi murid karena Jiao juga ada di sana?”


“Tentu saja. Selain itu juga aku punya alasan khusus.”


“Apa?”


“Agar aku bisa mengobati diriku sendiri dan tidak merepotkan orang lain.” Ucap Yu Hao yang setelahnaya tertawa.


“Kau ini.” Zhang menggelengkan kepalanya.


Mereka ini membicarakan apa sih? Batin Jiao yang bingung karena melihat Zhang dan Yu Hao berbisik-bisik lalu tertawa keras.


Sesekali ia kembali melirik Shuwan yang sedang terlelep di dalam kamar. Ia lalu menghembuskan napas beratnya.


“Jika kau tidak tega meninggalkannya, maka tunda saja bertemu dengan alkemis itu,” ledek Yu Hao.


“Tidak. Aku tidak bisa menundanya. Ada hal penting yang ingin kutanyakan.”


“Baiklah. Kau bisa mempercayakan Shuwan pada kami,” kata Jiao dengan tenangnya.


Zhang lalu berjalan lurus sebagaimana intruksi dari Jiao. Matanya tak henti-hentinya memandangi sudut-sudut rumah yang ia lalui. Berbagai barang karya seni seperti lukisan, dan aneka kerajinan gerabah terpajang di sana. 


Alkemis itu, apakah dia juga seorang pecinta seni? Batin Zhang dalam langkahnya yang santai.


Setelah berjalan beberapa menit, Zhang akhirnya sampai di ujung sebuah lorong. Pintu lukisan bambu. Ini pasti tempatnya. Ia pun mengetuk pintu itu sebanyak 3 kali. 


“Ya. Siapa?” suara sahutan dari dalam ruangan dengan pintu yang berlukiskan pohon bambu.


Zhang langsung mengenali suara itu. Meski baru kemarin mereka bertemu, tapi ia sudah hapal suara dari alkemis itu. “Tuan Alkemis, ini aku. Pemuda yang menggendong temanku yang sakit tadi,” jawab Zhang.


“Masuklah,” suara dari dalam ruangan itu meminta Zhang untuk masuk.


Dengan langkah yang sedikit gugup dan hati-hati Zhang membuka pintu. Lalu ia masuk ke dalam ruangan itu. Sekali lagi ia terkagum-kagum mendapati ribuan tumpukan buku yang ada di ruangan itu. Ia ternganga karena takjub.


Alkemis itu lalu berjalan mendekati Zhang. “Jadi, ada keperluan apa kau mencariku?”


Zhang langsung memfokuskan kembali pandangannya pada alkemis itu, “Ah, itu, aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantu mengobati temanku.”

__ADS_1


“Tidak masalah. Selama aku bisa, aku akan melakukannya.”


“Aku ingin membalas budimu. Tapi aku tidak tahu harus memberimu apa. Karena kelihatannya kau sudah memiliki segalanya,” kata Zhang.


Luo Shu tersenyum getir. “Apakah menurutmu aku adalah orang yang memiliki segalanya?” Ia menghela napas dalam-dalam. “Hah, sudahlah. Aku tidak memerlukan apa pun saat ini.”


Luo Shu terdiam sejenak. Ia tampak memikirkan sesuatu untuk dilakukan Zhang. “Ah, begini saja, sebagai gantinya, apa kau bisa membantuku memotong kayu untukku besok pagi? Kayu bakar di belakang sepertinya sudah habis.”


“Jika hanya memotong kayu, aku bisa melakukannya. Besok aku akan membantumu. Dan... Satu lagi. A-aku berkonsultasi padamu.” Kata Zhang yang sedikit gugup.


“Konsultasi? Jika boleh tahu, mengenai apa?”


Zhang langsung membuka pakaian atasnya. Ia menunjukkan dada kirinya yang lebam-lebam. Wajahnya berubah menjadi sendu. “Aku ingin berkonsultasi mengenai penyakitku ini,” katanya.


Alkemis Luo Shu tertegun melihat lebam di dada sebelah kiri Zhang. Saat melihatnya ia seolah seperti sedang melihat hantu. “K-kau... Bagaimana bisa mendapat penyakit ini?” tanya alkemis itu dengan terbata. “Jangan bilang kalau kau meminum Arak Penghukum Jiwa?”


“Kau benar. Aku memang meminumnya.” Tatapan Zhang menjadi kosong setelahnya. Pandangannya hanya tertuju pada lantai kayu yang tampak mengilap karena dirawat setiap saat.


Alkemis Luo Shu manggut-manggut setelah mendengar jawaban mencengangkan dari Zhang. “Siapa namamu sebenarnya?” tanya Luo Shu.


“Namaku adalah Zhang Wu Liem. Kau bisa memanggilku apa pun yang kau suka,” kata Zhang seraya merapikan kembali pakaiannya.


Luo Shu lalu membalikkan badannya, dan berjalan menuju menja bundar yang ada di ruang belajar. Ia lalu duduk seraya merapatkan kedua tangannya. Tampak ia sedang berpikir keras. Sesekali pandangannya tertuju pada Zhang yang masih berdiri di depan pintu. 


“Kau duduklah bersamaku di sini. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. Ah, jangan lupa utup kembali pintunya supaya lebih tenang,” pinta sang alkemis.


Zhang langsung menutup pintu ruang belajar itu. Ia lalu berjalan mendekat ke arah meja bundar tempat Luo Shu duduk. Setelah sampai, ia pun langsung duduk berseberangan dengan alkemis itu.


Alkemis itu menuangkan teh herbal yang ada di teko ke masing-masing cangkir yang ada di hadapannya. “Ini adalah teh ginseng, bagus untuk menjaga kesehatan.”


Zhang meraih cangkir teh itu. Ia lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.


Kegiatan itu dilanjutkan dengan diskusi antara alkemis dengan Zhang.


“Aku mendapatkannya dari seorang pertapa. Dia juga mengatakan efek samping dari arak ini. Aku mengerti akan hal itu, lalu meminumnya dengan sadar. Aku hanya ingin terlahir kembali dan menjalani perjalanan bersamanya. Dengan luka yang masing-masing kami tanggung.”


“Arak ini membuatmu tersiksa ketika kau terlalu larut dalam perasaanmu bukan?”


Zhang mengangguk. “Selama ini aku menyembunyikannya dari teman-temanku. Aku hanya mengatakan kalau aku terkena penyakit jantung kronis. Dan bisa diredakan dengan pil yang aku bawa.”


Alkemis itu tertunduk. Seketika ia teringat mengenai gadis yang baru saja ia selamatkan. “Apakah orang penting itu adalah...”


“Anda benar. Dialah orang yang penting bagiku. Tapi karena kesalahanku, ia mati dengan derita. Aku menjadi gila karenanya. Aku hanya berharap di kehidupan ini dan seterusnya bisa menebus kesalahanku.”


“Kondisimu bertambah buruk karenanya. Wanita itu... Setelah kuperiksa tadi, dia juga memiliki racun hati es. Dia tidak akan bisa membalas perasaanmu. Hanya dengan pengorbanan dan ketulusan yang bisa menyembuhkannya.”


“Aku tahu. Dia memang tidak mengatakan penyakitnya, hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa mencintaiku. Semua yang terjadi pada wanita itu adalah salahku.” Mata Zhang berkaca-kaca setelah membicarakan Shuwan.


Perasaannya begitu dalam pada wanita itu. “Kau sendiri yang meminum racun itu. Lalu, kenapa kau ingin menyembuhkannya sekarang?”


Wajah Zhang tampak lebih cerah. Senyum simpul mengembang di wajahnya. “Itu karena aku ingin lebih lama bersamanya. Ini adalah perjalanan terakhirnya. Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi di masa mendatang.”


“Begitu rupanya.”


“Ketika ia terbebas dari kutukan racun hati es itu, maka aku juga harus sembuh. Dengan begitu, cinta di antara kami berdua akan terajut dengan tulus kembali. Jika memang dia tidak mencintaiku, aku akan berjuang dari awal agar membuatnya jatuh cinta kembali,” sambung Zhang.


“Kau begitu gigihnya memperjuangkan cintamu. Apakah kau tidak tersiksa menjalani semua ini?”


“Aku memang sudah lama tersiksa. Aku hanya ingin bersama dengannya. Di kehidupan dahulu, saat ini, dan yang akan datang.”


“Lalu bagaimana jika kau sudah berusaha namun tidak berhasil membuat hatinya luluh? Akankah kau melepaskannya?” Alkemis itu kembali memastikan. Apakah Zhang akan berlanjut dengan egonya, atau ia akan melepasnya begitu saja.


“Jika di akhir perjuanganku masih tidak mampu meluluhkannya, maka dengan berat hati aku akan melepaskannya. Jika benar itu memang mampu membuatnya bahagia.” Buliran hangat perlahan terjatuh di ajah Zhang yang sendu.

__ADS_1


Dia ingin hidup bersama cintanya. Tapi tidak ada yang tahu, apakah akhirnya mereka akan bersemi bersama setelah menjalani penantian ribuan tahun lamanya. Jika dewa mengiba, semoga mereka benar bisa bersama. Dalam jalinan cinta yang nyata. Batin alkemis yang luluh melihat keteguhan Zhang. Ia lalu menyeruput teh ginseng yang sedari tadi hanya ia pegang sambil mendengarkan kisah Zhang.


Luo Shu kembali menghembuskan napasnya. Ia letakkan kembali cangkir teh yang dipegangnya. “Penyakit yang kau dan wanita itu derita adalah jenis yang sama. Sama-sama diciptakan untuk menghukum orang yang mencinta.”


Zhang hanya mendengarkan ucapan demi ucapan yang keluar dari alkemis itu.


“Cinta dan pengorbanan, adalah dua hal yang selalu berdampingan. Dan itu menggambarkan perjalanan kalian berdua. Aku tidak tahu apa yang membuat kalian sampai mengalami hal ini. Lalu, apakah penyakitmu belakangan ini semakin buruk?”


Zhang mengangguk lagi. “Aku terlalu khawatir karena Shuwan sekarat dan mengatakan perpisahan sebeleum kami sampai di sini. Beberapa kali aku sempat tumbang tak sadarkan diri, dan membuat semuanya khawatir.”


“Jadi gadis itu bernama Shuwan? Nama yang indah.” Alkemis itu mengelus jenggotnya yang putih dan panjang. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sorot matanya pun dialihkan ke langit-langit ruangan belajar. “Kau pasti sudah sangat tersiksa bukan?”


Zhang terdiam. Ia tidak menanggapi ucapan Luo Shu. 


“Mengenai penyakitmu, penawarnya bisa kau temukan di istana penguasa. Pertama, kau harus berendam dalam kolam dingin yang berada di bawah cahaya bulan selama semalaman. Kedua, kau harus minum ramuan Lotus Salju selama sepekan. Dengan begitu, ada kemungkinan kau akan segera pulih.”


“Kolam dingin itu, di mana letaknya?” tanya Zhang setelah diam sedari tadi.


“Kolam itu berada di dalam kuil yang ada di istana. Untuk ramuan Lotus Salju nya, aku rasa Yang Mulia memiliki obat itu. Jadi, untuk bisa mendapatkan keduanya kau harus menghadap Yang Mulia Raja untuk bisa mendapatkannya.”


Zhang mengangguk. “Aku mengerti. Setidaknya menunggu Shuwan sadar baru aku pergi ke sana.” 


“Kau sangat mencintai gadis itu bukan?” tanya Luo Shu.


“Aku mencintainya lebih dari siapa pun. Tidak peduli waktu mau berubah seperti apa, rasa cintaku padanya tidak akan berubah. Dan... Meskipun aku harus menderita hanya untuk bertemu dengannya, aku sama sekali tidak keberatan.”


Luo Shu tersenyum. Ia lalu berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju lemari kayu yang ada di sana. Ditariknya laci lemari itu, dan diambilnya sebuah kotak kayu berukuran kecil berwarna putih.


Setelah mengambilnya, Luo Shu kembali ketempat duduknya. Ia lalu menyerahkan kotak itu pada Zhang. “Ambil ini,” katanya.


Zhang pun menerima kotak itu, “Apa ini?” tanyanya penuh penasaran.


"Bukalah. Kau akan tahu isinya.”


Setelah Luo Shu mempersilakan untuk membuka kotak itu, Zhang pun langsung membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat sebuah cincin di dalamnya. “Cincin?”


“Itu adalah cincin mendiang istriku. Plat cincinnya terbuat dari serpihan meteorit yang pernah jatuh ke Negeri Awan 100 tahun silam. Sedangkan mutiara hitam yang menghiasinya dikirim dari negeri yang jauh dari sini.”


“Kenapa kau memberikannya padaku? Bukankah ini barang yang sangat berharga?” tanya Zhang kembali.


“Itu adalah cincin yang aku berikan padanya saat aku melamarnya. Bukankah, kau juga ingin melamarnya?” 


Mata Zhang terbelalak mendengar ucapan Luo Shu. Bagaimana dia bisa tahu?


“Kau bisa memberikan cincin itu pada gadis yang kau cintai. Istriku sudah tidak ada, jadi untuk apa aku menyimpannya terlalu lama? Cincin hanyalah sebuah simbol, sedangkan cinta yang sejati hanya ada di dalam hati masing-masing.”


“Ternyata kau bukan hanya alkemis yang padai meramu obat, tapi juga seorang yang mengerti tentang cinta,” kata Zhang seraya memandangi cincin yang diberikan Luo Shu.


“Uhuk!” Luo Shu tersedak ludahnya sendiri. “Ah... Aku sudah tidak memiliki putra lagi. Dia meninggal beberapa tahun yang lalu. Jika dia masih hidup, pasti sudah sepertimu. Padahal aku berharap dia akan tetap hidup. Lalu aku menjadi saksi pernikahannya, dan memiliki seorang cucu. Tapi ternyata, takdir belum mengizinkannya."


Zhang menunjukkan pandangan sendunya. Ia merasa bersimpati dengan Luo Shu.


“Karena aku tidak punya putra lagi, jadi kuberikan saja cincin itu padamu. Berjanjilah kalau kau tidak akan menyakiti orang yang kau cintai itu lagi,” sambung Luo Shu.


Senyum kembali mengembang di wajah Zhang, “Aku mengerti. Semua yang kulakukan sampai sejauh ini adalah untuk menebusnya. Sudah pasti, akan kuberikan seluruh dunia jika memang dia ingin.”


Luo Shu juga tersenyum. “Hari sudah semakin larut. Kau sebaiknya segera istirahat. Bukankah melelahkan melakukan perjalanan panjang?”


“Yah, aku pikir begitu. Kalau begitu aku pamit untuk istirahat.”


Luo Shu mengangguk, dan mempersilakan Zhang untuk meninggalkan ruangan.


Luo Shu menatap penuh arti punggung Zhang yang mulai menjauh dari pandangannya. Ia teringat akan putra semata wayangnya yang kini telah tiada.

__ADS_1


Putraku, jika kau masih hidup, bukankah kau juga akan meminta cincin itu untuk menikahi gadis yang kau cintai?


__ADS_2