
Hola, Dears. Sebelumnya mohon maaf karena sekarang jadi sering upload malam. Dikarenakan pagi sampai petang harus bergerilya dengan dunia nyata, jadi malamnya baru bisa lanjut ngetik dan upload. Mohon pengertiannya ya 🙇
Udah gitu aja dulu. Happy reading, dan jangan lupa tap 👍 ya, biar authornya makin cemungud nulisnya 😉 Oyasumi...
》》》》》¤《《《《《
Hari yang cerah telah berlalu, berganti menjadi senja yang temaram. Zhi Qiang, Shuwan, dan Jiao tak lupa pula Xin Ru masih terlihat berbincang di pendopo.
“Yah, aku rasa itu saja rencananya. Besok kita akan mulai menjalankannya. Bibi Hu, tolong antarkan Shuwan dan temannya ke penginapan khusus diplomat. Biarkan mereka bistirahat.” Kata Zhi Qiang pada seorang pelayan wanita yang belum terlalu tua yang kini berada di dekat pendopo.
“Baik, Yang Mulia,” Hu Lian, salah seorang pelayan kepercayaan Zhi Qiang memberikan penghormatan. “Nona, silakan ikuti aku.”
“Kalau begitu kami pamit dahulu, Yang Mulia,” Shuwan beserta Jiao juga memberikan penghormatan.
Zhi Qiang hanya membalasnya dengan tersenyum.
Tanpa memandangi Zhi Qiang, Shuwan tak lagi menggubris Zhi Qiang. Ia kini hanya turut berjalan mengikuti pelayan untuk mengantarkannya ke kamar.
Sementara itu Xin Ru yang sedari tadi hanya mengikuti alur pun akhirnya bisa bernapas lega. “Hah... Tuan, apakah kau sebegitu sukanya pada gadis itu?” tanya Xin Ru.
“Entahlah. Tapi aku selalu merasa penasaran dengannya. Apa pun itu, perasaanku jadi senang ketika bersamanya.” Jawab Zhi Qiang seraya memandangi Shuwan yang kini mulai menghilang dari pandangan.
“Tuan, tidakkah kau mengingat sesuatu?”
“Apa?” Zhi Qiang menoleh ke Xin Ru. Wajahnya kelihatan bingung setelah mendengar pertanyaan itu.
“Bukankah Anda berjanji membawa wanita itu ke hadapan Yang Mulia Raja?”
Netra Zhi Qiang membulat sempurna. “Kau benar! Aku memang berhutang janji pada ayah. Tapi, bagaimana caraku mengatakan identitasku yang sebenarnya?”
Xin Ru diam, dan ikut berpikir. “Bagaimana jika kau mengajaknya bicara empat mata?”
“Maksudmu?”
“Maksudmu, kau bisa membicarakannya dengan nona itu. Ajaklah dia bicara baik-baik, dan katakan identitasmu sebenarnya. Lalu, baru minta dia menemanimu menemui raja.”
“Tapi, tidakkah itu terlalu gegabah? Bagaimana jika Shuwan marah? Aku tidak bisa membayangkannya. Baru saja bertemu, kini harus bermusuhan lagi,” kata Zhi Qiang dengan wajah agak gusar.
“Dari yang aku lihat, sepertinya Angsa Hitammu bukan orang yang seperti itu.”
Xin Ru kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Zhi Qiang yang bersandar di tiang pendopo. “Aku yakin, kau pasti punya jalan keluarnya. Begitu kau menemukannya, dan butuh bantuanku, silakan panggil. Aku mau makan dahulu. Cacing-cacing di perutku sudah berbunyi sejak tadi.”
Zhi Qiang mengangguk dengan pandangan yang mengawang lurus ke depan. “Pergilah,” singkatnya.
Tanpa basa-basi lagi, Xin Ru pergi. Sebenarnya ada perasaan khawatir meninggalkan tuannya. Tapi biar bagaimana pun ini adalah risiko dari perbuatan yang tuannya lakukan.
Sementara itu, Shuwan dan Jiao terkagum selama perjalanan. Arsitektur istana membuat kedua mata gadis itu semakin berbinar.
“Shuwan, bukankah tempat ini sangat indah?” kata Jiao.
“Benar. Ini terlihat seperti negeri dongeng.”
Hu Lian yang menemani keduanya pun tersenyum lebar setelah mendengar perbincangan kedua orang itu. “Nona, jika kau tertarik kau bisa memilih tinggal di sini. Aku rasa tuanku memiliki ketertarikan khusus pada Nona Shuwan.”
“Bibi menyadarinya juga? Itu artinya kita sepemikiran,” tandas Jiao menyahuti ucapan Bibi Hu.
“Aku sudah bersama tuan sejak kecil. Dia adalah orang yang berhati dingin. Sangat sulit untuk tersenyum, apa lagi terhadap orang yang baru dikenalnya. Tapi begitu melihat nona, rasanya itu berbeda. Mungkin benar kalau tuanku sudah jatuh cinta,” kata Hu Lian.
Shuwan hanya memandang lurus jalanan lorong. “Mungkin ia hanya penasaran. Bukan jatuh cinta. Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal seperti ini.” Shuwan memasang wajah datar yang dingin. Ini sama seperti saat pertama kali bertemu dengan Zhang dan juga yang lainnya.
__ADS_1
Nona ini, tidak sesederhana kelihatannya. Tapi aku selalu yakin dengan pilihan tuanku. Dia memang selalu punya seleranya sendiri. Batin Hu Lian.
“Nah ini adalah kamar nona berdua. Tempat ini khusus untuk para diplomat wanita. Jadi kalian akan lebih nyaman tinggal di sini.”
“Hm.. Kamar ini sangat bagus dan luas. Terima kasih, Bibi Hu.” Ucap Shuwan.
Hu Lian tersenyum lembut. Ia lalu pergi meninggalkan Shuwan dan Jiao di kamarnya.
“Hah... Rasanya nyaman sekali,” celetuk Jiao yang sudah menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. “Sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak,” imbuhnya.
Shuwan terkekeh mendengar celotehan temannya itu. “Rasanya kau selalu tidur seperti orang mati setiap hari,” ledek Shuwan.
“Yah, itu karena aku merasa sangat lelah saja. Makanya seperti itu.”
Shuwan lalu menyusul Jiao menjatuhkannya ke tempat tidur besar di sisi lainnya. Dibuangnya napas yang terasa begitu memenuhi dadanya. Tanpa menunggu lama Shuwan pun terlelap begitu saja.
Sementara itu, Jiao kemudian bangkit dan duduk di tepi ranjangnya. Dipandanginya Shuwan yang tengah terlelap. “Shuwan... Kau pasti lelah sekali bukan?” gumam Jiao.
Keesokan paginya...
“Apa? Qiang’er memintaku menemuinya secara pribadi?”
Hu Lian mengangguk.
“Lalu bagaimana dengan temanku?”
Jiao yang mendengar perbincangan itu kemudian mendekati ke arah pintu, tempat Shuwan dan Hu Lian sedang berbicara.
“Shuwan, kau pergi saja. Aku tidak apa-apa.”
Shuwan menatap Jiao. Ia lalu menatap kembali Hu Lian. “Baiklah. Aku akan pergi ke sana.”
Shuwan kemudian perjalan mengikuti Hu Lian menuju kediaman Zhi Qiang. Kenapa orang itu ingin bertemu denganku secara pribadi dan tiba-tiba? Hm...
Begitu Shuwan memasuki ruangan, Zhi Qiang pun langsung berdiri dan menghampiri Shuwan.
“Akhirnya kau datang juga. Bibi Hu, terima kasih atas bantuanmu,”
Hu Lian menunduk, dan beranjak pergi. Meninggalkan Shuwan dan Zhi Qiang berdua di ruangan.
“Jadi, kenapa kau memanggilku secara pribadi kemari?” tanya Shuwan.
“Aku akan segera menceritakannya padamu. Tapi, duduklah terlebih dahulu.” Zhi Qiang mempersilakan Shuwan untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Shuwan menurutinya, ia langsung duduk di kursi itu.
Zhi Qiang yang terlebih dahulu duduk membuang napasnya, bersiap mengeluarkan kata yang sudah dipendamnya sedari tadi. “Shuwan, aku ingin minta bantuanmu lagi. Tapi ini bukan tentang perayaan,” kata Zhi Qiang dengan wajah yang berpura-pura cemas.
“Lalu?”
Wajah Zhi Qiang tampak berkeringat. Ia semakin gugup untuk mengutarakannya.
Shuwan hanya menunggunya untuk berbicara. “Jadi, Tuan Pustakawan, aku ini harus membantumu apa?” tanya Shuwan menegaskan kembali.
Zhi Qiang membuang kembali napasnya. Tanpa basa-basi ia meraih salah satu tangan Shuwan yang ada di atas meja. Digenggam dan ditariknya erat-erat ke dada. “Bisakah kau berpura-pura menjadi istriku?”
Shuwan ternganga. Matanya membulat sempurna. Dengan susah payah ia menelan salivanya yang tertahan di kerongkongan. “Apakah aku baru saja tersambar petir? Kenapa aku mendengar omong kosong menggelikan seperti ini?”
“Tidak, Shuwan! Ini bukan omong kosong. Bisakah kau...”
__ADS_1
“Tidak!” Shuwan menarik tangannya yang digenggam erat oleh Zhi Qiang, dan langsung membuang muka. “Aku tidak bisa. Aku menolaknya.”
“T-tapi, ini Cuma bohongan. Tidak bisakah kau mempertimbangkannya?”
Shuwan kembali menatap Zhi Qiang. “Kenapa aku harus mempertimbangkannya?”
“Ayahku memaksakan perjodohan untukku. Tapi aku menolaknya. Aku ingin menemukan seseorang yang aku cintai. Itu yang membuatku bisa menjalani tekanan yang selalu aku rasakan.”
“Lalu, kenapa kau memilihku? Bukankah ada banyak wanita cantik di luar sana? Kenapa harus aku yang menjadi bidak mu?”
Kini netra Zhi Qiang yang membulat sempurna. Ia menjadi tergagap karenanya. Napasnya menjadi tak beraturan. Ia merasa langsung dijatuhkan dengan ucapan Shuwan. “Karena hanya kau yang langsung terlintas dipikiranku. Selain itu, hanya ketika bersamamu aku merasa nyaman. Aku rasa kau akan bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik.”
“Sampai kapan? Sampai kapan aku harus melakukan hal itu?” tanya Shuwan dengan ekspresi datar.
“Sampai selesai perayaan.”
Shuwan diam sejenak. Ia mempertimbangkan mengenai permintaan Zhi Qiang. Perlahan ia membuang napasnya, menghempaskan segala gundah yang membelenggu. Pikirannya sudah lelah dengan hal-hal yang begitu rumitnya.
Dipandanginya kembali Zhi Qiang yang penuh harap-harap cemas. “Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi aku ingin kau memenuhi juga satu permintaanku.”
“A-apa? Selama aku bisa memenuhinya akan kulakukan.”
“Aku hanya ingin tahu, seperti apa putra mahkota negeri ini. Ada hal penting yang ingin ku katakan kepadanya.”
Zhi Qiang terkesiap mendengar permintaan Shuwan. Ia lalu kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kau tidak perlu memintaku untuk bisa bertemu dengannya, Shuwan. Dia sudah ada di hadapanmu sekarang. “Baiklah. Aku akan memenuhi syaratmu. Ini..”
Zhi Qiang mengarahkan jari kelingkingnya ke dekat wajah Shuwan.
“Apa maksudmu?”
“Janji jari kelingking. Aku pasti akan memenuhi janjiku, dan kita pasti bisa mencapai tujuan masing-masing.”
Shuwan menatap aneh Zhi Qiang. Tapi ia langsung menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Zhi Qiang. Dan begitulah sebuah kesepakatan dan perjanjian dibuat. Tidak tahu bagaimanakah semuanya akan berakhir.
Bagus! Semuanya berjalan sesuai rencana. Shuwan, jika kau tahu tujuanku adalah dirimu, apa kau akan marah dan mengutukku?
<●> Flashback on... <●>
“Kenapa aku harus berpura-pura seperti itu?” tanya Raja dengan wajah kebingungan dan nada yang agak meninggi.
“Aku mohon, Yah! Ini demi masa depanku. Aku ingin membuktikan kalau orang yang sudah kupilih bukanlah orang yang gila kekuasaan ataupun harta. Kami benar-benar tulus dari hati. Makanya aku ingin kau membantuku,” pinta Zhi Qiang seraya menghimpitkan kedua telapak tangannya.
“Baiklah. Demi kau, aku akan menjalankan peranku. Tapi, jika dia tidak sesuai dengan standar juga, kau bersiaplah untuk kupilihkan pasangan lainnya.”
“Baik. Aku yakin begitu melihatnya, kau akan langsung setuju denganku.”
<○> Flashback off... <○>
Setelah dirasa cukup, Shuwan melepaskan kelingkingnya yang masih saling bertaut dengan milik Zhi Qiang. Ia kemudian membuang muka ke arah pintu yang terbuka lebar.
“Besok kita akan menemuinya. Jadi kau berdandanlah sedikit. Besok aku akan meminta Bibi Hu untuk menjemputmu.”
Shuwan menatap tajam Zhi Qiang. “Tidakkah itu terlalu cepat? Kau tidak membiarkanku mencerna permintaanmu, dan sekarang mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak sedetik kemudian?”
Dia ini pandai sekali mengumpamakan sesuatu yang aneh. “Maaf...” Hanya sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Ia berpura tertunduk seolah menyesal karena bertindak tanpa bertanya padanya terlebih dahulu.
Shuwan hanya bisa pasrah. Setidaknya setelah menyelesaikan tugas dengan Qiang’er aku bisa bertemu langsung dengan putra mahkota.
Sekelebat ingatan Shuwan, rasa penasarannya kembali lagi. “Em... Qiang’er, kau adalah penjaga perpus bukan? Lantas kenapa kau bisa mendapat fasilitas seperti ini di istana?”
__ADS_1
Qiang’er tersenyum. “Aku adalah kerabat, Yang Mulia Raja. Hanya saja aku lebih suka bergulat dengan buku dibanding politik. Makanya aku memilih untuk menjadi pustakawan dibanding pejabat.”
“O...” mulut Shuwan membulat sempurna, selaras dengan ucapan yang keluar. Pantas saja, rupanya dia adalah kerabat sang raja.