
Hari yang ditunggu sudah tiba. Ini adalah hari yang akan cukup berat. Jika tidak berhati-hati, nyawaku bisa melayang. Masa lampau memang benar-benar mengerikan ya? Batin Shuwan di tengah perjalanan menuju kediaman Liu.
“Kau berhati-hatilah, Shuwan. Kami akan tetap ada di dekatmu,” kata Jiao sembari menepuk bahu Shuwan.
Shuwan meraih tangan Jiao, “Tentu saja. Aku harus tetap hidup,” balas Shuwan.
Kaki terus melangkah menyusuri jalan tunggal yang ada di sana. Tanpa sadar mereka sudah sampai di kediaman Liu. Seperti biasa, Liu Han Ji sudah menunggu kedatangan Shuwan.
Mereka berdua pun memasuki ruang belajar dan memulai materi.
“Guzheng yang kita gunakan saat ini memiliki 21 dawai. Nadanya diurutkan dari bawah ke atas. Dawai paling bawah mewakili nada yang paling rendah, dan dawai teratas mewakili nada yang paling tinggi. Cara memainkannya tidaklah sesulit memainkan Guqin. Memetik dawainya cukup dengan menggunakan ibu jari, jari telunjuk, dan juga jari tengah,” tutur Shuwan.
Shuwan langsung mempraktikannya di hadapan Han Ji. Namun, sedari tadi Han Ji tidak memperhatikan pengajarannya dan malah fokus memandangi wajah Shuwan. Shuwan pun menyadarinya, dan ia dengan sengaja memetik dawainya dengan keras untuk memperingatkan Han Ji.
“Jika kau tidak bisa fokus, bagaimana kau akan mengerti?” tanya Shuwan dengan tegas.
Han Ji jadi gelagapan, “A-ah... Maaf,” wajahnya tertunduk malu.
Tanpa basa-basi, Shuwan melanjutkan penjelasannya, “Selain dari memperhatikan cara memetik dawainya, pemain Guzheng juga harus memperhatikan ketukan lagu yang dimainkan. Jangan sampai menimbulkan kesan terburu-buru di telinga pendengarnya. Posisi tubuh juga berpengaruh terhadap permainannya, untuk itu, saat memainkan Guzheng tubuhmu harus tetap tegak.”
Han Ji mencatat poin-poin penting yang disampaikan Shuwan saat itu. “Sampai sini apakah kau mengerti?” tanya Shuwan.
Han Ji mengangguk, “Aku mengerti,” jawabnya.
“Kalau begitu kita langsung praktikan saja. Aku akan mengajarimu,” Shuwan beranjak dari tempat duduknya. Ia kemudian mengajari Han Ji mulai dari sikap duduknya, hingga cara memetik dawainya.
Setelah berlangsung cukup lama, “Haish.. Ternyata ini sangat melelahkan. Jari-jariku juga sakit,” keluh Han Ji.
Shuwan tersenyum. “Di dunia ini, tidak ada hasil terbaik yang diperoleh secara instan. Sekali pun ada, itu pasti tidak akan bertahan lama,” ucap Shuwan bijak.
“Baiklah, aku akan berusaha dengan lebih keras lagi,” Han Ji menanggapi.
“Kalau begitu kita akan mulai belajar memahami nada-nada yang ada pada Guzheng. Singkatnya, Guzheng memiliki nada pentatonis yang terdiri dari nada Do, Re, Mi, Sol, dan La. Aku akan menunjukkannya padamu, maka perhatikanlah,” pinta Shuwan pada Han Ji.
Shuwan dengan luwesnya memamerkan keahliannya dalam memainkan Guzheng. Jari-jarinya begitu lentik memetik dawai yang memantulkan nada-nada pentatonis sebagaimana yang dimaksudnya.
Ketika selesai mencontohkan, Shuwan kembali meminta Han Ji untuk mengulanginya, “Sekarang giliranmu mengikutinya, kita akan belajar selangkah demi selangkah. Tidak perlu terburu-buru,” kata Shuwan dengan lembut.
Han Ji mengikuti pergerakan jari jemari Shuwan. Tetapi, ia terus melakukan kesalahan. Shuwan pun mendekatinya dan mengajarinya dengan pelan.
__ADS_1
Hatiku jadi berdegup kencang. Apa yang harus aku lakukan? Wajahku sekarang pasti terlihat seperti tomat. Batin Han Ji yang gugup karena Shuwan mendekatinya.
Shuwan pun memperhatikan wajah Han Ji yang memerah. “Apakah kau demam? Kenapa wajahmu sangat merah?” Shuwan memandanginya dengan dekat.
“Eh.. T-tidak seperti itu. A-aku hanya merasa udaranya sedikit panas. Jadi wajahku memerah,” jawab Han Ji. Dasar bodoh! Apa yang barusan aku katakan? Apakah Shu’er akan mempercayainya? Batinnya menjerit setelah ia mengatakan hal yang menurutnya bodoh.
Dalam hatinya, Shuwan terkekeh melihat Han Ji yang salah tingkah. Tidak kusangka kalau bocah ini sebenarnya sangat lugu, hehe... “Apa perlu kubukakan jendela?” Shuwan menawarkan.
“Haha.. Boleh juga,” singkat Han Ji.
Shuwan segera membukakan jendela di ruangan itu, Han Ji tetap duduk menyaksikan Shuwan membukakan jendela untuknya. Huft...Untung saja Shu’er tidak mencurigaiku.
Setelah membuka jendela, Shuwan segera kembali duduk di samping Han Ji, dan memperhatikannya bermain dengan nada acak pentatonis. Melihatnya begitu hampa ketika memainkan Guzheng, Shuwan memberikan sebuah pelajaran.
“Han Ji, bermain musik tidak hanya masalah ketepatan dalam memainkan nada-nadanya, tapi juga bagaimana kamu bisa menghadirkan jiwa dalam melodi yang kamu mainkan,” ucap Shuwan.
“Ini cukup sulit. Terlebih aku buta dan tidak peka terhadap musik,” Han Ji mengungkapkan kesulitannya.
“Semua ini hanya masalah waktu, Han Ji. Jika kamu tekun berlatih, maka kau akan terbiasa dan dapat menguasai permainannya,” Shuwan mencoba menyemangati Han Ji. “Aku yakin, kau pasti bisa menguasainya, Han Ji,” sambungnya.
Han Ji menatap Shuwan yang ada duduk di sampingnya, lalu ia tersenyum lembut pada Shuwan.
Jika melihat pandangannya, ia sebenarnya hanyalah anak yang polos. Tapi mungkin karena pergaulannya ia menjadi seperti seorang berandalan. Batin Shuwan menilai Han Ji.
Shuwan melatih Han Ji hingga matahari terbenam di ufuk barat. Zhang, Yu Hao, dan juga Jiao yang berjaga di luar pun mulai merasa bosan.
“Hoam...” Yu Hao menguap. “Ini sangat membosankan. Kapan Shuwan akan selesai mengajari cecunguk itu?” celetuk Yu Hao.
“Sst.. Pelankan suaramu. Kita masih ada di kediaman Liu. Bagaimana jika sampai ada yang mendengarnya?” Jiao memperingatkan.
Yu Hao malah meremehkannya, “Baiklah... Baiklah... Kau ini kadang jadi begitu cerewet ya?” ucap Yu Hao setengah menggoda Jiao.
Jiao hanya memutarkan bola mata dan membuang pandangannya.
Zhang hanya melamun, dan berusaha menguping apa saja yang dibahas Shuwan di dalam ruang belajar itu.
“Hari sudah gelap, sebaiknya kita akhiri pembelajaran hari ini,” Shuwan menutup materinya.
Han Ji segera mendekati Shuwan, “Sesuai janjiku, aku ingin mengajakmu minum sebagai permintaan maafku padamu,” kata Han Ji tulus.
__ADS_1
Ia meminta pelayan untuk mengambil arak dan gelasnya. Tidak lama, pelayan itu kembali membawa nampan dengan guci berisi arak, dan meletakkannya di atas meja tempat tuannya berada.
Keheningan melanda Shuwan dan Han Ji di ruangan itu, hingga Han Ji mulai menuangkan arak di gelasnya dan gelas Shuwan.
“Sebenarnya, aku hanya ingin berbagi cerita denganmu,” ucap Han Ji memulai pembicaraan.
“Cerita apa?” Shuwan penasaran. Apa mungkin dia akan mengatakan sesuatu tentang pemberontakan itu?
“Tentu saja cerita tentang diriku,” Han Ji segera meneguk habis arak yang ada di gelasnya dan kembali menuang dari guci.
Kupikir dia akan membicarakan masalah pemberontakan, tapi ternyata malah membahas dirinya sendiri. Hem.. Baiklah, aku akan mengikuti alurnya. Batin Shuwan sedikit kecewa.
“Aku adalah putra tertua keluarga ini. Sejak kecil aku dididik dengan begitu kerasnya agar bisa menjadi andalan keluarga. Sedikit saja aku melakukan kesalahan, ayah langsung menghukumku. Lama kelamaan aku jadi tidak tahan. Karena hal ini juga, aku sering membolos waktu sekolah,” Han Ji kembali meneguk araknya. Tangannya kembali meraih guci dan menuangkan isinya ke dalam gelas.
“Semuanya membuat guru-guruku marah, dan melaporkannya pada ayah. Apa kau tahu apa yang ayah lakukan padaku? Dia memarahiku, mencambukku, dan mengurungku di gudang. Aku menangis begitu kerasnya di sana, tapi tetap tidak ada yang datang,” ucap Han Ji dengan wajah sendu. Tangan kanannya menggenggam erat cangkir berisikan arak. Setelah mencoba tenang, ia kembali menenggak araknya.
Shuwan yang duduk di hadapannya hanya diam dan terus mendengarkan Han Ji bercerita. Sesekali pandangannya jatuh ke arah gelas arak yang dipegangnya.
“Hingga akhirnya aku memiliki seorang adik. Ketika ia lahir, kedua orang tuaku merasa sangat bahagia. Semua perhatian tercurah padanya. Aku sadar, bahwa aku sudah menjadi anak yang terbuang. Makanya, aku sudah tidak mengharapkan apapun. Yang penting aku bisa tetap hidup dan bersenang-senang,” Han Ji kembali menerangkan.
“Lalu, apakah kau merasa bahagia menjalani kehidupan seperti ini?” Shuwan bertanya.
Han Ji tersenyum sinis, “Bahagia? Heh.. Dipandang dari sudut mananya aku bahagia? Orang yang melihatku mungkin menganggap aku sangat bahagia. Diberi banyak uang, dan terus pergi bersenang-senang. Tapi, itu semua hanyalah topeng. Dalam hatiku yang sebenarnya, rasanya benar-benar hampa.” Mata Han Ji terlihat berkaca-kaca setelah mengatakannya.
Bocah ini terlihat begitu tertekan dan kesepian. Pantas ia menjadi anak yang nakal. Orang tuanya sendiri kurang memberikan kasih sayang padanya, hingga akhirnya, ia melakukan berbagai cara hanya untuk mendapatkan perhatian dari mereka. Batin Shuwan iba.
“Aku iri dengan adikku yang begitu disayang. Namun apa boleh buat, aku tetaplah aku. Mau sebaik apapun aku menunjukkan diriku, orang tuaku sudah tidak lagi memandangku. Jadi, aku memilih melepaskannya, dan hanya melakukan sesuatu yang membuat diriku tetap senang. Tapi sekarang berbeda, ada kamu yang menemaniku, jadi aku tidak merasa sendiri lagi,” Han Ji menambahkan.
Shuwan tetap memperhatikan Han Ji bercerita. Matanya juga tertuju pada Han Ji yang terus-terusan menuangkan arak ke gelasnya, dan meminumnya seteguk demi seteguk. Hingga membuatnya mulai mabuk.
“Aku mungkin tidak bisa memberi jalan keluar yang terbaik, tapi, aku bisa menjadi pendengar yang setia untukmu,” ucap Shuwan mencoba menenangkan.
Han Ji meraih tangan Shuwan yang sedang memegang gelas arak, “Terima kasih, itu sudah cukup untukku,” ucapnya.
Shuwan yang merasa risih, perlahan menarik tangannya dari genggaman Han Ji.
Sepertinya masih butuh waktu cukup lama untuk mengarahkannya ke pembicaraan yang kuinginkan. Aku harus bersabar sedikit lagi. Pikir Shuwan di tengah kecanggungan yang terjadi di antara mereka berdua.
Mata Shuwan kemudian memandang ke arah pintu di mana ketiga temannya sedang menunggunya di sana. Mereka pasti khawatir karena aku belum keluar dari sini. Zhang, Yu Hao, Jiao, bersabarlah sebentar lagi.
__ADS_1