
Shuwan dan teman-temannya meninggalkan tempat pertarungan tadi karena dirasa tidak aman dan khawatir para kawanan penjahat itu akan datang kembali membuat perhitungan.
Hingga dirasa cukup jauh dari tempat itu, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Zhang yang dikelilingi rasa penasaran pun memulai perbincangan, “Yu Hao, apa kamu tidak ingin memperlihatkan wajahmu pada kami?”
Pertanyaan Zhang ini menyita perhatian Shuwan dan Jiao yang sedang duduk di batang pohon. Shuwan pun memasuki pembicaraan itu, “Benar yang dikatakan Zhang, sebenarnya aku juga penasaran seperti apa rupamu tanpa topeng itu. Jadi, apa kau akan tetap menyembunyikan wajahmu dari kami?”
“Aku tidak yakin untuk menunjukkan wajah ini pada kalian,” ucap Yu Hao menjawab pertanyaan Zhang dan Shuwan sembari tertunduk lesu.
Jiao juga mengikuti alur pembicaraan, dia berkata pada Yu Hao, “Jika kau mempercayai kami, kau bisa menceritakannya dan kami akan merahasiakannya dari orang lain. Tapi jika kau merasa tidak nyaman untuk menceritakannya, tidak mengapa. Kami juga tidak bisa memaksa orang lain untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan.”
Setelah keheningan melanda mereka kala itu, tanpa disangka kalau Yu Hao langsung membuka topengnya. Shuwan, Jiao, dan Zhang yang penasaran terkejut dengan tindakan Yu Hao.
Wajahnya tidak kenapa-kenapa. Lagi pula dia punya rupa yang cukup tampan, jadi apa masalahnya? Batin Shuwan.
Zhang kembali melontarkan pertanyaan pada Yu Hao, “Wajahmu baik-baik saja, lalu kenapa kau terus menutupinya? Apakah kau sebegitu sukanya dengan festival topeng hingga membuatmu terus memakainya?”
“Semua ini ada alasannya, dan lagi aku memakai topeng bukan karena menyukai festival topeng. Semuanya bermula dari kisah hidupku yang sangat menyedihkan ini.
Nama asliku adalah Chen Yu Hao, aku adalah anak sulung di keluargaku. Aku memiliki seorang adik laki-laki dan perempuan. Mereka masih kecil, berusia 7 dan 5 tahun. Keluargaku bukanlah kalangan bangsawan, tapi cukup dihormati oleh pemerintah.
Mulanya kami hidup dengan baik, dan tenang. Hingga suatu hari keluargaku dijebak oleh seorang pejabat yang tidak suka dengan ayahku. Keluarga kami yang selalu mendukung pemerintah difitnah telah mencoba untuk memberontak dan melawan pemerintah.
Aku berusaha meyakinkan pemerintah bahwa keluargaku tidak bersalah dan tidak ada sedikitpun niat untuk melawan pemerintah. Namun semua yang aku lakukan sia-sia. Bukti-bukti palsu yang ada memang telah ditujukan untuk menghancurkan keluargaku. Karena hal ini, keluargaku dihukum mati dengan meminum racun.
Kedua orang tuaku memilih untuk dieksekusi agar dapat menyelamatkan aku dan adik-adikku. Mereka meminta agar aku dapat melindungi adik-adikku, dan segera pergi dari rumah untuk menyelamatkan diri.
Tidak sampai disana penderitaan kami. Malam setelah kedua orang tuaku dihukum mati, aku dan adikku dikejar oleh sekelompok pembunuh bayaran. Mereka adalah orang-orang suruhan pejabat itu.
Susah payah kami berlari, namun tetap saja bisa dikejar oleh para pembunuh itu. Aku terluka akibat tertusuk pedang, dan mengalami pendarahan. Aku tidak bisa menyelamatkan adik-adikku, mereka menebasnya tepat setelah aku terluka parah. Hingga akhirnya mereka tewas di depan mataku."
Yu Hao terlihat begitu sedih, tidak terasa air matanya mengalir begitu saja. Tragedi yang menyebabkan dirinya menderita begitu membuatnya terpukul, bahkan mengingat jelas detailnya. Ia pun kembali melanjutkan kisahnya. Sedangkan Shuwan, Jiao, dan Zhang masih serius mendengarkan.
“Setelah aku terluka, dan adik-adikku mati aku dilemparkan ke sungai oleh para pembunuh bayaran itu. Saat itu aku merasa, mungkin inilah akhir hidupku. Tapi rupanya takdir berkata lain. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di suatu tempat.
__ADS_1
Orang-orang yang kalian lawan tadi adalah orang-orang yang ada dalam kelompok yang menolongku. Kelompok itu dikenal dengan kelompok Mawar Hitam. Mereka adalah kelompok yang merampok bahkan membunuh orang-orang yang menentang mereka.
Setelah keadaanku pulih, mereka menawarkan kerjasama denganku. Jika aku bersedia mengikuti mereka, maka dendam keluargaku akan dibalaskan. Karena dahulu hatiku telah tenggelam jauh dalam kebencian dan dendam, akhirnya aku menyetujui mereka untuk bergabung dengan tujuan membalaskan dendam keluargaku.
Tepat pada malam bulan purnama, aku bersama sekelompok orang terlatih dari Mawar Hitam menyerang kediaman pejabat yang memfitnah keluargaku. Kami menghabisi seluruh orang yang ada dikediamannya dan merampok hartanya tanpa sisa. Rasanya begitu senang ketika melihat orang yang menghancurkan keluargaku sudah binasa.
Ketika dendam keluargaku sudah terbalaskan, aku berpikir hendak melepaskan diri dari kelompok ini, tapi aku tidak bisa. Selain aku sudah terikat dengan mereka, aku juga tidak tahu kemana tujuanku setelahnya. Akhirnya aku terus mengikuti mereka, membunuh dan merampok. Semuanya berakhir ketika aku dipertemukan oleh kalian, dan memutuskan untuk lepas dari mereka. Walaupun aku tahu, mereka juga tidak akan begitu saja melepaskanku.
Selama menjalankan aksi, kami selalu memakai topeng agar orang tidak mengetahui wajah kami, dan hanya tahu bahwa kami adalah kelompok penjahat elit Mawar Hitam. Karena inilah aku terus memakai topeng ini untuk menutupi rasa bersalahku karena tidak bisa melindungi keluargaku dan terus melakukan kejahatan.”
“Tapi sekarang kau bukan lagi penjahat, apa kau akan terus memakainya?” ucap Jiao.
“Entahlah, aku sudah menyakiti dan membunuh banyak orang. Apakah ada orang yang akan memandang wajahku yang penuh dengan dosa ini? Setiap kali mengingat apa yang pernah aku lakukan, hatiku menjadi sakit. Aku tahu bagaimana pedihnya akibat kehilangan, tapi aku justru melakukan hal yang sama menyakitkannya untuk orang lain. Aku sering berpikir, apa bedanya aku dengan orang-orang jahat diluar sana?”
Keheningan melanda mereka. Perasaan bersalah masih terus menghantui Yu Hao.
“Dengan aku menjadi kejam setidaknya aku bisa menutupi luka yang ada di hatiku agar aku tidak terus menderita. Tapi sepertinya aku salah, semakin ke sini semakin banyak rasa sakit yang aku tahan.”
“Aku mengerti. Tapi hidupmu akan lebih baik jika sebelum kematianmu bisa berbuat kebaikan, setidaknya untuk menebus kesalahan yang telah kau perbuat selama ini,” ucap Zhang dengan bijak menanggapi pernyataan Yu Hao.
“Kau tidak perlu bersembunyi lagi di balik topeng itu, Yu Hao. Tidak akan ada yang berubah jika kau terus menerus bersembunyi di sana. Sudah saatnya untuk bangkit dan melepaskannya. Sekarang kau tidak perlu khawatir atau merasa sendirian lagi. Ada kami, dan kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang akan kita lalui bersama.”
“Benar yang dikatakan Shuwan. Ketika kita bersama, hal yang paling sulit pun pasti bisa kita hadapi,” kata Jiao.
Yu Hao tersenyum tulus sembari berkata, “Terima kasih banyak karena sudah menerima diriku yang hina dan penuh dosa ini.”
Shuwan, Jiao, dan Zhang membalasnya dengan senyuman hangat menyambut rekan barunya.
Tiba-tiba Zhang teringat sesuatu dan berkata, “Kami belum memberi tahu nama kami padamu karena terlalu serius mendengarkan kisahmu. Kalau begitu perkenalkan, namaku Zhang.”
“Aku Shuwan,” ucap Shuwan sambil tersenyum.
“Dan aku adalah Jiao, Wang Jiao.”
__ADS_1
Senyum hangat terpancar dari wajah Yu Hao. Ia merasa senang karena kedatangannya disambut dengan hangat di kelompok kecil itu.
Seketika Yu Hao teringat sesuatu, ia pun mengajukan pertanyaan, “Sebelumnya maaf, apakah aku boleh tahu kemana kita akan pergi?”
“Negeri Awan. Tujuan kita adalah tempat itu,” jawab Zhang.
“Aku pikir keberadaan trmpat itu hanyalah rumor yang disebarkan oleh orang-orang tua.”
Zhang kembali menerangkan, “Tidak, tempat itu benar-benar ada. Hanya saja letaknya masih sangat jauh dan juga tersembunyi. Harapannya setelah sampai di sana, kita bisa memulai kehidupan yang baru, dan mencoba bangkit dari masa lalu meskipun tidak bisa melupakannya.”
“Begitu ya..”
“Ahem...” Tiba-tiba saja Shuwan berdehem.
“Kita masih punya sedikit masalah, yaitu penjahat Mawar Hitam. Aku yakin saat ini mereka sedang mengejar kita untuk membuat perhitungan. Akan lebih baik kalau kita segera pergi dari tempat ini.”
“Benar yang dikatakan Shuwan. Mereka tidak akan membiarkan aku dan kalian pergi begitu saja. Akan lebih baik kalau kita segera menjauh dari sini,” terang Yu Hao.
“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang,” ucap Zhang sambil menyiapkan kembali kuda nya.
Akhirnya mereka bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan.
***
Sementara di markas kelompok Mawar Hitam, para bawahan yang berhasil dikalahkan dalam pertempuran tadi melaporkan kronologis kekalahan yang menimpa mereka beserta penghianatan Yu Hao.
Seorang pria bertubuh kekar, berjambang dengan mata yang buta sebelah pun menyeringai. Tidak begitu jelas wajahnya karena minimnya penerangan di markas mereka.
Setelah mendengar laporan dari bawahannya itu, ia berdiri dengan memegang cangkir arak seraya berkata, “Orang yang ingin lepas apa clagi berkhianat dari Mawar Hitam, tidak akan dengan mudahnya dibiarkan lolos. Mereka harus menanggung konsekuensinya. Sekarang, kalian cari kuda tercepat dan kejar mereka! Jangan biarkan mereka merasakan ketenangan.”
“Baik, Tuan!” Ucap para bawahan mengerti perintah yang diberikan pria misterius itu.
Pria itu pun tertawa, dengan wajah yang masih tenggelam dalam gelapnya bayang-bayang.
__ADS_1
Para bawahan Mawar Hitam segera melakukan pengejaran untuk menangkap dan menghabisi Yu Hao, beserta Shuwan dan rekan-rekannya.