1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Cahaya dan Bayangan


__ADS_3

Kita adalah dua yang berbeda


Namun berasal dari satu yang sama


Jalan mana yang kamu pilih dari keduanya


Hanya diri sendiri yang mampu menjawabnya


Sejak kecil selalu berharap bahwa hidupnya akan selalu bahagia. Menari di kebun bunga, bermain ayunan di taman, memakan gulali, dan bercengkerama dengan keluarga. Menjalani kehidupan menenangkan yang dipenuhi cahaya. Andai semua orang memilikinya, di dunia ini pasti tidak akan ada yang namanya kejahatan.


Namun, apa-apa yang terjadi juga merupakan takdir dari Yang Maha Kuasa. Ada yang hidup bermandikan cahaya, ada pula yang hidup dalam gelapnya bayang-bayang.


Perang, kemiskinan, perceraian, kehilangan, pengorbanan, dendam merupakan bayangan dari kehidupan menyenangkan yang gemerlap.


Kejahatan yang sering kali timbul menjadi salah satu alasan mereka untuk tetap bertahan hidup. Meskipun jalannya salah, dan penuh dengan risiko. Jika banyak hati yang peduli untuk merangkul, pastilah mereka akan kembali pada jalan cahaya yang seharusnya.


Kendati pun banyak aral gendala yang muncul, perjalanan Shuwan, Jiao, dan Zhang masih harus dilanjutkan hingga akhir.


Suara langkah kuda menggema di tengah lebatnya belantara, hingga pria berjubah dan bertopeng hitam menghadang memecah keheningan.


Jiao dan Zhang yang mengendalikan kuda pun menghentikan langkah kuda secara mendadak hingga membuat Shuwan yang sedari perjalanan tadi duduk menyandar di punggung Zhang dan membelakanginya terjatuh ke tanah.


“Aduh..!” Teriak Shuwan yang terjatuh dari kuda.


“Hei, Zhang bodoh! Jangan menghentikan kuda secara mendadak seperti ini kalau memang kamu sudah lelah. Lihat kan, aku jadi jatuh seperti ini!”


“Apa matamu buta? Coba kau lihat ke depan sana!” Ucap Zhang pada Shuwan.


Shuwan pun langsung melihat ke depan, dan mendapati seorang pria berjubah dan bertopeng hitam menghadang jalan mereka. Hingga Shuwan pun sedikit kesal karena orang itu menjadi sebab ia terjatuh dari kuda nya.


Shuwan pun memaki orang itu, “Hei, Tuan yang berpakaian serba hitam! Apa maumu? Kenapa menghalangi jalan kami? Gara-gara kau aku jadi terjatuh seperti ini!”


Pertanyaan Shuwan belum dijawab oleh pria misterius itu, namun tiba-tiba muncul orang-orang bawahan pria itu membawa senjata tajam dengan tampang yang seolah-olah siap menerkam siapa saja yang ada dihadapannya.


“Sebaiknya serahkan kuda dan juga harta yang kalian punya jika ingin selamat dari sini. Kalau kalian menolak, aku tidak punya pilihan selain menghabisi nyawa kalian!” Ucap pria berjubah hitam itu.

__ADS_1


Jiao pun menjawabnya, “Kami menolak! Atas dasar apa kami harus tunduk pada perkataanmu?”


Pria berjubah hitam itu pun tertawa, dan mengatakan, “Kami adalah penjahat dan pembunuh yang menguasai tempat ini. Kalau kalian menolak perkataanku, maka nyawa kalian berada dalam genggamanku!”


Serangan permulaan pun diluncurkan oleh para pembunuh itu, Zhang menghadapi pria misterius itu, sedangkan Shuwan dan Jiao menghadapi orang-orang bawahannya.


Zhang bertarung dengan sengitnya melawan pria berjubah hitam itu. Ia kemudian bertanya, “Siapa kau sebenarnya?”


“Bukankah sudah kukatakan sejak awal bahwa aku ini adalah seorang pembunuh. Kenapa kau masih menanyakan identitasku?”


“Entahlah, aku merasa bahwa sebenarnya kau tidak ingin melakukan hal ini,” Zhang melihat perbedaan raut wajah pria itu, tapi pria itu masih menyangkal apa yang dikatakan Zhang.


“Tahu apa kau! Kita tidak saling kenal, bagaimana mungkin kau sok tahu tentang kehidupanku!”


“Aku selalu percaya apa yang dikatakan hatiku,” Zhang pun tersenyum pada pria itu.


Namun, reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh pria berjubah itu, ia menggertak dengan mengatakan, “Mulutmu ternyata sangat banyak bicara ya?”


Pria itu kembali menyerang Zhang dengan pedangnya. Zhang yang juga memiliki ilmu beladiri pun dapat menghindari serangannya.


“Aku tidak akan menyerangmu kembali, ataupun menyakitimu. Karena aku tahu, kau melakukan semua ini karena terpaksa. Semuanya dapat terlihat jelas dari sorot matamu itu,” kata Zhang setelah mengamati pria yang menyerangnya itu.


Shuwan yang kesal pun langsung menyerang bawahan pria itu hingga babak belur. Begitu pula Jiao, yang telah menyelesaikan pertarungannya.


Terlihat ada keraguan di wajah pria yang bernama Yu Hao itu, ia pun hanya terdiam mematung. Ia pun kembali berbicara, “Orang-orang seperti kami hanya bisa bertahan hidup dengan cara ini. Tidak seperti kalian yang hidup dengan harta, kekuasaan, dan penuh kebahagiaan. Orang-orang seperti kalian bisa mengerti apa soal kami?”


“Apa kau pikir orang yang terlihat penuh dengan cahaya itu selalu bahagia? Kadang ia yang saat ini bercahaya dahulunya juga orang yang tenggelam dalam gelapnya bayangan. Kehilangan keluarga, dan memulai kembali semuanya dari awal lagi. Apa kau pikir semuanya terlihat begitu mudah?”


Wajah Zhang terlihat memerah dan wajahnya terlihat sendu. Ia mengingat kembali kehidupan kelamnya, anggota keluarganya mati terbakar, beserta harta yang ia miliki.


Kehidupan sulit yang ia lalui setelahnya, perasaan sakit akibat kehilangan dan penyakit yang dideritanya, semua bercampur menjadi satu hingga membuat emosinya hampir tidak terkendali.


Yu Hao hanya terdiam melihat Zhang dengan tatapan yang kosong. Zhang kemudian kembali melanjutkan perkataannya, “Kita semua pasti punya kehidupan kelamnya masing-masing, tidak peduli seperti apa dia pasti punya sisi gelap hidupnya masing-masing. Aku mengerti akan hal itu, sangat mengerti. Penderitaan dan rasa sakit, kita semua pasti pernah merasakannya. Tidak peduli besar, ataupun kecil, tetap saja terasa begitu menyakitkan.”


Jiao, Shuwan, dan para bawahan Yu Hao hanya memandangi dari tempat mereka berpijak saat ini.

__ADS_1


Shuwan pun membatin, Zhang, aku tidak tahu mengerti banyak tentangmu. Perasaanmu ternyata begitu dalam. Sangat bertolak belakang dengan keusilannya selama ini. Sekarang aku merasa, kalau dia sama seperti aku.


“Hei, Yu Hao! Cepat habisi dia!” Teriak salah seorang bawahan yang sudah kalah dalam pertarungan.


Lagi-lagi Yu Hao terdiam dan mengabaikan perkataan rekan kejahatannya itu. Hingga ia pun menjatuhkan pedangnya yang membuat rekan-rekannya, Shuwan dan Jiao terkejut.


Yu Hao kemudian mengatakan, “Apakah aku bisa mempercayai kalian?”


Sepertinya kata-kata yang diucapkan Zhang berhasil mempengaruhi hati dan juga pikirannya. Batin Shuwan.


Zhang pun menatap Yu Hao dengan wajah cerah. Ia tersenyum lalu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yu Hao.


Shuwan pun kembali membatin. Kau akhirnya berhasil meluluhkan orang lain tanpa harus menyakitinya. Selamat, Zhang. Ini langkah yang baik.


Salah seorang bawahan yang sudah babak belur itu kemudian berteriak pada Yu Hao, “Apa yang kau lakukan? Apakah kau akan melepaskan mereka begitu saja?”


Dengan wajah tegas Yu Hao pun membalasnya, “Lalu memangnya kenapa jika aku melepaskan mereka? Aku sudah lelah dengan semua ini! Apakah aku tidak bisa memilih jalanku sendiri?”


Orang-orang yang berhasil dikalahkan Shuwan dan Jiao pun berdiri, salah satunya berkata, “Kami akan melaporkan ini pada ketua, bahwa kau telah berkhianat! Dengarkan ini baik-baik, Yu Hao. Suatu hari nanti kau pasti akan menyesalinya!”


Mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan tempat yang menjadi kekalahan mereka.


Yu Hao hanya terdiam lesu setelah orang-orang itu pergi. “Mungkin kelak aku memang akan menyesalinya,” katanya.


Zhang mendekati Yu Hao dan menepuk bahunya serata berkata, “Kau tidak perlu menyesalinya. Sudah saatnya kau memilih sendiri jalan yang kau kehendaki. Dengarkan kata hatimu. Lagi pula, menghunuskan pedang pada orang yang tidak berdosa seperti yang telah kau lakukan sebelumnya juga jalan yang salah.”


“Aku sudah menghabisi banyak nyawa, apakah aku akan dosa-dosaku akan diampuni?”


“Selalu ada kesempatan kedua bagi orang-orang yang mau berubah, Yu Hao,” ucap Jiao. “Beberapa waktu yang lalu aku juga adalah seorang penjahat, hingga Shuwan dan Zhang tiba dan hidupku mulai berubah. Lalu, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka.”


Shuwan pun memasuki pembicaraan, “Jika kau mau, kau bisa ikut dengan kami melakukan perjalanan ini.”


“Benarkah aku bisa?” Tanya Yu Hao.


Shuwan, Jiao, dan Zhang pun mengangguk sembari tersenyum. Yu Hao pun juga tersenyum dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir di pipinya.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Yu Hao. “Aku ingin memulai lembaran baru kehidupanku,” sambungnya.


Yu Hao akhirnya setuju untuk mengikuti Shuwan, Jiao, dan Zhang karena ia melihat bahwa mereka dan perjalanan ini bisa mengubah kisah hidupnya. Kisah baru perjalanan ini pun telah menanti untuk segera berlayar.


__ADS_2