
Si Buruk Rupa
Hidup disebuah gubuk tua
Yang dibangun dengan penuh cinta
Tiada orang yang peduli padanya, meskipun lembut tutur katanya
Tidak selayaknya hanya memandang rupa yang sementara
Namun juga harus melihat kebaikan hatinya
Shuwan dan teman-temannya telah sampai di sebuah gubuk yang jaraknya cukup jauh dari desa.
Gubuk itu beratapkan jerami, dan berdinding bambu. Tidak tampak ada sesuatu hal yang istimewa.
“Ini adalah tempat tinggalku,” ucap Minghao tertunduk ragu. “Aku khawatir kalian tidak akan merasa nyaman untuk tinggal karena rumahku sangat buruk, sama seperti rupaku,” imbuhnya.
Shuwan mendekati dan menepuk bahu Minghao. Ia kemudian berkata, “Tidak seharusnya kau berkata demikian, Minghao. Seperti kita yang tidak boleh memandang buku hanya dari sampulnya. Tidak semua yang nampak buruk akan buruk pula isinya. Sama seperti dirimu. Meskipun tampak buruk rupa, tapi kau baik hati. Kau tidak membalas perbuatan orang-orang yang menghinamu dengan hal yang sama. Malahan kau mau berbagi dengan mereka bukan?”
“B-bagaimana kau tahu? Bukankah kita baru saja bertemu?” kata Minghao.
Tentu saja aku tahu, aku sudah membaca kisahmu dalam buku merah itu, hehe. Batin Shuwan terkekeh.
“Aku tadi melihat semuanya saat memasuki pasar,” ucap Shuwan berbohong.
Aku hanya ingin membantumu, agar warga bisa menerimamu dan berbaur denganmu. Dan mungkin saja kamu bisa menemukan keluarga kandungmu.
“Begitu rupanya. Ah, kalau begitu ayo masuk ke dalam,” ajak Minghao. Ia kemudian membuka pintu rumahnya, dan saat dibuka betapa mengagumkannya pemandangan yang ada.
Berbagai karya seni dipajang, seperti lukisan, kaligrafi, dan berbagai kerajinan gerabah. Tidak lupa juga ada buku-buku yang mengisi rak-rak yang menghiasi ruangan itu.
“Ini benar rumahmu, Minghao?” tanya Yu Hao seakan tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya.
“Benar. Ini rumahku. Aku memang menyukai seni dan juga sastra, jadi aku mewujudkannya dengan membuat galeri dan perpustakaan mini seperti ini."
“Itu artinya kamu bukan orang biasa bukan? Kenapa kamu hidup dan tinggal di sini?” tanya Jiao penasaran.
Minghao menghela napas dan mulai membicarakan hidupnya. “Aku memang tidak berasal di sini. Aku tidak tahu darimana asalku. Hanya ada belati perak ini yang ditemukan bersamaku di sungai,” terang Minghao sambil mengeluarkan belati perak miliknya. “Mungkin karena wajahku yang buruk ini, aku dibuang dan dihanyutkan di sungai. Untungnya kakek menemukanku dan merawatku,” sambungnya.
Yu Hao memandangi sekeliling dan bertanya, “Kakek? Lalu di mana kakekmu sekarang?”
Wajah Minghao terlihat menjadi sedih, “Ia sudah lama meninggal dunia. Waktu itu aku berumur 13 tahun, karena kakek sudah tua dan sakit, ia pun meninggal dunia. Aku jadi hidup sendirian. Barang-barang yang kalian lihat di gubuk ini adalah peninggalannya. Ia mengajarkanku banyak hal. Bukan hanya belajar tulis menulis, ia juga mengajarkan seni dan kesederhanaan hidup. Kami bertahan hidup dengan menjadi pengrajin gerabah yang dijual kepada para bangsawan.”
“Apa kau tidak berniat mencari keluarga kandungmu?” tanya Shuwan.
Minghao hanya menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berkata, “Dengan rupa seperti ini, siapa yang akan mengakuiku sebagai keluarga mereka? Selama hidup di sini pun aku selalu dikucilkan. Karena wajah ini pula kakek harus tinggal jauh dari desa. Warga takut kalau wajahku ini akan membawa kesialan pada desa mereka. Untuk itu, ia membangun gubuk ini sebagai tempat tinggal kami.”
__ADS_1
Shuwan memandang langit-langit sambil menghela napas panjang. Ia kemudian mengajukan pertanyaan pada Minghao, “Jika aku bisa mengobati wajahmu, apakah kau akan berubah pikiran dan mencari keluarga kandungmu?”
“Aku... Aku tidak yakin. Jika mereka menyayangiku seharusnya mereka tidak membuangku hanya karena rupaku yang buruk bukan?” Emosi Minghao meledak-ledak setelah mendengar ucapan Shuwan. “Kau tidak pernah merasakan ada di posisiku. Bagaimana rasanya diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang? Warga yang melihatku pun merasa jijik dan pergi menjauhiku. Aku juga ingin seperti anak-anak pada umumnya, mempunyai teman, dan juga mendapat kasih sayang dari orang tua. Tapi nyatanya, aku hanyalah anak buruk rupa yang sudah dibuang oleh keluargaku sendiri. Ini sudah cukup untuk menyadarkan diriku sendiri.”
“Kalau begitu, aku akan tetap mengobatimu,” kata Shuwan.
Minghao yang mendengarnya sontak menjadi kaget. Ia seakan masih tidak percaya, “Tapi kenapa? Kita baru saja bertemu, bukan?”
Shuwan hanya tersenyum dan memandangi Minghao, “Mungkin aku adalah jawaban atas doa yang selama ini kau panjatkan,” katanya.
Wajah Minghao masih tampak kebingungan dengannya.
Shuwan kemudian melanjutkan dengan mengajukan pertanyaan pada ketiga temannya, “Bisakah kita bermalam di sini selama 3 hari?”
Jiao mengangguk setuju. “Kalau ini demi kebaikan, kenapa tidak?” jawab Yu Hao. “Lalu bagaimana denganmu, Zhang?” tanya Yu Hao kembali.
“Aku akan mengikuti suara terbanyak,” jawab Zhang singkat.
Shuwan memandangi Zhang, ia tahu bahwa Zhang masih marah karena ia menolak perasaannya. “Baguslah kalau begitu,” ucap Shuwan memecah keheningan.
Malam pun mulai tiba. Setelah makan malam, mereka beristirahat di kamar yang telah ditentukan. Shuwan dan Jiao tidur satu kamar, sedangkan Zhang dan yang lainnya tidur dikamar lain.
Saat berada di kamar, Jiao mengganti perban Shuwan sembari mengajaknya berbincang. “Shuwan, apa kau tahu kalau Zhang itu menyukaimu.”
“Tahu,” jawab Shuwan singkat.
Shuwan terdiam. Lalu ia kembali membuka mulutnya, “Aku tidak bisa Jiao. Aku hanya takut akan membuatnya kecewa suatu hari nanti. Selain itu, begitu kita menyelesaikan misi untuk sampai ke Negeri Awan, aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh dari sini.”
Jiao yang mendengarnya masih tidak percaya, “Kenapa kau akan membuatnya kecewa? Aku melihat saat Zhang bersamamu dia jadi lebih bahagia, dan lagi, kenapa kau harus pergi saat kita berhasil nanti?”
“Kau akan mengetahui jawabannya nanti. Sekarang aku masih belum bisa menjawabnya. Aku mohon mengertilah Jiao.”
Ucap Shuwan untuk menyudahi perbincangan di antara mereka, dan mengenakan kembali pakaiannya.
“Tapi kenapa? Kenapa aku harus menunggu waktu yang menjawabnya? Kenapa kau tidak bisa jujur pada kami meskipun kita sudah bersama sampai sekarang?”
Setelah mengatakannya, Shuwan melihat wajah Jiao yang menjadi sendu. “Aku lelah Jiao. Aku ingin istirahat agar besok bisa bangun pagi untuk meracik obat,” kata Shuwan menyudahi pembicaraan dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk istirahat.
Jiao hanya mematung. Ia pun menyusul Shuwan untuk istirahat karena tidak mendapat jawaban yang ia inginkan. Saat sudah berbaring ia membatin, apakah aku terlalu menekan Shuwan? Bagaimana pun sepertinya aku sudah keterlaluan dengannya. “Shuwan, aku ingin minta maaf karena sudah memaksamu mengatakan hal yang tidak ingin kamu katakan.”
Shuwan yang sedari tadi belum tertidur pun mendengar permintaan maaf Jiao. “Tidak apa, Jiao. Aku mengerti itu. Tapi aku mohon jangan singgung aku dengan pertanyaan ini lagi,” terangnya.
“Baiklah...” singkat Jiao.
Malam itu begitu tenang, dan orang-orang tertidur dengan lelapnya. Namun tidak dengan Shuwan. Lagi-lagi ia bermimpi buruk, sama seperti mimpi yang ia alami sebelumnya.
Ia tersadar dengan kondisi napas yang tersengal-sengal seperti habis diburu, tidak terasa air matanya jatuh membasahi pipi.
__ADS_1
Kenapa... Kenapa lagi-lagi memimpikan hal yang sama? Siapa wanita dan pria yang ada dimimpiku itu? Kenapa aku merasa sangat sakit dan sedih? Batin Shuwan sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Ia pun memandangi Jiao yang masih nyenyak terlelap. Karena tidak bisa tidur lagi, Shuwan memutuskan untuk ke ruang tamu dan membaca buku. Mungkin dengan begitu ia akan merasa ngantuk kembali.
“Apa yang kau lakukan di sini sendiri?”
Tiba-tiba ada yang bertanya dan membuat Shuwan terkaget. Ia melihat ternyata itu adalah Zhang.
“Rupanya kau. Sejak kapan kau di sana?” tanya Shuwan.
“Sejak aku mendengar pintu kamarmu terbuka,” singkat Zhang.
Pria ini benar-benar berbahaya dan menyebalkan. Batin Shuwan. “Aku hanya tidak bisa tidur, makanya aku di sini dan membaca buku,” ucap Shuwan singkat.
“Apakah kau mimpi buruk lagi?” tanya Zhang untuk memastikan.
Shuwan hanya mengangguk.
Zhang kemudian mendekati Shuwan dan duduk di sampingnya. “Jika kau ingin tidur, bersandarlah padaku. Terakhir kali juga begitu bukan?”
Tanpa disangka wajah Shuwan memerah karena mengingat dirinya yang pernah tidur dalam pelukan Zhang. “A-apa maksudmu? Apakah kau berusaha menggodaku?” ucap Shuwan menyangkal perkataan Zhang.
Zhang menanggapinya dengan tenang, “Aku hanya bicara fakta. Bukankah pelukanku memang terasa nyaman?”
“Kau!” Shuwan menjadi kesal akibat perkataan Zhang. Ia beranjak dari tempat duduknya.
Zhang buru-buru berdiri menyusulnya. Ia menarik tangan Shuwan dan membuatnya terjatuh tepat dipelukannya. Ia pun segera memeluknya dengan erat agar Shuwan tidak meninggalkannya begitu saja.
“Le-lepaskan aku! Dasar mesum! Apa yang mau kau lakukan?” kata Shuwan sambil memberontak ingin melepaskan diri.
“Jika terus berteriak, kau bisa membangunkan seisi rumah loh?” gertak Zhang untuk mempertahankan Shuwan.
“Ka-kamu mengancamku?”
“Tenanglah sebentar Shuwan. Ada hal yang ingin aku katakan. Jadi, aku mohon perhatianmu sebentar saja.”
Shuwan pun menjadi tenang.
Zhang yang memintanya untuk tetap tinggal pun mulai berbicara, “Aku ingin minta maaf padamu, Shuwan. Maafkan sikapku yang kasar kemarin. Meskipun kau menolakku, dan tidak jatuh cinta padaku, aku tetap tidak akan menyerah. Aku akan terus menjagamu, dan mengejarmu. Aku yakin, suatu hari nanti kau bisa menerima perasaanku ini.”
Zhang, maafkan aku. Mungkin, sampai saat itu tiba, aku tidak lagi ada di sisimu. Batin Shuwan. “Jika sudah selesai bicaranya, bisakah kau melepaskanku?” ucap Shuwan.
Tanpa disangka Zhang melepasnya begitu saja. Ia kemudian memegang kepala Shuwan dan berkata, “Baiklah... Tapi setelah ini kau harus bergegas tidur kembali. Kalau tidak, aku akan memelukmu kembali sepanjang malam,” kata Zhang sambil tersenyum jahat.
Shuwan hanya menunjukkan wajah kesal dan berbalik meninggalkan Zhang untuk menuju kamarnya.
Zhang hanya memandanginya sambil terseyum puas karena berhasil menggodanya. Ia pun memutuskan untuk tidur di ruang tamu menunggu fajar, sembari berjaga-jaga kalau Shuwan akan kembali dan tidak beristirahat.
__ADS_1