
Zhang dan Yu Hao sudah berada di istana selama hampir seminggu. Mereka berdua masih sibuk membantu persiapan perayaan hari jadi Negeri Awan.
“Zhang!” panggil Yu Hao yang berlari kecil mengejar Zhang di koridor istana.
Zhang yang sedang berjalan pun berhenti, dan langsung menoleh ke arahnya. “Kenapa?” singkat Zhang.
Yu Hao berjalan medekat. “Hah.. Tidak apa, aku hanya memanggilmu saja.” Yu Hao melipat kedua tangannya ke tengkuk.
“Kau ini, kebiasaan!” Zhang mendengus kesal. Ia lalu berjalan mendaului Yu Hao.
“Kau kelihatan banyak pikiran. Apa kau sedangkan memikirkan wanitamu itu?”
Zhang terdiam, tapi langkahnya tetap berlanjut.
“Bagaimana? Apa kau akan memaksanya juga?”
“Entahlah. Mungkin aku akan membicarakannya dengan Shuwan terlebih dahulu,” ucap Zhang dengan dingin.
“Baguslah kalau begitu. Ingatlah, bahwa yang terpenting dalam menjalin sebuah hubungan adalah komunikasi,” imbuh Yu Hao.
“Sejak kapan kau ahli dalam percintaan?” sinis Zhang.
“Sejak aku menjadi pengamat hubunganmu dengan Shuwan.”
“Apa? Jadi kau meneliti hubunganku dengan Shuwan?” kata Zhang dengan memicingkan mata ke Yu Hao.
“Tentu saja. Kalian selalu menebar virus keromantisan dan pertengkaran di depanku dan Jiao. Jelas saja aku bisa mengamati hubungan di antara kalian berdua.”
“Kau mengurusi hubunganku dengan Shuwan, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?”
“Hah... Aku masih berusaha mengejarnya dengan jantan. Kau tunggu saja hasilnya.” Yu Hao tampak percaya diri. Ia pun kembali menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi berlipat di tengkuk.
“Cih.. Percaya diri sekali kau. Bagaimana kalau kau ditolak olehnya?”
“Tentu saja aku akan terus mengejarnya. Jika dia benar-benar tidak menginginkanku, baru aku mencari wanita lain.”
“Huh... Benar-benar tidak setia.”
“Hei, hei, hei... Aku selalu setia. Tapi jika dia memang tidak menginginkanku, aku bisa apa? Cinta itu tidak bisa dipaksakan tahu!”
Langkah Zhang terhenti. Ia jadi teringat bagaimana selama ini sikapnya pada Shuwan.
“Kau kenapa?” tanya Yu Hao yang melihat Zhang diam begitu saja.
“Bukan apa-apa!” Zhang berusaha menampiknya, dan berjalan lagi.
Dia pasti kepikiran Shuwan. Batin Yu Hao berusaha menerka pikiran Zhang.
“Zhang, bagaimana kalau kita mengundang Shuwan dan Jiao untuk ikut dalam perayaan ini?” ucap Yu Hao yang berusaha memecah kecanggungan.
Zhang menghentikan langkahnya, dan menatap Yu Hao dengan pandangan kritis. “Kau benar. Itu sepertinya ide yang bagus. Nanti akan ku kirimkan surat ke rumah untuk mengabari mereka.”
“Bagus! Akhirnya kau akan bisa melepaskan kerinduanmu padanya?”
Zhang tersipu. Ia melanjutkan langkahnya dengan cepat dan meninggalkan Yu Hao dengan imajinasinya.
“H-hei! Tunggu aku!” Yu Hao berlari dan berusaha menyusul Zhang lagi.
***
Surya telah berada pada puncak tahtanya. Siang hari terasa lebih panas menjelang berakhirnya musim semi.
Shuwan hanya merebahkan tubuhnya di pembaringan setelah matanya terasa mengantuk karena kesulitan tidur semalam.
“Mataku rasanya sekarang mengantuk. Semalam aku tidak bisa tidur. Hm... Sepertinya aku berubah menjadi manusia nokturnal,” keluh Shuwan.
Jiao tiba-tiba saja masuk kamar dan mengagetkan Shuwan.
Sebaiknya aku berjalan mengendap-endap saja. Jiao pun melancarkan aksinya. Kakinya berjinjit dan melangkah dengan pelan, berusaha mengagetkan Shuwan.
Namun siapa mengira kalau Shuwan mengetahuinya.
“Ayolah Jiao. Aku hanya ingin tidur siang. Semalam aku tidak bisa tidur,” celetuk Shuwan.
__ADS_1
Jiao jadi malu karena rencananya tidak berjalan dengan mulus. “Maaf, Shuwan. Aku hanya ingin memanggilmu untuk makan siang.”
“Aku masih merasa kenyang. Kau makan saja bersama Tuan Shu.” Selesai mengatakanya Shuwan pun langsung menguap. Matanya terasa semakin berat.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakannya pada Shifu.”
Jiao pun meninggalkan Shuwan yang baru saja terlelap, dan menutup pintunya perlahan. Ia lantas menuju meja makan di mana Luo Shu sudah menunggu.
Begitu sampai, Luo Shu bingung karena tidak mendapati Shuwan bersama Jiao.
“Di mana Shuwan?”
“Dia sedang terlelap guru. Semalam ia tidak bisa tidur. Tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya sampai begitu.”
Luo Shu mengangguk. “Ya, sudah, biarkan saja dia menyembuhkan rasa kantuknya. Sekarang ayo kita makan siang.”
“Baik, Shifu!”
Jiao duduk berseberangan dengan Luo Shu dan mulai menyantap hidangan itu bersama. Meninggalkan Shuwan yang kini sedang berada di alam mimpinya.
***
Rajawali pengantar surat sudah tiba di kediaman putra mahkota. Dengan perasaan bahagia yang kini membuncah, Zhi Qiang pun mengambil surat itu.
Ia lalu berlari santai menuju meja belajarnya. Begitu duduk, dikeluarkan isi tabung itu. Dibukanya perlahan kertas gulungan dengan corak tinta hitam yang membentuk aksara.
Untuk Tuan Pustakawan...
Aku sudah mendapatkan izin dari Tuan Shu. Tapi, aku baru bisa ke istana dua hari lagi. Ada beberapa hal yang perlu ku selesaikan di sini. Jadi, aku harap kau bisa memaklumi.
Hanya ini yang ingin kusampaikan. Sampai bertemu di istana dua hari mendatang.
Tertanda: Si Angsa Hitam.
“Dia tidak mengatakan kata-kata manis setelah aku mengiriminya surat romantis. Ah... Sungguh disayangkan. Tapi, sudahlah. Lagi pula dua hari lagi kita akan bertemu. Hehe,” Zhi Qiang tersenyum puas, meskipun balasan surat dari Shuwan langsung pada apa yang ingin diutarakannya dan tidak sesuai dengan harapan.
Xin Ru yang memerhatikan dari jauh hanya membatin melihat tuannya yang terkekeh sendiri. Manusia ketika jatuh cinta ternyata bisa sekikuk itu.
***
“Di mana ini? Kenapa tidak ada apa pun? Ah... Aku mengingatnya. Tadi aku tertidur, dan ini, ini pasti alam mimpiku. Tapi, kenapa begitu hampa?”
Ia lantas melangkahkan kakinya maju seraya mencari-cari sekiranya ada sesuatu yang bisa mengatasi rasa penasarannya. Setelah berjalan beberapa menit, kini netranya tertuju pada sepasang ayunan kayu sederhana yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ayunan? Kenapa di tempat seperti ini ada ayunan?”
Karena penasaran, Shuwan akhirnya mendekati ayunan itu. “Sudah lama aku tidak mainan ayunan. Duduk di sini sebentar tidak apa kan?” Kata Shuwan seraya memegangi tali salah satu ayunan itu.
Shuwan lalu duduk di atas salah satu ayunan. Ia bermain sesukanya di sana. Setelah merasa cukup ia menghentikannya dan hanya duduk dengan diam.
Kini ia larut dalam lamunannya, sama seperti beberapa waktu yang lalu.
“Kenapa aku belum bisa pulang ya? Padahal, aku sudah mengatarkan Liem dan yang lainnya dengan selamat ke Negeri Awan. Apa masalahnya? Aku sudah lelah dengan semua ini.”
Shuwan berulang kali menghembuskan napasnya. Pandangannya nampak sayu. Wajahnya kini pun terlihat seperti orang yang putus asa.
Ada perasaan rindu rumah yang membuncah dari dalam jiwa. Kehendak hati ingin jumpa, namun apa daya masih belum bisa.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja seseorang berambut putih muncul dari belakang Shuwan hingga membuatnya kaget
“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanyanya.
Mata Shuwan membelalak takut mendengar suara seorang pria yang berbicara padanya tiba-tiba. Seketika itu Shuwan membalikkan pandangannya.
“S-siapa kau?”
Pria itu pun hanya diam. Shuwan tidak mampu mengenalinya dengan jelas karena wajahnya tertutup kain tipis di capingnya.
Tib-tiba saja pria itu berjalan mendekat ke arah Shuwan. Sontak Shuwan pun ketakutan hingga terjatuh dari ayunan yang sedang ia duduki.
Pria misterius itu kemudian duduk di ayunan samping Shuwan. Ia kemudian membuka capingnya.
Orang ini... Aku seperti pernah melihatnya. Batin Shuwan setelah melihat wajah pria itu.
__ADS_1
Orang yang kini berada di samping Shuwan memiliki tubuh tinggi dengan rambut putih panjang, mata berwarna ungu muda, dan juga bulu matanya yang selaras dengan warna rambut
Shuwan kembali mengingat perjalanannya yang sudah-sudah. “Kau?” Celetuk Shuwan setelah mengingat perjumpaannya dengan pria itu di hutan ilusi.
Pria itu tidak langsung meresponnya. Ia justru tersenyum.
“Kau benar. Kita pernah bertemu dua kali. Itu saat kau berada di Hutan Ilusi (Eps. 7) dan juga Istana Yang Hilang (Eps. 24)” kata pria itu.
Shuwan pun bangkit dari jatuhnya. Ia lantas menanyai pria berambut putih yang misterius itu. “Bagaimana bisa kau masuk ke mimpiku berulang kali?”
“Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau.”
Entah kenapa aku merasa pria ini sangat mengesalkan. Shuwan kemudian duduk kembali di ayunan yang tadi ia duduki.
“Kehadiranku di sini hanya ingin memberitahumu, bahwa kau belum bisa kembali ke duniamu karena masih ada misi lainnya.”
“Misi lain? Bukankah aku hanya harus mengantarkan si mesum dan yang lainnya dengan selamat sampai ke Negeri Awan.”
Pria itu tersenyum. “Ini adalah tugas dadakan. Jika kau bisa sekalian menyelesaikannya, maka kau baru bisa pulang.”
Shuwan tampak kesal. Ia memegangi kedua tali ayunannya erat-erat. Tubuhnya bergetar hebat karena amarah.
“Kenapa... Kenapa semua hal ini harus terjadi padaku? Kenapa dunia ini sangat tidak adil?” buliran bening yang telah bermuara di netra Shuwan pun tumpah. Hatinya merasa seolah sudah lelah dan ingin pulang.
“Sesuatu hal yang terjadi di dunia ini, memang terkadang tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Begitu pun hal-hal yang terjadi padamu. Aku yakin, takdir memilihmu karena kau adalah orang yang tepat untuk ini.”
“Heh... Semuanya mengatakan seperti itu. Nyatanya, berkata itu tak semudah melaksana. Berulang kali aku harus jatuh dan bahkan terluka. Aku bahkan tidak bisa menikmati masa mudaku seperti gadis pada umumnya. Aku harus fokus bertarung dengan pedang. Aku harus melawan rasa takut dari merah darah dan bau anyirnya. Rasanya aku sudah lelah seperti ini. Benar-benar lelah...”
Pria itu terdiam. Pandangannya kini pun tertunduk.
“Ini adalah terakhir kalinya. Setelah ini kau akan terbebas dari rasa sakit, dan bisa memulai kehidupanmu yang baru. Kehidupan yang mungkin sangat diinginkan oleh hati nuranimu sejak lama. Aku memang tidak mengerti bagaimana kondisimu sekarang. Yang bisa kukatakan adalah ‘bertahanlah’ banyak orang yang sudah menunggumu untuk kembali.”
Shuwan menangis kencang. Ia meluapkan segala emosi yang selama ini sudah terpendam di dalam hatinya.
Setelah membiarkan Shuwan menangis selama beberapa waktu, pria misterius itu pun kembali mengutarakan kehadirannya.
“Baiklah, waktuku sudah hampir habis. Aku hanya akan mengatakan padamu mengenai misi yang harus kau lakukan.”
Shuwan hanya diam, ia bersiap mendengarkan dengan seksama apa yang akan diutarakan oleh pria misterius itu.
“Misimu adalah menyelamatkan Putra Mahkota Negeri Awan.”
Shuwan terbelalak mendengar misi tambahan yang harus ia jalani. “Memangnya apa yang akan terjadi?”
“Pekan depan, saat terjadi Bulan Darah, akan terjadi pemberontakan di Istana untuk menggulingkan raja sekarang. Mereka akan menyandera putra mahkota agar raja bisa menyerahkan tahtanya. Dan tugasmu adalah menyelamatkannya.”
“P-pekan depan? Bukankah itu tepat saat peringatan hari jadi Negeri Awan?” Shuwan kaget setelah memperhitungkan hari kejadiannya.
“Benar. Para pemberontak akan memanfaatkan situasi ini untuk meluncurkan serangannya.”
“Lalu, apakah setelah berhasil menyelamatkan putra mahkota aku bisa pulang?” tanya Shuwan.
“Tentu saja. Begitu kau menyelesaikan tugasmu, kau akan langsung menghilang dari dunia ini, dan kembali ke duniamu sendiri.”
“Baiklah. Aku akan pergi menyelesaikannya.”
Pria itu tersenyum lembut padanya. Ia lantas berdiri dari ayunannya, seraya memegangi capingnya.
“Nah, karena tugasku sudah selesai, aku akan pergi sekarang.”
“Tunggu! Kau tidak menjelaskan identitasmu. Bagaimana jika semua yang kau katakan hanya untuk menakutiku saja?”
“Aku tidak bisa mengatakan identitasku. Aku hanya berperan sebagai pengantar pesan yang ditugaskan khusus untukmu.”
“T-tapi..”
Shuwan itu melihat tubuh pria itu perlahan memudar dan menjadi transparan.
“Sudahlah jangan cemas. Kelak kita akan bertemu lagi...” kata pria itu.
Selesai mengatakannya pria itu pun menghilang dari pandangan Shuwan.
Sementara Shuwan yang berada di tempat tidur perlahan mengerjapkan matanya. Ia akhirnya bangun dan menyadari bahwa waktu sudah sore.
__ADS_1
Shuwan meletakkan tangan kirinya menutupi mata dan wajah bagian kirinya. Ia lalu mengingat-ingat kembali misi yang harus dia lakukan agar bisa pulang.
“Perayaan Negeri Awan ya?”