1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Taruhan


__ADS_3

Shuwan yang digendong oleh Zhang pun tiba di tempat Jiao dan Yu Hao menunggu. 


“Akhirnya kalian kembali. Bagaimana? Apakah kencannya menyenangkan?” kata Jiao dengan polosnya.


K-kencan? Shuwan tersenyum kecut. “Apa yang barusan kau katakan Jiao? Dan siapa yang kau maksudkan berkencan?”


“Kalian tidak bisa menipuku. Aku tahu itu. Bukankah pemandangan ini menandakan bahwa hubungan kalian menjadi lebih dekat lagi?” ledek Jiao.


“Yah, kencan kami memang sangat menyenangkan. Doakan saja agar kami bisa ke tahap yang lebih serius saat tiba di Negeri Awan nanti,” Zhang menimpali.


Mata Shuwan membulat sempurna. Ia sangat kaget mendengar Zhang mengatakan apa yang ia katakan tadi kepada kedua temannya tadi. Dasar bodoh! Apa yang bocah ini coba lakukan? Bisa-bisanya mengatakan omong kosong seperti ini. Aku harap Jiao dan Yu Hao tidak akan terpengaruh oleh ucapannya.


Respon yang diharapkan Shuwan ternyata berbeda. Jiao dan Yu Hao tampak sangat gembira mendengar perkataan Zhang.


“Apakah kau serius, Zhang? Itu bagus. Akhirnya kalian akan meresmikan hubungan kalian untuk selamanya,” kata Yu Hao sembari tertawa cengengesan.


“Benar kata Yu Hao. Pasti akan sangat menyenangkan menjadi saksi dari pernikahan kalian,” tukas Jiao.


Wajah Shuwan tampak gelap. Ia kesal dengan dukungan teman-temannya pada Zhang. “Ehem, sebenarnya ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.”


Seketika wajah Jiao, dan Yu Hao menjadi bingung setelah mendengar penolakan Shuwan secara terang-terangan.


“Itu akan terjadi. Dan pasti akan terjadi. Kita lihat saja, siapa yang bisa memenangkan pertarungan ini, Shuwan, atau aku.” Zhang menyalakan genderang pertaruhan dengan Shuwan. “Apa yang aku inginkan, pasti akan tetap terjadi. Aku, pasti akan membuatmu jatuh cinta sesegera mungkin," imbuhnya.


Shuwan ingin menyerah berdebat dengan Zhang, tapi ia sungguh tidak mengerti lagi bagaimana cara menjelaskannya pada Zhang. Kau tidak mengerti Liem. Kau tidak mengerti bahwa aku tidak bisa jatuh cinta. Akhirnya, dengan berat hati dan ucapan, Shuwan menerima tantangan itu. Walau pun ia sendiri sudah tahu akan seperti apa akhirnya nanti. “Baik. Aku terima tantanganmu. Dan aku pastikan, kau akan kalah dari taruhan ini. Saat itu terjadi, jangan menyesal, apa lagi menangis.”


“Aku tidak akan pernah menyesali, atau pun menangisi keputusanku walau pun itu akan berakhir dengan sebuah kesedihan,” jawab Zhang dengan yakin.


“Baiklah, aku dan Yu Hao akan menjadi saksi dari taruhan kalian. Siapa pun tidak akan bisa menghindar. Nah, kalau begitu, bagaimana jika kita lanjutkan perjalanan? Aku sudah merasa bosan berada di sini.”


“Ya. Kalau begitu kita lanjutkan. Tadi aku melihat ada sebuah pedesaan kecil tidak jauh dari sini. Kita bisa mencari makanan dan beberapa obat-obatan di sana,” sahut Zhang.


Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan mengendarai kuda. Yu Hao bersama Jiao, sedangkan Shuwan tetap bersama Zhang.


Semulanya Shuwan dan Zhang hanya saling diam. Tidak ada pembicaraan yang meramaikan perjalanan mereka. Hingga Shuwan pun memulai percakapannya dengan Zhang.


“Kenapa, kenapa kau mengatakan hal konyol itu pada Jiao dan Yu Hao?” tanya Shuwan dengan nada yang sedikit meninggi. Tentu saja, ia kesal dengak tindakan Zhang yang menurutnya gegabah.


“Aku tidak menganggapnya sebagai hal konyol, Shuwan. Aku bukanlah orang yang suka mempermainkan perasaan, terlebih mempermainkan ikatan suci pernikahan. Aku, hanya berkomitmen untuk menikah dan jatuh cinta sekali seumur hidup.”


“Heh, kau kaya, tampan, dan juga berpendidikan, kenapa hanya memilih untuk menikah dan jatuh cinta sekali saja? Bukannya kau bisa mendapatkan lebih banyak wanita?”


“Justru karena aku berpendidikan, makanya aku juga mempelajari esensi dari cinta itu sendiri. Aku hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan seorang istri yang dimadu. Jika itu adalah aku, sudah pasti aku cemburu. Bagaimana mungkin cinta itu bisa dibagi-bagi dengan begitu mudahnya?”


“Tapi bukankah itu bagus untuk memperbanyak relasi? Terlebih, keluargamu adalah saudagar.”


“Mungkin memang bagus jika memperluas relasi, tapi tidak ada yang tahu apakah semuanya benar-benar tulus ataukah hanya sebuah sandiwara untuk mendapatkan simpati.”


“Rupanya kau sangat menghormati wanita ya?”


Zhang tersenyum puas, “Tentu saja. Cukup satu, seumur hidup, dan selamanya. Tidak perlu banyak, jika satu saja sudah mampu mewakili keindahan yang ada di dunia ini.”


“Bagaimana jika keadaan memaksamu untuk menikahi banyak wanita?”


“Lebih baik aku mati, daripada melanggar prinsip. Untuk apa menikahi orang yang tidak mencintaimu? Bukankah itu hanya akan berakhir dengan saling menyakiti? Tiap-tiap dari kita juga berhak memilih untuk bahagia dengan pilihannya sendiri.”


“Tapi kau terus memaksa ingin menikahiku tanpa bertanya apakah aku setuju?”


“Ini adalah kondisi yang lain. Aku tidak tahu kenapa merasa yakin bahwa hubungan antara kita tidak sesederhana ini. Mungkin kita memang memiliki ikatan di masa lalu. Makanya aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja.”

__ADS_1


Kau benar, Liem. Kita memang punya hubungan di masa lalu. Tapi berakhir dengan tragis. Batin Shuwan yang membenarkan ikatannya dengan Liem di masa lalu. “ Bicaramu terlalu tinggi. Rasanya otakku tidak sampai memikirkan ucapanmu.”


Zhang mendekati telinga Shuwan. “Saat kita sudah bersama, kau bisa belajar banyak hal denganku. Termasuk teori tentang cinta. Aku akan dengan sangat senang hati mengajarimu,” kata Zhang setengah berbisik di telinga Shuwan.


Deg! Pipi Shuwan merona. Aku tidak boleh terlena. Aku harus secepat mungkin menyelesaikan misi ini dan kembali ke duniaku. Aku... Sudah merasa lelah terus menerus melakukan perjalanan dengan ujian yang sama.


Tidak terasa mereka sudah berjalan hampir seharian. Terlihat dalam pandangan sebuah desa terpencil yang dikelilingi perbukitan. Shuwan dan yang lainnya pun memasuki desa itu.


“Desa kecil ini sepertinya tidak banyak penduduk,” kata Jiao.


“Seperti yang kita lihat, kemungkinan tidak banyak orang yang tinggal di sini. Bisa jadi, mereka yang menetap di tempat terpencil seperti ini adalah korban perang dari wilayah yang kalah,” jelas Zhang.


“Bukankah orang-orang korban perang menjadi tanggungan bagi wilayah yang menang?” tanya Yu Hao penasaran.


“Seharusnya memang demikian. Tapi terkadang tidak semua menjalankan kewajiban mereka. Ada yang diperlakukan seperti rakyatnya sendiri, ada juga yang diperlakukan seperti budak. Mereka yang menjadi budak dan tidak tahan, memutuskan mengasingkan diri. Yah, tentunya dengan berbagai risiko yang harus mereka tanggung saat memutuskan untuk pergi,” Zhang menjelaskan kepada yang lainnya, mengenai pemikirannya.


“Aku pikir kau hanya mengerti teori percintaan. Ternyata kau paham juga ya mengenai kehidupan rakyat,” tandas Shuwan.


“Aku sudah mengatakannya bukan? Kalau aku adalah kaum terpelajar yang belajar banyak hal?” Zhang lagi-lagi mendekatkan bibirnya ke telinga Shuwan, “Dan aku akan mengajarimu lebih banyak lagi saat kau menjadi istriku,” bisiknya.


Shuwan mengerutkan keningnya. “Aku tidak membutuhkannya. Aku bisa belajar sendiri. Lagi pula, siapa yang mau diajari oleh orang mesum sepertimu?” ucapnya.


Wajah Zhang seketika menjadi bingung, kesal, dan penasaran. “M-mesum? Bagian mananya yang membuatku terlihat mesum?” 


“Tentu saja, kelakuanmu yang suka berbisik di telingaku, dan juga tindakanmu menciumku secara paksa. Kedua hal ini, sudah cukup untuk mengatakan bahwa kau adalah orang mesum,” terang Shuwan.


“Alasanmu tidak cukup kuat untuk menuduhku mesum, Shuwan. Lagi pula, jika aku memang menjadi orang mesum, bukankah aku akan menjadi pria mesum yang berkharisma?”


“Kau terlalu percaya diri.”


“Aku hanya melakukannya padamu, Shuwan. Karena kau satu-satunya wanita yang mampu membuatku berdebar.”


“Tentu saja jantungmu berdebar, jika tidak, itu artinya kau sudah mati.”


“Tutup saja mulutmu yang menyebalkan itu. Aku muak mendengar kata-katamu.”


“Baiklah. Demi Shu’erku, aku akan diam.”


“Sejak kapan aku menjadi milikmu?”


“Sejak kita terlahir ke dunia ini.”


Shuwan terdiam mendengarnya. Ia tak percaya bahwa Zhang akan mengatakan hal semacam ini. Bocah ini, benar-benar sulit untuk dihadapi. 


Jiao dan Yu Hao sedari tadi hanya menyaksikan teater kecil yang diperankan oleh Zhang dan juga Shuwan. Tanpa banyak bicara, mereka menyaksikannya sampai akhir.


“Mereka mulai lagi,” kata Yu Hao pada Jiao.


Jiao tersenyum lembut, “Orang yang sering berkelahi, biasanya akan mempunyai ikatan yang lebih kuat. Yah, aku tidak sabar saat Zhang menepati ucapannya untuk menikahi Shuwan,” imbuh Jiao.


“Apa kau yakin kalau Zhang akan memenangkan pertaruhan ini?” Yu Hao berusaha memastikan.


“Entahlah, tapi aku merasa yakin. Mungkin Shuwan akan kalah dalam taruhan ini. Biarkan waktu yang akan menjawabnya.” 


“Hah, kalau begitu ayo akhiri teater ini. Perutku sudah mulai lapar.” Yu Hao menjalankan kudanya, mendekati kuda yang ditunggangi Zhang dan Shuwan. “Ehem. Bagaimana kalau kita jeda perkelahian ini? Perutku sudah kelaparan sejak semalam.”


Zhang menatap Yu Hao, dan tersenyum. “Ah, iya. Aku sampai kelupaan. Kalau begitu ayo kita segera pergi.”


Mereka memasuki pedesaan, dan berhenti di sebuah kedai makanan. Yu Hao dan Jiao memesan makanan untuk mereka santap.

__ADS_1


“Begini sesekali tidak apa-apa ‘kan?” tanya Yu Hao memastikan.


“Tidak apa. Kita sudah melalui banyak hal ketika memulai perjalanan ini. Sedikit makan enak juga tidak apa,” imbuh Zhang.


Yu Hao pun mulai menanyai satu persatu temannya, mengenai makanan yang ingin dipesan. “Zhang kau ingin pesan apa?”


“Aku ingin memesan Shuan Yang Rou,” kata Zhang.


“Cuaca seperti ini kau ingin makan sup?” Yu Hao memastikan.


Zhang mengangguk. “Shuan Yang Rou mengandung rempah-rempah. Aku rasa itu bagus untuk kondisiku yang seperti ini.”


Yu Hao menghela napas. “Baiklah. Selama kau menginginkannya tidak apa. Lalu, bagaimana denganmu Jiao?”


“Aku ingin Bebek Peking,” imbuhnya.


“Wow, kau seorang penguasa dinasti rupanya.”


“Tentu saja. Seleraku ini cukup tinggi tahu.”


“Kalau begitu bagaimana denganku? Apa kau akan mepertimbangkannya?” Yu Hao menggoda Jiao, hingga pipinya merona.


Jiao memalingkan pandangannyabdari Yu Hao yang berusaha menggodanya. “Kita lihat saja nanti," jawab Jiao dengan singkat.


Mata Yu Hao membulat sempurna. Ia merasa senang seperti mendapatkan lampu hijau dari Jiao. Setelah merasa cukup, ia pun melanjutkan pesanan. “Ehem, kalau begitu, Shuwan, apa yang ingin kau ingin pesan?”


“Aku... Aku ingin manisan kesemek.”


Zhang yang sedang minum pun tersedak. “Kita belum makan apa pun dan kau ingin makan manisan kesemek?”


“Aku bisa makan apa pun yang aku inginkan. Yang penting, tidak mati kelaparan saja sudah cukup,” jawab Shuwan dengan wajah dingin. “Suasana hatiku sedang buruk, jadi aku ingin makan sesuatu yang manis agar merasa lebih baik.”


Suasana hatinya sedang buruk? Apakah ini karena aku yang terlalu mengusilinya? Batin Zhang merasa sedikit bersalah.


“Um, baiklah. Apa pun pesanan kalian, yang terpenting perut kita tidak kosong dan kelaparan,” ucap Yu Hao dengan wajah berseri. Ia kemudian memberikan daftar pesanan pada pelayan di sana, dan duduk kembali ke tempatnya semula.


Setelah sekitar 15 menit, pesanan mereka pun datang. Semuanya tampak senang, kecuali Shuwan yang wajahnya mendadak jadi muram. Tidak ada yang mengerti apa yang membuatnya demikian. 


“Shuwan, apa kau marah padaku?” tanya Zhang dengan penuh perhatian.


“Ah, tidak. Bukan itu. Hatiku hanya merasa sedikit resah, jadi aku terus menerus kepikiran. Sudah jangan khawatirkan aku. Ayo fokus makan, sebelum makanan kalian dingin,” ucap Shuwan berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia pun menggigit manisan kesemek yang ada di hadapannya.


Apa yang sebenarnya membuatmu khawatir, Shuwan? Batin Zhang dipenuhi rasa penasaran. Sangat ingin ia bertanya dan memastikan, tapi ia juga takut membuat Shuwan menjadi canggung. 


Aku juga tidak mengerti mengapa aku merasa resah. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Shuwan membuang napasnya dengan pasrah. Mulutnya mengunyah manisan kesemek, tapi pikirannya melayang dengan liarnya hingga membuatnya larut dalam pemikirannya dengan tatapan kosong.


Zhang hanya memperhatikannya. Ia akhirnya mengalihkan pandangannya pada hot pot yang ada di hadapannya itu.  Tangan kanannya mengambil isi sup dari panci. Lalu ia menyeruput kuah dan mulai menikmatinya. “Ah, makanan ini memang yang terbaik,” kata Zhang memuji hidangan kesukaannya.


Kau bahkan juga suka makanan itu. Rasanya reinkarnasimu itu selalu sama ya? Batin Shuwan setelah melihat polah Zhang dalam menikmati hidapngannya.


Zhang yang menyadari bahwa Shuwan memperhatikannya makan pun mulai menggodanya lagi. “Apakah kau mulai menaruh perasaan suka padaku?” kata Zhang seraya beradu pandangan dengan Shuwan. 


“Omong kosong apa yang kau bicarakan.” Shuwan pun mengalihkan pandangannya. 


“Benarkah? Tapi kau memperhatikanku makan. Itu artinya, kau mulai tertarik padaku bukan?” 


“Sebaiknya kau fokus makan supmu, atau kau akan tersedak kuah panas yang pedas itu.”


Tiba-tiba Zhang melipat tangan kirinya di atas meja, dan menyangga dagunya. Lalu ia pun fokus memandangi Shuwan dengan tatapan yang menggoda.

__ADS_1


Bocah sialan ini! Apa lagi yang sedang ia perbuat? Shuwan pun hanya memandangi manisan kesemek yang dipegangnya, dan menyantapnya tanpa memperhatikan kelakuan Zhang.


Sementara itu, Jiao dan Yu Hao hanya saling lempar pandang. Sesekali mereka cengengesan melihat kelakuan kedua temannya itu.


__ADS_2