1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Menetap atau Pergi?


__ADS_3

Sambil duduk di depan teras rumah Ying Jie, Zhang mengajak Shuwan berbicara empat mata.


“Shuwan, aku ingin minta maaf atas sikapku tadi pagi? Aku, benar-benar tersulut emosi hingga mengatakan kata-kata yang begitu menyakitimu,” sesal Zhang.


Shuwan mengangguk, “Aku menerima permintaan maafmu. Aku juga ingin meminta maaf karena telah membuatmu dan yang lainnya khawatir.”


“Bisakah kau berjanji padaku tentang suatu hal?” “Apa?” Shuwan penasaran. 


“Berjanjilah bahwa kau  tidak akan berjuang sendirian lagi, dan membiarkan aku beserta yang lainnya membantumu,” kata Zhang seraya mengulurkan jari kelingkingnya pada Shuwan, sebagai ungkapan janji yang harus ditepati.


“Aku...” Shuwan ragu dengan perjanjian itu. Ia khawatir bahwa ia tidak bisa menepatinya.


Siapa menduga bahwa Zhang berinisiatif menarik tangan Shuwan, dan langsung melilitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Zhang sebagai tanda setuju.


“Kau tidak diizinkan menolak. Tubuhmu sekarang begitu rapuh, bagaimana kau akan melindungi kami lagi dengan tubuh yang seperti itu?”


Zhang menggenggam erat tangan Shuwan. “Shuwan, mulai sekarang aku tidak akan menghindar lagi. Aku akan berusaha melindungimu, sampai kapan pun, karena aku menyukaimu. Jujur saja aku merasa cemburu ketika kau begitu dekatnya dengan laki-laki lain. Aku ingin marah, tapi aku tidak punya hak untuk itu. Untuk itulah aku akan memperjuangkan perasaanku.” 


Zhang menatap Shuwan dalam-dalam. Mereka pun saling beradu tatapan.


Zhang, kau selalu saja seperti ini. Di kehidupan lampau, hingga saat ini. Apa kau tau, bahwa aku merasa sangat bingung mengenai perasaan semacam ini? Batin Shuwan yang dilema. “Zhang, bagaimana jika kelak kita akan berpisah? Akankah rasamu itu tetap sama? Tidakkah kau akan merasa kecewa saat hari itu tiba?”


“Biar pun kita akan berpisah, perasaanku tetap tidak akan berubah, Shuwan. Kelak, aku akan menemukanmu kembali. Walau pun harus menanti ratusan, atau bahkan ribuan tahun lamanya. Tidak peduli berapa lama aku harus menunggu, aku pasti akan tetap menemukanmu.”


Tanpa terasa air mata Shuwan menetes begitu saja. Kata-katamu bahkan sama dengan apa yang kau utarakan waktu itu. Zhang, aku harus bagaimana?


Zhang menyeka air mata yang menetes di wajah Shuwan. “Jangan menangis. Hatiku jadi sakit jika melihatmu bersedih. “


Zhang kemudian merangkul kepala Shuwan, dan menjatuhkannya tepat ke dalam pelukannya. “Aku berjanji, tidak akan membuatmu bersedih Shuwan. Tidak apa jika sekarang kau ingin menangis. Aku akan menjadi sandaran yang kokoh untukmu.”


Sementara itu di balik dinding bambu, Yu Hao dan Jiao masih asik menguping pembicaraan Shuwan dengan Zhang.


“Hihi, misi kita berhasil,” kata Jiao seraya tersenyum lebar.


“Tentu saja! Siapa dahulu pembuat rencananya?” balas Yu Hao dengan percaya dirinya.


Kembali pada Shuwan dan Zhang yang sedang berpelukan di depan teras rumah. Shuwan yang terasadar tiba-tiba merasa begitu canggung berada di pelukan Zhang.


T-tunggu dulu! Kenapa aku jadi begitu melankolis? Shuwan segera melepas pelukan Zhang. Ia jadi tampak malu karenanya. Bola matanya berusaha memandang ke arah lain dan mencoba mengacuhkan Zhang yang sedari tadi bersamanya.


“Kenapa Shuwan? Kenapa kau melepaskan pelukanku?”


“Tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih untuk pelukannya.”


“Begitu rupanya. Baiklah. Jika kau butuh bantuanku, panggil aku saja. Dan, jangan minta bantuan pria lain,” bisik Zhang yang membuat muka Shuwan memerah.


“Iya iya, aku tahu!” Aku tidak ingin merasakan sakit. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya, sampai saat itu tiba. Batin Shuwan yang sedang berusaha mengendalikan perasaannya.


***


Hari silih berganti. Sudah sekitar satu minggu Shuwan berada di kediaman Ying Jie untuk memulihkan diri. Tiba baginya untuk berpamitan dan melanjutkan perjalanan.


Sementara itu, Zhang yang sedang berkemas di dalam bilik kamar di datangi oleh Ying Jie.


“Kau harus menjaga Shu’er dengan baik,” kata Ying Jie.

__ADS_1


Zhang masih fokus pada kegiatannya. “Tentu saja. Aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menjaga Shuwan.”


“Benarkah? Jika kau tahu apa yang harus kau lakukan, bagaimana mungkin dia bisa terluka sampai seperti itu?”


Zhang menjadi kesal karena perkataan Ying Jie, dan melepaskan barang-barang yang ia pegang untuk dikemas. “Kau! Jaga ucapanmu! Kau hanyalah orang asing yang kebetulan kami temui. Jika bukan karena kau telah menyelamatkan Shuwan, sudah ku hajar kau sekuat tenaga,” gertak Zhang yang meremas erat kerah baju Ying Jie. 


“Heh, jika sampai kau membuatnya terluka, aku tidak sungkan untuk merebut Shu’er dari tanganmu!”


“Sekali lagi kau bicara, akan kurobek mulutmu!” Zhang melepaskan cengkeramannya dan mendorong Ying Jie agar berhenti bicara.


Zhang segera mengemasi barangnya dengan cepat dan keluar dari kamar, menuju ruang tengah di mana Shuwan beserta yang lainnya berkumpul.


“Kakak, apakah kau harus pergi?” rengek Yue pada Shuwan.


Shuwan tersenyum, tangannya membelai lembut kepala anak perempuan itu. “Kakak memang harus pergi, karena kakak harus mencari obat. Lagi pula, perjalanannya juga masih cukup jauh. Kalau ditunda lagi, khawatirnya akan berbahaya bagi penderita.”


“Begitu ya? Padahal aku berharap kau bisa hidup bersama kami, dan menjadi pendamping Kak Ying Jie.”


Apa bocah ini menjodohkanku dengan Ying Jie?


“Ahem.. Apa kau sudah  berpamitan dengan mereka?” Zhang mengetahui arah pembicaraan ini pun mencoba menggagalkan aksi Yue. Berusaha menjodohkan Shuwan ku dengan si brengsek itu? Heh, itu tidak akan terjadi selama aku ada di sini. Dasar bocah tengik.


“Ya, aku sudah berpamitan dengan mereka,” balas Shuwan dengan senyuman lembut. Ada apa ini? Kenapa suasananya jadi begini? Batin Shuwan yang merasakan adanya persaingan memperebutkan dirinya.


“Kalau begitu sebaiknya kita segera berangkat,” ajak Zhang.


Shuwan, Jiao, dan Yu Hao pun mengangguk, tanda setuju.


Shuwan lalu berusaha bangkit dengan bantuan tongkatnya. Ia lalu menghadap ke Ying Jie seraya menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. “Terima kasih sudah menyelematkanku. Jika bukan karenamu, mungkin aku tidak akan hidup sampai saat ini.”


Ying Jie tersenyum, “Sudahlah. Lagi pula semua ini sudah menjadi takdir. Kau berhati-hatilah saat di perjalanan. Aku harap pria tak berguna di sampingmu itu bisa menjagamu dengan baik.”


“Kau pasti tahu jawabannya. Jadi aku tidak perlu memberitahukanmu.”


“Hei, kau!”


Shuwan berusaha menghentikan Zhang, “Sudahlah Zhang, jangan membuat keributan di sini. Ada anak kecil yang memperhatikan kita.”


“Hmph.” Zhang akhirnya luluh dan menahan dirinya. 


“Kalau begitu kami pamit dulu, Ying Jie. Yue, Yin, kalian harus tumbuh jadi anak yang baik dan sehat. Kakak percaya kalau kalian akan menjadi orang hebat suatu saat nanti,” ucap Shuwan dengan penuh kelembutan.


“Tentu saja, kami akan jadi orang hebat yang bisa melindungi dunia,” sahut Yin dengan penh semangat dan rasa percaya diri yang besar.


Akhirnya, Shuwan dan yang lainnya beranjak meninggalkan rumah itu. Saat akan keluar gerbang, tiba-tiba saja Ying Jie memanggilnya dengan membawa dua ekor kuda miliknya.


“Tunggu!”


Shuwan menoleh ke belakang, “Ada apa Ying Jie?”


“Ini, tunggangilah kuda ku agar kau tak kesulitan berjalan. Dan satunya lagi bisa digunakan oleh temanmu,” kata Ying Jie seraya menyerahkan kedua kuda itu pada Shuwan.


“Apakah tidak apa menyerahkan kuda ini pada kami?”


Ying Jie menggeleng, “Aku tulus memberikannya padamu.”

__ADS_1


“Baiklah, aku akan menerimanya. Ying Jie, maaf aku tidak bisa memberikanmu apa pun sebagai ucapan terima kasih. Aku...”


“Tidak apa. Bertemu denganmu saja aku sudah merasa bersyukur. Setidaknya kau berhutang nyawa padaku di kehidupan kali ini. Kelak, kau harus membalasnya di kehidupan selanjutnya.”


“Baiklah kalau begitu maumu. Semoga takdir mempertemukan kita kembali, supaya aku bisa membalas budimu.”


Shuwan pun menaiki kuda, diikuti oleh Zhang yang duduk dibelakangnya untuk mengendalikan kudanya. Lagi-lagi Ying Jie menghentikannya.


“Shuwan, tidakkah kau ingin menetap di sini? Aku bisa memberikanmu apapun yang kau inginkan. Bahkan seluruh dunia ini.”


“Aku memang sangat menginginkan kehidupan yang tenang, dan aman. Tapi, masih banyak hal penting yang harus aku selesaikan, dan janji yang harus aku tepati. Jadi, maaf, aku tidak bisa memilih tinggal.”


“Lalu, bagaimana kau akan bertanggung jawab dengan perasaanku?”


Apakah dia menyukaiku? Kami hanya bersama 1 minggu, dan dia sudah jatuh hati padaku? Ini terlalu cepat. “Bisakah kau mendekat sebentar?” pinta Shuwan.


Apa yang akan dilakukan oleh Shuwan? Batin Zhang dipenuhi rasa penasaran.


Ying Jie berjalan mendekati kuda yang Shuwan tunggangi. Ia pun menjatuhkan pandangannya pada gadis yang telah membuatnya terpana.


Cup. Shuwan mencium kening Ying Jie. 


Sontak Zhang seperti kebakaran jenggot. Di-dicium? Kurang ajar! Batinnya penuh rasa cemburu dan kesal.


Bukan hanya Zhang, Jiao dan Yu Hao pun kaget karena perbuatan Shuwan.


“Maaf, tapi aku tidak bisa menerima perasaanmu. Semoga, kau akan menemukan wanita yang lebih baik dariku, dan bisa mencintaimu dengan tulus. Ciuman itu, aku anggap sebagai perpisahan kita. Selamat tinggal, Ying Jie.”


Wajah Ying Jie memerah karena malu. Seketika ia membisu. Kata-kata yang sedari tadi berkeliaran di kepalanya, mendadak hilang dan buyar.


“Zhang, ayo berangkat,” pinta Shuwan.


Mereka pun melanjutkan perjalan. Meninggalkan Ying Jie dan kedua bocah kembar yang telah menemaninya selama seminggu.


Setelah cukup jauh, Zhang menghentikan kuda nya. Sedangakan Jiao, dan Yu Hao berjalan terlebih dahulu.


“Shuwan?” panggil Zhang.


“Iya, ada apa Zhang? Kenapa kau menghentikan kudanya?”


“Lihat aku?”


Shuwan pun berusaha menoleh untuk melihat Zhang, dan...


Cup. Zhang mencium bibir Shuwan. Ia menahan kepala Shuwan agar tidak melepaskan ciumannya.


Bocah ini! Apakah otaknya sudah rusak? Shuwan berusaha melawan, tapi tenaganya tidak cukup. Ia hanya tidak ingin kembali merasakan sakitnya kutukan hati es itu.


Setelah beberapa detik, Zhang melepaskan ciuman itu.


“Kau sudah gila ya? Melakukan hal konyol seperi ini,” Shuwan merasa kesal.


“Aku memang sudah gila karenamu, Shuwan. Aku sudah mengatakannya kemarin, saat kita duduk di depan teras rumah.”


Tiba-tiba Shuwan teringat dengan perkataan Zhang saat duduk bersama di teras rumah. Wajahnya memerah karena malu dicium oleh Zhang. 

__ADS_1


Tanpa kata-kata lain yang keluar, Zhang kembali memacu laju kudanya. Menyusul Jiao dan Yu Hao yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Tidak boleh, aku tidak boleh seperti ini! Shuwan berusaha menolak perasaannya di tengah laju kuda yang semakin kencang melintasi hutan.


__ADS_2