1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Sungai Air Mata


__ADS_3

Shuwan dan Zhang terus berjalan mengikuti petunjuk yang terdapat dalam peta, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah sungai yang tidak terlalu besar tapi memiliki air yang jernih serta bebatuan besar yang menghiasinya.


“Sebaiknya kita istirahat di sini saja. Menurutku tempatnya strategis. Ada pohon besar untuk berteduh, dan ada sungai yang airnya jernih untuk minum. Bagaimana menurutmu, Zhang?”


“Aku setuju. Apakah kau tahu tentang sungai ini?”


“Aku tidak tahu.”


“Sungai ini bernama sungai Air Mata.”


“Sungai Air Mata? Kenapa namanya begitu?” tanya Shuwan penasaran.


Zhang pun akhirnya menceritakan asal usul nama sungai Air Mata kepada Shuwan.


“Dahulu dikisahkan ada sebuah keluarga yang memiliki anak kembar, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kedua orang tuanya berasal dari kelompok elit yang berbeda wilayah. Awalnya mereka adalah keluarga yang bahagia, tapi tidak lama setelah kedua anak kembar itu lahir kedua orang tuanya memiliki perbedaan prinsip dan akhirnya memutuskan untuk berpisah, lalu kembali ke tempat asalnya masing-masing. Karena hal ini juga, kedua anak kembar itu pun harus terpisah. Sang ayah membawa anak perempuan, dan sang ibu membawa anak laki-lakinya.


Mereka mendidik anak-anak mereka dengan caranya masing-masing, dan mengatakan bahwa kedua anak kembar itu tidak boleh bertemu satu sama lain. Meskipun begitu, ikatan batin antara kedua anak itu tetap tidak bisa disembunyikan. Akhirnya mereka saling bertukar kabar melalui surat yang diantarkan dengan perantara burung. Setelah bertukar kabar, diam-diam mereka pun memutuskan untuk bertemu di sebuah sungai perbatasan kedua wilayah yang memisahkan mereka.


Berita pertemuan ini pun terdengar oleh masing-masing orang tua, sehingga orang tua mereka memutuskan untuk mengurung anak-anaknya agar tidak saling bertemu. Meski keduanya dikurung, mereka tak kehabisan akal untuk kabur dan bertemu. Kedua orang tua yang mendengar anak-anaknya kabur langsung memeriksa ke kamar anaknya dan mendapati surat-surat pertukaran kabar anak-anaknya. Sampai sini sebenarnya kedua hati orang tua mereka tersentuh, namun karena ego yang dimiliki masing-masing membuat mereka mengaburkan hal ini.


Kemudian, keduanya pun memutuskan untuk saling menyerang. Anak-anaknya yang mengetahui hal ini pun berusaha menghentikan pertarungan mereka di sungai tempat mereka bertemu. Namun, ketika pertempuran terjadi keduanya menahan anak panah yang akan mengenai ayah dan ibu mereka. Mereka pun menjadi tameng bagi keduanya dan mati karena jantungnya tertusuk anak panah.


Kematian kedua anaknya ini akhirnya membuat kedua orang tua mereka sadar, dan menangis karena penyesalan. Tidak seharusnya mereka melarang anak-anak mereka bertemu meski kedua orang tuanya berpisah karena perbedaan prinsip, tapi nasi sudah menjadi bubur. Anak mereka pun sudah tewas karena ego mereka. Tragedi inilah yang membuat sungai ini diberi nama sungai Air Mata. Tempat kedua anak itu bertemu, berpisah, dan penyesalan kedua orang tuanya.”


Shuwan pun menghela napas panjang, dan terdiam sejenak.


“Betapa egoisnya orang tua mereka, hingga anak-anak yang mereka cintai pun akhirnya menjadi korban dari keegoisan mereka sendiri.”


“Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, tidak ada yang tahu bagaimana hati manusia sebenarnya. Ia seperti ombak di lautan yang bisa berubah kapan saja,” sambung Zhang.


Mereka masih memandangi sungai itu dalam keheningan.


Shuwan memecah keheningan itu dan berkata, “Kau benar. Yah, kalau begitu aku akan bermeditasi sebentar. Jangan coba-coba berisik apalagi menggangguku.”


“Baiklah, aku akan duduk di bawah pohon ini dan menulis,” ucap Zhang.


“Menulis? Hah, tidak kusangka orang seperti mu suka menulis dan membawa buku tulis dalam perjalanan.”


“Hei, Nona. Biar pun begini aku adalah pemuda terpelajar, tentu saja aku suka membaca dan menulis.”


“Ya sudah, terserah kau mau melakukan apa yang penting jangan mengusikku saat aku sedang fokus bermeditasi.”


Zhang pun mengangguk tanda mengerti. Shuwan pergi ke batu besar yang ada di tengah sungai, dan duduk di atasnya untuk bermeditasi.


Sudah hampir dua jam Shuwan bermeditasi, dan Zhang fokus dengan bukunya. Tiba-tiba Shuwan mendengar derap langkah kuda yang semakin mendekat ke arah mereka beristirahat saat ini.

__ADS_1


Suara langkah kaki kuda? Siapa yang akan melintas? Jumlahnya sekitar sepuluh. Gawat! Batin Shuwan.


Segera Shuwan beranjak dari meditasinya dan berlari menuju ke tempat Zhang duduk.


“Hei, ayo kita bersembunyi!”


“Kenapa kau panik? Dan, kenapa kita harus sembunyi?” tanya Zhang heran.


“Sudah jangan banyak tanya!”


Shuwan pun menarik tangan Zhang dan mengajaknya bersembunyi di balik semak-semak. Terdengar suara langkah kaki kuda itu semakin mendekat. Shuwan dan Zhang pun mengintip dari balik semak.


“Dengan begini kita bisa memuaskan ketua. Harta-harta yang telah kita rampas bisa digunakan untuk membeli senjata dan memperluas jaringan. Dengan begitu, kita akan menjadi perampok yang ditakuti di daratan ini,” ucap salah seorang pria yang menunggangi kuda sambil tertawa lepas.


“Apakah mereka perampok?” bisik Zhang.


“Kelihatannya begitu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini, atau kita akan celaka.”


Shuwan dan Zhang mundur perlahan agar tidak menimbulkan suara. Namun, Zhang tersandung batu dan jatuh, sontak ia berteriak.


“Aduh!”


“Hei, kau! Payah, kita ketahuan!” Ucap Shuwan.


Para perampok itu pun menyadari keberadaan orang yang memata-matai mereka, dan bergegas turun dari kuda untuk menuju sumber suara.


Shuwan dan Zhang pun berdiri, akhirnya mereka pun bertatap muka dengan para perampok itu.


Dengan angkuhnya perampok itu berkata, “Heh, rupanya di belantara ini masih ada mangsa. Cepat kepung mereka!”


Lalu, perampok lainnya berkata, “Sebaiknya kalian serahkan harta yang kalian miliki, atau kami akan menghabisi kalian di sini!”


“Kalian pikir kalian itu siapa? Hanya manusia rendahan yang bertahan hidup dengan menghabisi nyawa orang lain,” ucap Shuwan dengan memasang wajah tegas.


Shuwan dan Zhang saling memunggungi. Shuwan bersiap dengan pedangnya, dan Zhang juga bersiap dengan belatinya.


“Nona muda, nyalimu ternyata besar juga ya?” ucap perampok itu.


Perampok itu pun langsung menyerang Shuwan dan Zhang dengan brutalnya. Shuwan mampu menghindari serangan mendadak itu, begitu pula dengan Zhang. Di tengah pertarungan Shuwan pun memuji kemampuan Zhang.


“Tidak ku sangka, ternyata anak rumahan sepertimu juga bisa ilmu bela diri.”


“Biar begini aku adalah seorang pria. Mau diletakkan dimana mukaku jika tidak bisa menyelamatkan seorang wanita lemah sepertimu?” ucap Zhang.


Shuwan pun hanya tersenyum sinis. Para perampok itu satu persatu dikalahkan oleh Shuwan dan Zhang.

__ADS_1


Tanpa sadar Shuwan pun membuka celah dan membuat seorang perampok yang tersisa akan menusuknya dari belakang.


“Shuwan awas!” teriak Zhang sambil melindungi Shuwan.


“Zhang, kau..”


Shuwan pun segera menebas pria yang berusaha melukainya, dan semua perampok itu pun berhasil dibereskan. Melihat punggung Zhang dipenuhi darah, Shuwan pun menjadi panik karena Zhang terluka akibat melindungi dirinya.


Akhirnya ia mengeluarkan obat-obatan untuk mengobati Zhang secepat mungkin dan pergi dari sana. Zhang pun tersadar karena merasakan ada yang membuka bajunya dan menyentuh bagian lukanya.


“Terasa dingin. Apakah aku sudah menjadi pria yang keren,” ucap Zhang sambil menahan sakit.


“Dasar bodoh. Kau seharusnya melindungi dirimu sendiri, bukan malah melindungi orang asing sepertiku,” kata Shuwan.


“Entah kenapa tubuhku bergerak dengan sendirinya, dan merasa kalau kau bukanlah orang asing untukku.”


Shuwan hanya terdiam dan fokus menutup luka Zhang dengan perban yang sudah dibubuhi ramuan herbal untuk mempercepat proses penyembuhan.


Setelah selesai mengobati Zhang ia pun memapah Zhang ke arah kuda yang ditinggalkan oleh para perampok.


“Kita harus segera pergi dari sini dan mencari tempat aman untuk bermalam. Kita akan naik kuda ini.”


“Apakah kita hanya akan menaiki seekor saja?” tanya Zhang penasaran.


“Benar. Kau sedang terluka, bagaimana kalau lukanya terbuka ketika mengendarai kuda?”


“Apakah itu artinya kau mengkhawatirkan aku?” goda Zhang.


“Jangan berpikir terlalu banyak. Cepat naik!”


“Ternyata kau wanita galak yang perhatian ya?”


Zhang tersenyum dan naik ke kuda sambil menggoda Shuwan.


“Kau terlalu banyak bicara ya?!” gertak Shuwan.


Shuwan yang akan mengendalikan kudanya dan duduk di depan. Zhang pun duduk di belakang Shuwan.


“Lalu, bagaimana aku harus berpegangan?” tanya Zhang.


“Pegang saja pinggangku, karena aku akan memacu kuda dengan kecepatan penuh.”


“Apakah seperti ini?” ucap Zhang sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Shuwan.


“Sebaiknya kau jangan berpikir dan bertindak yang aneh-aneh. Nyawa kita hampir melayang hari ini. Hyaaa..”

__ADS_1


Zhang hanya tersenyum, dan Shuwan pun memacu kudanya meninggalkan lokasi itu.


__ADS_2