
Setibanya di desa, Shuwan dan Zhang turun disebuah kedai yang menjual bahan makanan.
Mereka membeli bahan makanan yang bisa bertahan lama agar bisa dibawa selama perjalanan. Tiba-tiba dari arah berlawanan seorang pria menabrak Shuwan dan menjatuhkan belanjaannya.
“Tolong, tolong aku, Nona!” pinta pria itu.
Shuwan tidak menjawab dan langsung melihat sekelompok preman yang mengejar pria itu. Salah seorang preman itu berkata, “Hei, Nona. Sebaiknya kau serahkan pria itu dan jangan ikut campur urusan kami.”
“Kalau begitu, kenapa kalian mengerjarnya? Tidakkah kalian lihat dia hanyalah seorang pria tua yang lemah?” Shuwan menanggapi.
Preman yang lain pun menggertak Shuwan, “Apa pun urusan kami dengan pria tua itu bukanlah urusanmu. Menyingkirlah atau kami akan melukaimu.”
“Kalian tidak bisa memberikan alasannya maka aku pun tidak bisa membiarkan kalian menyakiti pria tua ini.”
“Kami sudah memperingatkanmu, jadi jangan salahkan kami kalau kami berbuat kasar.”
“Zhang, tolong lindungi pria tua ini. Sementara aku menghadapi mereka,” pinta Shuwan pada Zhang.
Zhang sebenarnya khawatir dengan apa yang dilakukan Shuwan, ia pun berkata, “Apa sebaiknya kita tidak usah ikut campur? Bagaimana jika kau terluka?”
“Tenanglah, serahkan saja padaku. Kau pergilah bersama pria ini, tunggu aku di tempat yang aman.”
“Kalau begitu majulah kalian semua!” Shuwan menantang para preman itu.
“Sombong sekali kau,” ucap salah seorang lainnya.
“Aku bukannya sombong, tapi hanya percaya pada diriku sendiri. Orang-orang yang berbuat jahat dengan menindas orang yang lemah memang harus diberi pelajran.”
“Serang!” teriak preman itu dengan memberikan kode tangan untuk menyerang Shuwan.
Pertarungan terjadi antara Shuwan dan preman-preman itu. Perbandingannya adalah 1:5, Shuwan sendirian melawan lima orang preman.
“Apakah teman wanitamu tidak apa-apa? Aku khawatir preman-preman itu akan melukainya.”
Zhang tersenyum dan menanggapi pertanyaan pria tua itu dengan berkata, “Anda tidak perlu khawatir, dia bukanlah wanita biasa yang lemah, dan aku percaya dia bisa melakukannya.”
Pria tua itu tertawa, “Pasangan muda memang begitu romantis, ya?”
Zhang menyangkal pernyataan pria itu dengan wajah merona, “E-Eh... Pasangan muda? Sebenarnya kami hanyalah teman perjalanan karena tempat tujuan kami sama.”
“Mulutmu mungkin berkata tidak, tapi wajahmu terlihat merona dan membuatku yakin bahwa kalian adalah pasangan. Lagi pula, kelihatannya kau menyukai gadis itu. Selain itu, kalian berdua terlihat sangat cocok.”
“Sepertinya Anda salah paham, hubungan kami tidak seperti yang Anda bayangkan.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak coba mengutarakan perasaanmu padanya?”
“Kami baru saling mengenal beberapa hari yang lalu, tapi entah kenapa aku selalu merasa tidak asing dengannya, seperti pernah bertemu dan terjadi sesuatu antara aku dan juga Shuwan,” ucap Zhang.
“Oh, nama gadis itu Shuwan? Nama yang indah. Lalu namamu?”
“Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja aku Zhang.”
Sementara itu secepat mungkin Shuwan pun memenangkan pertarungan, dan membuat preman-preman itu lari. Tapi preman itu berjanji akan kembali lagi, “Tunggu saja pembalasan kami, kalian semua pasti merasakan akibatnya karena telah menghajar kami.”
Shuwan hanya diam tidak menanggapi gertakan preman-preman itu. Ia pun menuju tempat Zhang dan pria tua itu menunggu. Pria itu pun mengucapkan terima kasih padanya.
“Terima kasih atas bantuan kalian, kalau tidak mungkin aku bisa mati karena dipukuli preman-preman itu.”
“Sudah merupakan kewajiban untuk tolong menolong dalam kebaikan. Lalu sebenarnya, kenapa preman-preman itu bisa mengejar Anda?”
“Ceritanya sedikit rumit, bagaimana kalau kalian pergi ke rumahku saja? Sepertinya kalian juga bukan orang sini, dan terlihat seperti orang yang sedang mengembara.”
“Ah, Anda benar, kami memang sedang melakukan perjalanan ke tempat yang cukup jauh. Sebenarnya kami juga membutuhkan tempat untuk beristirahat malam ini.”
“Kalian bisa menginap di rumahku. Kalian juga pasti belum makan malam, kan? Ayo kita bergegas sekarang.”
Pria tua yang diselamatkan oleh Shuwan dan Zhang pun mengajak mereka ke rumahnya. Setibanya di rumah, pria itu memanggil seseorang, “Xiao Tao, Xiao Tao...”
Lalu keluarlah seorang anak kecil berusia sekitar 7 tahun dan menjawab panggilan kakeknya, “Iya, Kek.”
__ADS_1
Anak itu kaget melihat luka lebam di wajah kakeknya dan berkata, “Wajah kakek kenapa? Apakah orang yang berdiri di dekat kakek itu yang melakukannya?”
“Bukan, Xiao Tao. Kedua kakak inilah yang menolong kakek dari preman-preman itu. Tadi kakek keluar karena mau membeli persediaan untuk besok, tiba-tiba saja preman itu merampas barang-barang kakek. Untungnya ada mereka berdua, jadi kakek baik-baik saja.”
“Begitu rupanya. Kakak, maafkan Xiao Tao karena menuduh kalian.”
Zhang pun mendekati anak itu dan mengelus kepalanya. Dengan lembut ia pun berkata, “Tidak apa-apa, Xiao Tao. Kakak tahu kalau kau sedang mengkhawatirkan kakekmu 'kan? Jadi kau tidak perlu meminta maaf.”
Wajah anak itu pun berbinar, dan tersenyum pada Zhang serta Shuwan.
“Xiao Tao, apakah makanannya sudah siap? Tamu-tamu kakek ini belum makan malam,” ucap kakek menyela.
“Tentu saja sudah. Aku juga sudah menunggu kakek daritadi, hanya saja kakek terlambat kembali.”
“Kalau begitu maaf ya, Xiao Tao. Nah... Ayo Shuwan, Zhang kita masuk dan makan malam.”
Shuwan berbisik kepada Zhang, “Hei, bagaimana pria ini tahu namaku?”
“Tadi dia bertanya padaku.”
“Begitu rupanya.”
Shuwan dan Zhang akhirnya masuk. Mereka pun dipersilahkan duduk di meja makan.
“Ah, sebelumnya perkenalkan, ini Xiao Tao cucuku, dan aku adalah Xiao Jun. Kalian bisa memanggilku kakek Jun. Sebelumnya maaf, jika kami hanya bisa menjamu kalian ala kadarnya. Beginilah rumah kami, dan inilah makanan yang biasa kami konsumsi sehari-hari.”
Shuwan pun menanggapi, “Tidak apa-apa, Kek. Ini semua sudah lebih dari cukup untuk kami.”
“Benar yang dikatakan Shuwan, Kek. Anda tidak perlu merasa tidak enak. Kami seharusnya juga berterimakasih karena sudah memberikan tumpangan dan juga makanan,” sambung Zhang.
“Kalau begitu mari kita makan sebelum makanannya menjadi dingin.”
Malam itu, mereka pun makan bersama.
***
Sementara itu di markas para preman.
Para preman yang dikalah Shuwan itu dimarahi oleh pimpinan mereka.
“Tapi, Tuan, wanita itu bukanlah wanita biasa. Dia memiliki kemampuan bertarung yang bagus. Selain itu, dia sangat kuat.”
“B-Benar, Bos. Wanita itu memiliki aura yang tidak biasa. Kami semua bisa melihatnya, dan teman pria yang bersamanya juga begitu.”
“Aku tidak peduli, mau wanita itu kuat atau jago bertarung, siapapun yang menghalangiku maka harus menanggung akibatnya!”
Pimpinan para preman itu pun geram akibat insiden ini, dan akan menuntut balas pada Shuwan dan juga Zhang.
“Besok kita akan buat perhitungan dengan dua orang itu. Habisi mereka berdua! Lalu kita akan dengan leluasa menguasai desa dan menjarah harta benda para penduduk.”
Mereka semua yang ada di markas itu pun tertawa puas dengan apa yang akan mereka lakukan besok.
***
Setelah Shuwan dan Zhang makan malam di rumah itu, kakek Jun menceritakan mengenai permasalahannya dengan para preman itu.
“Desa ini dibangun olehku dan beberapa tetua yang ada di sini. Kekayaan alam yang kami miliki seperti sumber daya mineral dan juga aneka tanaman obat. Semua penduduk tadinya hidup dengan damai, dengan melakukan perdagangan barang tambang dan juga obat-obatan. Tapi semua itu berubah saat preman-preman itu menguasai desa kami.
Mereka merampas harta kami tanpa menyisakan apapun. Mereka menguasai tambang dan menghancurkan lahan perkebunan obat milik warga. Kami pun akhirnya menjadi seperti ini karena mereka. Bahkan ayah dan ibu Xiao Tao juga dibunuh oleh mereka. Preman-preman itu benar-benar makhluk yang lebih kejam daripada binatang buas.”
Kakek Jun pun menangis, ia menjadi begitu emosional ketika menceritakan kejadian yang menimpa keluarga dan juga penduduk desanya.
Kemudian Shuwan pun bertanya, “Apakah tidak ada yang mencoba melawan mereka? Bukankah seharusnya banyak pemuda di desa ini?”
“Kau benar, tapi pimpinan preman itu memiliki pusaka hitam yang dapat melumpuhkan lawan tanpa harus melakukan perlawanan.”
Pusaka hitam? Aku pernah membacanya di buku kakek. Pusaka hitam berbentuk seperti belati, dapat mengeluarkan sinar yang mampu melumpuhkan saraf-saraf lawan yang melihat cahayanya. Itu artinya jika tidak melihat sinar dari pusaka itu maka tidak terjadi apa-apa. Aku harus menghancurkan pusaka itu, batin Shuwan.
“Mengerikan,” ucap Zhang khawatir.
__ADS_1
Shuwan pun menyela, “Seperti yang dikatan para preman tadi, kelihatannya mereka akan mencariku besok. Cara agar tidak terkena efek dari pusaka hitam itu adalah dengan tidak melihat sinar yang keluar dari pusaka itu. Besok akan kuhancurkan kepercayaan diri para preman itu, beserta pusakanya.”
“Hei, hei, apakah itu tidak terlalu berisiko. Bagaimana kau akan menghadapi mereka?” tanya Zhang.
“Tentu saja aku akan bertarung dengan menutupi mataku.”
Zhang pun kaget dan khawatir dengan pernyataan Shuwan. Ia pun berkata, “Me-menutup mata? Bukankah itu berbahaya? Bagaimana jika kau terkena senjata atau serangan mereka?”
“Dahulu aku pernah buta, meskipun begitu kakekku tetap melatihku untuk bertarung dan bermain pedang dengan kondisiku yang tidak bisa melihat. Berkat latihan itu, aku jadi terbiasa.”
“Lalu apa rencanamu untuk besok?”
“Minta warga untuk berlindung dan tetap berada di rumahnya. Aku akan bertarung sendiri dengan preman-preman itu, dan kamu bisa bersembunyi disekitar tempatku bertarung takut jika memang terjadi sesuatu padaku. Usahakan tidak melihat ke arah mereka ketika mereka menggunakan pusaka hitam itu.”
“Baiklah.”
“Aku dan Xiao Tao akan memberitahukannya pada warga, kami juga akan meracik obat-obatan untuk jaga-jaga,” ucap kakek Jun.
Akhirnya malam itupun mereka bersiap-siap untuk pertempuran besok.
Hingga keesokan paginya tiba, suasana hening mewarnai desa itu. Sesuai rencana Shuwan agar warga tidak melakukan aktivitas terlebih dahulu. Hingga kawanan preman itu tiba di desa.
Pimpinan preman itu berteriak, “Hei, bocah ingusan, cepat keluar! Aku sudah datang untuk membuat perhitungan denganmu!”
Shuwan pun melompat dari atas atap sebuah kedai sayuran dengan matanya yang sudah ditutupi kain hitam. Ia pun berkata, “Berisik sekali sih, masih begitu pagi tapi sudah berteriak-teriak tidak jelas.”
“Hah, rupanya kau bocah yang mengalahkan para bawahanku? Nyalimu besar juga,” ucap pimpinan preman itu.
Shuwan pun tersenyum dan memprovokasi pimpinan preman. Ia berkata, “Biar kuberi tahu, bukan aku yang terlalu kuat tapi bawahanmu lah yang terlalu lemah dan mudah dikalahkan.”
“Kurang ajar! Lalu apa kau pikir bisa mengalahkan kami dengan matamu yang tertutup seperti itu?”
“Entahlah, semalam mataku kemasukan sesuatu, dan sampai sekarang aku belum bisa melihat.”
Para preman itupun tertawa.
“Bagus sekali! Dengan begini aku bisa membunuhmu dengan mudah!”
Preman itu pun maju menyerang Shuwan, Shuwan pun sudah bersiaga dan menghunuskan pedangnya ketika para bandit itu maju. Ia dapat merasakan getaran langkah kaki, mendengar hembusan napas, dan detak jantung dari orang yang akan menyerangnya dengan mata tertutup.
Ketika ada yang mendekat, Shuwan menebaskan pedangnya. Satu per satu preman itu lumpuh karena terkena pedang hitam milik Shuwan, hingga akhirnya menyisakan pimpinan preman seorang. Zhang mengintip pertarungan Shuwan pun kaget dan takjub.
“Apa kau sudah melihatku bertarung tadi? Bagaimana menurutmu? Oh, iya, pedangku sudah kulumuri dengan racun serangga mematikan. Jika kalian yang terkena tidak segera diobati, maka malaikat maut pasti akan senang mencabut nyawa kalian” ucap Shuwan sambil menyeringai.
Malam itu, Shuwan memang keluar mencari kalajengking beracun. Ia mengambil racunnya dan mengoleskannya ke pedang hitam.
“Kau terlalu percaya diri, aku masih memiliki pusaka in-“
Ucapan pimpinan preman itupun terputus, karena sebelum ia menggunakan pusaka itu Shuwan menusuk dada kirinya dengan pedang hitam.
Sambil menusuk pimpinan preman itu, Shuwan berkata, “Kebrutalanmu berakhir sampai disini!”
Pimpinan preman itupun tumbang, dan tewas seketika. Shuwan membuka penutup matanya dan segera mengambil pusaka hitam itu lalu menghancurkannya dengan tenaga dalam.
Para warga pun keluar dari rumah mereka, dan bersorak bahagia karena orang-orang yang menyebabkan mereka menderita telah binasa. Zhang pun juga keluar dengan senyum mengembang.
Tidak terasa hari telah siang, para warga sibuk mempersiapkan pesta untuk merayakan kemenangan ini. Malamnya, Shuwan dan para warga pun berpesta. Hingga Shuwan berkata pada kakek Jun, “Kakek, besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan. Jadi kami tidak bisa tinggal.”
Kakek Jun menghela napas dan berkata, “Begitu rupanya. Kalau begitu aku dan para warga akan mempersipakan bekal untuk perjalanan besok.”
“Terima kasih, Kek” kata Zhang.
Keesokan paginya, kakek Jun, Xiao Tao dan juga para warga mengantarkan Shuwan dan Zhang ke gerbang desa. Para warga memberikan obat-obatan, bekal makanan, dan sedikit uang kepada Shuwan dan Zhang sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong mereka.
“Terima kasih semuanya, kalau begitu aku dan Shuwan pamit undur diri,” tutur Zhang dengan sopan.
“Hati-hati.” Para warga pun membalasnya dan melambaikan tangan pada mereka berdua.
Zhang dan Shuwan pun pergi menunggangi kuda yang mereka bawa sebelumnya.
__ADS_1
“Kek, akankah kita bertemu mereka kembali suatu hari nanti?” tanya Xiao Tao pada kakeknya.
Kakek Jun menjawab sambil tersenyum, “Mungkin suatu hari nanti, biarkan waktu yang akan menjawabnya.”