
Shuwan duduk di kursi yang mengarah ke jendela. Menatap langit musim semi yang perlahan mulai pudar, terkikis oleh gelap malam yang perlahan datang.
“Kau terus menatap keluar. Apa yang sebenarnya sedang kau tunggu?” tanya Ying Jie.
“Menunggu waktu untuk pergi dari sini.”
“Haishh... Tidakkah kau merasa nyaman di sini? Jika kau tinggal di sini, kau tidak perlu bertarung hingga terluka begini.”
“Aku punya alasanku sendiri melakukan pertarungan dan perjalanan ini. Jadi, kau tidak perlu ikut campur dalam kehidupan pribadiku.”
Suasananya kenapa jadi begini? Wanita ini, memang sulit ditebak ya? Padahal aku tidak bermaksud membuat kecanggungan seperti ini. Batin Ying Jie yang sadar bahwa atmosfir pembicaraan di sana menjadi begitu serius.
“Baiklah, mungkin kau akan mempertimbangkan penawaranku lagi nanti. Kalau begitu aku akan menyalakan obor, dan lentera di rumah ini,” imbuh Ying Jie.
Baru saja Ying Jie membalikkan tubuh, Shuwan menghentikannya begitu saja.
“Tunggu!”
“Hm?” Ying Jie kembali menghadap Shuwan. “Apa ada yang kau perlukan lagi?”
“Itu... Apa aku bisa membantumu menyalakan lentera?”
Hah? Apa aku tidak salah dengar? Menyalakan lentera? Ying Jie berpikir keras melihat perubahan sifat Shuwan.
“Kenapa? Kau meragukan kemampuanku?” tanya Shuwan.
“Ah... Tidak, tidak. Aku hanya bingung dengan perubahan sikapmu saja. Sedikit-sedikit kau bersikap dingin, tapi berikutnya kau menjadi hangat. Jujur saja aku bingung.”
“Kau tidak perlu bingung. Dari dulu aku memang seperti ini.”
“Kau memang seperti bunga tanpa warna, ya? Yang bisa berubah menjadi warna apa saja di mana pun ia berada. Warna yang terlihat nyata mata, padahal bukanlah warna yang sesungguhnya. Benar-benar sulit di tebak.”
“Kau mengumpamai aku seperti bunga?” Shuwan menatap tajam Ying Jie, seolah seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
“Apa kau tidak suka? Bukankah wanita selalu menyukai bunga?”
“Aku memang suka bunga. Tapi, jika aku diibaratkan seperti bunga, entah kenapa aku merasa sedikit sebal.”
“Kenapa?” Ying Jie penasaran.
“Ketika seseorang melihat bunga yang elok rupanya, mereka terkadang tidak sabar untuk segera memetik, dan memilikinya. Tapi sebagaimana sifat bunga yang dipetik, ia pasti akan segera layu, lalu dibuang begitu saja. Padahal, bunga itu hanya ingin tetap hidup di pohonnya, lalu mati di tempatnya tumbuh juga. Menurutmu, apakah menjadi bunga itu memang selalu menyenangkan?”
Dia memang gadis yang cerdas. Aku jadi semakin tertarik padanya. Ying Jie selalu memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Shuwan. Ia lalu menanggapi ucapan Shuwan dengan bijak.
“Kau memang benar. Tapi tidak semua orang seperti itu bukan? Dunia ini, memang selalu penuh dengan pro dan kontra. Aku tidak menyalahkan pemikiranmu. Tapi, bukankah tidak semua orang berperilaku demikian? Jika ada yang suka merusak, pasti juga ada yang suka merawat. Kau tidak bisa semerta-merta menginginkan semuanya baik. Sebab apa pun yang terjadi, semua sudah ada garis takdirnya masing-masing.”
Shuwan terdiam. Ia tidak lagi merespon ucapan Ying Jie, hingga ia pun mengalihkan pembicaraan perbungaan itu.
“Hari sudah semakin gelap, apakah tidak jadi menyalakan lentera?”
Ying Jie lalu memandangi sekitar, dan benar saja, langit sudah semakin gelap.
__ADS_1
“Ah... Aku sampai lupa. Kalau begitu, apa kau jadi ikut membantuku menyalakan lentera?”
“Tentu saja,” Shuwan berusaha bangkit menggunakan tongkat yang dibuat oleh Ying Jie. Walau wajahnya tampak meringis menahan kesakitan, tapi Shuwan tidak ingin menyerah. Ia akan mencoba membiasakan berjalan dengan tongkat.
Ying Jie hanya memerhatikan Shuwan yang tengah berusaha. Ia ingin membantunya, tapi ia tahu kalau Shuwan pasti akan langsung menolaknya.
Setelah Ying Jie menyalakan obor di luar, ia masuk ke dalam rumah, dan mendapati Shuwan yang tengah menyalakan lentera utama di ruangan itu. Ia pun bergegas menyalakan yang di sisi lainnya.
Tidak ada angin dan tidak ada hujan, Shuwan tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan pada Ying Jie. “Sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan.”
Ying Jie hanya memutar tubuhnya, melihat punggung Shuwan dari belakang. “Mengenai?”
“Mengenai kenapa kau memilih tinggal di tempat terpencil seperti ini? Aku hanya merasa, sebenarnya kau bukanlah orang yang sesedarhan itu.”
“Ternyata penglihatanmu tajam juga ya? Aku tinggal di tempat seperti ini karena keinginan diriku sendiri yang ingin hidup dengan tenang. Tidak perlu memikirkan negara, ataupun pemerintahan.”
“Jadi dugaanku benar?? Kau orang yang berasal dari kalangan atas.”
Ying Jie menghela napas dalam-dalam, “Ayahku adalah menteri pertahanan. Dia mengurusi begitu banyak hal. Aku sampai pusing sendiri melihatnya. Dia menginginkanku untuk menjadi penerusnya di pemerintahan. Tapi aku menolaknya. Orang sepertiku yang ingin hidup bebas, bagaimana bisa hidup di tempat yang banyak peraturan seperti itu? Inilah alasanku mengasingkan diri ke tempat ini.”
Shuwan kembali merapikan lentera yang selesai ia nyalakan, namun belum menggantungkannya lagi. Pandangannya tertuju lurus dengan cahaya lentera itu. “Begitu rupanya. Lalu, bagaimana dengan ayahmu? Pasti dia sangat kecewa denganmu bukan?”
“Tentu saja. Ia marah besar mendengar keputusanku yang tidak ingin masuk pemerintahan. Aku tetap pada prinsipku, dan ayahku, akhirnya dia meminta adikku yang masih muda untuk naik. Sebenarnya aku kasihan padanya, tapi aku juga tidak ingin menjadi burung dalam sangkar yang hidup dengan penuh aturan.”
“Yah, aku hanya bisa mendukungmu atas keputusan yang kau lakukan.”
Lentera di meja itu kemudian di gantungkan oleh Ying Jie. Shuwan hanya duduk memerhatikan lentera kecil di atas meja. Ia jadi kepikiran dengan Zhang dan yang lainnya. Apakah mereka baik-baik saja?
Tidak lama setelah Shuwan melamun, murid Ying Jie tiba di rumah.
Ia berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar, bersama segelintir orang yang masih tertutup kegelapan.
“Shuwan?”
Suara yang sangat tidak asing bagi Shuwan. Suara yang selama ini selalu membersamainya. Suara yang bahkan membuat hatinya seakan bergetar mendengarnya. Shuwan terpaku, ia berdiri mematung dengan kedua tangan yang memegang tongkat.
Dari sudut gelap itu, tampak seseorang berlari mendekat ke arah Shuwan. Hingga sorot lentera mengenai orang itu, dan menampilkan wajah yang sudah sangat ia kenal. Yah, itu Zhang. Ia langsung berlari mendekati Shuwan, dan memeluknya dengan erat.
“Aku pikir kau...”
“Tenanglah. Aku masih hidup. Kau bisa tenang sekarang.” Shuwan menyadari sesuatu saat Zhang memeluknya. Dia menangis? Zhang, kenapa kau selalu menangisiku seperti ini?
Shuwan melepaskan tongkat penyangga yang ia pegang. Hatinya tergerak, tangannya berusaha membalas pelukan hangat itu. Ia meraih punggung Zhang, dan menepuknya dengan lembut.
“Sudah... Tidak apa. Sekarang aku baik-baik saja. Tenangkan hatimu.”
“Bagaimana aku bisa merasa tenang? Kau terluka sampai seperti ini. Jika saja, aku tidak membiarkanmu bertarung sendirian. Jika saja aku bisa mengejarmu lebih cepat, semua ini pasti tidak akan terjadi.”
“Haish... Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Jika kau memelukku terus-terusan seperti ini, aku akan jadi tidak baik-baik saja karena sesak napas.”
Zhang menyadari perkataan Shuwan, ia lalu melepaskan pelukan itu, dan menahan tubuh Shuwan dengan tetap memegang bahunya. “Ah... Maafkan aku. Aku hanya... Sangat mengkhawatirkanmu.”
__ADS_1
“Yah... Aku mengerti. Lalu, bagaimana kalian bisa menemukanku di sini?”
“Ah... Itu karena kami bertemu mereka di hutan.”
Flashback on
“Sudah sejauh ini, sebenarnya kuda itu membawa Shuwan ke mana sih?” keluh Yu Hao.
“Entahlah. Kita sudah berjalan sangat jauh, kita istirahat dulu sebentar di sini,” kata Zhang seraya duduk dan menyandarkan punggungnya di sebuah batang pohon besar yang ada di sana.
“Ahh...!”
Zhang yang tenang pun terperanjat mendengar teriakan dari sisi hutan yang lainnya. “Suara apa itu?”
“Yang jelas itu suara manusia. Sepertinya ada di sebelah sana!” sahut Jiao yang langsung memastikan sumber suara.
Tanpa pikir panjang mereka pun langsung mendekati sumber suara, dan benar saja. Di sana ada dua orang anak yang sedang disudutkan oleh seekor serigala.
“Tenanglah, Yue. Aku akan melindungimu,” teriak anak laki-laki yang memegang obor untuk menakut-nakuti serigala itu.
Dengan sigap, Zhang pun mengambil ranting pohon dan menebas ujungnya menggunakan belati yang ia bawa. Menjadikan batang pohon itu sebagai tombak. Begitu jadi, ia langsung melemparkannya ke arah serigala itu, dan membuat serigala itu lari ketakutan.
Zhang, Jiao, dan Yu Hao berlari mendekati kedua anak itu.
“Apakah kalian tidak apa-apa?” tanya Zhang.
“Aku tidak apa-apa, tapi Kak Yin tangannya terluka akibat cakaran serigala itu,” kata anak perempuan itu.
“Ini hanya luka kecil. Aku tidak apa-apa, Yue. Kau jangan cemas, sebentar lagi lukanya akan kering.”
“Anak-anak seperti kalian kenapa masih ada di hutan saat hari sudah petang begini?” Yu Hao penasaran.
“Kami sedang mencari kayu bakar dan juga tanaman obat. Rumah kami tidak jauh lagi sebenarnya. Apa kalian ingin mengunjunginya? Guru kami juga sangat ramah loh,” ucap Yin seraya tersenyum.
“Kami ingin, tapi kami sedang mencari teman kami. Apakah kalian pernah melihat seseorang melintasi tempat ini membawa seorang wanita berkulit putih, dan berambut hitam panjang? Ah, dia juga membawa sebuah pedang hitam yang panjang.” Zhang mendeskripsikan ciri-ciri Shuwan secara singkat, agar kedua anak itu mengerti dengan apa yang dikatakannya.
“Kakak, bukankah orang yang dikatakan kakak ini seperti wanita yang dibawa oleh guru?” celetuk Yue.
“Jadi, guru kalian membawa seorang wanita ke rumah kalian?” Zhang kaget, mata terbuka lebar setelah mendengar Yue berbicara.
“Sehari yang lalu, guru membawa pulang seorang wanita di kudanya. Dia bilang kalau wanitu itu dibawanya dari dasar Jurang Kesunyian yang kebetulan ia lewati. Wanita itu terluka sangat parah. Tulang kaki kiri, dan 2 tulang rusuknya patah. Ia seperti sudah akan mati. Tapi karena bakat yang dimiliki guruku, dia jadi bisa bertahan dan melewati masa kritisnya,” terang Yin pada Zhang.
Zhang, Jiao, dan Yu Hao saling melempar pandangan. Seolah paham dan yakin jika wanita itu adalah benar Shuwan.
“Kalau begitu, apakah kami boleh ke rumah kalian untuk menemui guru dan wanita itu?” tanya Jiao.
Yue tersenyum lebar, “Tentu saja. Siapa pun boleh datang berkunjung.”
Mereka berlima pun akhirnya melanjutkan perjalanan, menuju tempat tinggal Yue dan juga Yin.
Flashback off
__ADS_1
“Begitu ceritanya. Makanya kakak-kakak ini bisa sampai kemari,” terang si anak laki-laki.
“Begitu rupanya. Syukurlah kalian semua baik-baik saja.” Shuwan akhirnya bisa merasa tenang setelah bertemu kembali dengan teman-temannya.