
Malam harinya, Xin Ru pun berencana melaporkan apa yang diketahuinya perihal Shuwan. Dengan sikap biasanya, dia menunggu tuannya menyelesaikan aktivitas menulisnya.
Selang beberapa waktu kemudian ia pun memulainya.
“Tuan... Ada sesuatu yang ingin kulaporkan padamu,” kata Xin Ru.
“Apa itu? Kelihatannya sesuatu yang penting,” imbuh putra mahkota.
Xin Ru menelan salivanya, dan bersiap mengutarakannya. “Tadi, saat aku mengantarkan surat itu ke kediaman Luo Shu, orang yang menerimanya adalah Shuwan.”
“Lalu...” Zhi Qiang menanti kelanjutannya.
“Shuwan, dan Zhang sepertinya saling mengenal.”
“Benarkah?” sergah Zhi Qiang dengan netra yang kini membulat sempurna.
Xin Ru mengangguk pelan. “Ketika membaca isi surat itu aku melihat dia tampaknya akrab dengannya.”
Zhi Qiang mengedarkan netranya. Sejenak ia berpikir. “Hm... Bukankah si Zhang itu sebelumnya juga tinggal di kediaman Luo Shu? Apakah Shuwan dan Zhang berasal dari tempat yang sama? Aku jadi semakin penasaran dengan hubungan di antara mereka berdua.”
“Itu juga bisa menjadi suatu dugaan, Tuan. Tidak tahu apakah mereka adalah saudara, atau malah pasangan ke-“
“Tidak! Mereka pasti saudara. Bukan seperti yang akan kau katakan.” Wajah Zhi Qiang tampak sedikit kesal dengan hal yang belum sempat dilontarkan oleh Xin Ru. Pantas saja Zhang seperti mengenali lukisan Shuwan, rupanya mereka tinggal bersama.
“Sudahlah. Aku akan memastikannya sendiri ketika Shuwan datang besok.” Zhi Qiang mengalihkan pandangannya. “Kalau begitu, kau boleh pergi,” titah Zhi Qiang.
Sudah kuduga kalau Tuan akan berekspresi seperti ini. Semoga saja apa yang diharapkan Tuan memang benar. Jika Shuwan adalah adik atau kakaknya Zhang, Tuanku tentu masih punya kesempatan. Batin Xin Ru setelah melihat perubahan ekspresi tuannya yang mudah berubah secepat membalikkan halaman buku. Ia lantas menegapkan dirinya, dan berpamitan. “Kalau begitu aku pergi dahulu.”
Ketika hendak bejalan pergi, Xin Ru tiba-tiba teringat sesuatu hal lagi. “Tuan, Angsa Hitam mu itu menyukai manisan kesemek,” katanya.
Namun, Zhi Qiang hanya diam saja dengan pandangan menatap Xin Ru yang sudah di ambang pintu.
Tanpa mempedulikannya, Xin Ru kemudian berjalan keluar dan meninggalkan Zhi Qiang yang masih berwajah masam.
Setelah suasana tenang, dan hari semakin larut, Zhi Qiang pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Sebelum tidur, ia pun mengurai rambutnya yang terikat.
Ia jadi terpikirkan kembali mengenai Shuwan dan Zhang. “Hah... Bagaimana jika Shuwan dan Zhang adalah pasangan cinta? Bukankah itu artinya aku akan menjadi putra mahkota yang patah hati?”
Zhi Qiang mendesah pelan sebelum akhirnya ia terlelap dalam hening, dan pikirannya yang penuh dengan urusan cinta dan juga negara.
***
Semburat berwarna jingga telah menghiasi langit timur yang dihiasi awan sirus. Menampilkan pemandangan indah bak lukisan cat minyak yang terhias di dinding.
Shuwan dan Jiao telah bersiap melakukan perjalanan. Mereka memilih waktu pagi agar perjalanan tidak begitu terasa melelahkan. Selain itu juga, mereka ingin megnhirup udara segar pagi hari Negeri Awan.
Shuwan mengenakan pakaian berwarna merah seperti pendekar wanita zaman dahulu pada umumnya. Tidak lupa ia menggendong pedangnnya ke punggung. Sementara Jiao, ia mengenakan pakaian seperti Shuwan berwarna biru elektrik, hanya saja potongan atasannya lebih pendek, yakni sepanjang lutut.
“Apakah aku terlihat aneh memakai pakaian berwarna mencolok seperti ini?” tanya Shuwan meminta pendapat Jiao.
“Kau terlihat lebih bersinar Shuwan. Lagi pula merah adalah warna cinta dan keberuntungan. Semoga saja sejalan dengan urusan asmaramu.”
__ADS_1
Shuwan hanya memutar bola matanya setelah mendengar jawaban Jiao. Sedangkan Jiao, ia terkekeh puas setelah membuat Shuwan tak mampu berkata-kata.
Setelah dirasa cukup bersiap-siapnya, Shuwan dan Jiao pun berpamitan kepada Luo Shu yang sudah menunggu mereka di ruang tamu.
“Shifu, kami pamit pergi ke istana. Kau yakin tidak apa jika kami tinggal?”
Luo Shu tertawa lembut. “Sudahlah, jangan risaukan aku. Lagi pula, di sini ada banyak pelayan yang sudah terbiasa membantuku. Kalian pergi dan bersenang-senanglah.”
“Kalau begitu kami pergi dulu,” imbuh Jiao.
Shuwan dan Jiao pun membungkukkan badannya memberikan pernghormatan pada alkemis sepuh yang disegani banyak orang itu.
Begitu selesai memberi hormat, keduanya pun beranjak pergi menuju kuda yang sudah terparkir di depan pintu.
“Jiao...” panggil Luo Shu.
“Iya, Shifu!” Jiao segera membalikkan tubuhnya.
“Jangan lupa manisanku.”
Jiao tertawa mendengar gurunya kembali mengingatkan pesanannya. “Siap, Shifu!” jawab Jiao.
Shuwan yang sudah terlebih dahulu di dekat kuda pun tersenyum lebar. “Rupanya kau?! Kali ini kita akan melakukan perjalanan lagi. Kau harus siap dan bergerak cepat ya?” kata Shuwan pada kuda hitam yang sebelumnya ia tunggangi. “Jika kau bisa membawaku cepat sampai ke istana, nanti kuberi kau dua buah manisan kesemek,” bisik Shuwan ke telinga kuda itu.
Jiao yang menyaksikan polah Shuwan hanya terkekeh. Ia lalu berjalan mendekati temannya. “Hei, apa kau mengajak kuda ini mengobrol?” tanyanya.
“Tentu saja. Kuda ini pernah kutunggangi untuk ke istana waktu itu, dan dia bisa mengerti ucapanku. Bukankah itu keren?”
“Hahaha... Kalau begitu kau bisa menjadi pawang kuda setelah ini,” ledek Jiao.
Shuwan dan Jiao kemudian berangkat menuju istana. Kini Shuwan sudah pulih, jadi dia yang mengendalikan kudanya. Sementara Jiao, ia duduk dengan patuh di belakang Shuwan.
***
“Bagaimana penampilanku, Xin Ru?” tanya Zhi Qiang pada Xin abdi setianya itu.
“Yah, kau terlihat seperti penjaga perpus istana,” katanya dengan malas.
“Bagus! Dengan begini, Angsa Hitam tidak akan mencurigaiku.”
“Apa kau yakin akan menyamar seperti ini?” tanya Xin Ru.
Zhi Qiang menaikkan kedua alisnya. “Tentu saja.”
Xin Ru membuang napasnya melihat polah tuannya yang menyamar demi mengejar cinta. “Lalu, apa yang akan kau lakukan jika dia tahu kau adalah putra mahkota?”
Zhi Qiang menaikkan kedua bahunya. “Akan kupikirkan itu nanti. Yang terpenting sekarang adalah bersiap menyambutnya. Aku juga sudah meminta penjaga perpus yang lainnya untuk bekerja sama denganku.”
“Sampai segitunya kau mencoba mengejarnya. Lalu bagaimana jika dia akhirnya menolakmu?”
Raut muka Zhi Qiang berubah sendu, “Mungkin aku tidak akan menikah.”
__ADS_1
“Hah? Bagaimana mungkin kau tidak menikah? Kau seorang putra mahkota, dan pasti kau harus punya pewaris,” imbuh Xin Ru dengan nada yang sedikit meninggi.
“Dari awal aku memang tidak tertarik menjadi pewaris tahta. Seandainya bisa, aku ingin mengalihkannya pada yang lainnya.”
Xin Ru berdecak, “Ini adalah takdirmu, jadi kau harus menjalaninya. Jangan sampai karena cinta butamu pada seorang wanita, malah membuat negeri ini hancur berantakan.”
Zhi Qiang membuang napas yang terasa begitu beratnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada tiang pintu kamarnya yang terbuka. “Kalau begitu biarkan aku bersenang-senang terlebih dahulu. Aku sudah penat memikirkan urusan negara yang tidak kunjung usai.”
Xin Ru hanya bisa diam. Ia mengerti bagaimana tuannya selama ini bekerja sangat keras membantu negeri ini tetap stabil.
“Ah.. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan kudapan dan minuman,” imbuh Zhi Qiang.
Ia lantas berjalan menjauh meninggalkan kediamannya. Lalu pergi menuju sebuah pendopo yang ada di dekat kolam tepat di samping perpustakaan.
“Aku akan melakoni peranku dengan sempurna. Tentu saja semuanya juga harus mendukung. Tempat istirahat di tepi kolam, dan juga manisan kesemek kesukannya.”
Zhi Qiang memandangi permukaan kolam yang ditumbuhi oleh teratai. Sembari menunggu Shuwan sampai ke istana.
Aku harus menyiapkan hatiku, untuk apa pun yang akan terjadi nanti. Shuwan.... Shuwan.... Bisa-bisanya kamu membuat perhatianku teralihkan padamu.
Zhi Qiang masih memandangi kolam itu. Ia kemudian melipat kedua tangannya ke dada. Bertahan dalam penantian hanya untuk sebuah pertemuan.
***
Waktu tiga jam berlalu begitu saja. Kini Shuwan dan Jiao telah berdiri di depan gerbang istana.
“Siapa dan ada keperluan apa kalian kemari?” tanya salah seorang penjaga.
“Aku Shuwan. Aku kemari atas undangan Tuan Pustakawan bernama Qiang’er,” singkat Shuwan.
Kedua penjaga gerbang itu saling melemparkan kode. Ya, keduanya adalah penjaga yang sudah ditugaskan oleh Zhi Qiang untuk menerima Shuwan ketika tiba.
“Kalau begitu silakan masuk dan ikuti aku,” kata seorang penjaga yang menuntun Shuwan.
Shuwan mengikuti penjaga itu masuk dan untuk pertama kalinya ia menjejaki kakinya di pelataran istana. Pun dengan Jaio yang sedari di luar gerbang pun terkagum-kagum dengan bangunan paling megah dan besar di wilayah Negeri Awan itu.
Penjaga gerbang itu mengarahkan Shuwan ke tempat di mana kudanya bisa dititipkan. Tidak lupa ia menyuapi kuda itu dengan dua buah manisan kesemek yang ia bawa.
“Ini adalah bonus sudah mengantarkanku,” katanya.
Kuda itu pun melahapnya dengan cepat. Shuwan tersenyum lembut padanya. Dielusnya kepala kuda itu. “Tunggulah dengan tenang di sini. Setiap hari, aku akan mengunjungimu jika lapang.”
Setelah memberi kuda itu manisan, Shuwan pergi ke tempat Jiao menunggu.
“Ayo!” ajak Shuwan pada Jiao yang tengah terduduk di kursi dekat kandang itu.
Jiao mengangguk dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Keduanya kemudian berjalan menuju perpustakaan istana tempat Zhi Qiang menunggu.
Di tengah perjalanan, rasa penasaran Shuwan pun muncul. “Shuwan, sebenarnya orang seperti apa penjaga perpustakaan itu?” tanya Jiao.
__ADS_1
Shuwan mebalasnya dengan senyum simpul. “Kau lihat saja nanti.”
Keduanya lalu fokus kembali berjalan. Menyusuri lorong-lorong yang saling menghubungkan ruangan di istana.