
Tunggu dulu! Apa maksudnya Feng ini kita akan menyusup ke kediaman Liu? Bukankah itu artinya kita akan lewat jalur atas? (maksudnya memanjat dinding dan naik ke atap rumah). Hem... Itu artinya kita akan bergerak seperti ninja. Batin Shuwan dengan tangan yang sembari memegang dagunya.
“Bagaimana kita akan menembus pertahanan di sana?” tanya Zhang dengan penuh kehati-hatian. “Banyak penjaga berlalu lalang di sana. Adakah cara agar langkah kita tidak terdeteksi?”
“Hem... Itu bisa diatur. Tentu kita tidak lewat jalan biasa. Kita akan lewat jalur atas. Bergeraklah seperti pengawal bayangan yang dapat melompat dari atap ke atap,” Feng menjelaskan.
Sudah kuduga. Sepertinya ini akan seru. Tapi... Apa yang akan terjadi dengan Han Ji dan juga adiknya jika keluarga Liu benar ditangkap setelah mendapatkan bukti itu? Shuwan menjadi dilema. Di sisi lain ia harus segera menuntaskan misinya, tapi di sisi lainnya pula ia iba pada Han Ji dan adiknya.
“Untuk berjaga-jaga, tadi aku sudah menyiapkan beberapa barang yang akan kita bawa saat menyelinap. Bom asap biasa, dan juga bom asap yang dicampur dengan obat bius,” kata Feng sembari mengeluarkan barang-barang yang sudah ia siapkan. “Tengah malam nanti adalah waktu yang tepat untuk melancarkan aksi. Saat semua orang sudah terlelap, kita langsung masuk ke sana.”
Shuwan yang sedari tadi masih kepikiran Han Ji dan juga adiknya larut dalam lamunannya. “Feng, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Bisakah kita hanya bicara empat mata?” pinta Shuwan.
Feng memiringkan kepalanya. Ia bingung dengan permintaan Shuwan. “Baiklah,” singkatnya setelah menimbang permintaan Shuwan.
Shuwan memandunya ke dalam ruangan yang lain. Zhang, Jiao, dan Yu Hao masih diliputi penasaran karena tingkah Shuwan.
“Sebenarnya, apa yang ingin Shuwan katakan? Kenapa mereka harus berbicara empat mata saja?” celetuk Yu Hao dengan wajah yang penasaran.
“Entahlah. Kita bisa menanyai Shuwan nanti,” Zhang menimpali.
“Dia saja hanya ingin berbicara empat mata dengan Feng, bagaimana dia akan merespon kita nanti?” celetuk Yu Hao dengan memanyunkan bibirnya
“Sudahlah, Yu Hao. Barang kali Shuwan punya hal penting yang hanya bisa ia katakan pada Feng. Sebagai temannya, kita harus mempercayainya bukan?” Jiao menengahi.
Shuwan, apa yang kau rencanakan sebenarnya? Batin Zhang yang juga dihinggapi rasa penarasan.
Shuwan dan Feng akhirnya keluar setelah sekitar 30 menit berbicara empat mata di ruangan yang tertutup dan terpisah dari ketiga temannya. Tampak wajah Shuwan yang kecewa setelah berbicara dengan Feng. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung pergi ke kamarnya.
“Aku akan bersiap dan berganti pakaian,” celetuk Shuwan sembari melewati mereka semua yang ada di sana.
“S-Shuwan, tunggu aku!” Jiao berlari menyusul Shuwan ke kamar.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Shuwan terlihat marah dan kecewa? Zhang makin penasaran dengan perubahan yang terjadi pada Shuwan.
“Kalian segeralah bersiap juga. Kita akan berangkat sebentar lagi.” Ucap Feng memecah keheningan di antara mereka. Ia pun hanya memandang keluar jendela dan menghela napas panjang, menunggu orang-orangnya selesai mempersiapkan diri.
Di dalam kamar, Jiao menjadi canggung untuk menegur Shuwan. Hingga akhirnya ia memberanikan dirinya.
“Shuwan, apa yang sebenarnya terjadi? Suasana hatimu terlihat kurang baik,” kata Jiao mencoba menghidupkan suasana.
“Bukan apa-apa. Apakah kau sudah selesai berganti? Kalau sudah ayo kita keluar,” Shuwan berusaha menyudahi pembicaraan.
__ADS_1
“A-ah.. Iya. Aku sudah selesai,” jawab Jiao. Suasananya jadi begitu canggung, aku jadi khawatir.
Shuwan dan Jiao keluar dari kamarnya, terlihat Zhang dan yang lainnya sudah ada di sana. Tidak ada pembicaraan seperti biasa saat berkumpul. Suasana menjadi hening, bahkan ketika akan berangkat menjalankan misi.
Setelah berdiam cukup lama, akhirnya waktu yang ditunggu tiba.
“Kita akan berangkat lewat dinding belakang. Di sana adalah tempat yang sepi karena merupakan area perkebunan. Tetaplah waspada,” Feng mengarahkan langkah awal mereka.
Dengan sigap semuanya berangkat. Bak ninja yang merayap dalam gulitanya malam. Tidak ada suara lain selain dari detak jantung, hembusan napas, dan langkah kaki mereka.
Shuwan masih tetap bergelut dengan pikirannya, ia masih memikirkan pembicaraannya dengan Feng tadi.
Flashback on...
“Feng, jika nanti keluarga Liu akhirnya ditangkap oleh pemerintah, bisakah kamu membebaskan Han Ji dan adiknya?” pinta Shuwan.
Seketika Feng terkejut mendengarnya. Ia menatap Shuwan dengan tajam. “Apa maksud perkataanmu? Heh... Bagaimana bisa aku membebaskan mereka begitu saja?”
“Api dibalas dengan api, tentu akan semakin berkobar apinya. Begitu pula kebencian. Jika kau tidak bisa melepaskan Han Ji dan adiknya, apa bedanya dirimu dengan mereka?” Shuwan menimpali perkataan Feng.
Feng tertawa, telapak tangan kanannya menutup separuh wajahnya. “Baru beberapa hari kau mengenalnya, sudah sebegitu dekatnya kalian? Pantas saja, kau memohon untuknya. Shuwan, apakah kau sudah jatuh cinta padanya?” Feng kembali menatap Shuwan dengan tajam dan dekatnya.
“Mereka tidaklah bersalah, orang tuanyalah yang bersalah. Jadi, aku mohon jangan hukum mereka. Lalu masalah cinta, sepanjang hidupku sampai saat ini, aku tidak pernah bisa merasakannya. Sehingga aku tidak pernah menjalin hubungan khusus dengan pria mana pun selain berhubungan dengan pekerjaan,” tegas Shuwan.
Shuwan menggelengkan kepala dan menyipitkan matanya. “Kau begitu keras kepala, Feng! Kelak kau pasti akan menyesalinya,” ucap Shuwan sembari berjalan keluar meninggalkan Feng di ruangan itu.
Flashback off...
Tidak terasa mereka akhirnya sampai di dinding luar kediaman Liu. Satu per satu dari mereka pun lompat ke atap, dan mencari letak gudang itu.
Mata mereka selalu waspada untuk memahami situasi penjagaan yang ada di sana. Setelah situasi dirasa aman dan lengang dari penjagaan, mereka melompat ke pekarangan di depan gudang.
Mereka pun segera menuju pintu gudang itu. Tiba-tiba ada seorang penjaga yang melintas dan memergoki mereka. “Siapa kalian? Apa yang mau kalian laku-“ kata pria itu yang terputus setelah Zhang memukul lehernya hingga pingsan.
Setelah berhasil mengakali kunci gudang, mereka masuk dan menyekap penjaga itu. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya juga dibekap. Tak lupa diminumkannya juga obat tidur.
Dengan mengendap-endap, mereka berusaha mencari kunci untuk masuk ke ruangan rahasia itu. Membuka tutup lemari, memindahkan perabotan, hingga meraba-raba dinding gudang.
Jiao yang fokus meraba dinding, tiba-tiba tangannya menekan sebuah batu bata, “E-eh...” Jiao terperanjat.
Dinding itu pun terbuka, membentuk sebuah pintu masuk rahasia. “Pasti tempatnya ada di dalam,” tukas Feng. “Kalau begitu, ayo masuk!”
__ADS_1
“Semuanya, tetaplah waspada,” Zhang memperingatkan.
Mereka memasuki ruangan yang pintunya berada dibalik dinding. “Jadi seperti ini penampakan ruang rahasia?” ucap Yu Hao yang takjub dengan pemandangan di depan matanya saat ini.
“Sebaiknya kita bergegas mencarinya, tempat ini cukup luas dan banyak barang. Pasti tidak mudah menemukannya,” tutur Shuwan.
Semuanya berpencar. Zhang mencari di kotak-kotak yang tersusun di rak. Jiao fokus pada tumpukan buku. Yu Hao mencarinya di guci-guci keramik yang ada di sana. Feng mencarinya di lemari lain. Sedangkan Shuwan, ia fokus pada meja belajar yang ada di sana.
Barang seperti itu, pasti ada di tempat rahasia. Dalam drama atau film, biasanya diletakkan di laci meja belajar. Sebaiknya kupastikan sendiri saja. Shuwan mencoba menarik laci yang ada di meja belajar itu. Terkunci! Sudah kuduga, pasti ada yang penting di sini.
Shuwan mendongkel kunci laci itu, ia menariknya setelah berhasil terbuka. Sebuah buku tanpa judul? Cukup aneh. Shuwan membuka lembar demi lembar buku yang ia temukan dalam laci itu. Ternyata ini adalah... Shuwan menyudahi membaca lembar demi lembar isi buku itu.
“Aku menemukannya,” kata Shuwan sembari menunjukkan buku itu.
Feng segera mendekati Shuwan dan meraih buku itu. Ia kaget melihat isinya, “I-ini... Rupanya keluarga Liu bekerjasama dengan musuh untuk melawan pemerintah. Ia menjadi mata-mata untuk memberikan informasi. Pemerintah tentu tidak akan mengampuni mereka. Hukuman mati, sudah pasti mereka terima,” ujar Feng.
“Ini adalah bukti yang kuat. Buku ini merupakan sekumpulan surat yang diarsipkan. Ada cap basahnya juga. Jadi bukti ini valid dan diakui secara hukum. Tidak akan ada yang bisa mengelak darinya,” tandas Feng.
“Karena bukti sudah kita dapatkan, lebih baik segera kita tinggalkan tempat ini sebelum ada yang menyadarinya,” pinta Zhang pada teman-temannya.
Shuwan dan yang lainnya segera pergi dari sana, membiarkan penjaga itu tetap berada di dalam gudang, dan menguncinya dari luar.
Baru saja selesai mengunci kembali gudang itu, tiba-tiba saja empat orang penjaga kembali memergoki mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak salah seorangnya.
"Gawat!" tanpa basa-basi lagi, Feng melemparkan bom asap dengan ekstrak obat bius ke arah para penjaga itu.
Ketika bom itu meledak dan mengeluarkan asap, dengan ligat mereka pergi dan menghilang seperti sekelebat cahaya.
Para penjaga itu terbatuk, pandangannya jadi kabur, dan satu per satu dari mereka pun terjatuh tak sadarkan diri akibat efek obat bius dari bom asap itu.
Sesampainya di kediaman Feng, Shuwan dan yang lainnya langsung berganti dan membakar pakaian yang baru saja mereka kenakan untuk menyelinap. Sekali lagi mereka berkumpul di ruang tengah.
“Hari sudah hampir fajar, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Zhang bertanya dengan penuh semangat. Setidaknya kami akan terbebas dari tugas ini begitu semuanya berakhir. Lalu bisa kembali melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya.
“Aku akan pergi ke pengadilan dengan membawa bukti ini. Selain itu, hari ini kalian tidak perlu lagi pergi ke kediaman Liu. Aku akan meminta salah seorang pengawal untuk mengirimkan surat izin pada Han Ji,” ujar Fengying. Tatapannya sekilas kosong sekilas tidak. Entah apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya.
“Biar aku sendiri yang menulis suratnya,” pinta Shuwan.
Sejenak Feng terdiam, “Baiklah. Asal kau tidak mengatakan apa yang akan kita lakukan pada keluarganya. Aku sangat ingin membuatnya terkejut seperti terkena serangan jantung,” kata Feng dengan kepuasan yang terbaca di raut wajahnya.
__ADS_1
“Kau tenang saja. Aku hanya ingin menyampaikan kalimat perpisahan padanya,” Shuwan segera pergi ke kamarnya. Ia mengambil tinta dan juga kertas untuk menulis surat yang akan diberikan pada Han Ji. Maafkan aku, Han Ji. Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu. Aku hanya menjalankan peranku saja untuk membantu Wu Fengying.