1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Awal Sebuah Tragedi


__ADS_3

Shuwan yang sedari tadi menunggu Tuan Muda Zhang melukis pun masih duduk dalam lamunannya. Ia masih dengan sabar mengikuti setiap peristiwa yang terjadi. Memerhatikan dengan dekat bagaimana Zhang dan Shu’er ini menjalani hidupnya sebagai sepasang suami istri. 


Pagi itu, Tuan Muda Zhang, suami Shu’er masuk ke kamar mereka. Ia datang untuk makan bersama. Dengan penuh perhatian, suami Shu’er meletakkan lauk pauk ke atas mangkuk istrinya.


“Kau harus banyak makan. Jangan sampai terlihat kurus, sehingga ada tuduhan bahwa aku tidak memerhatikanmu,” ucapnya.


“Tapi jika seperti ini, bukankah kau sama saja seperti memberi makan seekor peliharaan?” kata Shu’er yang protes karena mangkuknya sudah sangat penuh dengan nasi dan lauk.


Suami Shu’er itu hanya terkekeh melihat ekspresi kesal istrinya. “Ya sudah, sekarang segera makan, sebelum semua makanan ini dingin.”


Shu’er pun segera menyantap dengan lahap makanan yang ada di hadapannya, tanpa memikirkan bahwa suaminya sedang memerhatikannya.


“Makanlah dengan tenang. Tidak akan ada yang berebut denganmu,” ucap sang suami.


Wajah Shu’er menjadi merah karena malu. Ia jadi terlihat seperti orang yang kelaparan. Nasi yang ia santap pun berserakan di sekitar mulutnya. Suami Shu’er yang menyadarinya pun menyentuh wajah Shu’er untuk menghilangkan nasi di wajahnya. Sentuhan itu membuat Shu’er semakin merona. Mereka pun saling beradu tatapan.


“Sepertinya aku merasakan dawai-dawai asmara telah dipetik dengan syahdunya,” kata Shuwan yang sedari tadi menyaksikan dari sudut lain kamar Shu’er. 


Setelah pemandangan hangat itu, Shuwan tampaknya kembali memasuki peristiwa yang lain, yaitu ketika pasangan itu bertengkar karena masalah keturunan. Memang sejak mereka menikah, mereka belum pernah berhubungan sama sekali. Suami Shu’er menginginkan penerus yang harus dilahirkan sendiri oleh Shu’er, sebagai bukti bahwa Shu’er telah utuh menjadi miliknya seorang.


“Kenapa... Kenapa kau selalu menolakku? Kenapa?!!!” tanya sang suami dengan nada keras sambil memegang erat kedua lengan Shu’er. “Apakah kau tidak bisa mencintaiku? Sekarang aku adalah suamimu.”


Dengan wajah datar ia mengatakan pada suaminya,”Dulu ada orang yang aku cintai, dan sekarang aku masih belum bisa melupakannya.”


Suami Shu’er yang mendengar ucapan ini semakin marah. Ia akhirnya melepaskan tangan Shu’er, dan memunggunginya. “Begitukah? Jadi, selama ini tidak ada rasa sedikit pun untukku? Shu’er, kenapa kau begitu kejam padaku? Sebegitunya ‘kah kau tidak ingin menikah denganku?”


Shu’er hanya sesenggukkan. Ia dilema. “A-aku tidak bermaksud seperti itu. A-aku hanya....”


“Hanya apa? Hanya memiliki perasaan untuk pria itu?” Suami Shu’er mendengus kesal. “Kalau begitu, lebih baik kau tetap di sini. Kau tidak diizinkan untuk melangkah keluar sedikit pun.”


Shuwan merasakan sesak di dadanya menyaksikan perkelahian kedua orang itu. Tanpa ia sadari, cairan hangat keluar begitu saja dari kedua matanya. “A-apa? Kenapa aku juga merasa begitu sakit?”


Shu’er yang mendengar keputusan suaminya hanya mematung, terdiam seribu bahasa. Ia hanya melihat suaminya yang perlahan berjalan pergi. Meninggalkannya di kamar yang seharusnya menjadi tempat mereka berbagi kehangatan.


Brakk....


Pria itu menutup pintunya dengan amarah. Terdengar suara kunci dan rantai dari luar yang menandakan bahwa Shu’er sudah berada dalam masa tahanan.


Brukk...

__ADS_1


Shu’er terduduk lemas tak berdaya. Air matanya tak berhenti mengalir di pipinya. “Maafkan aku. Aku tidak bisa jujur padamu. Lidahku menjadi kelu ketika kau menatapku. Aku menjadi gugup saat kau mendekatiku. Aku hanya takut, jika kau sudah sepenuhnya mendapatkanku lalu kau akan pergi berpaling dariku karena bosan. Maafkan aku...”


“Kau mencintainya, tapi kau tidak bisa jujur padanya, dan membuatnya salah paham dengan semua ini. Menyedihkan...” Shuwan hanya bisa memandang, dan turut merasakan sakitnya. 


Selama masa pengurungan itu, Shu’er fokus menyulam sepasang bebek mandarin yang sedang berenang di kolam teratai di atas selendang berwarna merah. Sepasang bebek mandarin bermakna sama seperti sepasang merpati, yang merupakan lambang dari kesetiaan. Sedangkan selendang yang berwarna merah melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan.


“Saat sulaman ini jadi, aku akan memberikannya padamu. Aku kehabisan kata-kata saat berada di dekatmu. Jadi, aku membuatnya sebagai perwakilan dari perasaanku, dan juga harapan kita berdua kedepannya,” kata Shu’er dengan mata yang berbinar seraya menatap sulamannya yang hampir jadi.


Shuwan menghela napas dalam-dalam, “Dia sangat pandai menyulam. Aku mana bisa melakukan pekerjaan yang sangat menyita waktu seperti itu? Lebih baik aku mengasah pedang daripada melakukan pekerjaan lemah seperti ini,” ucap Shuwan yang duduk memerhatikan perempuan yang mirip dengannya tengah fokus menyulam.


Di sisi lain, meskipun suami Shu’er tidak pernah mengunjunginya saat siang hari, ia selalu datang berkunjung saat Shu’er tidur malam hari. Memandangnya dengan tatapan hangat, dan memberikan kecupan selamat malam. Shuwan lagi-lagi hanya menjadi patung penonton yang tak kasat mata. Duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


“Shu’er, maaf karena memperlakukanmu seperti ini. Aku memang egois jika urusan itu adalah dirimu. Perasaanku padamu benar-benar tulus. Aku yakin, suatu hari nanti kau pasti bisa menerimaku,” kata Tuan Muda Zhang yang menatap wajah istrinya yang tengah tertidur pulas.


Hampir setiap hari ia mengucapkan maaf. Tapi apakah Shu’er mendengarnya? Seharusnya dia mengatakannya ketika Shu’er sedang terjaga. Batin Shuwan yang sedikit gemas pada polah sepasang insan yang ada di hadapannya saat ini.


Ketika Shuwan mengedipkan mata seketika itu juga dia berada di waktu yang lainnya. Yah, itu adalah malam hari, saat Shu’er dan suaminya sedang makan siang di kamarnya.


“Shu’er, sampai kapan kita harus seperti ini. Tidak bisakah kamu menerimaku sekarang?”


Shu’er diam. Ia tak bergeming barang sedikit pun. 


Suaminya membanting, dan mengacak-acak meja yang tadinya penuh wadah berisi makanan. Mangkuk, gelas, serta kendi air yang ada di sana jatuh, pecah, dan berserakan. Menyisakan pecahan-pecahan keramik yang tajam.


Shu’er terkesiap, air matanya jatuh membasahi pipi. Ia hanya kembali diam, melihat suaminya yang merasa kecewa begitu dalam.


Bukan hanya Shu’er, Shuwan pun juga kaget melihat kelakuan Tuan Muda Zhang yang mulai hilang kesabarannya. 


Suami Shu’er kemudian beranjak dari tempat duduknya, berdiri membelakanginya, lagi... Ia menghela napas yang berat dan dalam. Tangannya mengusap wajah yang terlihat merah karena marah. “Hah... Sepertinya aku memang harus menyelesaikannya sekarang juga.”


“A-apa maksudmu? Apa yang akan coba kau lakukan?”


Suami Shu’er berjalan mendekat. Ia lalu meraih wajah Shu’er, dan mendekatkan ke wajahnya seraya berkata, “Istriku sayang, kau akan tahu setelah aku kembali nanti.” Setelah selesai mengatakannya ia melepas tangannya dari wajah Shu’er secepat membalikkan telapak tangan. Kemudian mundur beberapa langkah, dan berpaling, berjalan keluar meninggalkan Shu’er yang berderai air mata.


Shuwan merasa seperti ia yang berada di posisi Shu’er. Semua rasa sakit, sedih, juga berada dalam dirinya. Selang beberapa waktu, yang terasa hanya beberapa menit bagi Shuwan, suami Shu’er kembali ke kamar. Membawa dua orang pengawal, dan Yin Lang yang di tawan.


Mata Shu’er terbelalak, melihat mantan kekasihnya dibawa secara paksa dengan luka lebam di wajahnya.


“Apakah ini pria yang kau cintai?”

__ADS_1


“Kau.. Bagaimana bisa?”


“Sekarang kuberi kau dua pilihan. Aku bunuh kekasihmu ini dan kita hidup seperti biasanya, atau kau mau meminum racun hati es yang telah ku kutuk ini lalu membiarkan kekasihmu ini pergi,” gertak suami Shu’er. “Racun hati es ini merupakan racun bagi hati. Siapapun yang meminumnya, maka dia tidak akan bisa merasakan kehangatan cinta. Jika sampai jatuh cinta, maka ia akan merasakan sakit yang luar biasa dan akhirnya meninggal. Tidak akan ada cinta baginya, bahkan dikehidupan selanjutnya!”


“Racun hati es? Kenapa ini seperti nama penyakitku? Mungkinkah....” Shuwan kaget setelah mendengar ucapan suami Shu’er mengenai racun yang ia bawa.


Shu’er seperti telah membuat keputusan. “A-aku akan...” Shu’er terpotong begitu saja.


“Jangan minum racunnya!!! Biarkan aku saja yang mati!” Teriak Yin Lang. 


Suami Shu’er naik pitam. “Heh... Ternyata begitu setianya kau pada istriku. Shu’erku sayang, kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh ******** ini.” Tatapan kebencian akibat kecemburuan itu terlihat jelas diwajahnya. Tanpa pikir panjang, Tuan Muda Zhang menarik pedang dari sarungnya, dan langsung menebas Yin Lang tanpa ampun, hingga berada di ambang kematian.


“Tidakk!!!” jerit Shu’er setelah melihat tragedi berdarah itu. Ia terduduk lemas, lalu merayap untuk meraih tubuh Yin Lang yang bersimbah darah akibat tebasan pedang milik suaminya.


“Kenapa.... Tuan muda ini begitu tidak berperasaan? Cinta ternyata memang sangat mematikan. Yang semula rasanya manis, berubah menjadi getir akibat kecemburuan. Yang semula bersinar karena kebahagiaan, kini berubah menjadi gelap karena kebencian. Hah... Kenapa harus ada hal seperti ini di dunia?” ucap Shuwan dengan suara serak.


“Kenapa... Kenapa kau melakukan ini? Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Sejak aku memututskan untuk menikah denganmu, aku juga telah memutus perasaanku padanya, dan mulai menerimamu.” Air mata Shu’er mengalir dengan derasnya. Rasanya seperti ada sembilu yang mencabik-cabik rongga hatinya.


“Heh... Nyatanya kau masih saja memiliki perasaan padanya. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka siapa pun tidak boleh. Dan aku akan melakukan hal seperti yang kamu saksikan saat ini.”


Hiks... Hiks... 


“Aku memberimu segenap hatiku, tapi inikah yang aku terima? Tidak bisakah kau juga jatuh cinta padaku? Dunia ini sungguh tidak adil.”


Shu’er yang meletakkan kembali tubuh Yin Lang, yang nyawanya telah tiada seketika itu juga. Lalu.... “Kalau begitu, aku akan meminum racun ini,” ucap Shu’er sembari mengambil cawan yang berisi racun hati es, dan langsung menenggaknya.


“Kau...” suami Shu’er panik.


Brukk....


Racun itu langsung bereaksi. Tubuh Shu’er pun tumbang. Suami Shu’er langsung membuang pedang yang ada di tangannya, dan ligat meraih tubuh Shu’er.


“Haruskah kau sampai seperti ini?” 


“Kau mencintaiku dengan segenap hatimu. Tapi aku, justru terus menyakitimu. Kita sama-sama menderita karena orang yang kita cintai. Aku anggap racun ini sebagai hukuman atas diriku sendiri karena menyebabkan kalian terluka dan saling bertumpah darah,” ucap Shu’er lirih.


Air mata suami Shu’er pun menetes diwajahnya. Ia menangis penuh sesal melihat istrinya menderita sakit akibat racun es terkutuk yang ditengguknya begitu saja.


Hati Shuwan terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Sebuah sensasi yang ia rasakan ketika penyakitnya kambuh. Shuwan mengerang penuh sesak, menahan rasa sakit dari penyakit hatinya.

__ADS_1


__ADS_2