1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Wang Jiao


__ADS_3

Shuwan dan Zhang sudah berjalan cukup jauh dari Desa Huangshi. Namun suatu kejadian tidak terduga terjadi. Mereka seperti diikuti oleh seorang penunggang kuda lainnya.


“Zhang, sepertinya ada yang mengikuti kita.”


“Benarkah? Siapa?”


Saat Zhang menoleh ke belakang, tiba-tiba penunggang kuda itu menyalib mereka dari belakang. Hingga Shuwan menyadari, bahwa giok angsa miliknya hilang dicuri.


“Giokku! Penunggang kuda barusan pasti yang mengambilnya. Zhang, cepat kejar dia!”


Zhang memacu kuda dengan kecepatan penuh, namun jarak antara mereka dan pencuri itu cukup jauh.


“Bagaimana ini, Shuwan? Aku masih belum bisa menggapainya.”


“Terus melaju dengan cepat, aku punya rencana.”


Zhang fokus mengendalikan kuda, dan Shuwan mengeluarkan sebuah jarum akupuntur dari tas obatnya. Selain itu, dia mengeluarkan bambu pendek yang dia bawa. Kemudian ia meniupkan jarum itu dengan bambu ke arah kuda yang ditunggangi pencuri itu.


Jarum itu tepat mengenai kuda, sontak kuda pencuri itu menjadi tidak bisa dikendalikan hingga akhirnya pencuri itu jatuh dari kuda nya. Dengan segera, Shuwan melompat dari kuda dan menghunuskan pedangnya. Ia mengancam pencuri itu, “Kembalikan giok yang kamu curi itu! Jika tidak, maka pedang ini akan menembus dadamu.”


Pencuri itu akhirnya menyerahkan giok angsa kepada Shuwan.


Pencuri itu kemudian berdiri dan membuka penutup wajahnya. Shuwan pun terkejut dibuatnya.


Seorang wanita? Apa mungkin dia adalah Wang Jiao tokoh wanita dalam buku merah itu? Seharusnya ini memang tempat kemunculannya, batin Shuwan.


Saat ini, Zhang dan Shuwan berada di Padang Ilalang Shilin. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari Desa Huangshi.


Perempuan itu pun berbicara, “Maaf karena aku telah mencuri barang itu darimu, aku terpaksa melakukannya.”


“Mengapa kau melakukan ini?” tanya Shuwan.


“Aku mencuri untuk bertahan hidup. Awalnya aku mencuri giokmu karena kelihatannya giokmu barang yang berharga. Kemudian jika aku berhasil mencurinya, aku bisa mendapatkan uang untuk makan. Orang yang telah dibuang sepertiku mana bisa hanya diam dan menyerah. Jadi aku melakukan hal seperti ini untuk tetap hidup.”


Shuwan hanya terdiam, lalu tiba-tiba Zhang menyela, “Apakah kau punya keluarga?”


“Keluarga? Semenjak aku dijual untuk dijadikan budak aku sudah menganggap keluargaku mati. Keluarga mana yang tega menjual anaknya sendiri. Lagi pula aku hanyalah anak pungut dari keluarga yang merawatku selama ini.”


Zhang pun tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, daripada kau hanya melakukan pekerjaan ini demi makan, bagaimana kalau kamu ikut kami menjelajah?”


“Menjelajah?”


“Benar. Sebenarnya bukan penjelajahan biasa. Kami ingin mengunjungi Negeri Awan. Mungkin dengan melakukan perjalanan bersama kami, kau bisa membuka pikiran dan lembaran yang baru. Iya, kan, Shuwan?”


“Yang dikatakan temanku itu benar. Aku hanya takut, jika sampai kau tertangkap lalu dihukum mati. Atau jika kau bertemu dengan musuh yang lebih kuat darimu.”


Tiba-tiba pencuri itu menangis, Shuwan pun berkata, “Kenapa kau menangis?”


“Ah... Tidak apa-apa. Aku hanya merasa terharu, karena masih ada orang yang peduli padaku.”

__ADS_1


“Kalau begitu mungkin kau bisa menceritakan kisahmu pada kami, supaya kamu merasa lega. Tapi jika kamu tidak keberatan.”


“Aku akan menceritakan kisahku, karena entah kenapa aku bisa mempercayai kalian.”


“Baiklah, sebelumnya kita berkenalan terlebih dahulu. Namaku Lin Shuwan, kamu bisa memanggilku Shuwan, dan temanku ini namanya Zhang.”


“Namaku Wang Jiao. Kalian bisa memanggilku Jiao.”


“Nah, kalau begitu ayo kita istarahat di depan sana. Ada sungai untuk minum, dan pohon untuk berteduh,” ucap Shuwan.


Mereka bertiga pun menuju sungai kecil yang ada di depan mereka.


Ketika sudah sampai di tepi sungai, Zhang meminumkan kuda yang ia tunggangi bersama Shuwan. Begitu pula dengan kuda yang ditunggangi oleh Jiao.


“Apakah kau terluka karena terjatuh tadi, Jiao?” tanya Shuwan.


“Hanya tergores sedikit. Sepertinya jarum yang kamu tiup tadi masih menancap di tubuh kuda.”


“Ah, iya. Aku hampir lupa untuk mencabutnya. Jika kau membutuhkan obat untuk mengobati lukamu, kau bisa menggunakan milikku.”


“Terima kasih, sebenarnya aku juga punya kantong obat dan aku punya keahlian pengobatan.”


“Benarkah? Kalau begitu kita bisa bekerjasama,” mata Shuwan berbinar.


“Tentu saja, kita kan tim,” ucap Jiao sambil tersenyum.


Shuwan segera mencabut jarum yang tadi ia tiupkan ke tubuh kuda milik Jiao dan berkata, “Maaf sudah menyakitimu, aku terpaksa melakukannya. Karena jika tidak melakukannya Jiao akan membawa lari hartaku.”


Shuwan pun menanggapi, “Yah, aku rasa kamu benar. Aku harus menambahkannya dalam daftarku.”


Mereka bertiga pun tertawa bersama sambil menunggu kuda mereka selesai minum.


Karena sudah ada Zhang yang menunggu kuda nya untuk minum, Shuwan pun mengambil bekal makanan yang diberikan warga Desa Huangshi sebelum mereka pergi. Ternyata isinya adalah ubi-ubian.


Rupanya mereka sudah menyiapkan ini. Baguslah dengan begini setidaknya cukup untuk makan beberapa hari kedepan, batin Shuwan.


Setelah mengambil beberapa buah ubi yang dirasa cukup untuk dimakan mereka bertiga, Shuwan pun segera membuat api unggun untuk membakar ubi itu.


Zhang dan Jiao yang sudah selesai meminumkan kuda mendekat ke api unggun Shuwan dan duduk melingkar.


“Siang ini kita makan di sini. Aku sedang membakar ubi yang tadi diberikan warga sebelum kita pergi,” kata Shuwan.


Ubi yang dibakar Shuwan pun matang. Shuwan membagikannya pada Zhang dan Jiao dan mereka bertiga akhirnya makan bersama.


Selesai makan, Shuwan bertanya pada Jiao, “Mungkin sekarang kau bisa cerita mengenai masalah yang saat ini kamu hadapi.”


Zhang menyambung, “Benar yang dikatakan Shuwan. Barangkali setelah kau cerita akan merasa lebih lega.”


Jiao pun memulai cerita hidupnya.

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan memulainya. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Keluargaku bukanlah bangsawan ataupun orang kaya, tapi hanyalah seorang petani kecil di tempat yang jauh dari sini. Suatu ketika ibuku mengandung dan melahirkan anak laki-laki, dan aku sangat menyayanginya.


Tapi, tiba-tiba saja adikku itu jatuh sakit, dan membutuhkan biaya yang sangat banyak untuk bisa berobat. Kami tidak memiliki apapun untuk membayar biaya pengobatan. Hingga akhirnya ayah menjualku, dia berkata bahwa aku hanyalah anak yang mereka pungut dari tepi desa. Hanya adikku anak kandung mereka, dan semua perhatian yang mereka berikan padaku adalah kepalsuan yang mereka kemas dalam keindahan yang semu. Hatiku rasanya sakit mendengar ini.


Mereka menjualku sebagai budak pada saudagar kaya, dan mendapatkan uang pengobatan sebagai imbalannya. Saudagar itu berlaku kejam pada budak-budaknya. Waktu itu, aku hampir saja dinodai olehnya, tapi aku berhasil kabur dan bertahan hingga saat ini. Aku tidak tahu bagaimana keadaan adikku, dan juga orang tua yang sudah menjualku. Aku benci mereka.”


Air mata Jiao mengalir sepanjang ia bercerita. Kemudian Shuwan memeluk Jiao dan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Sekarang tidak akan ada lagi yang menyakitimu. Kejadian yang sudah berlalu sudah terjadi, dan apa yang akan terjadi kita masih belum tahu. Sudah saatnya kamu memulai kehidupan yang baru. Kehidupan yang jauh dari kenangan menyedihkan di masa lalu.”


“Tapi aku merasa sangat hina, apakah kalian mau menerimaku?” tanya Jiao sambil sesenggukkan.


Zhang pun menjawab, “Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang buruk, tidak ada salahnya memberikan mereka harapan dan kesempatan kedua untuk memulai kehidupannya yang lebih baik. Begitu juga kau, Jiao. Kau masih muda, masih bisa melakukan banyak hal positif, baik itu untuk dirimu sendiri maupun orang lain.”


“Apa yang dikatakan Zhang benar. Sekarang kau tidak perlu merasa sendirian lagi jika menghadapi masalah. Aku dan Zhang ada bersamamu,” kata Shuwan.


Jiao pun melepas pelukan Shuwan. Dengan air mata yang masih menetes ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih... Terima kasih banyak.”


Zhang dan Shuwan membalas Jiao dengan senyuman tulus mereka.


Akhirnya mereka bertiga pun menjadi rekan tim, dan memutuskan untuk segera berangkat melanjutkan perjalanan.


Zhang meminta Shuwan untuk tetap naik di kuda yang sama dengannya.


“Shuwan, kau tetap naik kuda denganku.”


“Kenapa aku harus terus bersamamu? Lagi pula sekarang ada Jiao. Aku bisa naik kuda dengannya.”


“Hei, apa kau tidak ingat bahwa aku terluka karena menyelamatkanmu? Jadi kau masih harus merawatku sampai sembuh total.”


“Kau...” ucap Shuwan kesal dengan sikap Zhang.


“Jiao tidak lemah sepertimu, jadi aku percaya dia bisa mengendalikan kuda nya sendiri.”


Shuwan pun menjadi semakin kesal akibat perkataan Zhang.


Jiao tertawa dan berkata, “Aku tidak apa-apa Shuwan, kau naik kuda bersama Zhang saja. Sepertinya Zhang yang lebih membutuhkan pendamping.”


Akhirnya Shuwan setuju untuk naik di kuda yang sama dengan Zhang meskipun terpaksa.


“Hei, Shuwan. Sepertinya kau bertambah pintar belakangan ini,” ucap Zhang menggoda Shuwan.


“Jadi maksudmu selama melakukan perjalanan bersamamu aku bodoh? Begitu?”


“Kau baru saja mengakuinya, 'kan?”


“Apa kau bilang?”


Jiao hanya tertawa menyaksikan kedua temannya saling menggoda satu sama lain. Kemudian ia pun berkata, “Anu, apakah kalian sepasang suami istri yang sering bertengkar seperti ini?”


“Bukan!!” teriak Zhang dan Shuwan secara bersamaan dengan memasang wajah kesal.

__ADS_1


Entah kenapa aku merasa bahwa hubungan kalian berdua tidak sesederhana itu. Sepertinya aku harus menjadi biro jodoh untuk mereka berdua, batin Jiao sambil tertawa.


Akhirnya mereka bertiga meninggalkan tempat itu, dan melanjutkan perjalanan.


__ADS_2