
Shuwan kembali ke kediaman putra mahkota,dan mendapati orang yang membuatnya jengkel itu duduk di kursinya.
Saat melihat Shuwan kembali pun Zhi Qiang langsung berdiri dan tersenyum lebar. “Akhirnya kau kembali,” ucapnya.
“Tentu saja. Aku selalu menepati janji.” Shuwan kemudian duduk di kursi yang lainnya. “Bisakah aku berganti pakaian? Aku merasa tidak leluasa karena memakai gaun. Bagaimana kalau ada yang menyerang didekatku tiba-tiba? Pasti akan sangat repot mengenakan gaun untuk melawan para bandit itu.”
Zhi Qiang tertawa. “Kau ingi berganti pakaian? Baiklah, akan kupanggilkan pelayan untuk membawakan satu set pakaian pria yang pas untukmu.” Zhi Qiang langsung melaksanakan apa yang dia katakan. Seorang pelayan dipanggil untuk mencari barang yang dimintanya.
Tumben sekali dia langsung menurut. Batin Shuwan yang terkadang merasa aneh dengan polah putra mahkota.
Tidak menunggu terlalu lama, pelayan yang dititah oleh putra mahkota pun datang membawa nampan yang berisi pakaian untuk Shuwan.
Shuwan langsung melompat dari kursinya. Ia mendekati pelayan yang membawa nampan itu. Dengan tidak sabaran Shuwan langsung mengambil dan melihat-lihat pakaiannya. “Ini bagus. Tidak terlalu mencolok. Aku akan langsung mengganti pakaianku.”
“Apa perlu aku bantu?” tanya putra mahkota.
Shuwan langsung menatapnya dengan tatapan membunuh. “Jika kau bersikeras ingin membantuku, maka nyawamu akan berakhir di tanganku.”
“Aku tidak keberatan jika itu adalah kau,” lagi-lagi Zhi Qiang tersenyum aneh.
Karena merasa kesal ucapannya tidak dianggap serius, Shuwan langsung mendorongnya keluar dan mengunci pintu itu dari dalam.
Ia kemudian menepuk kedua telapak tangannya seolah-olah memang ada kotoran yang menempel di sana. “Akhirnya sepi juga. Dengan begini aku bisa berganti baju dengan leluasa.”
Dengan cepat, Shuwan mengganti pakaiannya. Kini ia terlihat kembali seperti saat pertama ia menjejaki cerita Buku Merah ini. Ia menggerai rambutnya, untuk diikat seluruhnya menggunakan pita berwarna putih yang senada dengan lis pakaiannya.
Dari arah luar, terdengar pintu diketuk. Shuwan paham dengan suara yang kini tengah memanggilnya.
“Shuwan? Shuwan... Apakah kau baik-baik saja di dalam? Apa masih belum selesai bergantinya?”
Ya, itu adalah suara Zhi Qiang yang memanggil Shuwan karena khawatir.
Shuwan tidak menggubrisnya. Ia melanjutkan mengikat rambutnya. Membiarkan Zhi Qiang menunggu di luar. Shuwan memang tidak terampil berdandan, ia pun hanya mengikat rambut sebisanya seperti biasa.
Begitu selesai, Shuwan langsung memegangi kembali pedangnya, dan berjalan ke arah pintu. Ia lantas menarik pengait, dan pintu itu pun terbuka. Menampilkan tiga orang pria gagah yang ternyata sudah menuggunya. Ketiga pria itu tentu saja bukan ksatria yang muncul tiba-tiba. Mereka adalah Zhi Qiang, Xin Ru dan Yu Hao.
Begitu melihat penampilan Shuwan, Zhi Qiang langsung terkesima. Matanya tidak berkedip. Padahal ia sudah pernah melihat Shuwan berpenampilan seperti ini sebelumnya. Tapi entah kenapa ia merasa begitu kagum melihat Shuwan kembali mengenakan pakaian pria.
Shuwan tidak memperdulikannya. “Sudahlah, ayo pergi sekarang!” ajak Shuwan.
Zhi Qiang yang sedari tadi memandanginya pun langsung sadar kembali ke dunia. “Ayo!” ujarnya.
Dalam perjalanan menuju alun-alun istana yang kini ramai oleh rakyat, Shuwan pun melamun. Biar bagaimana pun aku harus di dekat putra mahkota. Orang berambut putih itu mengatakan kalau putra mahkota brengsek ini akan disandera. Hm... Aku jadi penasaran, orang seperti apa yang akan menyaderanya.
Hiruk pikuk yang biasanya hanya terlihat di pasarpun kini bisa disaksikan di alun-alun istana. Banyak orang yang bersuka cita menyambut perayaan. Sungguh ironi jika sampai lampion itu dijadikan sebagai alat untuk mengacaukan perayaan yang sakral.
Di tengah alun-alun ada panggung besar yang menjadi tempat kelompok penghibur untuk tampil. Sorak sorai rakyat pun mampu menggetarkan istana.
Sementara itu di sisi lain keramaian, Zhang mengamatinya dari jauh. Ia jadi berandai-andai seandainya dia benar bisa berada di sana bersama Shuwan.
Acara malam pun dimulai. Para penari yang akan menampilkan atraksi satu persatu menaiki panggung.
Shuwan memasang sikap siaganya, walau kini ia masih duduk di samping putra mahkota.
Tidak ada yang aneh dari penampilan yang sedang berlangsung. Orang yang bermain obor ataupun sekedar melawak. Semuanya berjalan dengan normal.
Hingga tiba waktunya, keadaan normal itu menyiratkan curiga di mata Shuwan.
Ada yang aneh dengan penari ini. Batin Shuwan merasa sedikit resah.
Zhi Qiang menyadarinya Shuwan yang tampak mulai tak tenang. “Kau kenapa?” tanya Zhi Qiang.
__ADS_1
“Aku hanya merasa tidak tenang. Entah kenapa bisa seperti ini, tapi aku merasa akan ada yang segera terjadi.”
“Benarkah? Tapi aku tidak merasa demikian.” Zhi Qiang mulai mengeluarkan jurus mautnya.
Shuwan mengeryitkan dahinya. “Kenapa bisa?”
Zhi Qiang tersenyum lebar. “Sebab ada dirimu di sisiku. Makanya aku tidak merasakan perasaan lainnya.”
Shuwan memalingkan wajahnya karena mendengar rayuan menyebalkan itu, dan kembali memerhatikan tarian yang sedang berlangsung.
Saat tarian itu mencapai puncaknya, tiba-tiba saja salah semua penari yang di sedang di atas panggung melemparkan benda yang ternyata bom asap ke berbagai penjuru arah.
DUARR!
Bom itu meledak dan mengeluarkan asap yang begitu pekat. Rakyat yang bersuka cita menjadi histeris dan barahamburan.
“Uhuk... Uhuk...”
Ramai suara orang-orang yang terbatuk karena bom dari asap itu. Shuwan berusaha memandangi sekelilingnya, tapi asap masih belum hilang sepenuhnya. Ia lalu mencoba mencari Zhi Qiang, ternyata orang itu sudah tidak berada di sampingnya lagi.
“Ke mana orang itu?” kata Shuwan seraya mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir asap yang masih tersisa. Shuwan fokus mencari Zhi Qiang yang tiba-tiba saja menghilang. “Zhi Qiang....” panggilnya.
Asap yang tadi begitu pekat pun mulai menghilang. Shuwan tercekat ketika mendapati Zhi Qiang yang sudah disandera. “Zhi Qiang?” Netra Shuwan membulat sempurna. Ia lantas memandangi Xin Ru yang tengah melindungi raja dan sama kagetnya dengan dirinya.
Tempat itu pun sudah dikepung oleh pasukan kelompok Mawar Hitam. Mereka benar-benar seperti makanan yang lezat bagi semut merah yang kelaparan.
“Sebaiknya cepat serahkan token emas itu! Kalau tidak putra kesayanganmu ini akan kuhabisi!” ancam sang penyadera.
“Jangan ayah! Jangan dengarkan dia!” pekik Zhi Qiang.
“Diam kau!” penyandera itu memukul tengkuk Zhi Qiang dan membuatnya pingsang.
“Cepat serahkan!”
Raja tampak kebingungan. Ia dihadapkan pada pilihan yang berat. Antara putera dan juga kerajaannya. Jika ia menyerahkan tokennya, putranya akan selamat, tapi ia juga akan kehilangan tahta sekaligus rakyatnya. Tapi jika ia tidak menyerahkan tokennya, putranya akan tiada, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kelak.
“Sebaiknya kau serahkan saja tokenmu. Dengan begitu, kau akan hidup dengan tenang bersama puteramu.” Ucap Duan Jung, si menteri pertahanan yang berkhianat. Dengan santainya tiba-tiba muncul dan meremehkan raja.
Disusul dua menteri lainnya yang mengekor di belakang Duan Jung.
Wajah raja tampak merah padam. Amarahnya bergemuruh seperti badai di lautan. Ia menatap tajam ke arah ketiga pejabat yang kini menertawainya.
“Kalian benar-benar keterlaluan! Tidak kusangka ternyata orang yang kupercayai malah mengkhianatiku!” Raja berusaha melabrak mereka, tapi dihentikan oleh Xin Ru.
“Hahaha... Itulah kelemahanmu. Kau terlalu lembut dan mudah mempercayai, hingga tidak sadar bahwa apa yang kau percayai ternyata berbalik mengkhianatimu,” balas Bai Long.
Kebencian. Itulah kini yang tersirat di wajah Raja Li. Ia tak habis pikir bahwa selama ini ia dimanfaatkan oleh orang terdekatnya.
Rupanya orang-orang ini yang mencoba berkhianat pada raja. Aku harus segera menyelesaikan urusan di sini. Batin Shuwan yang mulai merasa geram.
Di tengah ketegangan suasana itu, Shuwan bersiul seolah memberikan sebuah kode. Seketika itu juga tentara Harimau Gurun milik Zhi Qiang pun masuk ke istana, dan sisanya keluar dari tempat persembunyian, datang menyergap pasukan pemberontak.
Wajah ketiga menteri menjadi panik. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan hal ini.
“B-bagaimana mungkin ada pasukan yang tersisa?” Zhu Yong si menteri kesekretariatan negara tergugup dan panik.
Shuwan lalu menuruni beberapa anak tangga, dan memberikan tatapan angkuhnya. “Kalian tidak akan pernah berhasil mendapatkan tahta kerajaan ini.”
“Kenapa orang asing sepertimu ikut campur dalam urusan kami? Berani-beraninya mengacaukan semua rencana yang sudah kami susun selama bertahun-tahun?” teriak Zhu Yong.
“Apa alasannya aku tidak bisa mengatakannya. Sekarang terimalah kekalahan kalian!” Shuwan kemudian mengeluarkan token yang sebelumnya pangeran berikan.
__ADS_1
《●》 Flashback on... 《●》
“Shuwan, sebaiknya kau saja yang memegang token ini!” kata Zhi Qiang.
Shuwan menatap aneh Zhi Qiang. “Kenapa harus aku?”
“Aku takut terjadi sesuatu denganku. Oleh karena itu, aku akan mempercayakan token pasukan Harimau Gurun itu padamu.”
Shuwan berpikir sejenak. “Em... Baiklah. Aku akan menerimanya. Selain itu, aku yakin tidak ada yang akan melukaimu.”
Zhi Qiang tersenyum. “Semoga saja benar begitu.”
《○》 Flashback off... 《○》
Padahal aku berharap bukan aku langsung yang turun tangan. Tapi siapa sangka, ternyata pada akhirnya akulah yang harus tetap bergerak dan menggunakan token ini. “Prajurit. Cepat tangkap para pemberontak itu!”
Para prajurit pun saling beradu pedang dengan prajurit pemberontak. Begitu pun ketiga menteri yang bertarung dengan jenderal dari pasukan Harimau Gurun.
“Kau mungkin senang karena berhasil menggagalkan rencana kami, tapi kau melupakan orang yang masih berada di tanganku ini!”
Sial! Aku benar-benar melupakannya! “Lepaskan dia!” bentak Shuwan.
“Heh... Mimpi saja!”
Shuwan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, ia pun menodong penyandera itu. “Jika kau tidak melepaskannya, itu artinya aku harus menghabisimu!”
“Kau lihat saja siapa yang lebih cepat membunuh siapa. Belati ini tinggal sekali geser dan dia akan mati. Sedangkan kau, masih butuh beberapa langkah untuk bisa menyentuhku. Menurutmu, siapa yang akan lebih dahulu tiada? Aku, atau putra mahkota ini? Hahaha...”
“Tolong... Jangan sakiti putraku. Dia adalah anakku satu-satunya. Aku tidak memiliki keluarga lagi selain dia.” Raja memohon dengan wajah yang terlihat sedih dan takut. Ia sungguh tidak ingin melihat putra kesayangannya mati begitu saja.
“Tak kusangka ternyata seorang raja yang terhormat rela bertekuk lutut demi putra kesayangannya. Hahaha... Aku pasti akan disegani orang-orang karena berhasil menjinakkan seorang raja.”
Shuwan bingung. Ia harus bagaimana menghadapi orang dihadapannya itu. Ia merasa geram. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena Zhi Qiang berada dalam cengkeraman pemberontak.
Penyandera itu pun mengeluarkan sebuah bom dari kantungnya, dan...
DUARR!
Orang yang menyandera putra mahkota pun langsung melemparkan bom asap lagi, dan menghilang di balik asap yang pekat.
Ketika asap itu menghilang, Shuwan menjadi panik karena putra mahkota tidak lagi di sana. “Sialan!” Shuwan mendengus kesal.
Tidak berapa lama kemudian, sebuah panah dengan sepucuk surat pun melesat dari arah yang tidak di ketahui dan menancap tepat di tiang tepat di hadapan Shuwan.
Tanpa basa-basi, Shuwan langsung melihat isi surat itu.
Kuberikan kesempatan untuk memberikan token itu sampai matahari terbit besok. Temui aku di tepi sungai Xia. Jika tidak, maka putra mahkota akan melayang di tanganku!
“Xin Ru, Yu Hao, tolong kalian jaga Yang Mulia Raja! Aku akan pergi menyelamatkan putra mahkota!” Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Shuwan berlari menuruni anak tangga. Sebisa mungkin ia menghindari pertarungan yang terjadi di depannya.
Ia berlari menuju gerbang. Ia sedang berusaha mencari seekor kuda yang bisa ditunggangi. Siapa mengira kalau Zhang tiba-tiba saja muncul dengan menunggangi kuda yang membawanya ke istana.
“Liem, kau...”
“Cepatlah naik. Kita akan pergi bersama!”
Shuwan membuang pikirannya yang bukan-bukan. Kini yang terpenting adalah menyelamatkan putra mahkota. Ia lalu naik ke kuda itu, dan pergi bersama Zhang.
“Hyaa!”
Kuda itu pun melaju. Gema langkahnya terdengar dalam gelapnya malam.
__ADS_1