1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Perang Fajar


__ADS_3

Pasukan Harimau Gurun yang di bawa oleh Xin Ru beserta Jiao dan Yu Hao sebentar lagi akan mendekati titik tempat Zhang dan Shuwan berhenti.


Kau harus bertahan Shuwan. Tunggulah kami! Batin Jiao yang merasakan khawatir di hatinya.


Meski hanya beberapa waktu bersama, dia paham kalau Shuwan adalah orang yang keras kepala. Apa pun yang dikatan Zhang pasti juga akan diabaikannya. Itulah, alasan klasik yang mampu membuat Jiao selalu khawatir dengan Shuwan.


***


“Aku harus mengalihkan perhatian mereka. Setidaknya dengan begitu aku hanya harus menghadapi sebagiannya saja.” Shuwan sedang mencari akal untuk mengalihkan perhatian para bandit itu. 


Shuwan berjalan menjauh dari posisi Zhang. Sedikit menuruni bukit. Ia berusaha melindunginya agar tak terluka karena kondisinya pun belum sepenuhnya baik.


Shuwan lantas mengambil sebuah batu di dekat kakinya. Ukurannya tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas seukuran genggaman tangan. “Aku bisa mengalihkannya dengan ini,” ucapnya seraya menggenggam batu itu erat-erat.


Sebisa mungkin Shuwan mempersiapkan lemparan agar lemparannya bisa melesat jauh. Shuwan kemudian melemparkan batu itu sejauh mungkin, berlawanan arah dengannya. Ia kemudian kembali menaiki kudanya.


Suara batu itu jatuh terdengar di antara semak-semak yang berada tak jauh darinya namun jaraknya masih bisa digunakan untuk mengulur waktu.


“Siapa di sana?” teriak salah seorang.


“Coba kalian periksa! Barangkali itu adalah mata-mata yang sengaja dikirim Raja Li untuk mengintai kita!”


Mata-mata? Aku adalah orang yang akan mengirim kalian ke neraka!


Ketika empat orang itu datang memeriksa semak, Shuwan menyerang mereka satu per satu menggunakan jarum biusnya. 


“Argh!”


Satu per satu orang yang menyelidiki tempat itu pun tumbang dan jatuh pingsan. Membuat para bandit yang berada di sekitar putra mahkota tersentak mendengar suara pekikan dan juga suruhan yang tak kunjung kembali.


“Apa yang terjadi di sana? Cepat susul mereka!” perintah seseorang yang bertubuh besar itu.


Shuwan merasa senang karena berhasil mengurangi jumlah lawannya. “Obat bius ini akan bertahan selama beberapa jam. Dengan begitu, aku bisa menghadapi sisanya,” gumamnya. “Mereka sudah mengirimkannya lagi! Hehe... Ini akan jadi kesempatanku!”


Ketika orang-orang itu mulai mendekati, Shuwan langsung meluncurkan jarum yang sebelumnya telah dibubuhi oleh obat bius. Seketika orang-orang itu  pingsan sebelum bisa mencapai tempat bandit yang sudah terlebih dahulu dibius Shuwan.


Sontak hal itu membuat orang bertubuh kekar yang sedari tadi hanya memerintah menjadi panik. “Siapa di sana? Kalau berani, jangan menyerang dari balik pepohonan!” teriaknya.


Shuwan lalu keluar dari persembunyiannya seraya menunggangi kuda dengan santainya. Ia memandang ke arah para bandit yang menyandera Zhi Qiang. Langit masih gelap, sedangkan cahaya bulan perlahan mulai redup. Suasana terasa mencekam, tapi Shuwan tetap berusaha tenang. 


Penjahat itu tidak bisa melihat wajah Shuwan dengan jelas, karena keadaan yang gelap.


“Siapa kau? Apa kau datang untuk menyelamatkan putra mahkotamu itu?”


Zhi Qiang yang mendengar pimpinan Mawar Hitam itu berbicara pun langsung mendelik. Matanya membulat sempurna ketika mendengar ada yang datang menyelamatkannya.


Shuwan dengan gamblang dan wajah dingin pun berkata, “Aku datang bukan untuk menyelamatkannya. Tapi untuk mengirim kalian ke neraka!”


Zhi Qiang kaget. Ia sangat paham dengan suara itu. Shuwan... Apakah itu benar dia? Batin Zhi Qiang.


“Hahaha... Ternyata kau seorang wanita. Kau datang menantang kematianmu sendiri, Nona! Kami punya banyak orang di sini, sedangkan kau... Kau hanya sendirian!”


Sendirian? Apakah Shuwan kehilangan akal sehatnya? Bagaimana mungkin seorang wanita akan mengalahkan para penjahat yang terkenal kejam ini sendirian? Tidak... Tidak. Aku harus mencari akal agar bisa melepaskan diri dan membantu Shuwan melawan mereka! Zhi Qiang mencoba mencari cara agar bisa mengendurkan tali yang mengikat tangan dan kakinya.


Shuwan tersenyum sinis. “Heh... Kita belum bertarung, bagaimana bisa kau langsung menjatuhkan penilaian seperti itu? Biarpun aku kalah jumlah, aku tidak akan kalah akal hanya untuk mengalahkan kalian semua!” 

__ADS_1


“Kau terlalu sombong, Nona! Kita akan lihat hasilnya segera! Kalian maju dan serang bocah tidak tahu diri itu!” Pimpinan itu memerintahkan bawahannya yang tersisa untuk menyergap Shuwan.


Shuwan di sergap oleh orang-orang itu. Mereka berusaha mengintimidasi Shuwan. Tidak disangka ternyata Shuwan berusaha melawan dengan menggunakan kudanya. Ia menerobos masuk agar bisa berhadapan langsung dengan pimpinan bandit itu. Namun masih terhalang oleh bawahan yang mengelilingi kudanya.


Akhirnya Shuwan mengeluarkan pedangnya dari sarung pelindung. Shuwan dan para penjahat itu pun saling beradu pedang untuk membuktikan siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan jatuh lebih dahulu.


Di sisi lain, ternyata pasukan Xin Ru sudah dekat dengan tempat penyanderaan.


“Suara pedang?” kata Xin Ru seraya memberhentikan langkah kudanya.


“Itu pasti, Shuwan! Apakah mereka menyerang terlebih dahulu tanpa menunggu kita?” kata Jiao.


“Kalau begitu ayo kita bergegas!”


Mereka semua pun menambah laju kecepatan kudanya. Dan begitu mereka semakin dekat dengan sumber suara, Yu Hao melihat Zhang yang bersandar di batang pohon tak sadarkan diri.


“Zhang!” teriak Yu Hao. Ia lantas melompat turun dari atas kuda dan berlari mendekati Zhang. “Zhang apa yang terjadi padamu?” ucap Yu Hao seraya mengguncang-guncangkan tubuhnya.


Jiao juga turun dari kudanya. Ia segera mendekati Zhang dan memeriksa keadaannya. “Dia pingsan. Aku rasa ini adalah ulah Shuwan. Dia pasti tidak ingin melibatkan Zhang dalam pertempurannya. Makanya dia membuat Zhang tertidur dengan obat bius.”


Netra Yu Hao membulat sempurna. “S-Shuwan... Itu artinya dia bertarung sendirian. Ini gawat! Xin Ru ayo segera susul Shuwan!” ajak Yu Hao.


“Aku mengerti! Ayo terus maju!” Xin Ru memberikan aba-aba pada pasukannya.


“Jiao, kau sebaiknya di sini. Aku akan maju dan memastikan Shuwan selamat. Kau jagalah Zhang.” Pinta Yu Hao.


“Aku mengerti. Kalian pergilah.”


Yu Hao lantas menyusul Xin Ru dan pasukannya menuruni bukit. 


Rupanya kedatangan pasukan ini disadari oleh Mawar Hitam. Dengan akal bulusnya, pimpinan Mawar Hitam itu pun membekap putra mahkota yang sedang berusaha melepaskan diri. 


Pimpinan Mawar Hitam menyeret Zhi Qiang ke tepi sungai. Di sana ada sebuah jembatan kayu yang tidak sampai ujung. Sama seperti yang biasa ada di pelabuhan. 


Shuwan yang sedang fokus bertarung pun juga menyadari derap langkah kuda yang semakin mendekat. Ia ingin menoleh ke belakang, ia juga masih bertarung. Selain itu, padangannya kini terfokus pada pria bertubuh kekar yang menyeret Zhi Qiang ke tepi sungai.


Gawat! Aku harus segera menyingkirkan bawahan ini! Shuwan mulai mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang bawahan itu.


Siapa mengira, ternyata salah seorang bersiul seolah memberikan kode. Dan dari berbagai arah muncul anggota Mawar Hitam lainnya secara bergerombol. Kini semakin banyak orang yang harus dikalahkan Shuwan.


Shuwan sudah merasa mulai lelah. Namun tiba-tiba bala bantuan pun datang. Xin Ru beserta prajuritnya menyerang dengan anak panah dari kejauhan seraya menuruni bukit.


Satu persatu anggota Mawar Hitam pun berguguran terkena serangan panah itu. Shuwan tak membuang kesempatan begitu saja. Ia melaju dengan kudanya dan menebas siapa pun yang menghalangi jalannya.


Aroma darah kini semerbak di tepi sungai ketika matahari belum menunjukkan sinarnya. Apakah ini perang fajar? Entahlah, yang jelas ini adalah perang pembebasan sandera.


Shuwan yang biasanya terlihat biasa saja pun menjadi garang seperti macan betina. Ia menyerang anggota Mawar Hitam yang berusaha menghalangi langkah kudanya.


Zhi Qiang melihat Shuwan yang bertarung seperti ksatria berkuda. Ia dengan susah payah menelan salivanya. Apakah dia benar-benar Shuwan yang kutemui di pasar? Dia terlihat sangat menyeramkan saat bertarung seperti ini! Batin Zhi Qiang. Aku harus segera mencari cara agar bisa terlepas dari bekapannya.


Zhi Qiang berusaha memberontak, tapi tubuhnya tak kuasa. Tubuhnya dilemahkan oleh pimpinan Mawar Hitam beberapa jam yang lalu.


Sekuat tenaga ia berusaha berontak, namun keadaan tangan dan kakinya yang terikat membuatnya jadi tak bisa melawan lebih kuat. Sial! Tenagaku tak cukup untuk melawannya! Shuwan... Aku harap kau tidak mendekat kemari! 


“Hahaha.. Bagus sekali. Segera mendekatlah, agar aku bisa menghabisi bocah tengik ini dengan sihir hitam yang baru saja aku pelajari.”

__ADS_1


Zhi Qiang berusaha memberi kode kepada Shuwan agar tak medekat, namun Shuwan tak mengerti. Apakah dia sedang tersakiti? Aku harus segera ke sana! Batin Shuwan.


Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba saja kuda yang ditunggangi Shuwan diserang dibagian kakinya. Kuda itu sotak menggelinjang dan akan jatuh.


Shuwan kaget menyadari kondisi kudanya. 


BRUGH!


Akhirnya karena tak bisa menjaga keseimbangan di atas kudanya, Shuwan pun terjatuh dan langsung di todong pedang oleh beberapa orang yang menyergapnya.


Zhi Qiang masih tidak kehabisan akal. Ia menggit tangan orang yang membekapnya. “Shuwan jangan kemari!” pekiknya.


Shuwan yang masih terduduk dengan todongan pedang pun memandangi Zhi Qiang dengan pandangan mengiba.


“Kurang ajar kau! Berani-beraninya menggigit tanganku!” Orang itu kembali membekap Zhi Qiang.


Shuwan tetaplah Shuwan. Ia berusaha membebaskan diri dari sekumpulan orang yang kini berusaha membunuhnya. Ia mengambil segenggam tanah yang ada di dekatnya, dan langsung menaburkannya ke udara untuk mengecoh.


Begitu mereka fokus membersihkan debu, Shuwan langsung menebaskan pedangnya ke orang-orang itu. Bahkan darah orang-orang yang dibunuhnya barusan terciprat hingga ke wajahnya.


Shuwan bisa mencium betapa anyirnya dirinya kini. Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik begini dari pada gagal pulang. Batinnya.


Selesai membereskan orang-orang itu, Shuwan langsung berjalan maju di atas titian kayu, mendekati Zhi Qiang yang masih di sandera.


Shuwan tidak menyadari, bahwa penjahat yang ada di hadapannya tengah mengumpulkan tenaga dalamnya dalam kepalan tangan. Hanya Zhi Qiang yang menyadarinya.


Gawat! Aku harus bisa menghalau kekuatannya agar tidak mengenai Shuwan! Batin Zhi Qiang.


“Kau ternyata hebat juga bisa menyusul kemari. Lihatlah, betapa kotornya dirimu sekarang. Kau berbau amis dan bersimbah darah. Kau tidak ada bedanya dengan kami sekarang. Hahaha!”


“Kalau kau tahu itu, sekarang cepat lepaskan putra mahkota!” bentak Shuwan.


“Bagaimana jika aku menolak?”


“Kalau begitu nasibmu akan sama dengan bawahanmu yang mati di tanganku!” 


“Hahaha... Kau terlalu sombong! Kalau begitu rasakan ini!”


Penjahat itu menyerang Shuwan dengan mana nya. Belum sempat mana itu terlepas dari tangannya, Zhi Qiang berhasil menghadangnya agar tak mengenai Shuwan.


Kini Zhi Qianglah yang menjadi korbannya. Ia terkena mana orang yang menyanderanya. Tampak wajah menahan kesakitan itu terukir jelas di sana. “Argh!” pekik Zhi Qiang.


Orang-orang yang sedang bertarung termasuk Xin Ru dan Yu Hao pun teralihkan pandangannya.


“Yang Mulia!” teriak Xin Ru.


“Qiang’er!” teriak Shuwan.


“Heh... Kau ternyata mencintai gadis ini! Tapi, bagus juga jika kau mati di sini!” 


Orang itu kemudian meraih kembali tubuh Zhi Qiang dan...


BYURR!


Tubuh Zhi Qiang di lemparkan begitu saja ke dalam sungai yang tenang namun dalam.

__ADS_1


“Qiang’er!” sekali lagi Shuwan berteriak. Kakinya terasa lemas melihat orang yang berusaha ia selamatkan ditenggelamkan begitu saja di hadapannya.


“Hahaha. Sekarang tiba giliranmu!” Orang itu kini menatap Shuwan dengan tatapan membunuh, dan bersiap kembali untuk menyerangnya.


__ADS_2