
“Ugh...” Shuwan membuka matanya perlahan setelah pingsan selama beberapa waktu. Ia kemudian bangkit dan terduduk, “Ada dimana ini? Gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apapun. Tunggu dulu, tadi kami tenggelam dalam pasir isap. Lalu... Apakah ini akhirat? Ah... Aku benar-benar tidak ingin mati secepat ini,” katanya.
Karena tempat itu sangatlah gelap, Shuwan mencoba meraba-raba dengan kedua tangannya. Permukaan yang keras dan dingin. Apakah ini lantai batu? Tapi kenapa ada tempat seperti ini di tengah gurun pasir? Batin Shuwan. Tangannya terus meraba keberbagai arah, hingga ia menyentuh tangan seseorang.
Eh... Siapa ini? Zhang atau siapa? Shuwan lalu mengguncang-guncang tubuh orang itu. “Hei! Sadarlah...”
Orang itu pun terbangun, “U-ugh.. Di mana ini? Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa?”
“Zhang.. Itukah kau?” Tanya Shuwan dalam kegelapan.
“Iya, Shuwan. Kenapa di sini begitu gelap?” Kata Zhang.
“Aku juga tidak tahu sekarang kita ada di mana. Oh iya, Jiao dan Yu Hao ada di mana?” tanya Shuwan.
“Pasti ada didekat kita,” Zhang menanggapi.
Mereka berdua yang telah terbangun pun mulai meraba-raba sekitarnya. Akhirnya mereka berhasil menemukan posisi Jiao dan Yu Hao. Shuwan dan Zhang mencoba membangunkan mereka berdua.
“Kepalaku sakit. Begitu gelap, mataku tidak bisa melihat apapun. Apakah aku menjadi buta setelah tenggelam dalam pasir?” Kata Jiao setelah bangun dari pingsannya.
“Dasar bodoh, apa yang sedang kau katakan? Saat ini kita memang sedang berada di suatu tempat yang gelap gulita,” ujar Shuwan.
“Begitu ya... Aku pikir aku tidak bisa melihat lagi.”
Zhang mendapati Yu Hao sudah terbangun, “Yu Hao, apakah kamu terluka?” Tanya Zhang.
“Uhm.. Aku baik-baik saja, hanya punggungku yang sedikit sakit karena terjatuh,” jawab Yu Hao sambil memegangi punggungnya.
“Syukurlah kalau begitu,” Zhang merasa lega karena Yu Hao dan yang lainnya baik-baik saja.
“Di sini begitu gelap, bagaimana kita akan keluar dari sini? Sekeliling pun tidak kelihatan. Khawatirnya akan ada ranjau di tempat asing yang terkubur ini,” ujar Zhang menyakan solusi pada teman-temannya.
Tangan Shuwan masih meraba-raba lantai tempat mereka berpijak saat ini, dan ia pun menyenggol sesuatu, “Eh.. Apa ini?” kata Shuwan sambil memegang benda itu.
“Tercium seperti aroma minyak, apa mungkin... Adakah yang membawa korek api?” Tanya Shuwan.
“Sepertinya aku membawanya, emm... Sebentar, aku mencari tasku terlebih dahulu. Seharusnya terjatuh didekatku,” ujar Jiao dengan tangan yang terus mencari keberadaan tasnya.
Tidak lama kemudian, “Nah... Ketemu!” Jiao pun menggeledah tasnya dengan memanfaatkan indra perasa dan penciumannya. Korek yang terbuat dari sulfur tentu memiliki aroma yang kuat sehingga Jiao bisa langsung menemukannya, “Ini dia, ketemu! Shuwan ini koreknya,” Jiao menyerahkan korek pada Shuwan.
Shuwan menghidupkan korek itu dan menyinari benda yang baru saja dia temukan.
“Ternyata itu adalah obor,” celetuk Zhang.
Tanpa basa-basi, Shuwan langsung mengarahkan api tepat di ujung sumbu obor. Seketika cahaya api dari obor menyinari tempat itu.
“Tapi kita tidak tahu seberapa banyak minyak yang tersisa didalam tabungnya. Sebaiknya kita cepat mencari jalan keluar dari sini,” kata Zhang menjelaskan situasi.
“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo!” seru Yu Hao pada teman-temannya.
__ADS_1
Shuwan kemudian menyerahkan obor itu pada Zhang. “Ternyata ini sebuah lorong, tapi kenapa ada lorong di bawah gurun pasir yang gersang dan tandus ini?” Ujar Jiao yang seperti ketakutan menyusuri lorong misterius itu.
“Dahulu, aku pernah mendengar bahwa di dekat gurun ini ada sebuah kerajaan kecil. Tapi entah bagaimana kerajaan itu pun menghilang dalam semalam,” terang Yu Hao.
“Kerajaan? Hilang dalam semalam? Apa itu mungkin terjadi?” Shuwan penasaran.
“Yah.. Aku tidak tahu mengenai kebenarannya, karena semua itu adalah cerita yang telah diwariskan turun temurun,” jawab Yu Hao dengan gamblangnya.
Jalan cerita buku itu berubah. Bagaimana ini? Apa yang akan terajadi selanjutnya? Batin Shuwan bergejolak.
“Tetaplah waspada. Kita tidak tahu seberapa panjang lorong ini, dan apa-apa saja yang sudah menanti di depan sana,” Zhang memperingatkan teman-temannya.
Lorong itu ternyata begitu panjang, hingga membuat kaki lelah menyusurinya. “Bisakah kita berhenti sebentar? Kakiku sangat lelah,” pinta Jiao.
“Baiklah, kita istirahat dahulu sebentar,” jawab Zhang.
Mereka beristirahat sejenak, minum dan meluruskan kaki. “Tempat ini sangat gelap. Tidak ada bagian yang mendapatkan cahaya matahari. Apakah kita benar bisa keluar dari tempat ini?” Tanya Shuwan khawatir.
“Kita masih belum bisa menebaknya, sebelum menemukan ujung dari lorong ini. Semoga saja, setelah lorong ini ada pintu keluar dari tempat ini,” ujar Zhang menenangkan Shuwan.
Setelah merasa cukup istirahatnya, mereka kembali berjalan menyusuri lorong itu. Tidak lama setelah itu, mereka sampai di ujung lorong yang tertutup sebuah gerbang besar.
“Gerbang? Ini sangat besar. Seperti sebuah pintu masuk ke suatu wilayah. Kayunya masih kokoh meskipun sudah tertimbun lama di bawah pasir. Pasti ada cara untuk membukanya,” kata Zhang yang mencari-cari semacam tombol atau tuas untuk membuka gerbang.
Zhang pun menyerah, ia tidak menemukan apapun yang bisa membuka gerbang itu. “Haish... Sepertinya tidak ada tombol ataupun tuas khusus untuk membuka pintu ini,” keluhnya.
“Kalau begitu kita hancurkan saja,” sahut Shuwan.
Shuwan tersenyum, ia kemudian mengeluarkan pedangnya dari sarung. “Kita tidak akan membuat tempat ini terguncang. Aku hanya akan mencoba membukanya.”
Selesai mengatakannya, Shuwan maju mendekati pintu. Ia memasukkan pedangnya ke dalam lubang kunci yang ada pada gerbang. Ia terkejut. Bisa masuk? Apa mungkin pedang ini bisa menjadi kuncinya? Sekuat tenaga Shuwan mendorong pedangnya agar masuk. Karena hal itu juga, tangannya berdarah.
Jiao maju membantu Shuwan mendorong pedangnya, begitu juga dengan Yu Hao. Zhang tidak tinggal diam, ia menyandarkan obor yang dipegangnya ke dinding.
Tangan mereka membantu Shuwan mendorong pedangnya, “Kalian...” mata Shuwan berbinar.
“Kalau begitu ayo terus dorong..” Shuwan memberi aba-aba. Mereka pun mendorongnya sekuat tenaga dan semampunya. Pedang milik Shuwan pun masuk sepenuhnya, dan hanya menyisakan gagangnya.
Gerbang itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya, dan terbuka. “Rupanya gerbang ini dilindungi kekuatan magis. Benar-benar mengagumkan,” celetuk Yu Hao.
“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo masuk!” ajak Zhang.
Sebelum masuk, Shuwan pun mencabut pedangnya dan bergegas masuk. Gerbang itu kembali tertutup setelah Shuwan mencabut pedang dan berhasil masuk. Pedang ini, sepertinya bukan pedang biasa. Batin Shuwan penasaran. Ia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang.
“Maaf membuat kalian menung-gu..” ucap Shuwan terputus.
“Tempat ini adalah... Sebuah istana,” kata Zhang dengan perasaan kaget yang melandanya.
Itu artinya, legenda yang dikatakan para orang tua itu benar adanya,” sambung Yu Hao.
__ADS_1
“Coba hidupkan semua obor yang ada di tempat ini, supaya kita bisa melihat semuanya dengan jelas,” pinta Yu Hao.
Zhang pun berkeliling menghidupkan obor-obor yang memang sudah terpasang di sana. Setelah selesai, ia pun berkata pada temannya, “Di dinding luar ini ada semacam ukiran, hanya saja sudah sedikit tidak terlihat.”
Zhang memandu teman-temannya untuk melihat ukiran-ukiran yang ia temukan. “Kalau diurutkan, gambar-gambar ini seperti menunjukkan sesuatu. Gambar yang kita lihat sepertinya merupakan urutan kejadian yang kemungkinan besar menimpa tempat ini,” terang Shuwan.
“Aku setuju dengan Shuwan. Gambar pertama menunjukkan warga yang amat bahagia, hingga ada gambar selanjutnya mengisahkan kedatangan seorang cenayang di kerajaan, dan gambar akhirnya menceritakan pertumpahan darah para warga,” Zhang menjelaskan singkatnya.
“Apa mungkin tempat ini dikutuk oleh cenayang itu?” tanya Shuwan dengan spontan.
“Mungkin saja. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan hanya bisa berspekulasi saja,” ujar Zhang.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita menjelajahi istana ini? Siapa tahu ada rahasia yang bisa membawa kita keluar dari tempat mengerikan ini,” ajak Yu Hao.
“Benar yang dikatakan Yu Hao. Jika kita hanya diam saja, itu artinya kita hanya akan menunggu kematian kita di tempat ini,” sambung Jiao dengan wajah cemas.
Zhang mengangguk, “Kalau begitu ayo,” serunya.
Semoga saja benar ada jalan rahasia untuk bisa keluar dari tempat ini, Shuwan membatin.
Mereka menyusuri tiap ruangan yang ada di istana itu, hingga mereka sampai di aula yang besar dengan sebuah peti bercorak emas berada di tengah aula itu. Mereka pun mendekatinya, dan mulai memperhatikan peti itu.
“Peti apa ini? Apa mungkin tempat penyimpanan harta?” Tanya Jiao.
“Aku juga tidak tahu, Jiao,” sahut Yu Hao.
“Bagaimana kalau kita buka saja?” Jiao meminta persetujuan.
“Kalau aku setuju saja, bagaimana dengan kalian?” Yu Hao melempar pertanyaan pada Shuwan dan Zhang.
“Mungkin memang sebaiknya begitu. Barangkali benar ada tombol rahasia di dalamnya. Bagaimana denganmu Shuwan?” Tanya Zhang.
“A-aku, aku tidak tahu. Aku akan ikut kalian saja,” ucap Shuwan. Entah kenapa aku merasakan firasat buruk mengenai ini. Batin Shuwan yang merasa gelisah.
“Kalau begitu kita buka saja. Semoga benar ada cara untuk keluar dari tempat ini,” kata Zhang mengambil keputusan.
Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah mungkin ini keputusan yang tepat? Semoga saja benar, bahwa ada cara untuk keluar dari tempat ini di dalam peti itu. Kata Shuwan dalam hatinya.
Mereka pun memutar segel yang ada di atas peti itu. Hingga cahaya berwarna emas menyeruak keluar dan menyilaukan mata. Shuwan yang tidak tahan pun mundur. Namun, karena ia tidak memperhatikan langkahnya ia pun terjatuh tersandung sebuah kursi kecil.
“Aduh!” Teriak Shuwan setelah terjatuh.
Cahaya itu pun perlahan meredup. Shuwan mencoba melihat ke arah peti itu, hingga ia menyadari sesuatu.
Mereka pergi kemana? Kenapa tinggal aku sendiri di sini? Apakah mereka bertiga sedang pergi ke tempat lain? Batin Shuwan terus bertanya-tanya.
Ia pun memanggil-manggil nama teman-temannya, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang menjawab panggilannya. Mereka bertiga menghilang saat cahaya menyilaukan itu muncul dari dalam peti. Shuwan menyaksikan sendiri peti itu tertutup dan terkunci sendiri begitu saja. Ia mencoba memutarnya kembali agar terbuka. Namun, usahanya sia-sia. Peti itu tidak bisa lagi dibuka.
Shuwan menjadi emosi, ia memukul-mukul peti itu sekuat tenaga. Berharap peti itu dapat terbuka kembali, tapi hasilnya tetap sama saja, tidak bisa dibuka. Karena usahanya tidak berhasil, Shuwan pun menangis, sendirian di tempat yang menyeramkan itu.
__ADS_1
Apa ini sebenarnya? Kenapa bisa begini? Peti itu, pasti peti itu yang membuat Zhang dan yang lainnya menghilang begitu saja. Apakah semuanya hanya akan berakhir seperti ini?
Shuwan terduduk lemas menyadari dirinya kini tinggal seorang diri. Berada di sebuah istana yang terpendam jauh di dalam gurun pasir, sendirian, dan sepi, tanpa ada jalan keluar dari tempat itu.