1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Sebuah Sandiwara


__ADS_3

Shuwan masih kekeh dan berdiri tegap menghadapi kedua penjaga gerbang itu.


“T-tapi ini adalah berita yang sangat genting. Tidak bisakah kalian melepaskanku sekali ini saja?” pinta Shuwan sekali lagi.


“Maaf, Nona. Tanpa izin resmi kau tidak bisa.”


Wajahnya tampak semakin kesal. Bagaimana ini? Apa suratnya kutitipkan saja? Tapi, bagaimana kalau mereka lupa? 


Sementara itu, putra mahkota bersama Xin Ru tengah berjalan-jalan di halaman istana. Ketika sampai di halaman yang dekat gerbang, pandangan Zhi Qiang tiba-tiba tertuju ke arah gerbang.


“I-itu....”


“Kenapa Yang Mul...”


Belum selesai Xin Ru berbicara, Zhi Qiang langsung menarik tangannya untuk bersembunyi bersama di balik tanaman yang ada di dekatnya.


“Hei! Tidak bisakah kau mengatakannya kalau ingin bersembunyi?” Xin Ru kesal karena perbuatan putra mahkota.


“Hei! Di gerbang ada si angsa hitam, bagaimana kalau penyamaranku sampai terbongkar?”


Xin Ru mengerutkan dahinya, matanya menyipit mengikuti kerutan dahi. “Hah? Angsa hitam?” tanya Xin Ru dengan wajah bingung.


Zhi Qiang mendecak kesal karena Xin Ru tak paham pada julukan yang ia berikan pada Shuwan. “Coba kau lihat saja di gerbang itu,” Zhi Qiang meminta Xin Ru untuk mengintip dari balik semak tanaman itu.


Xin Ru kemudian meninggikan badannya, dan melihat ke arah gerbang. Rupanya wanita itu? Pantas saja Yang Mulia jadi salah tingkah. Batin Xin Ru.


Xin Ru kembali merendahkan badannya. Ia lalu bertanya secara spontan pada Zhi Qiang. “Kira-kira apa tujuannya kemari?”


“Sudah jelas, dia pasti mau menemuiku.”


“Hei! Biarkan aku masuk. Ada barang yang harus segera kuserahkan pada penjaga pertpustakaan.”


“Sudah kukatakan bukan? Kalau dia pasti ingin menemuiku,” kata putra mahkota dengan percaya dirinya setelah mendengar teriakan Shuwan dari gerbang.


“Lalu, apa rencanamu untuk menghadapinya?”


Zhi Qiang meletakkan jari telunjuknya di dagu tepat di bagian bawah bibirnya. 


“Hm... Untuk saat ini aku belum bisa menemuinya. Ayah memintaku untuk segera menemuinya. Ah... Padahal ini kesempatan untuk berbincang dengannya.” Putra mahkota mengacak rambutnya karena kesal.


“Lantas, dia bagaimana? Tidak mungkin kan dia sudah datang jauh-jauh tanpa membawa hasil?”


“Em... Begini saja. Tadi angsa hitam itu mengatakan ingin menemuiku dan memberikan sebuah barang bukan? Bagaimana kalau kau wakilkan aku ke sana untuk mengambil barang itu? Bagaimana? Hm...” Zhi Qiang mengangkat-angkat alisnya, memohon agar pengawalnya itu mau turut dalam penyamarannya.


“Hm... Baiklah. Selama kau senang, akan kulakukan.”


“Bagus! Setelah ini aku akan metraktirmu dengan iga bakar kualitas terbaik.”


“Benarkah?”


“Tentu saja. Aku, Zhi Qiang Sang Putra Mahkota tidak akan menarik kembali kata-kata yang sudah ia ucapkan.”


“Itu bagus!” Xin Ru juga kegirangan mendengar imbalan yang akan diberikan oleh tuannya. “Kalau begitu aku akan langsung ke sana,” sambungnya.


Xin Ru pun bangkit dari persembunyiannya. Saat akan melangkah, Zhi Qiang menarik bagian celanannya yang menutupi betis.


“T-tunggu!” 

__ADS_1


 “Hm?” Xin Ru menengok ke arah Zhi Qiang yang masih jongkok di persembunyian.


“Katakan padanya kalau kau adalah temanku yang sama-sama bertugas di perpustakaan. Jadi, dia tidak akan curiga.”


“Oke, Yang Mulia.”


Xin Ru lalu meninggalkan Zhi Qiang di tempat persembunyian. Sementara Zhi Qiang mengawasi dari sana.


“Em... Ada apa ini penjaga?” Xin Ru memulai sandiwaranya.


“Ah... Tuan, nona ini memaksa ingin masuk.”


“Masuk?”


“Benar! Aku ingin bertemu dengan tuan putakawan untuk memberikan sebuah barang,” pekik Shuwan.


“Barang? Barang apa?”


“Sebenarnya ini hanya sebuah surat. Tapi aku ingin memberikannya langsung.”


“Begitu ya. Tapi saat ini orang yang kamu cari sedang tidak ada di tempat. Dia sedang rapat bersama putra mahkota.”


Shuwan membuang napasnya. Ada sedikit kekecewaan dibenaknya.


“Kalau tidak berikan saja surat itu padaku, nanti begitu dia selesai aku akan memberikannya padanya,” kata Xin Ru.


“Apa aku bisa mempercayaimu?”


“Tentu saja. Aku ini bekerja bersamanya menjaga perpustakaan.” Hm... Siapa juga yang menyukai pekerjaan membosankan seperti itu. Batin Xin Ru yang sangat bertolak belakang dengan lisannya.


“Benarkah?” Wajah Shuwan menjadi semringah.


Shuwan kemudian memberikan surat itu pada Xin Ru, dan Xin Ru langsung menerimanya.


“Terima kasih untuk bantuanmu. Kalau begitu, aku pergi dahulu.” Shuwan memberikan penghormatan, lalu kembali menunggangi kuda.


“Apa tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan padanya?” tanya Xin Ru.


“Aku rasa surat itu sudah mewakili apa yang ingin aku sampaikan.”


Xin Ru mengangguk. “Baiklah. Kau boleh pergi.”


“Hyaa!” Shuwan memacu kudanya. Perlahan ia mulai menjauh. Tanpa sadar putra mahkota ternyata berjalan hingga ke depan gerbang.


“Aku benar-benar menantikan kedatangannya kembali.”


Xin Ru terkesiap karena mendapati Zhi Qiang sudah ada di sebelahnya. “K-kau! Bagaimana bisa mengagekanku seperti ini? Bagaimana kalau jantungku sampai lepas?”


“Hah... Hatiku terbawa olehnya. Sampai aku tidak sadar berjalan sampai kemari.”


Xin Ru menatap aneh tuannya itu. Orang jatuh cinta memang benar-benar membuatku mual. Ia kemudian menatap amplop surat itu. “Hm... Apa ya isi surat ini? Aku penasaran.” Baru saja Xin Ru ingin membuka tutup amplop, Zhi Qiang merebutnya.


“Sebaiknya kau tidak perlu tahu isinya. Ini adalah suratku dengan si angsa hitam itu.”


Zhi Qiang tersenyum, ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan gerbang istana.


Bocah ini semakin lama semakin menyebalkan! Hah... Sabar Xin Ru, sabar. Kau masih harus melayaninya seumur hidup. Gumam Xin Ru seraya mengelus dadanya.

__ADS_1


Ia lalu beranjak menyusul putra mahkota. “Hei! Tunggu aku!” Xin Ru pun berlari dengan tergopoh-gopoh menyusuli langkah Zhi Qiang yang cepat karena hatinya sedang senang.


***


Senja pun tiba. Shuwan baru saja sampai di kediaman Luo Shu.


Saat ini ia sedang mengembalikan kuda yang ia tunggangi ke kandang.


“Terima kasih atas bantuanmu. Besok, ini makanlah.” Shuwan memberikan manisan kesemek yang sempat ia beli di pasar.


Setelah mengembalikan kuda itu dengan selamat, Shuwan masuk ke dalam. Ia terkejut karena Luo Shu sudah ada di sana. Sedan duduk di kursi ruang tamu.


Dengan langkah santai, Shuwan berjalan mendekati.


“Apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Shuwan.


“Kau sudah bisa melihatku di sini. Itu artinya aku sudah baik-baik saja.”


“Baguslah. Jangan lagi karena ucapan seseorang kau jadi stress dan tumbang.”


Bocah ini... Pedas juga omongannya. Batin Luo Shu yang takjub dengan cara berbicara Shuwan. 


“Kalau begitu aku akan langsung istirahat. Tubuhku lelah. Tulangku rasanya seperti retak kembali. Buatlah dirimu santai dan tenang. Aku tidak akan memaksamu jika kau memang tidak mengizinkanku pergi ke istana.”


Tanpa menunggu jawaban Luo Shu, Shuwan langsung pergi ke kamar dan menutup pintunya.


Jiao kemudian berbisik kepada gurunya. “Shifu, bagaimana ini? Apa kau yakin akan bersandiwara di hadapannya?”


“Hm... Entahlah, aku juga bingung. Begitu melihatnya kelelahan setelah kembali, aku jadi tidak tega mengerjainya. Hah... Kalau begitu aku akan mengatakan kalau aku mengizinkannya pergi ke istana.”


Luo Shu dan Jiao yang mengira kalau Shuwan terlelap pun ternyata salah.


Sedari masuk ke kamar, Shuwan berdiri di balik pintu yang tertutup. Dengan hati-hati ia pun menguping pembicaraan Jiao dan Luo Shu.


Shuwan mengangkat alis kirinya. Senyum sinis terukir di wajahnya. 


Mau mengerjaiku? Kalian berhadapan dengan orang yang salah. Batin Shuwan terkekeh karena berhasil membuat Luo Shu menjadi dilema untuk mengerjainya.


***


Malam hari di kamar putra mahkota.


Seperti biasanya, Zhi Qiang masih duduk di meja belajarnya setelah mentraktrir Xin Ru dengan iga bakar sesuai janjinya.


Ia memperhatikan amplop surat dari Shuwan. Dibukanya perlahan, lalu diambil isinya. Ia bentangkan dengan lembut kertas itu. Dibacanya dengan seksama.


Untuk Tuan Pustakawan...


Tuan... Aku belum bisa memutuskan untuk tergabung dengan kepanitiaan. Alkemis Luo Shu sedang sakit. Aku memerlukan izinnya karena dia telah mengobatiku dan juga membiarkan kami tinggal di sini.


Aku tidak tahu bagaimana caramu mengetahui tempatku tinggal. Yah, kau orang istana, tentu mudah bagimu untuk mencari orang rendahan sepertiku. Tapi aku mengerti, kau membutuhkannya untuk mengirimkan pesan bantuan seperti ini ‘kan?


Singkat saja, untuk saat ini aku sedang menunggunya sadar, agar dia memberikan keputusannya dan aku bisa memberikan jawabannya padamu. Tunggulah selama dua hari, dan aku akan memberikanmu jawaban atas undangan itu.


Tertanda... Angsa Hitam...


“Hah... Sepertinya butuh waktu lagi hanya untuk bertemu dengannya.” Kata putra mahkota dengan nada kecewa. “Bagaimana ya? Apakah aku harus mengiriminya surat lagi?”

__ADS_1


Putra mahkota terdiam sejenak. Ia pun akhirnya menulis sebuah surat untuk membalas pesan Shuwan. “Besok aku akan mengirimkannya, dan menunggu kembali balasannya.”


Selama menulis, putra mahkota tersenyum-senyum sendiri. Tidak mengerti apa yang ia goreskan sampai membuatnya seperti itu.


__ADS_2