1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Denah


__ADS_3

Rona fajar telah menyapa dari timur, Shuwan dan ketiga temannya sudah terbangun lebih awal pagi ini.


Saat ini, Yu Hao sedang pergi ke tempat Feng untuk memberi kabar dan menjemputnya. Tidak lama, akhirnya ia tiba bersama Feng. Mereka pun langsung pada inti pembicaraan yang dimaksudkan.


Shuwan menceritakan apa yang dikatakan Han Ji tadi malam kepada ketiga temannya, dan juga rekan bisnisnya, Feng.


Feng menghela napas panjang, “Begitu rupanya. Tentu saja hal-hal penting akan disimpan di tempat paling aman dan sulit dijangkau oleh sembarang orang.”


“Kalau saja kita bisa menemukan ruangan rahasia yang dimaksud, pasti bukti itu akan segera kita dapatkan,” Zhang menimpali.


Feng tersenyum, “Kalian tenang saja. Aku sudah menempatkan mata-mata di sana. Ia berperan sebagai seorang pelayan, jadi cukup paham denah kediaman Liu,” ucap Feng dengan tenangnya. “Aku akan mengirim pesan kepadanya segera, untuk datang dan menjelaskan denah kediaman Liu,” sambung Feng.


“Tunggu!” Shuwan menghentikan langkah Feng yang akan memanggil pelayan untuk mengirimi pesan pada mata-matanya. “Kau langsung tulis saja surat perintahnya. Nanti biar aku yang akan menyerahkannya. Katakan saja ciri-ciri pelayan yang kamu maksudkan itu. Kita akan menyusun rencana setelah mendapatkan denah kediaman Liu,” kata Shuwan menawarkan.


“Tapi, tidakkah itu terlalu lama?” Yu Hao menimpali.


“Kita masih memiliki malam ini, dan juga besok. Itu limit kita. Jangan sampai karena ingin cepat-cepat mendapat bukti, kita malah menjadi gegabah. Ku usahakan, hari ini kita akan mendapatkan denah dan segera menjalankan aksinya,” jawab Shuwan.


“Shuwan, biar aku yang memberikan surat itu pada pelayannya. Kau fokus saja mengajarnya. Lagi pula kita ini adalah tim. Tentu saja harus berbagi tugas bukan?” Jiao menyela menawarkan diri.


Zhang kemudian masuk dalam pembicaraan, “Rencana Jiao boleh juga. Ini supaya Shuwan tidak terlalu banyak beban dan fokus pada peran utamanya,” terangnya.


Feng mengangguk, “Baiklah kalau itu yang terbaik menurut kalian. Aku akan menunggu kabar baiknya dari kalian,” ucap Feng.


Feng kemudian memberi gambaran pelayan yang ia maksud. Setelah mendapat informasi yang cukup, Shuwan dan yang lainnya pun berangkat menuju kediaman Liu.


Feng masih berada di kediaman yang ditinggali Shuwan saat ini. Ia kembali menyentuh pena tinta beserta kertas yang tergeletak di atas meja. Dengan tenang, ia duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Paman, sebentar lagi aku akan membebaskanmu. Tunggulah aku. Aku akan membuat perhitungan pada keluarga Liu itu. Batin Feng.


Setibanya di kediaman Liu, Shuwan fokus menjalankan perannya. Ketika masuk ke ruang belajar, ia melihat Han Ji sudah duduk di kursi yang ada di sana dan terlihat seperti sedang menggambar.


Han Ji yang menyadari Shuwan yang sedang mendekat ke arahnya pun menyudahi aktivitasnya, dan bergegas menutupi lukisannya.


“Apa yang sedang kau gambar?” tanya Shuwan penasaran.


Han Ji terlihat gugup. Ia kemudian menjawab pertanyaan Shuwan, “Em.. Bukan apa-apa. Aku hanya iseng menggambar. Karena Shu’er sudah datang, ayo kita lanjutkan materinya,” kata Han Ji berusaha mengalihkan perhatian Shuwan. Bagaimana aku bisa menunjukkan lukisan wanita yang kusukai di hadapannya sendiri? Bisa mati kutu aku nanti.

__ADS_1


"Rupanya, kau mahir melukis ya?" kata Shuwan memuji Han Ji.


"Aku hanya suka melakukannya ketika senggang," balas Han Ji dengan malu-malu.


“Lalu, apakah kondisimu sudah pulih total? Semalam kau mabuk berat,” celetuk Shuwan.


“A-ah... Sekarang aku sudah baik-baik saja. Maaf, aku mengajakmu minum tapi malah aku sendiri yang menikmatinya. Pasti semalam aku mengatakan hal yang aneh-aneh dan merepotkanmu ya?” kata Han Ji dengan wajah yang memerah karena malu.


Iya, kamu mengatakan kejujuran yang tidak pernah kamu utarakan ketika sadar. “Tidak perlu meminta maaf. Lagi pula, semalam yang membantu merawatmu adalah adikmu sendiri,” Shuwan menjelaskan.


“Pantas saja. Aku kira aku sedang bermimpi melihatnya di sini, ternyata itu benar dia. Pagi ini aku belum melihatnya lagi,” ucap Han Ji dengan sedikit kecewa.


“Kalau begitu sekarang kita lanjutkan dahulu materinya, supaya kamu bisa lebih leluasa memikirkan adik kecilmu itu,” kata Shuwan dengan gamblang.


“A-aku tidak... Ah.. Baiklah...” Han Ji langsung menuruti perkataan Shuwan.


Shuwan hanya tersenyum melihat ekspresi Han Ji saat itu. Sementara itu di luar, Jiao telah mulai melancarkan aksinya.


“Zhang, Yu Hao, aku akan ke belakang sekarang. Kalian tetaplah berjaga di sini,” ucap Jiao.


Jiao tersenyum, “Jangan khawatir. Aku akan segera kembali,” katanya mencoba menenangkan Yu Hao.


“Kalau begitu hati-hatilah,” kata Zhang memberi pesan pada Jiao.


Jiao segera berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada di kediaman Liu, meninggalkan Zhang dan Yu Hao di depan ruang belajar milik Han Ji. Hingga, tiba-tiba ia di hentikan langkahnya oleh penjaga yang sedang berkeliling di sana.


“Tunggu! Siapa kau dan hendak pergi ke mana?” tanya penjaga itu.


“Aku adalah pengawal guru Shu’er, guru Tuan Muda Liu,” jawab Jiao dengan tenang. “Kebetulan aku ingin ke kamar kecil, apakah kalian bisa menunjukkan jalannya padaku?” Jiao meminta arahan pada penjaga itu.


“Begitu rupanya. Kau berjalan lurus saja mengikuti lorong ini, lalu belok kanan. Kamar kecilnya ada di ujung sebelah dapur,” penjaga itu memberi arahan.


Bagus. Mata-mata Tuan Feng bekerja di dapur. Semoga aku bisa menemuinya setelah sampai di sana. Jiao membatin disaat berhadapan dengan penjaga itu. “Terima kasih untuk arahannya. Aku sudah tidak tahan lagi. Permisi,” Jiao berjalan melalui penjaga itu agar tidak dicurigai.


“Sebaiknya kau segera kembali begitu urusan kamar kecilmu selesai, dan jangan berkeliaran sembarangan di sini. Atau, kami akan menangkapmu karena dicurigai sebagai mata-mata,” celetuk penjaga itu.

__ADS_1


Langkah Jiao terhenti ketika mendengarnya. Segera ia berbalik untuk merespon ucapan penjaga itu. “Anda tenang saja. Aku tidak berani macam-macam di tempat ini,” kata Jiao sembari memasang wajah tersenyum dengan paksa.


Selesai mengatakannya, Jiao segera melanjutkan langkahnya menuju arah yang dituju. Tempat ini bukan hanya penuh dengan bahaya, tapi juga penjaganya yang cukup mengerikan. Melihat mereka menatapku, seperti melihat buruan yang empuk. Benar-benar mengerikan. Jiao membatin dalam langkahnya yang semakin ia percepat.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya ia sampai di depan dapur, kemudian ia mengintip dari depan pintu dapur untuk menemukan orang yang sedang ia cari. Hingga seorang pelayan menyadari ada yang mengintipnya dan pergi ke arah pintu, “Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?” katanya dengan lembut.


Jiao memperhatikan pelayan itu. Apakah ini orangnya? Aku harus memastikan tanda lahir yang dia miliki di tangan kanannya. Seketika ia teringat ciri-ciri yang dikatakan oleh Feng.


“Ah.. Nona, aku tersesat. Di mana sebenarnya letak kamar mandi itu?” kata Jiao sembari meraih tangan pelayan wanita itu. Benar saja ia melirik telapak tangannya, dan mendapati tanda lahir di sana.


“Eh.. Kamar mandinya ada di sebelah ruangan setelah dapur ini,” ucap pelayan itu.


Karena Jiao sudah menyadari bahwa pelayan itu adalah mata-mata yang dimaksud oleh Feng, ia kemudian mendekati telinga pelayan itu dan berbisik, “Aku suruhan Tuan Feng."


Seketika mata pelayan itu terbelalak, “Apa yang bisa aku bantu, Nona?” responnya dengan gesit.


Jiao mengeluarkan surat perintah yang di tulis oleh Feng dari bajunya, dan langsung memberikan pada pelayan itu. Matanya tidak henti-hentinya mengawasi, khawatir ada yang melihatnya. "Baca ini, aku akan mengambil yang diminta setelah keluar dari kamar mandi ini," bisik Jiao.


Setelah pelayan itu menerima suratnya, Jiao pergi untuk ke kamar kecil untuk sekedar membasuh wajahnya. Begitu ia selesai dan keluar dari kamar mandi, pelayan yang ia temui sebelumnya sudah menunggunya di depan pintu dapur.


Ia segera menyerahkan sebuah kertas pada Jiao, “Ini adalah denah yang kalian butuhkan,” bisiknya. Jiao mengangguk. Ia kemudian memasukkan kertas itu ke dalam bajunya, dan pergi kembali ke tempat Zhang dan Yu Hao berada.


Sesampainya di sana, “Bagaimana? Apa kau berhasil mendapatkannya?” tanya Zhang dengan suara yang berbisik.


Jiao hanya menggunakan isyarat tangan untuk menjawabnya agar tidak meninggalkan banyak kebisingan.


“Baguslah,” Zhang merasa lega. “Kita tinggal menunggu Shuwan selesai,” sambungnya.


Mereka bertiga pun kembali ke rutinitas yang beberapa hari ini mereka jalankan, yaitu menjadi pengawal Shuwan hingga selesai mengajar.


***


Malam harinya, setelah mereka tiba di rumah, Jiao langsung mengeluarkan kertas yang dia terima dari mata-mata Feng. Dengan seksama semua memperhatikan denah rumah itu.


“Ruang rahasia itu berada di dalam gudang kediaman Liu. Ini memungkinkan agar tidak ada orang yang curiga. Selain itu, lokasi ini cukup strategis untuk mengaburkan kesan rahasia yang ada di dalamnya. Karena yang terlihat dari luar hanyalah sebuah ruang penyimpanan biasa yang tampak kumuh dan jarang didatangi,” ucap Zhang memulai pembicaraan.

__ADS_1


“Kalau begitu, tengah malam nanti kita akan menggeledah tempat itu secara diam-diam, dan mengambil kejutan yang sudah menunggu sejak lama,” kata Feng dengan sorot mata tajam seolah bersiap untuk meluncurkan serangan balik pada musuhnya.


__ADS_2