
Malam telah berlalu, dan kini pagi telah menyapa hari itu. Shuwan yang semalam terbangun dan tidak bisa tidur pun terjaga sampai pagi. Ini membuat kantung matanya menjadi hitam, dan terlihat seperti mata Panda. Sepanjang malam ia hanya menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk mengobati wajah Minghao.
Seharusnya obat yang aku buat akan berhasil. Untungnya aku juga membawa obat-obatan dari duniaku. Ini pasti akan sangat membantu.
Tanpa menyadari sekitarnya ternyata Jiao bangun dari tidurnya. Ia menyadari bahwa Shuwan tidak ada di tempat tidur dan mendapatinya sedang asik memilih obat.
“Shuwan, apakah kau tidak tidur semalaman?” tanya Jiao.
Shuwan mengangguk, “Semalam aku mimpi buruk. Jadi aku tidak bisa tidur lagi,” ujarnya.
“Lalu kenapa tidak membangunkanku?”
Shuwan masih fokus pada obatnya, ia pun menanggapi Jiao, “Bagaimana mungkin aku membangunkanmu hanya untuk menemaniku begadang? Hemm... Sudahlah, aku ingin menumbuk obat dahulu. Kau bisa pergi untuk memasak. Tidak apa-apa ‘kan memasak sendirian?”
Jiao hanya mengangguk.
Shuwan pun bergegas meninggalkan kamar. Ia melihat Zhang yang tertidur di kursi ruang tamu. Apa semalam ia tidur di sini? Laki-laki memang sulit dimengerti dan suka berbuat semaunya.
Ia pun melalui Zhang bermaksud mengambil tumbukan obat di atas lemari yang ada di dekat Zhang. Karena yang lainnya selain Jiao masih tertidur, Shuwan menumbuk obatnya di teras gubuk.
Shuwan larut dalam pikirannya, ia membatin, jika aku pergi setelah misi selesai, apa yang akan terjadi pada mereka? Termasuk dengan misi-misi yang aku lalui sebelumnya. Kakak, Kakek, aku rindu pada kalian. Aku benar-benar ingin pulang.
Shuwan melamun dengan pandangan yang lurus ke depan, memandangi pepohonan yang memagari gubuk Minghao.
Di dalam ruang tamu, Zhang akhirnya bangun. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa pintu telah terbuka. Siapa yang membuka pintu sepagi ini? Batinnya.
Ia pun bergegas menuju pintu, dan mendapati Shuwan yang duduk melamun dengan memegang tumbukan obat di tangannya. Ia menepuk bahu Shuwan, “Apa yang sedang kau pikirkan? Pagi-pagi begini sudah melamun saja.”
Shuwan yang tenggelam dalam lamunannya terkaget. Sejenak ia membatu, hingga ia menyadari itu adalah Zhang. “Apakah kau tidak bisa berjalan dengan suara? Rasanya aku seperti berteman dengan hantu,” kata Shuwan sambil menatap wajah Zhang.
Zhang hanya tertawa kecil, ia kemudian duduk di samping Shuwan. “Apa kau sedang memikirkan rumahmu?”
Shuwan kaget karena Zhang mengetahui apa yang sedang ia pikirkan. Bagaimana dia bisa tahu? Sepertinya dia memang bisa membaca pikiran. Aku harus lebih berhati-hati dengannya.
“Apa yang sedang aku pikirkan itu bukanlah urusanmu. Lagipula, kenapa kau masih di sini? Sebaiknya kamu pergi ke dapur dan membantu Jiao memasak sarapan,” kata Shuwan mengalihkan pembicaraan.
“Tapi aku ingin menemanimu di sini."
Shuwan pun menanggapinya, “Dasar manusia aneh.” Ia pun melanjutkan menumbuk obat, sedangkan Zhang tetap bersama Shuwan memperhatikannya membuat obat.
Matahari telah bersinar terang. Yu Hao dan Minghao pun sudah bangun. Jiao yang sedari tadi di dapur pun sudah selesai membuat sarapan, begitu pula yang telah selesai menumbuk obatnya.
__ADS_1
Ia kemudian memanggil Minghao dengan membawa semangkuk besar air hangat dari dalam dapur. “Minghao, bisakah kau ke sini? Aku mau memberikan obat padamu.”
Shuwan membuat 2 jenis obat. Satu untuk diminum, dan satunya untuk diaplikasikan pada luka wajahnya. Minghao pun datang mendekati Shuwan.
“Duduklah,” kata Shuwan sambil memeras kain yang ada dalam mangkuk itu. Ia pun mengelap wajah Minghao dengan lembut. Seketika wajah Minghao memerah karena malu.
“Apa kau sedang demam? Kenapa wajahmu memerah?” tanya Shuwan.
“E-eh... Tentu saja tidak. Aku hanya, aku hanya malu. Ini adalah pertama kalinya ada seorang wanita yang memandangku dari dekat,” jawab Minghao.
Zhang yang sedari tadi masih di luar pun masuk ke ruang tamu. Ia mendapati Shuwan yang sedang mengelap lembut wajah Minghao. Ia pun memasang wajah tidak senang, dan langsung duduk di hadapan mereka agar bisa terus mengawasi mereka.
Setelah mengelap dengan kain basah, Shuwan mengeringkan wajah Minghao dengan kain kering. Ia kemudian mengoleskan obat yang sudah dibuatnya ke wajah Minghao. “Luka di wajahmu ini bukanlah cacat bawaan lahir,” kata Shuwan mendadak.
Minghao dan Zhang yang ada di sana pun kaget. “Maksudmu, luka ini adalah...” ucap Minghao terputus.
“Benar... Cacat ini adalah cacat yang disengaja. Bisa jadi, begitu kau lahir, luka ini langsung dibuat,” Shuwan menimpali.
Minghao terlihat sedih, dan ia pun hanya menghela napas panjang seraya tertunduk lesu. “Karena demikian yang terjadi, seharusnya wajahmu bisa pulih jika terus diobati,” ucap Shuwan.
Terlihat wajah Minghao sedikit terhibur dengan perkataan Shuwan.
Obat sudah dioleskan, kini Shuwan melanjutkannya dengan membalut wajah Minghao dengan perban. “Maaf, tapi mata mu yang sebelah harus ditutup. Melihat kondisi luka ini yang berada di wajah sebelah kirimu.”
“Malam nanti, aku akan membuka perbanmu dan mengoleskan lagi obatnya. Wajahmu harus terus diberi obat agar bisa lekas pulih. Selain itu, kamu juga harus meminumnya,” sambung Shuwan.
Selesai membalut wajah Minghao, Shuwan memberikan segelas ramuan obat yang sudah disiapkan pada Minghao. “Minumlah. Rasanya sedikit getir, tapi khasiatnya cukup bagus. Ini akan mengobatimu dari luar dan dalam, sehingga pemulihannya bisa berlangsung dengan cepat.”
Minghao mengambil gelas yang diberikan Shuwan dan langsung menghabiskannya dalam 3 kali tegukan.
3 hari kemudian
Tidak terasa 3 hari sudah berlalu. Untuk yang terakhir kalinya, sebelum Shuwan dan yang lainnya melanjutkan perjalanan ia membuka perban Minghao, dan memberikan sebuah cermin padanya. “Selama ini kau pasti selalu menghindari cermin bukan? Nah, sekarang coba lihat wajahmu lagi.”
Minghao pun segera melihat cermin, betapa takjubnya ia melihat wajahnya sudah tidak seburuk sebelumnya.“I-ini... Benar-benar aku?”
“Tentu saja. Jika kau mengoleskan obat dan meminumnya beberapa kali lagi secara rutin, pasti akan sembuh total. Dengan begitu kau tidak perlu lagi malu untuk bertemu warga ataupun orang lain."
“Terima kasih. Tapi aku tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan kalian." Minghao kembali berkata.
“Kamu tidak perlu memberikan apa-apa, sudah tugas kami untuk bisa membantumu,” terang Zhang.
__ADS_1
“Aku akan meninggalkan resepnya supaya kau bisa membuat obatnya sendiri. Karena kami tidak bisa terus berada di sini, dan harus segera melanjutkan perjalanan,” Shuwan menimpali.
Minghao mengambil sebuah kotak dari dalam kamar. Ia kemudian memberikannya pada Shuwan. “Apa ini?”
“Itu adalah Air Mata Naga. Kakek bilang kalau dahulu pernah ada seekor naga di sini, dan naga itu memberikan air matanya pada kakek karena telah membantunya melepas jeratan perangkap. Khasiatnya bisa memulihkan jiwa yang menghilang karena kekuatan sihir,” terang Minghao.
Shuwan pun kembali bertanya, “Barang berharga seperti ini kenapa kau berikan padaku?”
“Aku hanya merasa kalian yang lebih membutuhkan. Apa lagi perjalanan yang akan kalian hadapi pasti akan sangat berbahaya.”
“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana jika suatu waktu kau membutuhkannya?” tanya Shuwan kembali.
Minghao hanya tersenyum, “Kau tenang saja, aku masih punya sebotol lagi. Jadi yang ini, untukmu saja. Anggaplah sebagai ucapan terima kasihku karena sudah membantuku menyembuhkan luka.”
“Baiklah. Aku akan menerimanya,” ujar Shuwan sembari memasukkan botol berisi Air Mata Naga itu ke dalam tas obatnya.
“Lalu apa rencanamu setelah ini?” tanya Zhang.
“Soal itu aku belum memikirkannya lagi. Mungkin aku juga akan berkelana seperti kalian. Dunia ini masih begitu luas. Akan sayang jika aku hanya menghabiskan sisa usiaku di gubuk ini,” jawab Minghao. “Cacat di wajahku ini sudah hampir pulih, sekarang aku jadi lebih percaya diri untuk keluar,” sambungnya.
“Kalau begitu, bagaimana dengan gubuk ini? Bukankah begitu banyak kenangan dan juga barang yang berharga?” tanya Yu Hao.
Minghao tersenyum, “Tidak apa, aku akan meninggalkannya. Atau jika ada warga yang ingin menempatinya aku akan memberikannya dengan sukarela.”
“Apa pun keputusanmu, kami hanya bisa mendukungmu. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Kalau begitu, kami mau undur diri melanjutkan perjalanan,” ucap Zhang dengan lembut.
“Baiklah, kalau begitu hati-hatilah. Semoga kalian selamat sampai tujuan." Minghao seraya berjabat tangan dengan Zhang mengantarkan rombongannya meninggalkan gubuk.
Sebelum naik ke kuda, Shuwan berpesan pada Minghao, “Kau harus tetap hidup.”
Minghao membalasnya dengan senyuman lembut dan berkata, “Tentu saja. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku sangat ingin bertemu kembali denganmu.”
Shuwan tersenyum, “Baiklah... Akan aku tunggu sampai hari itu tiba. Kalau begitu kami pergi dulu. Selamat tinggal.”
Shuwan menaiki kuda bersama Zhang. Ia dan teman-temannya pergi meninggalkan Minghao di gubuk tua itu.
Beberapa hari kemudian, sesuai perkataannya, Minghao pergi berkelana setelah kepergian Shuwan dan yang lainnya.
Wajahnya telah sembuh total. Ia nampak rupawan seperti seorang bangsawan. Dunia yang begitu luas akan memberinya pelajaran yang berharga. Usianya masih muda, dan ada cukup waktu untuk terus belajar memahami hidup yang sesungguhnya.
Shuwan dan yang lainnya melaju melanjutkan perjalanan. Luka yang diderita Shuwan pun berangsur membaik, dan kini ia tidak perlu menggunakan perban lagi.
__ADS_1
Setelah perjalanan berhari-hari, mereka beristirahat sejenak sebelum memasuki area gurun yang begitu gersang dan tandus. Kekhawatiran melanda mereka. Tidak tahu apa yang akan terjadi di sana selanjutnya.