
Ilalang menari seirama hembusan angin malam. Menggetarkan melodi alam yang menentramkan jiwa Sang Pengembara. Malam tetaplah gelap, bintang tetaplah bersinar jauh di atas cakrawala. Namun, seketika hening terasa menyeruak masuk dengan paksa, mencambuk hati yang patah dengan garangnya. Bila saja sepasang hati bisa berakhir bahagia, maka tiada perlu ada yang merasa lara.
- - -
Setelah beradu pandangan dengan Zhang, Shuwan mengakhirinya begitu saja. Aku tidak boleh memberikan harapan lebih pada Zhang. Tidak boleh! Batinnya yang kalut. Seperti ada rasa yang berusaha mengetuk hati Shuwan, tapi dia tidak bisa membukanya. Dinding es yang ada di hatinya sangatlah tebal. Tak semudah itu diluluhkan.
Shuwan berdiri, dan memantau sekitar tempat mereka beristirahat sekarang. “Jiao, Yu Hao, kalian istirahatlah. Aku dan Zhang akan berjaga terlebih dahulu,” ucap Shuwan.
Jiao dan Yu Hao tak membalasnya. Mereka langsung menuruti perkataan Shuwan untuk istirahat terlebih dahulu.
Zhang masih terus memandangi Shuwan, meski pun Shuwan kini telah memunggunginya. Tidak ada lagi kata yang mampu terucap dari bibirnya. Pandangannya yang kosong kini menatap satu-satunya api yang menghangatkan mereka kala itu.
Ssshh.... Ssshh...
Tiba-tiba terdengar bising dari balik ilalang. Shuwan menyadarinya, karena sejak awal dirinya sudah siaga.
Suara itu terdengar semakin mendekat ke arah Shuwan dan yang lainnya.
Eh... Suara ini... Batin Zhang yang menyadari keberadaan makhluk hidup lain yang berusaha mendekati mereka. Menghilang? Suara itu tadi jelas sudah dekat. Bagaimana mungkin bisa menghilang begitu saja? Ada yang aneh.
Ia kemudian melihat ke arah Shuwan dan menyadari seekor ular yang berusaha menyerangnya. “Shuwan awas!” Zhang langsung mendorong Shuwan hingga jatuh telungkup di pelukannya.
Shuwan yang menyadari serangan mendadak dari ular yang telah mengintai mereka langsung memfokuskan perhatiannya pada segerombol ular yang mengepung mereka.
“Jumlah mereka terlalu banyak! Jiao, Yu Hao, bangun! Di sini sedang banyak bahaya!” Teriak Shuwan mencoba membangunkan Jiao dan Yu Hao yang baru saja tertidur.
Ketika Jiao membuka matanya, “A-apa ini? Aahh... Kenapa, kenapa banyak sekali ular?” Jiao ketakutan.
Karena terlalu panik, Jiao melangkah mundur, dan tanpa sadar menginjak ekor ular yang ada di batas penglihatannya.
“Arghh....” teriak Jiao dengan lantangnya setelah kakinya digigit ular.
“Jiao!” Yu Hao panik. Ia menebas ular-ular yang mengepung mereka dengan ganasnya. Mencoba meraih Jiao yang mulai tak berdaya.
Shuwan dan Zhang juga dikepung oleh puluhan ular itu di sudut yang lain tak jauh dari tempat mereka membuat api. Mereka seketika menjadi panik karena Jiao digigit oleh salah satu dari gerombolan ular itu.
“Bagaimana ini? Kenapa mereka tidak ada habisnya?” keluh Shuwan.
“Ini... Ini adalah ular berbisa. Jiao mungkin dalam bahaya. Kita harus segera keluar dari sini dan mengobati Jiao!” tukas Zhang.
__ADS_1
Yu Hao berhasil meraih tubuh Jiao, “Jiao bertahanlah,” Yu Hao menggendong Jiao di punggungnya, dan terus menebas ular-ular yang mengusik mereka.
Saat mereka mulai kelelahan karena invasi ular, datanglah seekor burung rajawali yang melayang di atas cakrawala. Ia mengeluarkan suara yang begitu nyaringnya. Menunjukkan kelasnya sebagai burung yang gagah.
Rajawali? Ini ‘kan sudah tengah malam, bagaimana mungkin ada rajawali yang terbang di langit malam seperti ini? batin Shuwan yang bingung.
Rajawali itu menatap tajam ular-ular yang menyerang Shuwan dan yang lainnya. Ia kemudian melaju turun dengan tajam dan menukik, seolah ingin menyerbu mangsa di depan matanya.
Tidak disangka, rajawali itu membantu Shuwan dan yang lainnya mengusir ular-ular itu denga insting pembunuhnya.
Shuwan dan yang lainnya tertegun dengan kebuasan rajawali itu. Dalam waktu singkat rajawali itu berhasil menghabisi dan mengusir ular padang ilalang itu. Ia terbang mendekati Shuwan. Dengan refleks ia menyodorkan tangan kanannya. Rajawali itu hinggap di tangan Shuwan dan berpolah seperti hewan piaraan yang jinak.
“Siapa yang mengirimmu? Kenapa bisa malam-malam begini ada di sini?” tanya Shuwan pada binatang yang telah membantai para ular. Ia terlihat jinak, padahal dia sangat ganas ketika menghabisi ular-ular itu.
Rajawali itu singgah di tangan Shuwan untuk merapikan bulu-bulunya, setelah selesai burung itu memandangi Shuwan sejenak, lalu mengembangkan kembali sayapnya, melesat bebas kembali ke cakrawala.
Zhang dan Yu Hao yang melihatnya hanya takjub dan dipenuhi kebingungan. Namun, tak ada selontar kata pun yang diucapkan.
“Hei! Bagaimana dengan Jiao? Bisanya...”
“Tenang saja Yu Hao, aku punya penawarnya, dan aku akan mengobatinya,” kata Shuwan.
“Shuwan, kenapa Jiao masih belum sadarkan diri?” tanya Yu Hao.
“Tenanglah Yu Hao, obatnya baru saja diminum. Butuh waktu agar dia sadar. Kondisinya saat ini sudah aman. Jadi, jangan khawatir,” jawab Shuwan dengan tenang. “Lebih baik sekarang kita tinggalkan tempat ini. Khawatir jika ular-ular itu akan kembali,” ajak Shuwan.
Dalam suasana yang masih gelap, mereka pergi meninggalkan tempat itu. Menyusuri jalanan tanah berkerikil.
Setelah berjalan sekian lama, langkah mereka kini terasa semakin berat. Peluh telah mengucur membasahi tubuh bersama surya yang mulai terbit dari langit timur, menyisakan jiwa-jiwa yang kelelahan karena kurang istirahat.
“Gemericik air... Aku bisa mendengarnya,” ujar Zhang dengan penuh keyakinan dan semangat yang berapi-api.
“Benar, suaranya terdengar dekat,” Shuwan menimpali.
Dengan langkah cepat mereka menuju sumber suara, dan benar saja, terhampar sungai berair jernih yang menggoda untuk segera diteguk.
“Kita akan istirahat di sini,” ucap Zhang.
Segera mereka meneguk air di sungai itu dengan puasnya. Menghilangkan dahaga yang telah membakar kerongkongan mereka selama perjalanan semalam.
__ADS_1
Jiao yang di sandarkan di batang pohon perlahan mulai pulih kesadarannya. “Shuwan,” panggil Jiao lirih.
Shuwan langsung menoleh ke arah Jiao dan membawakan air yang di taruh di atas daun untuk Jiao minum. “Ini, minumlah,” kata Shuwan seraya menyodorkan daun berisi air itu.
Jiao meminumnya dengan lahap. Tampak ia begitu kehausan setelah semalaman tidak sadarkan diri. “Minumlah dengan tenang Jiao, di depan kita ada sungai yang jernih untuk kamu minum sepuasnya,” kata Shuwan yang terkekeh melihat Jiao yang kehausan.
“E-eh... Maaf, aku pasti terlihat menyedihkan dan menyusahkan,” ucapnya dengan wajah yang tertunduk.
“Kau memang menyusahkan, siapa suruh tidak hati-hati,” celetuk Yu Hao, berjalan mendekati Shuwan dan Jiao yang tengah berbincang.
“Tskk.. Iya aku minta maaf. Apa kau puas?” tukas Jiao.
“Hem.. Suatu hari nanti kau harus membalasnya. Apa kau tahu tubuhku ini sangat lelah setelah menggendong tubuhmu yang berat itu,” ejek Yu Hao.
“A-apa? Berat? Hei, aku ini sangat langsing tahu! Bagaimana mungkin kau mengatai aku berat?” tegas Yu Hao.
“Apa kau mau bukti? Aku bisa menunjukkan punggung dan juga kakiku yang lebam karena kelelahan,” Yu Hao mencoba membuka pakaiannya.
“T-tunggu... Jangan lakukan hal yang mesum seperti itu!” wajah Jiao memerah karena Yu Hao yang masih saja menggodanya.
“Kenapa? Atau kau sebenarnya menyukaiku? Makanya wajahmu jadi memerah seperti sedang demam,” Yu Hao mendekatkan wajahnya ke wajah Jiao.
“Jangan terlalu percaya diri! Siapa juga yang suka padamu?” Jiao memalingkan pandangannya.
“Ah... Yang benar? Tapi sepertinya mulutmu itu berbohong loh...” Yu Hao tak habis-habisnya menggoda Jiao yang wajahnya sudah seperti tomat.
“Kau...” Jiao mendorong wajah Yu Hao yang terus mendekat ke arahnya.
Sementara itu Shuwan hanya tertawa melihat polah kedua temannya itu. Melihat mereka berdua sedang bertengkar seperti sedang melihat diriku sendiri dan Zhang... Eh... Kenapa aku memikirkannya? Sungguh menyebalkan.
Tanpa sadar, Shuwan memandangi Zhang yang masih duduk di tepi sungai, dan tiba-tiba saja Zhang melihat ke arahnya.
Sial! Shuwan mengalihkan pandangannya dengan segera setalah beradu pandangan secara kebetulan.
Ketika memperhatikan lengannya, Sguwan baru menyadari bahwa ada sehelai bulu yang terselip di pakainnya.
Bulu ini.... Milik rajawali semalam. Kenapa burung itu bisa datang kepadaku? Milik siapa sebenarnya burung itu? Apa jangan-jangan burung itu makhluk jadi-jadian? Ah.. Tidak-tidak... Batin Shuwan dipenuhi kebingungan.
Ia masih terus memperhatikan bulu itu, dan setelah selesai memandanginya, ia memasukkan kembali bulu itu ke pakaiannya berharap bisa menemukan jawabannya suatu hari nanti.
__ADS_1