
Shuwan, masih kesal dengan perlakuan Zhang. Ia tidak mengajaknya bicara sepanjang perjalanan. Hingga Zhang pun yang berinisiatif memulai percakapan.
“Apa kau marah lagi padaku, Shuwan?”
“Kau melakukan hal yang keterlaluan, bagaimana mungkin aku tidak marah. Tanpa persetujuanku, kau langsung menciumku dengan paksa.”
“Waktu itu, aku sudah memperingatkanmu agar tidak terlalu dekat dengan pria lain. Tapi kau mengabaikannya, dan malah melakukan hal yang membuatku begitu tidak suka. Anggaplah hal yang aku lakukan tadi adalah peringatan kecil untukmu. Jika sampai terulang, maka aku bisa melakukan hal yang lebih.”
Hal konyol seperti itu dianggapnya sebagai peringatan? Shuwan mendengus kesal. “Apa hakmu atas diriku, sampai-sampai apa yang harus aku lakukan perlu mendapatkan persetujuanmu?”
“Tentu saja, kau bertanggung jawab atas perasaan yang aku punya. Makanya, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”
Cih. Dia sangat menyebalkan. Tapi, apakah sebenarnya dia bersandiwara tidak mengenaliku? Bukankah Zhang di kehidupan lampaunya mengatakan bahwa hanya aku yang tidak akan ingat dengannya?
Hyaa...
Zhang menambah kecepatan kudanya. Tampak jelas gema yang ditimbulkan dari tapak kuda di dalam hutan yang hening.
Tidak terasa matahari telah beranjak dari peraduannya. Hutan menjadi semakin gelap karena tak ada cahaya.
“Bagaimana jika kita istirahat dahulu di sini?” tanya Yu Hao setelah menemukan sebuah danau yang terletak di dalam hutan.
“Sepertinya itu ide bagus. Ada sumber air juga di sini. Kita bisa melepaskan dahaga, dan juga memberi kuda-kuda ini minum,” tandas Zhang.
Mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sana. Shuwan meminum obat yang sudah di bawakan oleh Ying Jie. Ia menenggaknya dengan cepat karena bau yang tidak enak, ditambah rasa yang begitu pahit.
Sedangkan kedua lelaki lainnya sedang mempersiapkan api untuk menghangatkan tubuh mereka.
Keempatnya kemudian duduk melingkar di sekitar api. Berusaha menghangatkan tubuh dari dinginnya terpaan angin malam hari.
“Perjalanan kita apakah masih begitu jauh?” tanya Jiao penasaran.
“Seperti yang dikatakan Ying Jie, seharusnya perjalanan kita hanya tinggal 15 hari lagi, jika memang tidak ada kendala selama perjalanan,” jelas Yu Hao.
“Hm... 15 hari itu masih cukup lama,” Jiao menghela napas yang dalam. Pandangannya lurus ke depan memandang api yang sedari tadi telah menghangatkan mereka. “Eh, tunggu dulu. Kenapa aku merasakan udara yang aneh?” celetuk Jiao yang tersadar dari lamunannya.
“Shuwan? Zhang? Kalian tidak bertengkar lagi bukan?”
“Tentu saja tidak. Hubungan kami sudah semakin intim. Benarkan, Shuwan?” kata Zhang dengan wajah berseri-seri.
Apa-apaan ini? Kenapa wajahnya terlihat sangat senang? Seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara kami. Shuwan lalu tersenyum, dan merespon pertanyaan Jiao sekaligus pernyataan Zhang. “Itu benar. Hubungan kami berdua baik-baik saja. Karena sangat lelah, makanya aku diam saja,” Shuwan menimpali.
“Begitu rupanya. Syukurlah jika baik-baik saja. Hoam.... Rasanya aku mulai mengantuk. Bagaimana kita akan bergantian berjaga?” tanya Jiao.
__ADS_1
“Kau dan Shuwan istirahat saja. Aku dan Yu Hao akan berjaga.”
“Yang dikatakan Zhang benar. Kalian istirahat saja. Lagi pula, kondisi Shuwan juga masih butuh banyak istirahat,” imbuh Yu Hao.
Shuwan dan Jiao mengangguk setuju.
Malam semakin larut, udara juga jadi semakin dingin. Jiao sudah terlelap terlebih dahulu. Sedangkan Shuwan, ia tidak bisa tidur. Dingin yang begitu menusuk membuat sakit yang ada di tubuhnya terasa semakin nyeri.
Sementara itu, Yu Hao dan Zhang masih fokus berjaga. Meskipun katuk telah menyerang keduanya.
Semuanya masih terasa normal, hingga tiba-tiba saja terdengar suara lonceng dari sisi hutan yang lain.
“Jiao, Jiao. Apakah kau mendengar suara itu?” bisik Shuwan seraya menguncangkan tubuh Jiao agar sadar. Namun, beberapa kali pun ia mencoba entah kenapa Jiao tidak kunjung bangun.
Akhirnya, Shuwan pun bangkit dari pembaringannya. Ia kaget karena mendapati Zhang dan Yu Hao yang terlelap begitu saja. “A-apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka berdua tertidur juga?”
Shuwan berjalan dengan susah payah menuju Zhang. “Zhang... Zhang... Hei bangun!” Hasilnya tetap sama saja. Zhang juga tidak bangun.
Ketika ia mencoba membangunkan Yu Hao, hal serupa juga terjadi.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka terlelap begitu pulas?” Shuwan bingung. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Jalan cerita buku merah yang telah berubah, ditambah fisiknya yang lemah membuat dirinya terasa begitu khawatir.
“Hahahahaha...”
“Siapa di sana? Jangan hanya berani bersembunyi. Keluar!”
“Dengan tubuhmu yang lemah itu, ternyata nyalimu masih besar juga ya, Nona?”
Mata Shuwan terbelalak setelah melihat wujud wanita yang berbicara padanya. “S-siapa kau?” tanya Shuwan pada wanita berbadan setengah ular yang kini ada di hadapannya.
“Aku? Hahaha, itu sangat tidak penting. Sekarang, serahkan Air Mata Naga yang kalian bawa.”
Air Mata Naga? Bagaimana dia bisa mengetahui benda itu? “Kenapa aku harus menyerahkannya padamu?” balas Shuwan dengan ketusnya.
Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke hadapan Shuwan hanya dalam kedipan mata. Tangannya yang memiliki kuku runcing bercat merah membelai wajah Shuwan. “Tentu saja kau harus menyerahkannya padaku. Karena jika tidak, ketiga temanmu akan dalam bahaya.”
“Jadi itu kau? Cepat pulihkan teman-temanku!”
“Kau memerintahku? Mimpi saja!”
Blarr...
Sebuah serangan bola api nyaris mengenai Shuwan. Untunya Shuwan masih bisa menghindar, dengan keterbatasannya saat ini.
__ADS_1
“Kau mau menghindar? Kita lihat saja, sampai mana kau bisa bertahan.”
Wanita setengah ular itu terus menyerang Shuwan. Tampak Shuwan mulai kelelahan karenanya. Ia tidak punya cukup kekuatan untuk melawannya.
Blarr... Blarr... Blarr...
Hanya serangan wanita itu yang bergema di dalam hutan.
Sial! Tenagaku nyaris habis. Bagaimana aku bisa menang melawannya dengan kondisi ini?
Greb...
Perempuan itu melilit tubuh Shuwan yang mulai melemah. “Baru segini saja kau sudah tunduk. Aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menghabisi semut sepertimu.”
Ugh...
Shuwan mengerang kesakitan. Baru saja tulang rusuknya pulih, kini ia harus berjuang melawan lilitan yang begitu kuatnya.
Napasku mulai sesak. Sekujur tubuhku rasanya sangat sakit. Tulang-tulangku seperti terasa dihancurkan perlahan. Air mata Shuwan mengalir begitu saja. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
“Aku tidak akan membunuhmu. Kau harus menyerahkan Air Mata Naga itu padaku dahulu. Barulah aku akan membuatmu dari dunia ini sekali remat. Hahaha!”
“Bagaimana... Bagaimana kau tahu aku mempunyai benda itu?” tanya Shuwan di tengah sesaknya.
“Aku mempunyai indra yang tajam. Jadi aku bisa melacak keberadaan benda berharga itu.”
“Kenapa kau memerlukannya?”
“Bahkan ketika ajalmu sudah dekat kau masih banyak bicara ya? Yah, tidak mengapa. Aku akan memberikan alasannya padamu Toh, kau juga akan segera mati di tanganku,” perempuan setengah ular itu menyeringai. Tatapan memburunya benar-benar membuat orang takut untuk melawannya.
“Alasanku membutuhkan benda itu adalah untuk membuat diriku awet muda. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan wujud sempurna manusia, dan mendapatkan mangsa dengan mudah. Hahaha!”
“Kau iblis yang bengis dan licik,” ucap Shuwan sengak.
“Memang benar. Sebaiknya kau segera serahkan barang yang aku minta. Atau, teman-temanmu tidak akan selamat,” ancam iblis perempuan itu.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan pada mereka?”
“Aku membawa jiwa mereka dalam ilusiku. Mereka harus bisa bertahan di sana. Jika sampai gagal, mereka juga akan mati. Hahaha!”
“Kau benar-benar keterlaluan!”
“Aku adalah penguasa hutan ini. Tentu saja aku harus begitu, jika tidak, mereka yang ada di hutan ini akan dengan mudah menginjak kepalaku. Semua yang ada di hadapanku, harus tunduk dan patuh. Jika tidak, aku akan menghapuskan mereka dari muka bumi ini!”
__ADS_1
Perempuan itu menyeringai di tengah rasa kesakitan Shuwan. Baru saja dirinya terlepas dari maut, kini ia kembali harus bertarung dengan kematian. Rasanya, dewa kematian begitu dekat dengan dirinya.