
Zhang dan Yu Hao sedang sibuk mengurusi logistik perayaan, salah satunya adalah manisan. Aneka manisan seperti manisan kesemek, dan juga persik, satu per satu dicek oleh kedua orang itu agar jumlahnya sesuai dengan daftar yang diajukan.
Jika Shuwan di sini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana lahapnya dia memakan manisan-manisan ini.
Zhang yang membawa kertas dan juga kuas dengan posisi berdiri menghadap ratusan bungkus manisan pun terkekeh pelan begitu saja. Hanya membayangkan bagaimana polah ‘wanitanya’ saja sudah membuatnya bahagia.
Yu Hao yang memperhatikan Zhang tertawa pun berjalan mendekatinya. Ditepuknya bahu Zhang. “Zhang, apakah kau baik-baik saja?”
Zhang langsung memasang wajah seriusnya kembali. Dengan tergagap ia pun menjawab pertanyaan Yu Hao. “A-aku baik-baik saja. Karena melihat manisan ini, aku jadi teringat dengan seseorang.”
Yu Hao langsung paham. Ia lalu memasang mimik aneh dan mendekati wajah Zhang dari samping. “Pasti ini Shuwan ‘kan? Iya ‘kan?” Yu Hao memainkan alisnya naik turun untuk menggoda Zhang.
“Kau sudah tahu jelas. Tapi masih bertanya begitu.”
Kini giliran Yu Hao yang terkekeh. “Aku hanya berusaha memastikannya saja. Em... Ngomong-ngomong apakah kau merindukannya? Festival tinggal empat hari lagi, dan dua wanita itu akan tiba di sini.”
“Yah, kita hanya bisa menunggunya bukan? Ah... Aku sudah selesai menghitung bagianku. Bagaimana denganmu?” tanya Zhang.
“Aku juga sudah selesai. Ayo kita laporkan pada putra mahkota.”
Zhang mengangguk. Keduanya lalu meninggalkan gudang logistik dan menuju kediaman putra mahkota.
Saat akan sampai di kediaman putra mahkota, Zhang melihat sekilas seseorang yang dirasanya mirip dengan Shuwan. Ia pun menghentikan langkahnya. Tunggu! Apakah yang aku lihat tadi adalah Shuwan? Tapi bagaimana mungkin dia ada di sini?
Kepalanya tak henti bergerak untuk mencari, begitu pun netranya. Namun orang itu sudah menghilang tertutup batasan lorong. Menyisakan rasa penasaran Zhang masih membayang.
Pasti tadi aku hanya salah lihat! Zhang menggelengkan kepalanya, meyakinkan kalau yang sekilas tampak di matanya bukanlah Shuwan. Ia lalu menyusul Yu Hao yang sudah terlebih dahulu memasuki kediaman istana.
“Yang Mulia, kami datang menghadap,” kata Yu Hao.
“Ah... Kalian rupanya. Silakan masuk dan duduk,” pinta Zhi Qiang.
Keduanya pun duduk di meja yang sama dengan yang digunakan untuk menyambut Shuwan.
“Apakah kau baru saja menerima tamu, Yang Mulia?” tanya Zhang.
“Yah... Dia adalah seseorang yang sedang berusaha aku dapatkan hatinya, dan besok aku akan membawanya menghadap ayah.” Kata Zhi Qiang dengan wajah cerah nan semringah.
“Itu artinya kau akan segera melepas masa lajangmu, dan memiliki seorang penerus tahta.” Yu Hao menimpali.
“Hahaha... Kau bisa saja. Aku masih berusaha mengejarnya. Yah... Semoga saja dia tidak menolakku mentah-mentah.”
Zhang tersenyum, keningnya berkerut seakan tak percaya. “Siapa yang sekiranya berani menolak seorang putra mahkota? Sepertinya ada yang salah dengan wanita itu?”
Zhi Qiang kembali tersenyum. “Dia memang berbeda dengan wanita pada umumnya. Itulah yang membuatku menyukainya. Aku butuh usaha ekstra hanya untuk bisa menyentuh perasaannya. Makanya hari ini aku berpakaian seperti ini.”
Zhang dan Yu Hao baru menyadari pakaian Zhi Qiang yang berbeda seperti biasanya.
“Kau benar-benar bekerja keras. Semoga saja benar berjodoh dengannya,” kata Zhang mendoakan.
“Terima kasih.” Aku masih belum tahu hubunganmu dengan Shuwan. Tapi aku tidak peduli, toh dia besok akan menemui ayah bersamaku. Walau pun semua itu hanya sandiwara, jika ayah menyukainya maka dia bisa menjadi milikku.
“Yang Mul... Ah, maksudku Zhi Qiang, ini adalah laporan logistik dari gudang. Kami sudah mengeceknya dengan teliti. Semuanya sudah sesuai, dan siap dibagikan esok lusa.”
__ADS_1
Zhang menyerahkan laporannya dan juga Yu Hao. Zhi Qiang langsung mengeceknya satu per satu. Hampir sekitar lima belas menitan Zhi Qiang mengeceknya.
“Ini sempurna. Terima kasih sudah membantu sampai saat ini. Jika, kalian merasa lelah dan ingin istirahat maka silakan saja.”
Zhang tersenyum, ia lalu berkata, “Karena kami sudah berjanji, tentu saja kami akan membantumu sampai selesai. Lusa kita akan membagikan manisan bersama.”
“Benar. Jujur saja, baru kali ini aku datang ke perayaan besar seperti ini. Jadi, aku juga ingin punya cerita dan kenangan di sini. Maka, sudah pasti aku juga akan membantu sampai acaranya selesai.”
Zhi Qiang tersenyum simpul. Dipandanginya dua pemuda penuh semangat di hadapannya saat ini. “Terima kasih banyak,” ucapnya.
Zhang dan Yu Hao tersenyum bersama.
“Oh ya, Yang Mulia, bagaimana dengan persiapan lampionnya?” tanya Zhang.
“Aku sudah memerintahkan orang lain untuk mengecek ke pengrajinnya. Kau tidak perlu khawatir.”
Zhang lalu mengangguk tenang. Ketiganya kini sedang membicarakan teknis pembagian manisannya.
***
Shuwan, Jiao, dan juga Bibi Hu masih melangkah di jalanan istana.
“Bibi Hu, apakah tempatnya masih jauh? Istana ini kukira tidaklah seluas ini. Ternyata begitu menjelajah lebih dalam masih banyak tempat yang tidak terlihat.” Keluh Shuwan setelah merasa sedikit pegal berjalan.
“Anda benar, Nona. Istana ini sangat besar dan luas. Semua ini dibangun oleh raja pertama Negeri Awan. Dia lebih menyukai halaman yang luas, makanya banyak tempat tersembunyi di sini,” jawan Hu Lian. “Lihat, para pengrajin itu ada di depan sana.” Kata Hu Lian seraya menunjuk ke arah depan dengan telunjuk kanannya.
“Wah, benar. Berapa banyak lampion yang akan di terbangkan pada malam perayaan?” tanya Jiao penasaran.
“Itu pasti akan sangat keren. Mereka akan terlihat seperti bintang yang menyinari langit,” Jiao membayangkan bagaimana keadaan langit malam itu ketika 1000 lampion diterbangkan bersamaan.
Malam perayaan ya? Aku hampir saja melupakannya. Malam itu adalah malam purnama bulan darah. Dan... akan terjadi pemberontakan. Tinggal tiga hari lagi, dan aku masih belum menemukan petunjuk apa pun. Batin Shuwan yang kembali resah. Ia tidak memperhatikan perbincangannya lagi dengan Jiao dan Bibi Hu, karena pikirannya sudah kalut pada hal yang lainnya.
Tiba-tiba saja seseorang melintas di hadapan Shuwan tanpa disadari olehnya. Shuwan yang tidak memperhatikan pun tertabrak oleh salah seorangnya.
“Aw!” Shuwan terjatuh dengan posisi terduduk. Ia lalu memandangi orang itu, dan ternyata tidak mengenalinya.
“Maafkan aku... Aku tidak sengaja,” kata pemuda itu seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Shuwan berdiri.
Shuwan memperhatikan tato di bagian dekat telapak tangan orang itu. Aku seperti pernah melihat gambar ini? Tapi di mana ya?
Karena diam terlalu lama dan merasa tidak enak, Shuwan pun meraih tangannya, dan akhirnya kembali berdiri. Ia kemudian berkata, “Sudah tidak apa. Lagi pula aku yang salah karena tidak memperhatikan jalan.”
Pemuda itu selalu menunduk dan berusaha menghindari pandangan Shuwan.
Aneh sekali orang ini. Batin Shuwan.
“K-kalau begitu aku pergi dahulu.” Pemuda itu lantas berlari mengejar kelompoknya.
“Bau apa ini?” Shuwan seolah mencium bau aneh setelah orang itu melewatinya. “Seperti bau bubuk mesiu?” Seketika matanya terbelalak. Bagaimana mungkin ada bubuk mesiu di sini? Di tempat yang menyimpan dan membuat lampion? Dan gambar di tangannya itu, di mana ya aku pernah melihatnya?
Jiao yang menyadari Shuwan tidak ada di dekatnya pun mengedarkan netranya. Dengan jeli netranya menyusuri tiap sudut tempat itu, hingga fokusnya tertuju pada Shuwan yang berdiri mematung melihat ke kebelakang.
“Apa yang sedang dilakukannya?” Jiao yang tidak sabaran langsung berjalan mendekati Shuwan. “Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya mengagetkan.
__ADS_1
“A-aku hanya ingin memandangi halaman ini dengan santai saja kok,” kata Shuwan berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Benarkah begitu?” Jiao masih berusaha memastikan.
“Tentu saja. Kalau begitu ayo kita susul Bibi Hu dan segera menyelesaikan pekerjaan kita,” imbuh Shuwan.
“Ya, baiklah.” Jiao hanya menuruti ajakan Shuwan saja. Tapi rasa penasarannya masih saja gentayangan di pikirannya. Dia pasti menyembunyikan sesuatu. Pulang ke kamar nanti, aku akan langsung menanyakannya saja.
Mereka bertiga akhirnya membantu pengecekan kesiapan 1000 lampion yang akan diterbangkan pada malam puncak. Tidak terasa, hari menjadi petang begitu saja. Shuwan, Jiao, dan Bibi Hu langsung membubarkan diri dan kembali ke kediaman dan aktivitasnya masing-masing.
Sesampainya di kamar, Shuwan langsung mengambil kertas dan kuas yang ada di laci meja.
Jiao langsung menghadangnya dengan pertanyaan. “Shuwan, apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Kenapa belakangan ini kau tampak resah dan gelisah?” kata Jiao dengan wajah khawatir.
“A-aku... Sebenarnya...”
“Ayo katakan saja Shuwan, aku akan merahasiakannya.”
Shuwan kemudian duduk di tepian ranjang dengan kedua tangan yang masih memegangi kertas dan juga kuas. “Sebenarnya aku merasa sedikit khawatir tentang perayaan besok,” Shuwan meletakkan kertas dan kuas itu ke atas ranjangnya.
“Khawatir? Apa yang sedang kau khawatirkan?”
“Karena pada malam itu, akan terjadi pemberontakan Jiao, makanya aku sangat takut dan khawatir,” imbuh Shuwan.
“P-pemberontakan?” ucap Jiao setengah berteriak.
Dengan sigap Shuwan membekap mulut Jiao. “Jangan berteriak. Hal ini hanya aku, dan kau yang tahu,” bisik Shuwan. Ia lantas melepaskan bekapannya ketika Jiao mengangguk mengerti.
“Bagaimana hanya kau yang mengetahuinya, Shuwan?”
“Aku bisa mengetahuinya melalui mimpi, Jiao. Percaya atau tidak, itulah yang sedang membuatku resah saat ini.”
“Kalau begitu, apa kita perlu memberitahukan Zhang dan Yu Hao? Mereka juga ada di istana bukan?”
Shuwan membuang napasnya yang dalam dan terasa begitu berat. “Aku rasa belum waktunya memberitahukan mereka. Aku harus menemukan bukti dahulu, baru bisa membuat mereka percaya.”
“Lalu, apakah kau sudah menemukan sesuatu?” tanya Jiao.
“Tadi saat kita menuju tempat pengarajin lampion di istana ini, tidak sengaja aku menabrak seorang pemuda. Aku melihat ada tanda aneh ditangannya, dan juga bau mesiu yang samar-samar dari badannya.”
“Tanda aneh?”
Shuwan mengangguk, “Aku akan menggambarkannya. Barang kali kau juga pernah melihatnya.”
Dengan ligat Shuwan menyambar kertas dan juga kuas yang telah diambilnya dari dalam laci. Hanya dalam waktu setengah jam, Shuwan berhasil menyelesaikan gambar itu dengan sempurna.
“Ini adalah tanda sekaligus lambang aneh yang aku lihat di tangannya. Meski pun hanya sekilas, tapi aku bisa mengingat detailnya,” Shuwan kemudian menyerahkan lukisan yang baru selesai dibuatnya kepada Jiao.
Dengan segera Jiao pun menerimanya, dan memperhatikan gambar itu.
Seketika mata Jiao membulat sempurna. Napas dan juga jantungnya seolah berhenti bekerja beberapa detik setelah melihatnya. Sebuah lambang yang tidak asing baginya kini tergambar jelas di atas sebuah kertas dalam genggamannya.
“I-ini...”
__ADS_1