
Malam telah dilengserkan pagi yang mulai bertahta di singgasana langit. Buliran tipis embun membasahi dedaunan yang tampak seperti manik-manik.
Shuwan dan Zhang bangun lebih awal, dan memulai perbincangan di tempat duduk panjang yang ada di teras rumah.
“Apakah kita akan tetap melanjutkan perjalanan dengan kondisimu yang seperti ini, Shuwan?” kata Zhang cemas.
“Benar.”
“Apa kau tidak ingin menunggu hingga tulang-tulangmu pulih? Aku takut jika kita tergesa-gesa akan membuat kondisimu semakin buruk.”
“Zhang, tapi aku tidak bisa terus menunggu. Waktuku semakin berkurang. Jika aku tidak bisa menyelesaikan perjalanan ini pada tenggat waktu yang sudah ditentukan, maka aku tidak bisa bebas dari hal yang begitu mengikatku.”
Zhang diam, pandangannya jadi lesu. Ia bingung harus mengatakan apa lagi. Di sisi lain ia khawatir dengan kondisi Shuwan tapi di sisi lain ia juga merasa tidak bisa menunda perjalanan lagi.
“Baiklah jika itu keinginanmu. Kita akan berjalan perlahan.”
Shuwan mengangguk setuju. Ia hanya fokus memandangi halaman rumah Ying Jie yang dipenuhi tanaman obat meski terletak di tengah rimba.
“Sebenarnya kalian ingin pergi ke mana?” sahut Ying Jie yang tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah.
“Mencari penawar dan kehidupan yang baru,” sergah Zhang yang duduk di samping Shuwan sedari tadi.
“Penawar? Mungkin kau bisa mengatakan penyakit apa yang kau derita, sehingga aku bisa meramu obat untukmu.”
Ying Jie kemudian duduk di sebelah kiri Shuwan. Kini posisi Shuwan berada di antara Ying Jie dan Zhang. Shuwan tidak mengatakan apa pun, dan terus mengikuti pembicaraan itu.
“Itu adalah hal yang percuma. Penawar dari penyakitku hanya ada satu. Dan, itu hanya ada di Negeri Awan,” Zhang menimpali.
“Yah, Negeri Awan memang terkenal dengan para alkemisnya. Banyak rumor beredar kalau tempat itu hanyalah omong kosong, tapi ada juga yang percaya bahwa tempat itu memang ada.”
“Lalu, kau memercayai yang mana?” Shuwan tiba-tiba menyahut setelah hanya menjadi pendengar dari pembicaraan dua laki-laki yang mengapitnya kini.
“Tentu saja aku percaya bahwa tempat itu memang benar ada. Tempat itu berada di puncak gunung hingga tertutup oleh awan, dan dilindungi oleh kekuatan sihir. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.”
“Kelihatannya kau begitu mengerti mengenai Negeri Awan itu?”
“Karena aku berasal dari sana.”
Shuwan dan Zhang seketika menjadi kaget bukan kepalang dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Ying Jie yang misterius itu.
“K-kau berasal dari sana?” Zhang terbata.
“Yah, itu benar. Karena keinginanku untuk hidup bebas, makanya aku pergi dari sana.”
Shuwan masih diam membisu. Pria berambut putih ini memang tidak tersebut dalam cerita buku merah. Semenjak Shuwan masuk ke dalam cerita, alur dan juga tokohnya telah berubah. Tidak tahu kemungkinan apa yang akan terjadi.
“Kalau begitu, apakah kau bisa memandu kami ke sana?” tanya Zhang dengan penuh harap.
Namun harapannya harus kandas saat itu juga, sebab Ying Jie menolaknya. “Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah memutuskan untuk kabur dari tempat itu. Jika sampai terlihat di sana, aku pasti langsung dipenjara. Selain itu, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kedua muridku di sini? Mereka berdua yatim piatu, dan tidak punya sanak saudara. Hanya ada aku yang menjadi tempat mereka bersandar dan bergantung.”
Shuwan menghela napas, “Ying Jie benar. Kita tidak bisa memaksanya untuk menuntun kita ke tempat itu. Biar bagaimana pun, ini adalah perjalanan kita, dan kita harus menyelesaikannya sendiri.”
Zhang mengangguk setelah mendengar perkataan Shuwan, “Aku mengerti. Tapi, bisakah kau memberitahu kami seberapa lama lagi kami harus berjalan?”
__ADS_1
“Jika tidak ada rintangan yang berarti, sebentar lagi kalian akan sampai,” tandas Ying Jie.
“Perkataanmu itu ambigu. Sebentar itu tidak bisa diprediksi. Sebentar menurutmu, belum tentu sebentar menurut kami,” celetuk Shuwan.
“Hei, jangan marah dahulu. Aku mengatakannya memang karena benar. Jika diperjalanan tidak ada lagi hal-hal yang menghambat, sekitar 15 hari lagi kalian akan sampai di sana.”
“Benarkah?” Zhang berusaha memastikan ucapan Ying Jie.
Ying Jie mengangguk, meyakinkan Shuwan dan Zhang bahwa perjalanan rumit yang mereka lalui akan segera berakhir.
“Hoam... Pagi-pagi begini kalian membicarakan hal serius apa sih?” kata Yu Hao yang baru saja bangun dari tidurnya. Tidak lama Jiao pun muncul dari belakang Yu Hao.
“Bukan apa-apa. Nah, karena kita semua sudah bangun, sudah saatnya kita bekerja, sebelum kita berpisah dengan Ying Jie, dan si kembar itu,” kata Zhang dengan penuh semangat. “Sedangkan kau Shuwan, sebaiknya tetap duduk di sini dan jangan melakukan aktivitas yang berat.”
“Heh, kau selalu saja berkata seenaknya,” kata Shuwan dengan nada kesal.
“Bukankah kau yang mencontohkannya? Kau selalu berkata dan bertindak semaumu. Kau berjalan maju sendirian. Meninggalkan aku dan yang lainnya di belakang. Lalu membiarkan kami menyaksikan pertarunganmu dari jauh. Heh, jangan memancingku lagi Shuwan.”
Ada apa dengannya? Temperamennya berubah-ubah setiap saat.
“Hei, tidak perlu sampai seperti ini kan? Ini masih pagi buta dan kalian memantik pertikaian. Bagaimana hari yang cerah akan datang hari ini?” Yu Hao berusaha menenangkan situasi antara Zhang dan Shuwan.
Zhang hanya berdiri dan memalingkan pandangannya. Berjalan maju, meninggalkan Shuwan yang masih duduk terdiam.
“Shu’er, apakah kau baik-baik saja?” Ying Jie berusaha memastikan keadaan Shuwan.
“Aku tidak apa. Sebaiknya aku kembali ke dalam.”
Shuwan bangkit dengan payahnya. Kedua tangannya menggenggam erat dua tongkat yang menopang tubuhnya.
Zhang yang tadinya membelakangi Shuwan pun seketika membalikkan tubuhnya, dan menyaksikan pemandangan yang semakin membuatnya emosi. Tampak wajah kesal itu terlihat jelas di sana.
“Yu Hao, apa yang harus kita lakukan?” bisik Jiao yang mulai resah dengan keadaan di hadapannya.
“Entahlah, aku juga tidak mengerti bagaimana menghadapi situasi ini,” Yu Hao tertunduk lesu.
Jiao hanya menyaksikan kedua temannya yang berjalan menjauh. “Aku sangat tidak suka jika Zhang dan Shuwan harus bertengkar.”
“Memangnya kau pikir aku suka? Tapi, aku sudah memikirkan sebuah rencana agar masalah ini selesai."
"Apa rencananya?" Jiao penasaran.
"Nanti akan kuberitahu padamu."
Shuwan berjalan dengan susahnya dibantu oleh Ying Jie. Shuwan memilih duduk di kursi yang ada di ruang tengah.
“Terima kasih sudah membantuku berjalan,” kata Shuwan.
“Tidak apa. Kau, istirahatlah di sini, aku akan membuatkan obatmu.”
Shuwan mengangguk. Ying Jie pun membalasnya dengan tersenyum, dan kemudian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan obat Shuwan.
***
__ADS_1
Buugg....
Zhang meninju sebuah pohon yang ada di hadapannya. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri, ditambah pemandangan yang membuatnya larut dalam kecemburuan.
“Zhang, apa yang kau lakukan? Hei, tanganmu terluka. Apa kau kesal karena perlakuan Ying Jie pada Shuwan?” kata Yu Hao yang berusaha memastikan perasaan Zhang.
Zhang hanya diam. Ia tidak memberi jawaban apa pun terhadap pertanyaan Yu Hao.
“Zhang aku tahu kau cemburu. Tapi tolong, jangan menyakiti dirimu sendiri. Apakah ini yang Shuwan inginkan?”
Lagi-lagi Zhang hanya diam. Ia hanya tertunduk lesu. Ada kekesalan yang membuncah dalam hatinya, hingg ia tidak tahu harus bagaimana mengatasinya.
“Saranku, cobalah komunikasikan secara baik-baik. Kondisinya yang sekarang sangat rapuh. Aku tidak menilaimu salah, tapi jangan sampai terbawa emosi dan mengaburkan hal lain di depan matamu.”
“Aku tahu, Yu Hao. Aku hanya tidak berdaya saat melihat Shuwan yang biasanya usil menjadi seperti ini. Sebagai lelaki, aku merasa gagal melindunginya. Saat Ying Jie memapahnya dengan penuh perhatian, aku memang cemburu. Argh..! Aku tidak tahu bagaimana mengatasi perasaanku sendiri.” Zhang mendengus kesal. Kedua tangannya menjambak erat rambut di kepalanya.
Yu Hao menghela napas, “Aku rasa kau lebih tahu bagaimana mengatasinya. Aku akan memberikan waktu sendiri untukmu. Tenangkan dirimu, baru kembali dan hadapilah Shuwan. Ingat, jangan terbawa emosi.” Yu Hao menepuk bahu kiri Zhang, dan beranjak pergi meninggalkannya.
Kini, Zhang sendirian di bawah pohon yang tidak jauh dari kediaman Ying Jie. Ia terduduk diam dan berpikir keras, berusaha mendamaikan hatinya yang kalut.
***
Sementara di ruang tengah, Shuwan masih duduk dalam lamunannya. Memikirkan sikap dan juga perkataan Zhang tadi.
“Shuwan!” Jiao memanggilnya dan membuatnya terkesiap karena kaget.
“Ah... Ada apa Jiao?” sahutnya seraya tersenyum.
Jiao kemudian duduk di kursi yang berada di sebelah Shuwan. Ia memulai pemebicaraan. “Em... Apakah kau sedang memikirkan perkataan Zhang?”
“Iya. Aku tidak begitu mengerti dengannya yang setiap waktu bisa berubah seperti itu.”
“Shuwan, aku tidak bermaksud menyalahkanmu, atau pun membela Zhang. Tapi, dia hanya khawatir denganmu. Ah... Tentu! Bukan hanya dia yang khawatir. Aku, dan juga Yu Hao juga sangat mengkhawatirkanmu Shuwan. Melihatmu bertarung sendirian, lalu terjatuh dan terluka. Siapa yang tidak khawatir jika melihat orang yang penting terluka di depan matanya?”
“Aku mengerti, Jiao. Aku hanya tidak bisa membiarkan kalian terluka. Ini adalah tugasku untuk membiarkan kalian tetap aman.”
“Tapi Shuwan, kau tidak harus melakukannya sendirian. Ada aku dan juga yang lainnya. Shuwan, ayo komunikasikan baik-baik dengan Zhang. Aku hanya tidak ingin melihat kedua temanku terus-menerus seperti ini.”
Jiao mulai menitikkan air mata. Ia benar-benar takut kehilangan dua orang penting yang telah membawanya menuju jalan kebaikan.
Shuwan menepuk bahu Jiao, dan berusaha menenangkannya. “Iya, iya. Aku akan bicara baik-baik dengan Zhang. Kau jangan sedih lagi ya? Dan mengenai aku yang egois ini, aku akan mencoba berintrospeksi diri lagi,” ucapnya dengan lembut.
Jiao hanya mengangguk. Ia menyeka air matanya. Berhasil! Batinnya yang senang karena berhasil membuka jalan agar kedua temannya berbaikan.
Setelah selesai berbicara dengan Shuwan, Jiao pun pergi keluar. Tepat saat ia keluar, Yu Hao kembali ke rumah itu. “Bagaimana? Apakah kau berhasil menenangkan Zhang?” bisik Jiao.
“Aman. Dia sudah mulai reda, tinggal menunggu waktunya. Bagaimana dengan misimu?”
“Tentu saja berhasil. Kita akan menyaksikan pertunjukannya nanti. Semoga, ini bisa semakin membuat mereka lebih dekat.”
“Kau benar. Mereka sudah sering bertengkar. Semoga saja ini benar menjadi jalan bagi mereka untuk bisa lebih memahami satu sama lain,” kata Yu Hao sembari melipat kedua lengannya ke depan. “Dengan mereka kembali berbaikan, tentu aku bisa lebih fokus untuk mengenalmu.”
Jiao tersedak ludahnya sendiri. Ia merasa seperti tersambar petir di hari yang bahkan belum siang. “A-apa maksudmu?”
__ADS_1
“Kau tidak menyadarinya? Yah, aku sedang berusaha mengejarmu.” Ia kemudian berjalan masuk ke rumah, dan meninggalkan Jiao yang masih tidak percaya dengan ucapannya.
Jadi, dia menyukaiku? Batin Jiao masih berusaha memahami ucapan Yu Hao. Jiao menggeleng. Heh, sangat sulit dipercaya.