1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Mulai Lelah?


__ADS_3

Tidak terasa, Shuwan dan yang lainnya sudah berjalan sangat jauh. Bagaimana semua manis getirnya perjalanan telah ia rasakan bersama ketiga temannya. Adakalanya bukan hanya fisik yang terasa begitu payah, namun juga hati yang mulai terasuk lelah.


“Hump... Kapan kita sampai? Rasanya perjalanan kita semakin berat,” keluh Jiao sembari melipat kedua tangannya ke tengkuknya.


“Hah...,” Yu Hao menghela napas panjang seolah melepaskan beban yang begitu berat dipikulnya. “Jika tidak ada rintangan yang berarti, sekitar 2 bulan lagi kita sampai,” pungkas Yu Hao.


“A-apa? 2 bulan lagi? Ternyata, masih sangat jauh ya?” tukas Jiao dengan wajah yang sedikit kecewa. “Rasanya tubuhku semakin remuk saja. Uh... Andai kita bisa pergi ke pemandian air panas, pasti otot-otot yang kaku ini akan menjadi lebih tenang.”


Shuwan dan Zhang yang berada di belakang Yu Hao dan Jiao hanya fokus mendengarkan keluh kesah dari kedua temannya itu.


“Sstt... Pelankan suaramu,” kata Yu Hao setengah berbisik. “Kalau kamu saja lelah, lalu bagaimana dengan Zhang dan juga Shuwan yang telah memulai perjalanan ini sebelum kamu?” kata Yu Hao.


“Teman-teman...” Zhang memasuki perbincangan dengan wajah yang tertunduk. Langkahnya terhenti ketika memanggil teman-temannya. “Maaf.. Karena aku, kalian jadi kesusahan dan merasakan berbagai macam siksaan. Jika kalian ingin menghentikan perjalanan sampai di sini juga tidak apa. Aku bisa melanjutkannya sendiri. Lagi pula, aku tidak ingin membuat kalian terus-terusan tersiksa karenaku,” ucapnya dengan wajah sendu.


Shuwan, Jiao, dan Yu Hao saling beradu pandangan setelah mendengar perkataan Zhang yang tampak merasa bersalah pada ketiga temannya.


Yu Hao kemudian berjalan mendekati Zhang, dan menepuk bahu kirinya. “Zhang, semua yang terjadi bukanlah salahmu. Ini semua normal ketika kita melakukan perjalanan jauh. Apa-apa yang terjadi memang sudah menjadi suratan takdir,” kata Yu Hao dengan bijak.


“Yu Hao benar. Yah, aku memang merasa lelah karena perjalanan panjang ini. Bukan hanya karena jauhnya perjalanan, tapi juga tekanan yang terus menerus kita hadapi. Meskipun demikian, jangan terus salahkan dirimu. Kami mengikutimu karena keinginan kami untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jadi, sudah menjadi risiko kami sendiri karena mengambil keputusan ini. Benar ‘kan, Yu Hao?”


“Yah.. 2 bulan lagi bukan? Kita pasti bisa melalui ini. Karena kita bersama, perjalanan ini menjadi penuh warna,” Shuwan menatap Zhang seraya menyunggingkan senyum di wajahnya.


“Kalian...” Zhang tidak sanggup mengeluarkan kata-katanya lagi. Matanya berkaca-kaca. Segera ia mengusap air mata yang hendak menitik jatuh di pipinya.


“Tak kusangka kalau kau begitu cengeng,” ledek Shuwan.


Zhang yang mendengarnya langsung berubah, menjadi malu. “Apa kau bilang?” celetuknya seakan tidak terima dengan perkataan Shuwan.


“Itu benar ‘kan? Yah, tidak apa. Kau tidak perlu malu. Jangan sungkan jika ingin menangis,” ucap Shuwan berusaha menghidupkan kembali suasana di sana.


“Kau...” wajah Zhang memerah karena malu.


Yu Hao dan Jiao hanya tertawa melihat Zhang dan Shuwan yang sedang bertengkar.


“Bukankah mereka berdua terlihat imut jika sedang seperti ini?” bisik Jiao kepada Yu Hao.

__ADS_1


“Benar. Setidaknya kita punya hiburan selama perjalanan,” jawab Yu Hao.


“Hei, Yu Hao, apa yang baru saja kau katakan?” ucap Zhang dengan wajah yang setengah cemberut.


“Haha... Bukan apa-apa,” Yu Hao berusaha menempik perkataannya barusan.


“Hump!” Zhang melipat kedua tangannya ke dada dengan mulutnya yang manyun karena masih merasa kesal.


“Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan,” ajak Shuwan.


Empat sekawan itu pun melanjutkan perjalanannya. Tidak ada yang tahu apa yang sudah menanti mereka di depan sana.


Hari sudah hampir gelap, tetapi mereka tidak menemukan apapun selain padang ilalang yang tak berkesudahan.


“Haish... Kenapa tidak ada apa pun di sini? Pohon pun tidak ada? Bagaimana kita akan berteduh?” keluh Jiao.


“Eum... Kau benar. Aku juga sudah mulai lelah,” ucap Yu Hao menimpali keluhan Jiao. “Zhang, kita akan istirahat di mana?” tanya Yu Hao pada Zhang.


Zhang meletakkan tangannya di dagu seraya berpikir keras. Ia memandangi sekeliling, dan benar, tak ada apapun di sana selain hamparan padang ilalang yang begitu luasnya.


Mereka masuk ke dalam hamparan padang ilalang. Sedikit jauh dari jalan utama. Duduk melingkar menghadap api unggun yang menghangatkan tubuh mereka di malam yang dingin.


“Uhm... Malam ini dingin sekali. Apakah karena selama lebih dari seminggu kita dimanja di kediaman Fengying waktu itu?” kata Jiao seraya memeluk erat tubuhnya sendiri, berusaha memberikan kehangatan untuk dirinya sendiri.


“Mungkin saja. Hem... Apakah kita tidak punya bahan makanan?” tanya Yu Hao. “Kebetulan aku sangat lapar,” sambungnya.


“Ah... Tadi aku mengambil beberapa bahan makanan milik Xie Bei. Mungkin ini bisa sedikit mengganjal perut kita hingga esok pagi,” ucap Shuwan seraya mengeluarkan kantung berisi makanan dari tas yang dibawanya.


“Oh, iya. Sekarang kita berada di padang ilalang. Tetaplah waspada. Kita tidak tahu bahaya apa yang mengancam kita di baliknya. Entah itu penyamun, ataupun binatang buas,” Yu Hao mencoba memperingatkan teman-temannya.


“Yu Hao benar. Kita jauh dari pemukiman. Tidak ada yang bisa melindungi kita selain diri kita sendiri. Kalau begitu, kita bisa gantian berjaga. Aku akan berjaga bersama Shuwan, dan Yu Hao akan berjaga dengan Jiao,” terang Zhang.


“Hei.. Kenapa aku harus berjaga denganmu?” celetuk Shuwan dengan memasang wajah seolah tidak suka.


“Bukankah kita punya hubungan yang spesial?” Zhang menimpali.

__ADS_1


“Se-spesial? Sejak kapan aku punya hubungan yang spesial denganmu?” Shuwan tidak terima.


“Sejak malam itu. Di tepi danau. Saat itu kamu sudah jatuh ke pelukanku. Itu artinya hubungan kita sudah sangat dekat bukan?” Zhang mencoba menggoda Shuwan dan mencoba menghidupkan api keributan yang baru saja padam.


“A-apa? Hei, itu kamu yang tiba-tiba datang dan mencoba mencari keuntungan dariku,” Shuwan mulai geram karena Zhang.


“Malam itu? Di tepi danau? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?” bisik Yu Hao kepada Jiao karena penasaran.


“Haha... Itu sesuatu yang manis dan cukup menggemaskan. Kau belum bersama kami, jadi wajar jika kamu tidak tahu. Aku selalu berusaha agar bisa menjodohkan mereka berdua,” Jiao tersenyum menyaksikan Shuwan dan Zhang yang hubungannya mulai menghangat meski harus ribut terlebih dahulu.


“Begitu rupanya. Hem.. Kalau begitu aku akan menjadi tim suksesmu, Jiao,” Yu Hao memberi dukungan.


“Bagus! Ini pasti akan seru,” Jiao dan Yu Hao tertawa kecil di seberang Shuwan dan Zhang yang sedang bertengkar.


Kembali ke pertengkaran Shuwan dan Zhang.


“Ohoo... Jangan menyangkalnya lagi. Aku tidak keberatan jika harus menjagamu seumur hidupku,” ucap Zhang dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Tskk... Siapa yang minta menjagaku? Aku tidak butuh itu,” ucap Shuwan seraya memalingkan wajahnya ke hamparan ilalang yang ada di sebelah kanannya.


Tiba-tiba saja wajah Zhang menjadi sendu. Ia tertunduk lesu. Tidak tahu apa yang telah merubah suasana hatinya saat itu.


“Shuwan...” ucap Zhang dengan lirih. “Apakah kau akan benar pergi setelah kita sampai di Negeri Awan?”


Yu Hao dan Jiao terkesiap mendengarnya. Meskipun mereka tahu bahwa Shuwan sudah pernah mengatakannya. Mereka menatap iba Shuwan.


“Iya Shuwan, apakah ku benar akan pergi meninggalkan kami?” Jiao menimpali.


Shuwan tertunduk sedih, “Benar. Suka tidak suka, mau tidak mau, aku harus tetap pergi. Aku berutang alasan pada kalian. Hanya ketika kita sampai di sana, aku akan menjelaskan semuanya,” jelasnya.


“Haruskah seperti itu?” Zhang menatap dalam-dalam Shuwan. Hatinya seakan tidak rela jika kelak Shuwan akan pergi darinya.


“Iya. Aku harap, jangan menyimpan perasaan terlalu dalam untukku. Aku tidak ingin menyisakan luka yang terlalu dalam pada kalian,” ucap Shuwan seraya memandangi semesta yang bertabur bintang. “Terlebih... Padamu Zhang,” Shuwan menyelesaikan perkataannya, seraya menjatuhkan pandangannya pada Zhang.


Zhang yang sedari tadi memandangi Shuwan menjadi ternganga mendengar penjelasan Shuwan. Bolehkah terus seperti ini? Biarkan waktu berhenti sebentar saja. Karena... Aku masih ingin memandangnya dan terus bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2