1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Tiba


__ADS_3

Pendakian dimulai. Diikatkannya kuat-kuat tambang yang diberikan pemilik kedai di pinggang Zhang, Jiao, dan Yu Hao.


Yu Hao memandu dengan mendaki di awal, Zhang berada di tengah karena menggendong Shuwan, sedangkan Jiao berada di bawah Zhang, mengantisipasi kalau terjadi sesuatu pada Zhang.


Baru saja tebing itu di daki sejauh 5 meter, angin tampaknya berhembus dengan kencang. Zhang yang menggendong Shuwan pun sedikit khawatir. Kenapa anginnya begitu kencang? Bahkan di permulaan seperti ini.


“Zhang, apa kau baik-baik saja?” teriak Jiao dari bawah.


“A-aku baik-baik saja. Tetaplah fokus mendaki.”


Mereka pun mencoba mengabaikan hembusan angin itu. Meskipun angin yang menerpa semakin kencang seiring semakin tinggi dakiannya.


Tebing itu tersusun dari batuan berbentuk segi enam. Ukurannya sangat pas untuk telapak kaki. Walau terlihat mudah, tapi butuh usaha juga untuk bisa melewatinya langkah demi langkah.


“Sebaiknya kita istirahat sebentar. Tangan dan kakiku rasanya mulai keram,” teriak Yu Hao yang berada di posisi paling atas.


“Baiklah. Kita istirahat sebentar,” imbuh Zhang.


Mereka bertiga pun mencari posisi nyaman untuk istirahat di tebing itu. 


Sementara itu, Zhang terus berhati-hati agar tidak terpeleset. Shuwan, kau harus bertahan. Yakinlah jika kita akan segera sampai. Zhang berusaha menguatkan hatinya. Matanya memandang ke atas, berusaha menerka, berapa jarak lagi yang harus ditempuhnya untuk sampai ke Negeri Awan.


Setelah dirasa cukup, mereka langsung melanjutkan perjalan. Hal yang paling berat yang harus mereka lalui adalah hembusan angin. Semakin malam, di atas tebing terasa semakin dingin. Angin yang berhembus seolah bisa membekukan apa saja yang ada di sana.


Mereka bertiga mulai lelah. Tangan mereka sudah perih karena terluka. Tapi karena sebuah tekad yang terbalut dalam janji, mereka pun terus bertahan dan tidak menyerah begitu saja.


Di tengah pendakian, tiba-tiba saja batu yang dipijak Jiao retak.


“Ah!” Jiao terjatuh. Namun tubuhnya masih bergelayutan di tali yang mengikat tubuhnya.


“Jiao!” Sekuat tenaga Zhang memegangi tambang yang terikat di antara mereka bertiga. “Apa kau baik-baik saja?”


“Ya. Aku tidak apa. Jangan pedulikan.” Teriak Jiao dari balik kabut yang menghalangi pandangan.


Waktu terus bergulir. Tidak terasa, mereka sudah seharian ada di tebing itu. Kini, senja sudah tiba sekali lagi. Udara kembali terasa semakin dingin. 


“Hei, semangatlah! Sebentar lagi kita sampai!” kata Yu Hao yang memimpin pendakian setelah melihat sekilas puncak dari tebing yang mereka daki.


Dengan susah payah, mereka pun akhirnya sampai ke permukaan. Terbentang sebuah jalan pendek yang terhubung langsung dengan gerbang besar, kokoh, nan tinggi yang melindungi Negeri Awan.


“Wuah, ternyata begini penampilan dari Negeri Awan? Dari luarnya saja sudah luar biasa. Bagaimana dengan dalamnya?” kata Jiao takjub.


Zhang masih menggendong Shuwan pun meraba tangan Shuwan. Seketika matanya terbelalak. “Tangan Shuwan mulai terasa semakin dingin. Sebaiknya kita segera mencari alkemis itu,” sergah Zhang dengan panik.


Mereka pun akhirnya mendekati gerbang Negara Awan. Kedua penjaga menghentikan mereka.


“Apa tujuan kalian? Dan berasal dari mana?”


“Kami...”

__ADS_1


Zhang menghentikan Yu Hao berbicara. Ia langsung mengambil sesuatu dari balik sakunya. “Aku kemari sebagai utusan,” kata Zhang seraya menunjukkan sebuah token lambang keluarganya.


“Token ini?" kedua penjaga itu salin lempar pandang.


"Ah, aku ingat. Token ini adalah token spesial yang diberikan oleh pendiri negeri ini kepada 7 keluarga besar sebagai bentuk hubungan kerja sama. Kau pasti adalah salah satunya bukan?”


“Benar. Aku berasal dari keluarga Zhang. Aku kemari ingin bertemu dengan Penguasa Negeri Awan. Ada hal yang perlu aku sampaikan kepadanya.”


Kedua penjaga itu seolah mengerti maksud dari perkataan Zhang. Mereka pun mengizinkan keempatnya masuk.


Pintu gerbang pun dibuka. Terbentang pemandangan perkotaan yang ramai penduduk. Dengan toko dan tempat tinggal yang tersusun rapi. Sungguh pemandangan yang membuat takjub siapa pun yang melihatnya.


Yu Hao dan Jiao pun masuk terlebih dahulu. Mereka seperti anak kecil yang takjub melihat setumpuk gulali. 


“I-ini benar-benar keren!” Yu Hao memuji pemandangan yang kini membentang dihadapannya.


Zhang menyusul di belakanganya. Tapi sebelum ia masuk, Zhang menghentikan langkahnya. “Apakah kalian mengenal alkemis bernama Luo Shu?” 


“Ah, alkemis itu! Dia tinggal di sudut negeri ini. Semenjak kematian puteranya, dia jadi seorang penyendiri.”


“Apakah itu jauh dari sini?”


“Jika kau menunggang kuda, kemungkinan akan sampai dalam waktu 3 jam. Tapi jika berjalan kaki, kemungkinan kau akan sampai 6 jam kemudian.”


Aku tidak bisa menunggu selama itu. Shuwan bisa dalam bahaya. Kondisinya saat ini pun sudah sangat mengkhawatirkan. “Kalau begitu, apakah kalian memiliki kuda? Apakah aku boleh meminjamnya? Temanku dalam kondisi kritis. Jika tidak cepat dia bisa bahaya.”


“Kalau begitu aku akan meminjamnya. Saat temanku baik-baik saja, akan segera ku kembalikan.”


“Kau tidak perlu sungkan. Jika memang tidak memungkinkan, kau tidak perlu mengembalikannya. Tapi jika itu malah menjadi beban untukmu, maka kembalikanlah jika luang.”


Zhang tersenyum haru. “Kalian orang-orang yang baik. Aku berhutang budi pada kalian. Semoga aku bisa membalasnya suatu saat nanti.”


“Yah, yang terpenting bisa menyelamatkan nyawa seseorang itu adalah sebuah kehormatan bagi kami yang menjadi prajurit. Sudah, sebaiknya kau memulai perjalanan.” Sebelum Zhang pergi penjaga itu memberikan secarik kertas pada Zhang. “Ini adalah denah Negeri Awan. Ini adalah rumah alkemis Luo Shu. Ikuti saja jalannya, dan kalian akan sampai di sana.”


“Baiklah. Terima kasih banyak.” Zhang menundukkan kepalanya sebagai penghormatan. Ia lalu bergegas menaiki kuda untuk menuju kediaman Luo Shu. 


Yu Hao dan Jiao masih terkesima dengan pemandangan tempat itu. “Tempat ini sangat indah dan tertib. Pasti akan menyenangkan untuk memulai kehidupan yang baru di sini,” ucap Jiao yang menikmati perjalanan di atas kuda bersama Yu Hao.


“Kau benar. Semoga hidup kita jadi lebih baik ketika tinggal di sini,” imbuhnya.


Zhang tiba-tiba menghentikan kudanya yang tengah melaju di jalanan kota. Ia lalu memandangi Jiao dan Yu Hao. “Jika kalian ingin istirahat di sini, maka istirahatlah. Aku, akan membawa Shuwan sendiri menemuia alkemis itu.”


Yu Hao mendekatkan kudanya ke arah kuda Zhang. “Tidak. Kami akan ikut denganmu. Karena kau lah kita bisa sampai kemari.”


“Um, benar! Bagaimana mungkin kita membiarkan kalian pergi sendirian. Lagi pula, aku harus memastikan bahwa Shuwan akan baik-baik saja,” sahut Jiao.


“Baiklah,” Zhang tersenyum lega melihat ketulusan kedua rekannya itu. "Pertama kita akan pergi ke tempat alkemis itu. Setelahnya, baru kita menemui penguasa tempat ini," sambungnya.


Saat akan mulai memacu kuda, terjadi sesuatu pada Shuwan.

__ADS_1


“Uhukk!”


Shuwan yang sedari kemarin tidak sadarkan diri tiba-tiba saja muntah darah. 


Zhang yang melihatnya semakin panik, sebab yang darah yang dimuntahkan Shuwan berwarna hitam pekat. “Shuwan! Shuwan!” Zhang mengguncang-guncang tubuh Shuwan, namun tidak menunjukkan reaksi apa pun. 


“Sebaiknya kita bergerak cepat. Firasatku semakin buruk,” tandas Yu Hao.


Mereka pun menambah kecepatan kuda. Zhang merasa sangat khawatir dengan kondisi Shuwan yang semakin memburuk. Shuwan, sebentar lagi kita sampai. Bertahanlah!


“Hyat!”


Kedua kuda itu pun melaju membelah kota di Negeri Awan dengan kecepatan penuh. Meski jalanan ramai orang, namun jalan yang ada di sana cukup luas. Tidak perlu mengkhawatikan akan terjadi kecelakaan.


***


Sementara di gerbang Negeri Awan.


“Apakah ini saatnya kita menggilir petugas?” kata salah seorang.


“Benar. Ini hampir waktunya. Kalau begitu aku akan melapor pada menara pengawas.”


Saat salah seorang penjaga hendak pergi, tiba-tiba saja segerombolan orang datang ke tempat itu. Langkahnya pun terhenti, dan kedua penjaga itu pun kembali siaga.


“Siapa kalian? Dan apa tujuan kalian kemari?” tanya penjaga.


“Kami adalah kelompok penghibur yang akan tampil saat perayaan hari jadi Negeri Awan.”


Salah seorang penjaga itu memicingkan matanya. “Bisakah kalian menunjukkan bukti resmi bahwa kalian adalah tamu yang diundang?”


Orang yang buta sebelah dalam kelompok penghibur itu pun mengeluarkan sebuah gulungan. “Ini adalah bukti bahwa kami memang diundang kemari.”


Kedua penjaga itu pun manggut-manggut. “Baiklah. Kalau begitu silakan masuk.”


Rombongan misterius itu pun masuk dengan mudahnya ke dalam Negeri Awan. Tidak tahu apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.


Sementara kedua penjaga yang tadi mengizinkan masuk tiba-tiba saja terbesit keraguan. “Entah kenapa aku merasa gelisah. Apakah ini ada kaitannya dengan rombongan yang baru saja masuk?”


Penjaga lainnya pun merangkul bahu penjaga yang resah itu. “Sudahlah. Aku rasa itu karena kau lelah, makanya timbul perasaan gelisah. Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?”


“Kau benar. Mungkin aku memang kelelahan, jadi kebanyakan berpikir yang bukan-bukan.”


“Kalau begitu ayo, kita menuju dunia kuliner yang sudah menanti kita.”


“Hahaha! Kau ini pikirannya makan saja.”


“Aku memang suka makan. Tapi itu sebanding dengan jasaku.”


“Ya,ya,ya. Terserah kau sajalah.”

__ADS_1


__ADS_2