1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Meminta Izin


__ADS_3

Hari itu juga Shuwan dan Jiao masih menunggu kepulangan alkemis Luo Shu hingga petang. Mereka berdua duduk di ruang tengah.


Jiao menunggu sambil membaca buku. Sedangkan Shuwan, ia hanya duduk melamun dengan kedua lengan yang menyangga dagunya.


Shuwan membuang napasnya. “Kapan orang itu akan pulang?”


Jiao lalu menutup bukunya dan menyudahi aktivitas membacanya. Dipandanginya Shuwan yang mulai jenuh dan bosan.


“Seharusnya sebentar lagi.”


Baru saja Jiao mengatakannya, Luo Shu pun tiba.


“Ah... Akhirnya kau sampai juga, Shifu!” sapa Jiao dengan  penuh semangat.


“Yah, tadi aku sedang mengunjungi seseorang. Lumayan jauh dari sini. Jadi sekarang baru sampai,” imbuh Luo Shu.


“Begitu rupanya. Em.. Shifu, ada yang ingin kami tanyakan padamu,” tandas Jiao.


Shuwan pun berjalan mendekati Luo Shu.


“Tuan, apakah kau tahu mengenai perayaan hari jadi Negeri Awan?” tanya Shuwan.


“Tentu saja. Itu adalah perayaan yang sama meriahnya dengan perayaan lainnya. Diadakan menjelang akhir musim semi. Ngomong-ngomong, dari mana kau mengetahui perayaan itu?”


“Seseorang mengirim undangan padaku, dan memintaku menjadi panitia di sana.”


Seketika raut muka Luo Shu berubah, seperti ada siratan tidak suka. Ia lalu membuang napasnya, dan melanjutkan pembicaraan.


“Memangnya siapa orang yang mengirimimu undangan?” Luo Shu berusaha memastikan.


“Seseorang yang kemarin sempat menolongku di pasar. Kebetulan dia sudah menyelamatkanku dari kuda yang hampir menabrakku di tengah pasar. Aku juga sudah berjanji, kalau dia membutuhkan bantuanku, aku akan siap membantunya.”


“Bisakah aku melihat undangannya?” Pinta Luo Shu.


“Tentu...”


Shuwan menyerahkan kedua surat itu pada Luo Shu. 


Luo Shu mengamati isi undangan itu. Dahinya tampak berkerut. Ekspresinya pun menjadi aneh ketika melihat isi surat itu.


“Sebenarnya, ini adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan,” kata Luo Shu.


“M-maksudmu, Shifu?” Jiao menjadi penasaran.


“Selama ini, dalam mempersiapkan perayaan, pihak istana tidak mengundang orang luar istana untuk turut membantu.”


Shuwan terbelalak mendengar perkataan Luo Shu. Ia jadi berpikir semakin dalam mengenai undangan itu.


“Jadi, apa maksud  dari undangan ini? Kenapa tiba-tiba ada perubahan sistem?” Shuwan memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.


Luo Shu mengembalikan undangan itu pada Shuwan.


“Aku rasa ada maksud tertentu di balik undangan itu. Lagi pula, hubunganku dengan istana tidaklah begitu baik.”


“Kau punya hubungan yang tidak baik dengan istana?” Shuwan kaget mendengarnya.


“Sebenarnya itu adalah kisah lama. Nah, hari sudah malam. Ayo kita makan sekarang.”


Luo Shu mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai hubungan tidak baiknya dengan istana.


Apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh olehnya? Aku harus mencari tahu nanti. Batin Shuwan yang dilingkupi rasa penasaran.


 “Tunggu. Lalu bagaimana dengan undangan itu? Apakah kau akan mengizinkanku dan Jiao pergi ke sana?” sergah Shuwan.


“Akan aku pikirkan nanti,” singkat Luo Shu.


Luo Shu pun hendak beranjak dari ruang tamu itu. Tapi, langkahnya dihentikan oleh Shuwan.

__ADS_1


“Aku harap kau bisa mempertimbangkannya dengan bijak. Tidak peduli masalah apa yang kau miliki dengan istana, tapi semoga saja kau bisa mengambil pilihan tepat.”


Luo Shu tidak merespon Shuwan. Ia langsung pergi dan meninggalkan Shuwan dan Jiao di ruang tamu.


Shuwan lalu memundurkan tubuhnya, dan terduduk dengan pandangan yang kosong. Pikirannya pun masih dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.


“Jiao, kau melihat perubahan ekspresinya bukan?”


Jiao mengangguk. Lalu ia duduk di dekat Shuwan.


“Benar, aku juga melihatnya. Seperti ada kesedihan yang sengaja ia sembunyikan. Lalu, mengenai undangan itu, bagaimana rencanamu?”


“Hm... Bagaimana lagi? Tentu saja aku akan menunggu gurumu itu memberikan jawaban yang masuk akal. Jika sampai aku menentang orang tua, bisa-bisa aku malah kualat lagi.”


“Hahaha... Ternyata kau masih bisa memikirkan dampak yang seperti itu ya?” Jiao terkekeh.


“Biar bagaimana pun, aku adalah anak yang masih menghormati orang tua tahu.”


“Baiklah, baiklah, aku mengerti...” Jiao masih tidak melepaskan tawanya mengingat perkataan Shuwan barusan.


Hingga tibalah waktu makan malam. Shuwan dan Jiao sudah ada di meja makan. Sedangkan Luo Shu tidak ada di sana.


Shuwan lalu bertanya pada Jiao, “Jiao, di mana gurumu? Apakah dia tidak akan makan bersama?”


“Hm... Tadi aku mengajaknya. Tapi dia menolak untuk makan bersama. Katanya masih ada berkas yang harus dia urusi di ruang baca.”


Shuwan manggut-manggut. Ia jadi berpikir sejenak sebelum mulai menyantap hidangannya.


Apakah ini karena perkataanku? Hm... Setelah ini aku harus berbicara dengannya.


Shuwan mengelengkan kepalanya, lalu mulai menyantap hidangan yang sedari tadi sudah menunggunya.


Selesai makan, Shuwan pun langsung menuju ruang belajar Luo Shu. Atas saran Jiao, ia membawakan teh untuknya.


Ia mengetuk pintu ruang baca, dan memanggil Luo Shu.


Namun tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun kembali mengulangi panggilannya.


“Tuan... Apakah semuanya baik-baik saja di dalam?”


Lagi-lagi tak ada jawaban dari sana. Karena Shuwan penasaran ia pun mencoba mengintip dari celah yang ada di dinding.


“Sepertinya aku bisa mengintip ke arah mejanya dari sini.”


Setelah berhasil mengintip, betapa terkejutnya ia mendapati Luo Shu yang tergeletak di lantai.


Shuwan meletakkan nampan tehnya, dan langsung mendobrak pintu itu.


Jiao yang mendengar kebisingan itu pun langsung menuju sumber suara.


Begitu melihat Shuwan yang mencoba mendobrak pintu, Jiao langsung berlari mendekatinya.


“Shuwan... Aku tahu kau ingin coba menemaninya. Tapi tolong jangan seperti ini,” kata Jiao dengan gelisah.


“Bukan, seperti itu Jiao. Sekarang sebaiknya kau bantu aku menghancurkan pintu ini.”


“K-kenapa aku harus membantumu melakukannya?”


“Sebaiknya kau jangan banyak tanya, atau gurumu akan dalam bahaya.”


“B-bahaya. Apakah terjadi sesuatu dengannya di dalam?”


“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tadi aku mengintipnya dari balik celah karena tidak ada sahutan dari dalam, dan melihatnya tergeletak di lantai.”


Jiao terkesiap mendengar perkataan Shuwan.


“Kalau begitu, aku akan membantumu.”

__ADS_1


Shuwan dan Jiao mendobrak pintu itu seirama. Berulang kali, hingga akhirnya terbuka.


“Shifu!” Teriak Jiao seraya berlari mendekati tubuh Luo Shu yang tergeletak di lantai.


Shuwan pun berinisiatif meminta bantuan dari pelayan pria di kediaman itu. Dengan segera tubuh Luo Shu pun diangkat ke kamarnya.


Denga teliti, Jiao memeriksa tubuh gurunya itu.


“Bagaimana Jiao? Apa yang terjadi dengannya?” tanya Shuwan.


“Kalau dari prediksiku, dia menderita asam lambung.”


“A-asam lambung?” Apakah dia terbebani dengan perkataanku tadi? 


“Yah, bisa karena stres, atau makanan yang dia konsumsi hari ini. Semakin tua seseorang, risiko terkena asam lambung juga semakin besar. Aku akan mencoba meminumkan obat kepadanya.”


Jiao kemudian beranjak dari sana, dan menyiapkan obat untuk Luo Shu.


Sementara Shuwan, ia masih berada di sana bersama beberapa pelayan Luo Shu. Mencoba menunggunya hingga sadar.


Setelah beberapa waktu, Jiao pun masuk ke kamar kembali dengan membawa ramuan yang diresepkan sendiri oleh Luo Shu.


“Kau meraciknya sendiri, Jiao?” tanya Shuwan.


“Aku meraciknya berdasarkan resep yang pernah dia ajarkan padaku.”


“Begitu rupanya.”


Dengan bantuan sendok, Jiao meminumkan obat itu pada Luo Shu.


“Setidaknya dengan sedikit meminum ramuan ini, perutnya menjadi lega, dan bisa segera pulih.”


Shuwan masih berdiri di posisinya. Kepalanya mengangguk. Ada sedikit rasa bersalah di benaknya melihat Luo Shu kolaps seperti itu.


Hah... Sepertinya aku berdosa besar karena membuat pak tua ini seperti ini. Semoga dia besok bisa kembali sadar. 


***


Zhang yang masih terjaga di atas ranjangnya masih terpikir oleh perkataan Yu Hao. 


Kalau Shuwan membenciku, apakah itu jauh lebih baik karena dia sudah menjadi milikku? Tapi, aku memang terlalu egois ingin memilikinya saat ini. Apa yang harus aku lakukan?


Shuwan... Aku ingin kau menjadi milikku. Tapi, aku juga tidak ingin kau membenciku. Kapan sakitmu akan sembuh dan bisa membalas perasaanku?


Zhang tersenyum getir melihat pikiran dan nuraninya bertengkar sendiri. Ia dilema, tapi selalu ada ambisi yang begitu menguasai hatinya. Yaitu memiliki Shuwan seutuhnya.


***


Di sisi lain, putra mahkota yang tidak bisa tidur karena juga memikirkan Shuwan.


“Aku tidak sabar ingin menemuinya lagi. Um... Agar penyamaranku sempurna, aku akan meminjam pakaian dan atribut penjaga perpustakaan. Dengan begitu, aku tidak akan ketahuan.”


Senyum simpul pun mengembang di wajah putra mahkota setelah membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Shuwan kelak.


***


Setelah Shuwan menunggu cukup lama di kamar Luo Shu yang belum kunjung sadar, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Di ambilnya secarik kertas dan kuas untuk menulis.


Dengan teliti ia menulis isi surat yang ingin ia kirimkan kepada orang yang telah menyelamatkannya itu.


Begitu selesai, dilipatnya surat itu dengan rapi, dan diletakkannya ke dalam sebuah kotak.


“Aku akan mengirimkan surat ini besok pagi. Semoga dia juga bisa memaklumi keadaanku saat ini,” kata Shuwan.


Shuwan menyimpan kotak berisi surat itu di bawah bantalnya, dan bersiap mengirimnya besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2