1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Penangkapan dan Pengampunan


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Liu.


Penjaga yang dibuat pingsan oleh Zhang akhirnya tersadar. Dimana ini? Apa yang terjadi padaku? Matanya terbelalak mengingat kejadian tadi malam yang menimpanya. Para perampok itu menyekapku. Aku harus segera keluar dari sini dan melaporkannya pada tuan!


Segala upaya ia lakukan untuk keluar dari dalam gudang. Tangan dan kakinya masih terikat. Mulutnya pun tidak dapat teriak karena dibekap. Akhirnya ia berusaha mendekati pintu dan menggedornya dari dalam menggunakan bahunya. Semoga saja ada yang lewat sini dan mendengarku.


Timingnya tepat. Dua orang penjaga melintasi gudang pagi itu dan mendengar suara gaduh dari dalam.


“Eh... Apa kau mendengarnya? Ada apa di balik pintu ini? Suaranya begitu gaduh,” ucap salah seorang.


“Benar, coba kita buka saja,” jawab penjaga yang satunya lagi.


Begitu mereka membuka pintu gudang, betapa terkejutnya mereka mendapati temannya yang berada dalam kondisi disekap. “A-ada apa ini?” ucap kedua penjaga itu dengan panik. Mereka pun bergegas melepaskan ikatan yang ada pada penjaga itu.


“Bantu aku menemui tuan,” pinta penjaga yang baru saja terbebas dari penyekapan.


Para penjaga itu menemui Tuan Liu dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Setelah mendengar cerita penjaganya, Tuan Liu menjadi kaget bukan kepalang.


“A-apa kau bilang? Bagaimana bisa?” Tuan Liu segera berlari menuju gudang untuk memastikan ruang rahasia miliknya aman. Barang bukti itu masih ada di sana. Jangan sampai mereka mendapatkannya!


Setibanya di sana, ia menyadari bahwa ruangan rahasianya telah di acak-acak. Ia membuka laci meja tempat menyimpan bukti itu dengan tangan yang bergetar. Begitu lacinya terbuka, tubuhnya jadi terkulai lemas karena bukti itu sudah tidak ada lagi di sana.


Jika bukti itu sampai ke pengadilan, maka tamatlah riwayatku! Siapa sebenarnya yang ada di balik kejadian ini? A-apa mungkin...


Belum selesai Tuan Liu bergumam, penjaganya datang menyusul dirinya ke dalam, dan menyampaikan kabar berita buruk bahwa prajurit dari kantor pengadilan telah datang menjemputnya bersama dengan Wu Fengying.


“A-apa yang barusan kau katakan? Jadi, semua ini adalah rencananya. Hah...” Tuan Liu terduduk lemas. Kakinya seolah menjadi lemas, tak sanggup memikul serangan tiba-tiba yang mampu menjatuhkannya itu.


Sementara itu, Liu Han Ji baru saja menerima surat Shuwan. Ia membuka amplop cokelat itu dengan sangat lembut, dan belum menyadari apa yang terjadi dengan keluarganya.


Tuan Muda Liu, Han Ji... Meski baru beberapa hari ini kau mempelajari Guzheng bersamaku, tapi kau telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Aku mengaguminya.


Han Ji tersenyum membaca pujian dari Shuwan. Kamu memang bisa selalu berkata manis, Shu’er. Ia kembali fokus membaca surat dari Shuwan.


Namun, apa yang ingin aku sampaikan dalam surat ini bukanlah mengenai materi pelajaran. Melainkan permintaan maaf yang cukup dalam.


Kemarin, merupakan hari terakhirku mengajar dan menemuimu. Maaf, karena tidak langsung memberitahukannya. Ada hal yang tidak bisa aku utarakan langsung padamu.


Sebenarnya... Aku bekerja sebagai kaki tangan Wu Fengying. Aku berusaha akrab denganmu supaya aku bisa mendapatkan informasi mengenai bukti persenkongkolah ayahmu. Malam itu, saat kau mengajakku minum bersama, aku memanfaatkanmu untuk mendapatkan informasi yang aku butuhkan.

__ADS_1


Aku benar-benar minta maaf karena melakukan hal ini. Jika kau ingin membenciku, maka bencilah... Aku tidak keberatan. Ini adalah hal yang wajar bagimu yang sudah aku sakiti.


Terakhir, saat kau sudah selesai membaca surat ini, itu artinya prajurit pemerintah sudah datang untuk menjemput ayahmu. Aku berharap, bahwa Fengying dapat mempertimbangkanmu dan juga adikmu agar terbebas dari hukuman ini. Karena aku tahu, kalian tidaklah bersalah.


Terima kasih karena sudah menyukaiku dengan tulus dalam pertemuan singkat ini. Maaf, dan sampai jumpa, Han Ji.


Tertanda, Shuwan (Shu’er)


Emosi Han Ji meledak-ledak. Ia membanting meja, dan meluluh lantahkan buku-buku yang ada di atas meja. “Kenapa Shu’er... Kenapa?!” Ia menangis sejadi-jadinya. Perasaannya bercampur aduk, sedih, kesal, bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Hingga, tiba-tiba terdengar suara pintu ruangannya diketuk, “Siapa?” teriak Han Ji dari dalam ruangan.


“Kami adalah prajurit yang dikirim pemerintah untuk menangkapmu dan juga seluruh keluargamu,” ucap seseorang dari balik pintu itu.


Dengan hati yang kacau, ia mencoba keluar meski langkahnya pun terasa berat. Tangannya gemetar membuka pintu itu, mencoba menerka seperti apa prajurit yang datang menjemputnya.


Ketika pintu telah terbuka, tatapan Han Ji sudah pasrah. Ia memandangi dua orang prajurit yang bersiap menjemputnya untuk diadili. Air matanya tidak terbendung dan mengalir begitu saja di pipinya.


Saat prajurit itu mencoba meraih tangan Han Ji, ia menghentikannya, “Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri,” ucap Han Ji dengan ketusnya.


Ia berjalan menyusuri lorong di kediamannya menuju halaman utama. Sesampainya di sana, ia mendapati keluarga serta para bawahannya telah ditawan di sana. Ia juga melihatnya, Fengying bersama para prajurit itu, dan tidak lupa juga bersama Shuwan.


Maaf, Han Ji. Aku juga terpaksa. Shuwan hanya membatin menyaksikan pemandangan yang biasanya hanya ia lihat dalam drama.


Tuan Liu terlihat semakin gelisah. Keluarga dan seluruh bawahannya sudah tertangkap. “To-tolong.. Ampunilah kedua putraku! Sasaranmu adalah aku, Tuan Muda Wu. Biar aku saja yang menerima hukuman ini. Tapi tolong, jangan biarkan putraku menderita juga,” tukas Tuan Liu.


"A-ayah..." Han Ji terkejut karena ayahnya memohon pada Wu Fengying agar membebaskan dirinya dan juga Yuwen. Selama ini dia pikir ayahnya sudah tidak menganggapnya dan membuangnya.


"Kalian harus tetap hidup. Han Ji, tolong jaga adikmu," tutur Liu Changhai pada putranya. Sebuah senyuman tulus terlukis indah di wajah Liu Changhai, bersamaan dengan selesainya permintaan terakhirnya. Semua itu adalah, pemandangan yang sudah lama tak dilihat oleh Han Ji.


“Semua keputusan ada di tangan pengadilan. Aku hanya memberikan bukti persekongkolanmu pada aparat berwenang,” ucap Fengying dengan ekspresi datar.


Tuan Liu hanya menghela napas. Dadanya terasa sesak, perasaannya jadi seperti diburu oleh rasa cemas, dan takut, karena baru saja kehilangan segala yang ia punya.


Salah seorang prajurit mengeluarkan kertas gulungan kerajaan. Rupanya itu adalah dekrit yang dikeluarkan oleh pengadilan.


Atas dasar bukti persekongkolan Liu Changhai dengan musuh pemerintah Kota Luoyang, dan juga pencemaran nama baik Keluarga Wu, maka dengan ini seluruh harta miliknya akan disita oleh pemerintah. Yang bersangkutan, Liu Changhai beserta keluarga dan bawahan akan mendapat hukuman mati.


Karena berbagai pertimbangan, dan juga pengajuan pengampunan, maka, kedua putra Liu Changhai, Liu Han Ji dan Liu Yuwen akan dibebaskan dari hukuman mati. Mereka berdua akan mengabdikan dirinya di kuil dalam pengawasan pemerintah seumur hidupnya.

__ADS_1


Tertanda, hakim pengadilan Kota Luoyang.


Liu Changhai sudah pasrah. Ia kemudian memandangi Shuwan yang merupakan guru pilihan untuk mengajari putranya. “Kau adalah bidak yang sangat hebat, Nona! Aku yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai pertarungan pun sampai tidak menyadari bahwa kau adalah mata-mata,” kata Liu Changhai yang ia tujukan pada Shuwan.


“Terima kasih atas pujiannya, Tuan. Aku hanya melakukan tugasku. Selalu ada harga yang dibayar untuk itu,” ujar Shuwan.


Setelah dekrit selesai dibacakan, orang-orang yang tertangkap dibawa menuju pengadilan. Sedangkan untuk Han Ji dan adiknya, langsung dibawa ke kuil.


Saat melewati Shuwan, Han Ji memandanginya sekali lagi. Tidak lama, sampai prajurit itu menariknya kembali agar berjalan cepat. Tampak kesedihan kini mendera hatinya.


Shuwan hanya memandangi Han Ji yang ditarik paksa oleh para prajurit itu meninggalkan kediaman Liu yang begitu nyaman ini. Setelah Han Ji tak terlihat lagi, Shuwan mengalihkan perhatiannya pada Fengying.


“Terima kasih, karena sudah mengajukan pengampunan untuk Han Ji dan adiknya, Feng,” sepatah kata yang terlontar dari mulut Shuwan. Sikapnya tampak menjadi lebih dingin.


“Tidak masalah. Aku menyukaimu. Jadi, aku akan melakukan apapun yang bisa membuatmu senang, meski itu hanya sedikit,” kata Fengying.


“Heh... Itu hanya berlangsung saat ini, Feng. Aku hanya akan menjadi angin lalu dan kenangan dari deretan wanita yang kau rayu seperti ini,” Shuwan menimpali.


“Aku tidak pernah bercanda mengenai perasaanku. Jika kau berubah pikiran, kau bisa tetap tinggal di sini dan menjadi istriku,” ucap Fengying dengan tenangnya.


Zhang yang ada di sana tampak semakin terbakar rasa cemburu dengan perkataan Feng. Dasar bocah kurang ajar! Jika bukan karena kami bekerja padamu, aku pasti sudah menghajarmu habis-habsian.


“Simpan saja semua itu untuk wanita yang akan kau cintai selanjutnya. Aku masih harus menyelesaikan perjalananku,” celetuk Shuwan sembari berjalan meninggalkan Kediaman Liu.


Feng hanya tersenyum. Akhirnya mereka kembali ke kediaman Feng. Mengemasi kembali barang-barang, lalu menyelesaikan kesepakatan di antara mereka. Sebelum pergi pun, Feng memberikan mereka dua ekor kuda agar bisa berjalan lebih cepat.


Hari berangsur-angsur menjadi sore, Shuwan dan yang lainnya berpamitan pada Feng dan pergi meninggalkan Kota Luoyang.


Feng hanya memandangi wanita yang ia sukai pergi meninggalkannya. Entah, apakah ada waktu lagi untuk bisa berjumpa dengannya.


Shuwan, kamu adalah cinta pertamaku. Kamu telah menawan hatiku sejak pandangan pertama di pasar waktu itu. Selama ini, aku tidak pernah jatuh cinta pada wanita manapun. Sekalipun kita tidak bisa bersama, tapi kamu akan selalu menjadi kenangan indah yang menghiasi perjalan episode kehidupanku.


Seminggu kemudian, Liu Changhai telah dieksekusi mati oleh pengadilan. Sementara Han Ji dan adiknya menjalani aktivitas barunya sebagai seorang biarawan. Meskipun menyedihkan, tapi mereka harus tetap hidup dan menjalani kehidupan barunya.


Dalam biliknya, Han Ji masih bermain dengan kuas dan cat-cat lukisnya. Menggambar detail sebuah figur yang ada dalam ingatannya.


Shu’er, aku tidak membencimu atas perlakuanmu padaku. Aku memaklumi semua yang telah kau lakukan. Meskipun pertemuan kita sangat singkat, tapi kau bertanggung jawab atas perasaan yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Jadi, biarkan aku menyimpanmu dalam hatiku, dan menganggapmu sebagai bagian dari mimpi yang paling indah. Batin Han Ji setelah memandangi lukisan seorang wanita yang baru saja ia selesaikan. Ya, figur dalam lukisan itu adalah Shuwan.


Cinta memang sesuatu hal yang rumit untuk dipahami oleh akal pikiran. Ia hadir begitu saja, pada waktu, dan cara yang tidak disangka-sangka. Ia telah membuat banyak hati tertawan dalam pesonanya, berusaha memperjuangkan, hingga memilikinya. Meski tak jarang pula, ia mampu membutakan mata perasanya.

__ADS_1


__ADS_2