
Sudah dua pekan semenjak kepergian Shu’er, Liem dengan setia bertandang ke pusaranya setiap hari. Pusara itu berada di taman samping kediamannya, sehingga ia bisa dengan leluasa pergi ke sana setiap waktu.
“Shu’er, aku datang. Aku akan menanam benih-benih bunga Peony di dekatmu. Agar, kau juga bisa melihatnya setiap saat ketika mekar nanti,” kata Liem seraya mengepal erat kantung benih Peony yang diberikan oleh biarawan kuil suci. “Selain itu, aku akan memperindah tempat ini. Menanaminya dengan banyak tanaman supaya kau nyaman. Apakah.. Kau suka?”
Kondisi Liem yang demikian menimbulkan desas desus di kediaman Zhang, bahwa anak putra sulung keluarga ini telah menjadi gila akibat ditinggal mati istrinya. Selain itu, kondisi Liem juga semakin memburuk. Ia tidak mau makan, dan terus-terusan minum arak.
Ayahnya menjadi tidak tahan, dan meminta bantuan keluarga Lin. Hingga hari itu juga ayah Lin Shuwan datang menemui Liem, dan mengajaknya bicara dari hati ke hati.
Ayah Shu’er memasuki kamar Liem. Begitu ia masuk, ia menutup hidungnya karena mencium bau arak yang sangat kuat. Ia menatap iba Liem yang tengah mabuk dan masih terus meneguk arak dari gucinya.
Ia pun mendekati Liem, dan duduk di sebelahnya. Dengan lembut ia mengajak Liem berbicara, “Aku tahu kau sangat sedih karena kehilangan Shu’er. Tapi, bukankah jika kau terus seperti ini akan membuatnya sedih? Tidakkah kau mengingatnya, apa yang ia katakan terakhir kali? Yah... Dia ingin kau hidup bahagia,” ucap Lin Yelu, ayah Shu’er.
“Tidakkah kau juga membeciku? Aku sudah membunuh putrimu. Dan, kau masih perhatian hingga mengunjungiku?” kata Liem dengan mata sembab, dan pandangan lurus yang kosong.
“Ini bukan salahmu. Aku yang memaksanya untuk menikahimu. Akulah yang egois, dan seharusnya akulah yang disalahkan.” Tampak rasa bersalah dan kesedihan di wajah ayah Shu’er. “Tapi terus seperti ini juga tidak akan merubah apa pun. Shu’er kita telah pergi, dan kita masih ada di dunia ini. Dia pasti tidak ingin melihatmu, ataupun keluarga Lin terus bersedih karena kehilangannya. Sejak kecil, ia selalu seperti itu. Berusaha membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa aman dan bahagia.”
Shuwan yang juga ada di sana pun terenyuh dengan perkataan ayah Shu’er. Ia juga sadar, bahwa ayah Shu’er juga merupakan ayah, sekaligus moyang keluarganya.
“Bukankah masih ada hal yang harus kau selesaikan, Liem?”
Mendengar ucapan ayah Shu’er, Liem pun tersadarkan. “Benar. Masih ada hal yang harus aku selesaikan. Aku harus bertemu dengannya lagi di kehidupan selanjutnya.”
Mulai dari saat itulah, Liem pun meneruskan apa yang harus ia selesaikan. Ia menanam benih Peony itu di sekitar pusara istrinya. Membangun sebuah tempat peristirahan yang penuh dengan beraneka macam bunga, dan juga kolam Koi.
Shuwan hanya memperhatikan bagaimana pria itu bekerja keras, dengan peluh yang membasahi bajunya.
Taman itu terselesaikan dengan cepat, karena kegigihannya dalam berusaha. Ia kembali mengunjungi pusara Shu’er. “Shu’er, aku telah menyelesaikan tempat ini. Saat bunga dan tanamannya tumbuh, tempat ini pasti akan menjadi sangat indah. Karena itu, aku menamainya “Taman Anming” agar ku selalu merasa damai di sini.” Ucapnya seraya tersenyum pada nisan Shu’er.
“Aku juga sudah mempersiapkan tempatku. Lihat... Aku membangunnya tepat di sampingmu. Kita akan bersama-sama lagi,” kata Liem seraya menunjukkan tempat kosong di samping pusara Shu’er. Senyumnya pun mengembang di wajah setelah mengatakan ‘hal’ yang dianggapnya menyenangkan.
***
Liem bertandang ke kuil suci, menemui biarawan untuk menuntaskan permasalahan yang dia hadapi.
“Aku turut berduka atas kepergian istrimu,” ucap biarawan itu.
__ADS_1
Liem mengangguk sebagai isyarat menerima ucapan belasungkawa ini. Ia pun langsung melanjutkan pembahasan. “Jadi, bagaiman caranya pergi ke masa lalu seperti yang kau katakan waktu itu?”
Biarawan itu bangkit saat Liem selesai bertanya. Ia mengambil sebuah kotak yang berada di dekat patung dewa, lalu mengambil isinya. “Kedua benda ini bisa membawa seseorang pergi ke masa lalu,” ucapnya seraya menyerahkan sebuah buku, dan juga liontin giok berbentuk angsa.
Liem lalu mengambil kedua benda tersebut. Wajahnya tampak bingung. “Bagaimana bisa kedua benda ini dapat mengantarkan perjalanan ke masa lalu?” tanya Liem penasaran.
“Kedua benda itu bukanlah benda biasa. Buku itu, terbuat dari serat sutra yang berasal dari nirwana. Sedangkan liontin giok itu, terbuat dari inti bumi yang telah membeku selama ratusan tahun dan disucikan dengan air mata dewa. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan magis untuk merubah takdir.”
“Merubah takdir? Itu artinya, apakah aku bisa langsung menghapuskan kutukan itu?”
“Tidak semudah itu. Kedua benda itu adalah perantara yang mampu membuka gerbang dimensi ruang dan waktu. Untuk membuatnya berfungsi, kau harus menulis sendiri cerita mengenai misi penyelamatan ke dalam buku itu. Dengan begitu, liontin giok itu akan beresonansi dan menciptakan pintu untuk masuk ke dalam cerita itu. Setiap cerita mewakili satu kuntum bunga, dan jika berhasil menyelesaikan misinya, maka bunga itu pun akan mekar.”
“Kalau begitu, bagaimana aku bisa membuat 1000 cerita jika bukunya saja hanya ada satu?” Liem kembali bingung dibuatnya.
“Buku itu berjumlah 1000 lembar kertas. Kau cukup menulis satu cerita tiap lembarnya, dengan tokoh utamanya adalah kau dan juga istrimu. Kemudian tempelkan kertas yang sudah kau tulis itu ke dalam buku biasa. Maka secara otomatis buku biasa itu akan menjadi buku ajaib yang dapat terhubung dengan liontin giok.”
Liem menyandarkan tubuhnya pada dinding kuil. Ia menghela napas dalam-dalam, bersiap menumpahkan beban yang ia pikirkan. “Tapi... Aku tidak yakin bisa membuat 1000 cerita di sisa hidupku ini,” kata Liem dengan wajah yang nampak lesu.
Biarawan itu tersenyum, lalu berkata, “Berusahalah semampumu. Hanya dirimu sendiri yang akan mengetahui batasannya.”
“Tentu saja kau harus melanjutkannya di kehdiupanmu selanjutnya.”
“I-itu artinya, aku bisa bertemu dengannya lagi?” ucap Liem kegirangan.
“Bukankah itu yang kau mau?”
Liem menatap langit-langit kuil suci, dan menanggapi pertanyaan biarawan itu. “Kau benar. Tapi apa hal semacam itu bisa terjadi? Aku ini hanyalah manusia berdosa, yang bahkan telah membunuh istrinya sendiri. Bagaimana mungkin langit membiarkanku begitu saja?”
“Justru karena alasan itulah yang membuat langit ingin memberimu kesempatan untuk menebus kesalahanmu,” kata biarawan dengan bijaknya.
Liem menunjukkan eskpresi bingung. “Bagaimana kau bisa mengatakan hal semacam ini? Dan lagi bagaimana kau mendapatkan buku ini? Siapa kau sebenarnya?” celetuk Liem.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya melaksanakan tugasku saja. Mengenai apa yang terjadi, semua sudah ditentukan dalam skenario takdir.”
“Tapi...”
__ADS_1
“Anak muda... Ketimbang kau hanya membuang waktu untuk menanyaiku, alangkah baiknya kau segera menulis cerita dalam buku itu. Bukankah kau khawatir tidak dapat menyelesaikannya?”
Liem hanya terdiam, dan menimbang perkataan biarawan itu. “Kau benar. Aku harus segera membuatnya.” Liem bangkit dari tempat duduknya, dan menggenggam erat kedua benda ajaib itu. “Ah... Satu hal lagi,” Liem tiba-tiba mengingat sesuatu. “Apakah aku harus turun tangan sendiri menyelesaikan misi ini?”
“Hanya reinkarnasi istrimu, yang berasal dari keturunan keluarga Lin lah yang bisa menyelesaikannya. Maka, begitu kau selesai menulis cerita, kau harus menjelaskannya pada mereka mengenai ini.”
Liem tertegun mendengar jawaban sang biarawan, “I-itu artinya... Butuh waktu sangat lama untuk bisa terbebas dari kutukan ini?”
“Hanya orang itu yang tahu seberapa banyak misi yang dapat di selesaikannya. Bisa ratusan, atau bahkan hingga ribuan tahun lamanya, tergantung dari tekad dan juga takdirnya.”
Shuwan sedari tadi hanya mendengarkan kedua orang itu berbicara. Ia jadi mengetahui asal usul misi aneh yang harus ia jalankan hingga saat ini.
“Kalau begitu terima kasih atas segalanya. Aku tidak memiliki apa pun selain ini,” Liem menyerahkan sebuah pedang hitam yang mirip dengan yang dimiliki Shuwan saat ini.
Pedang itu... Apakah pedang yang sama dengan milikku? Kenapa aku tidak pernah melihatnya saat di kediaman Zhang? Batin Shuwan bingung.
Biarawan itu menolaknya, “Tidak perlu. Ini adalah misi terakhirku. Sebaiknya, berikan saja barang berharga itu bersamaan dengan liontin giok angsa pada keluarga Lin. Supaya orang yang menjalankan misi itu kelak memiliki senjata untuk melindungi dirinya.”
Rupanya benar. Itu adalah pedang yang sama dengan milikku. Batin Shuwan.
Setelah menyelesaikan pembicaraan itu, tiba-tiba saja tubuh sang biarawan bercahaya. Liem yang ada di sana menjadi kaget bukan kepalang.
“Baiklah, kini tiba saatnya berpisah. Aku telah menuntaskan tugasku. Sekarang giliranmu berjuang, anak muda. Semoga apa yang engkau doakan bisa terwujud di kemudian hari," ucap sang biarawan.
Biarawan itu pun menghilang dalam lesatan cahaya yang membumbung ke langit. Liem masih tidak mengerti dengan hal ini. Tapi ia membiarkannya begitu saja, dan tetap fokus pada apa yang dikatakan biarawan misterius itu.
***
Musim silih berganti, namun Liem masih pada rutinitas yang sama. Setiap waktu ia menulis untuk menyelesaikan targetnya. Tekadnya begitu kuat, tapi tidak dengan fisiknya.
Suatu ketika ia kolaps, di tengah kesibukannya menulis. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa ia menderita sirosis hati. Namun bukannya sedih, Liem justru tersenyum mendengarnya. Sang tabib kebingungan melihat tingkahnya. Tidak mengerti apa yang dipikirkan anak muda di hadapannya ini.
Setelah rehat beberapa waktu, Liem melanjutkan rutinitas menulisnya. Ia paham bahwa ia tidak akan bisa menyelesaikan 1000 skenario ini di masanya.
Ia pun akhirnya menulis sebuah wasiat yang ditujukan pada keluarga Zhang. Bahwa keturunan keluarga Zhang yang kelak akan terlahir setiap seratus tahun sekali harus melanjutkan tulisannya, dan menjaganya sampai bertemu dengan pelakon dari skenario ini.
__ADS_1