
Sesampainya di gua, Jiao meminta Yu Hao untuk mencari air, dan Zhang untuk mencari kayu bakar. Jiao segera mengeluarkan kain untuk menghentikan pendarahan Shuwan yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.
“Shuwan, kau harus bertahan,” ucap Jiao sambil menekan luka Shuwan dengan kain.
Tidak lama kemudian Yu Hao telah kembali membawa air dan berkata, “Bagaimana keadaan Shuwan?”
Jiao masih tertunduk fokus menekan luka Shuwan dengan wajah yang khawatir, hingga ia membuka mulutnya, “Saat ini ia sedang memasuki masa kritis karena kehilangan banyak darah. Kemungkinan ia akan demam karena nyeri dari luka yang ia derita. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengobatinya.”
Terdengar suara bising dari luar mulut gua. Kedengarannya seperti suara benda jatuh.
Rupanya itu adalah kayu yang dijatuhkan oleh Zhang karena terkejut dengan perkataan Jiao. Sejak tadi ia mendengarkan percakapan Jiao dengan Yu Hao dari luar mulut gua.
Zhang memasuki gua dengan memasang raut seakan tidak percaya dengan kondisi Shuwan. Ia mendekati Shuwan yang masih tidak berdaya, dan kemudian menekuk lututnya ke tanah di samping Shuwan. “Kau bilang ini demi kebaikan bersama, lalu kenapa kamu tidak kunjung sadar Shuwan?”
Zhang meraih wajah Shuwan dan memangku kepalanya. “Apa kamu mengingatnya, Shuwan? Saat kita baru saja bertemu kau mengatai aku bodoh. Tapi nyatanya, kau lebih bodoh dariku. Mengorbankan dirimu sendiri sampai seperti ini. Jadi.. Sadarlah sekarang, Shuwan... Sadarlah... Sadar agar aku tidak mengataimu sangat bodoh!”
Jiao dan Yu Hao hanya memandangi Zhang yang terus berbicara pada Shuwan yang sedang kritis.
Tiba-tiba saja tubuh Shuwan bereaksi. Napasnya seperti terengah-engah hanya saja ia masih belum membuka matanya.
Zhang yang memangkunya pun menjadi kaget kegirangan, “Jiao, apakah Shuwan mulai sadar?”
“I-ini, mungkin saja. Ia mulai bereaksi pada rasa sakit lukanya. Hanya saja kita masih belum tahu apakah ia akan sadar atau belum,” ucap Jiao yang segera menekan kembali luka Shuwan dengan kain.
Zhang terdiam sejenak. “Aku yakin ia akan segera sadar,” katanya sambil tersenyum pada Shuwan.
Jiao kemudian meminta Yu Hao untuk membuat api untuk menghangatkan tubuh mereka karena malam sudah tiba.
Setelah pendarahan Shuwan berhenti, Jiao meracik obat untuk dibubuhkan diluka Shuwan. “Emm... Apakah kalian bisa menunggu di luar sebentar? Aku mau mengobati luka Shuwan dan mengganti pakaiannya karena penuh darah,” ucap Jiao setelah menyelesaikan obatnya.
“Baiklah.” Zhang menyetujuinya dengan cepat. Bersama Yu Hao ia keluar dari dalam gua sampai Jiao selesai mengobati dan mengganti baju Shuwan.
Di luar gua, Zhang hanya terdiam mematung dengan pandangan yang menatap ke langit. Yu Hao mendekatinya dan mulai mengajaknya berbicara. “Jadi, apakah sebenarnya Shuwan adalah kekasihmu?”
__ADS_1
“B-bagaimana mungkin orang bodoh itu jadi kekasihku?” Zhang menjawabnya dengan terbata.
Yu Hao kembali melanjutkan perbincangan, “Tapi semua itu terlihat jelas di matamu. Kau mencintainya bukan? Kau hanya merasa malu untuk mengakui dan mengungkapkannya.”
“Aku hanya tidak bisa melihatnya merasakan sakit. Ketika ia sakit, aku seperti merasakan sakit yang sama. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Meskipun baru bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu, tapi entah kenapa aku merasa begitu hangat ada di dekatnya. Aku juga ingin selalu menjaganya agar tidak terluka seperti ini,” ucap Zhang menanggapi pertanyaan Yu Hao.
“Aku rasa di kehidupan sebelumnya kalian memang sudah saling berhubungan. Jadi saranku lebih baik kau mengungkapkan perasaanmu pada Shuwan, sebelum kau terlambat dan menyesalinya kelak,” kata Yu Hao.
Zhang hanya terdiam memandang Yu Hao setelah ia mengatakan itu pada dirinya. Dari dalam gua Jiao memanggil mereka berdua.
Ketika masuk, Yu Hao berkata, “Apa yang terjadi pada Shuwan, Jiao? Kenapa sedari tadi kau terus menggesekkan tanganmu ke tangannya Shuwan?”
“Tubuh Shuwan terasa dingin. Rasanya seperti memegang bongkahan es. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Apakah dia sebelumnya memiliki penyakit langka? Atau apa aku juga tidak tahu,” kata Jiao dengan panik.
Penyakit langka? Sedingin es? Batin Yu Hao dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, hingga mulutnya pun berceletuk, “Tapi aku melihatnya baik-baik saja, seperti bukan orang yang sakit.”
“Entahlah.. Aku juga tidak tahu. Ilmu medisku belum setinggi itu untuk memahami penyakit sulit seperti ini.”
Zhang yang sedari tadi hanya diam perlahan melangkahkan kakinya menuju Shuwan. “Serahkan Shuwan padaku. Dia sudah diberikan obat bukan?”
“Kalian istirahat saja, pasti lelah seharian ini bukan? Soal Shuwan, aku yang akan menjaganya.”
Zhang mengeluarkan lembaran kain dan terus melapisinya, ia membalut tubuh Shuwan dengan kain-kain itu agar tubuh Shuwan bisa hangat kembali.
“Tapi..” Ucapan Yu Hao terputus setelah Jiao menarik tangannya dan memberikan kode dengan menggelengkan kepala.
“Sebaiknya kita turuti saja keinginan Zhang. Lagipula, Zhang sudah bersama dengan Shuwan lebih lama dari kita. Selain itu, Shuwan juga sudah diobati. Seharusnya ia akan baik-baik saja setelah ini jika obatnya langsung bekerja,” kata Jiao.
Yu Hao hanya mengangguk. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sisi lain dalam gua, dan berjaga jika terjadi sesuatu pada Shuwan. Sedangkan Zhang, ia bersandar pada dinding gua dan memeluk tubuh Shuwan erat-erat.
“Kau akan baik-baik saja, Shuwan. Aku akan menjagamu," ucap Zhang penuh perhatian.
Tidak terasa malam pun sudah mencapai puncaknya. Jiao dan Yu Hao sudah terlelap setelah Zhang meminta mereka untuk istirahat. Sementara Zhang baru saja memejamkan matanya.
__ADS_1
Shuwan yang berada dalam pelukan Zhang tiba-tiba saja membuka matanya. Ia menyadari Zhang yang sedang memeluk dirinya dan tertidur. Zhang...? Perasaan hangat macam apa ini? Pasti karena ini musim semi ‘kan? Shuwan membatin.
Karena rasa dahaga yang tidak tertahankan, Shuwan berbicara dengan suara lirih pada Zhang, “Haus...”
Zhang yang baru saja terlelap pun menyadari bahwa Shuwan terbangun. “Ada apa, Shuwan? Apakah ada yang terasa sakit?“
Shuwan hanya mengulangi perkataannya dengan suara sayu, “Haus...”
“Kau haus? Sebentar... Kalau begitu ini minumnya.” Dengan sigap Zhang mengambil wadah berisi air yang ada didekatnya. Ia memberikannya pada Shuwan. Namun, karena kondisi Shuwan yang lemah ia tidak bisa meminumnya sendiri dan malah menumpahkannya.
Akhirnya Zhang berinisiatif memberikan minum Shuwan dengan mulutnya. “Maafkan aku, Shuwan. Aku tidak punya cara lain,” ucapnya setelah selesai memberikan minum pada Shuwan.
Pipinya merona, karena ini kali pertamanya berciuman dengan seorang wanita, meskipun ini juga adalah keadaan genting. Mereka hanya saling menatap, hingga kemudian Shuwan kembali menundukkan pandangannya.
Matilah aku.. Aku rasa Shuwan marah padaku. Batin Zhang yang merasa sedikit bersalah karena tindakan yang baru saja ia lakukan.
Namun siapa sangka, Shuwan ternyata membalasnya dengan mengucapkan,“Terima kasih...” Perasaan ini semakin aneh. Apakah boleh seperti ini? Shuwan membatin dalam rasa sakit dan mencoba mengabaikan perasaan yang seperti menggelitiknya itu.
“Tidurlah kembali Shuwan. Hari masih tengah malam. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu,” celetuk Zhang.
Akhirnya Shuwan pun kembali terlelap karena fisiknya memang sedang lemah dan tidak berdaya.
Malam berlalu dengan begitu tenang. Hingga kicauan burung terus bersahutan dari dalam hutan, dan tidak terasa pagi sudah menyingsing. Jiao, Yu Hao, dan juga Zhang sudah bangun untuk bersiap melanjutkan kembali perjalanan mereka. “Setelah keluar dari sini, kita akan sampai disebuah desa kecil. Kita akan membeli beberapa bahan makanan dan juga obat untuk Shuwan,” terang Yu Hao.
“Baik,” ucap Zhang sambil membopong tubuh Shuwan untuk menaiki kuda.
Shuwan yang sadar kemudian membuka mata dan mengatakannya pada Zhang. “Tidak perlu sampai seperti ini. Aku masih bisa berjalan jika hanya menuju kuda.”
Zhang mengabaikannya, “Tidak perlu sok kuat di depanku. Kau sudah terluka sampai seperti ini kenapa tidak mau menurut sedikit saja sih?” Ia tetap menggendong Shuwan dan menaiki kuda.
Shuwan pun membatin. Aku tidak boleh terus seperti ini. Jika tidak, misi ini akan gagal.
“Kau jangan terlalu banyak berpikir, ada aku yang akan menjagamu,” celetuk Zhang yang membuat Shuwan kaget.
__ADS_1
Apakah dia benar-benar bisa membaca isi hatiku? Kalau seperti ini.. Bisa gawat jadinya. Shuwan kembali membatin karena kaget dengan ucapan Zhang.
Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan dengan memacu kuda untuk berjalan secepat mungkin meninggalkan tempat mereka beristirahat. Shuwan masih bersama Zhang, sedangkan Jiao bersama Yu Hao.