
Malam telah tiba, Zhang masih terlihat duduk di meja belajar kamarnya di istana. Ia tengah menulis sebuah surat yang akan dia kirimkan ke Shuwan.
Sejenak ia menghentikan aktivitasnya. Ia sedang memikirkan sesuatu.
“Em... Yu Hao, menurutmu bagaimana kita akan mengirim surat ini? Apa kita sekalian kembali saja menjenguk mereka? Jarak istana ke rumah Tuan Shu hanya 3 jam bukan?”
Yu Hao langsung bangun dari pembaringannya Ia menatap Zhang, dan berkata, “Kita minta saja seseorang untuk mengantarkannya. Lagi pula, ini belum genap seminggu kau meminum obat. Khawatirnya kondisimu akan kembali memburuk.”
“Tapi, aku ingin bertemu dengannya.”
Yu Hao membuang napasnya. Ia hanya memandangi Zhang yang tengah dilanda kerinduan.
“Bukankah kita akan bertemu di festival? Aku rasa itu adalah saat yang terbaik untuk kau bertemu dengan Shuwan. Sekalian saja kau tanyakan kesediaannya untuk menikah.”
“Hm... Aku rasa kau benar. Mungkin itu akan lebih baik. Kalau begitu, terima kasih untuk sarannya.”
“Siap, Kapten!”
“Eh... Tunggu! Kira-kira siapa yang akan kita mintai bantuan untuk mengirimkan surat ini?” tanya Zhang lagi.
“Menurutku, kita bisa meminta bantuan putra mahkota besok. Dia pasti punya banyak orang yang bisa dipercaya untuk mengantarkan surat.”
Zhang mengangguk pelan. Tampaknya dia mengerti ucapan Yu Hao.
“Kau benar. Kita akan minta bantuan pada putra mahkota besok.”
Pandangan Zhang kini teralihkan kembali ke arah kertas dan tintanya. Senyum simpul di wajah Zhang. Ia lalu kembali menggoreskan kuasnya di atas kertas untuk menyelesaikan suratnya.
Hingga akhirnya malam itu pun berlalu begitu saja.
Ketika matahari mulai meninggi, Zhang dan Yu Hao sudah siap untuk menjalankan tugasnya lagi. Membantu istana dalam mempersiapkan perayaan tahunannya.
“Zhang bagaimana dengan baju ini?”
“Kau terlihat hebat,” balas Zhang.
Yu Hao mendecak, “Bagaimana bisa kau mengatakan itu tanpa melihatku?”
“Yah, melihat tingkah dan juga cara berdandanmu setiap hari, tentu saja aku paham bagaimana penampilanmu.”
“Benarkah?”
“Tentu.”
“Tidak kusangka ternyata diam-diam kau mengamati orang lain.”
Zhang merespon dengan senyum. Kedua tangannya sedang sibuk menggulung surat yang akan dikirimkannya kepada Shuwan.
“Bagaimana? Apakah kau sudah siap?” tanya Zhang kepada Yu Hao.
“Ya, aku sudah siap. Ayo, kita segera menghadap putra mahkota,” ajak Yu Hao.
“Ayo!”
Keduanya pun pergi berjalan berdampingan, menyusuri koridor-koridor istana untuk menuju kediaman putra mahkota.
Ketika baru setengah perjalanan, keduanya pun berpapasan dengan putra mahkota.
“Salam, Putra Mahkota!” ucap Zhang dan Yu Hao bersamaan.
“Hah... Sudah kubilang jangan terlalu sungkan denganku. Hei, kalian apa tidak lelah menunduk seperti itu?”
“Ini adalah bentuk penghormatan kami untukmu, Yang Mulia. Jadi, kami harap kau tidak akan menolaknya. Bagaimana kalau ini sampai terdengar ke telinga Yang Mulia Raja? Aku cuma takut kalau aku sendiri dan Yu Hao akan dihukum karena lancang padamu Yang Mulia,” kata Zhang dengan sopan.
“Alasanmu masuk akal juga. Hm, tapi jika kita bertemu secara pribadi di kediamanku, maka jangan lakukan ini ya? Aku sedikit enggan sebenarnya. Aku yakin, sebenarnya kalian lebih tua dibanding aku bukan?”
Putra mahkota ternyata memandang sebuah penghormatan berdasarkan usia. “Itu benar Yang Mulia. Tapi kita berada pada posisi yang berbeda. Kau adalah salah satu wajah masa depan negeri ini, sedangkan kami hanyalah rakyat biasa. Tentu sudah menjadi kewajiban kami untuk selalu menghormatimu, Yang Mulia.”
“Benar, Yang Mulia. Jadi mohon untuk tidak merendahkan dirimu di hadapan orang biasa seperti kami Yang Mulia,” imbuh Zhang.
__ADS_1
Putra mahkota pun tertawa bebas. Sudah lama ia tidak tertawa seperti itu.
Dipandanginya Zhang dan Yu Hao yang masih berdiri di hadapannya. “Yah... Tenang saja. Sebenarnya aku hanya ingin punya teman santai untuk diajak berbincang ataupun bermain Weiqi. Kau tahu sistem pertemanan di dalam istana bukan? Setiap hari hanya mengurusi politik dan masalah negara. Jujur aku juga ingin tumbuh seperti pemuda yang bebas seperti umumnya.”
Zhang tersenyum. “Jika kau butuh teman, kau bisa memanggilku dan Yu Hao kapan saja, Yang Mulia. Kami pasti akan segera datang.”
“Baiklah. Kalau begitu bersiap untuk kupanggil bermain. Hehe.”
Zhang dan Yu Hao tersenyum menyelarasai putra mahkota yang merasa senang.
Setelah tenang, Zhang memberanikan diri untuk mengutarakan maksudnya.
“Putra mahkota, maaf jika pertanyaanku lancang. Tapi, aku bingung harus bagaimana.”
“Katakan saja, Zhang. Jangan sungkan jika kau membutuhkan sesuatu,” kata Zhi Qiang.
Zhang lalu melanjutkan perkataannya. “Begini putra mahkota, apakah kau punya seseorang yang bisa dipercaya untuk mengantarkan surat ke luar istana?”
“Kau ingin mengantarkan surat? Tentu aku punya banyak orang yang bisa dipercaya.”
“Syukurlah. Kalau begitu apakah aku bisa meminta bantuannya untuk mengirimkan surat ini?” tanya Zhang seraya menunjukkan gulungan suratnya pada Zhi Qiang
“Memangnya kau ingin mengirimkannya pada siapa, Zhang?” tanya Zhi Qiang.
“Aku ingin mengantarkannya ke kediaman Luo Shu,” imbuh Zhang.
“Kediaman Luo Shu?” Zhi Qiang kaget karena tempat yang dituju oleh Zhang adalah tempat wanita yang ditaksirnya berada. “Kau... Ingin mengabari Luo Shu?” tanya Zhi Qiang lagi.
“Sebenarnya bukan. Aku hanya ada perlu dengan seseorang di sana. Aku ingin menemuinya langsung, tapi aku takut menghambat pekerjaan di sini, jadi lebih baik aku mengiriminya surat saja.”
“Begitu rupanya. Sebenarnya, jika kau ingin langsung ke sana juga tidak apa. Libur sehari tidak masalah.”
“Akan lebih baik jika pekerjaan ini bisa cepat terselesaikan, sehingga nanti bisa bertemu lebih lama dengannya.”
“Kau benar!” Aku tidak sabar menantikan orang itu datang ke istana. Batin Zhi Qiang kegirangan mengingat kembali bahwa dirinya akan segera bertemu kembali dengan Shuwan.
“Baiklah.” Xin Ru pun segera mengambil surat itu dari Zhang. Ia langsung pergi secepat kilat untuk mengantarkan surat itu.
Sedangkan Zhang, Yu Hao, dan Zhi Qiang melanjutkan obrolannya mengenai perayaan yang sebentar lagi tiba.
***
Bagaimana aku harus menyelamatkan putra mahkota? Tahu wajahnya saja tidak. Apa aku tanya Liem saja yang sekarang ada di istana? Mungkin dia bisa memberitahuku. Tapi... Jika aku memberitahu mereka tentang misi ini, mereka pasti akan curiga. Bagaimana bisa seseorang yang hanya diam di rumah bisa mengetahui hal yang bahkan belum terjadi? Mereka pasti akan menganggapku aneh.
“Argh! Aku rasa aku mulai gila!” teriak Shuwan yang sedari tadi duduk bersandar di bawah pohon.
Ia merasa sedikit letih selesai latihan, sehingga memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang rindang tepat di halaman Luo Shu.
Shuwan merasa pikirannya sesak. Begitu juga batinnya. Yang dia inginkan, kini hanyalah kembali ke rumah. Bertemu kembali dengan kakek dan juga kakaknya.
Aku harus mulai memikirkan rencanaku sebelum berangkat ke istana. Dengan begitu, aku bisa mengatantisipasi kemungkinan terburuknya. Tapi, siapa yang sebenarnya ingin menggulingkan pemerintahan saat ini? Bukankah rakyat terlihat makmur? Dan lagi, pembangunan juga kelihatan merata. Hm... Aku harus mempelajarinya secara mendalam.
Hari sudah hampir siang, Jiao tadi memanggil Shuwan untuk sarapan. Tapi Shuwan menolaknya. Kini tiba saat makan siang. Jiao kembali memanggilnya, tapi jawabannya tetap sama.
Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Shuwan? Kenapa dia tampak pusing dan banyak pikiran? Nafsu makannya juga sampai hilang. Apa kutanyakan saja? Tapi, bagaimana kalau dia marah?
Batin Jiao merasa gundah karena Shuwan tiba-tiba saja mogok makan, dan hanya duduk di bawah pohon sedari pagi. Jiao hanya memandanginya di depan pintu rumah Luo Shu. Ia ingin berbicara dengan Shuwan, tapi takut malah membuatnya buyar.
Tanpa disangka, Luo Shu mendekati Jiao dari arah dalam.
“Apa yang sedang kau perhatikan?”
Jiao terkesiap mendengar Luo Shu yang tiba-tiba berbicara dengannya dari arah belakang.
“A... Itu, Shifu,” kata Jiao seraya menunjuk ke arah Shuwan yang sedang duduk di bawah pohon dengan pandangan yang tampak mengawang.
“Dia masih tidak mau makan?” tanya Luo Shu.
Jiao menggeleng menjawab pertanyaan gurunya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu lagi bagaimana membujuknya,” imbuh Jiao.
Luo Shu kemudian berpikir sejenak. Ia lalu mengutarakan idenya. “Kenapa kau tidak bawakan makanan kesukaannya saja? Mungkin dia memang sedang banyak pikiran, jadi tidak nafsu makan. Dengan membawakan makanan kesukaannya, setidaknya dia bisa memberi sedikit energi bagi tubuhnya.”
Netra Jiao membulat sempurna. Ia lantas tersenyum senang. “Itu ide yang bagus, Shifu!” Tetapi Jiao menjadi diam lagi setelahnya. “Tapi, Shuwan hanya menyukai manisan kesemek dan juga kue bulan. Bagaimana aku akan mendapatkannya?
“Kau masuklah ke ruang bacaku. Di sana ada satu stoples penuh manisan kesemek milikku. Ambil dan berikan saja pada Shuwan.”
“Kau serius, Shifu? Bukannya kau juga menyukai manisan kesemek?”
“Aku memang menyukainya. Tapi, tidak ada salahnya membagi pada bocah yang malang itu,” kata Luo Shu seraya memajukan dagunya menunjuk Shuwan.
“Kalau begitu akan kuambilkan untuknya.” Sejenak Jiao diam kembali berpikir. “Tapi Shifu, apakah tidak apa membiarkannya hanya memakan manisan?” sambung Jiao.
“Tidak masalah. Itu jauh lebih baik daripada tidak makan apa pun. Setelah ia selesai dari pikiran rumitnya, aku rasa kau harus bersiap membantu dapur untuk menyiapkan makanan lebih.”
“Apakah itu untuk Shuwan?”
“Siapa lagi? Orang yang banyak berpikir biasanya akan cepat lapar. Terlebih jika orang itu sampai menunda makan selama seharian. Sudah pasti, ia akan banyak makan nanti.”
“Pfft... Ucapanmu ini ada-ada saja, Shifu!” Jiao terkekeh mendengar ucapan gurunya yang mengibaratkan Shuwan secara tersirat.
“Kalau begitu aku akan langsung mengambilnya, Shifu,” kata Jiao.
“Ya. Pergilah.”
Jiao pun pergi meninggalkan Luo Shu yang masih memperhatikan Shuwan di bawah pohon.
Ketika aku melihat bocah kurang ajar itu, aku jadi mengingat diriku di masa lalu. Bagaimana aku bertarung dengan pikiranku sendiri, sampai lupa untuk makan. Lalu, ibu datang dan memberiku manisan kesemek untuk mengisi perutku yang kosong. Ah... Itu adalah masa-masa yang indah. Semoga saja bocah itu bisa menyelesaikan pergulatannya segera.
Luo Shu lalu beralih dari posisinya menuju kursi yang ada di ruang tamu rumahnya. Kaki tuanya sudah mulai kelelahan jika lama-lama berdiri.
Tidak lama setelah Luo Shu duduk, Jiao muncul di hadapannya membawa nampan yang berisa stoples penuh manisan kesemek, dan juga segelas air minum.
Luo Shu hanya memperhatikannya dari tempat duduknya. Sementatara, Jiao mengantarkannya pada Shuwan.
Sesampainya di tempat Shuwan berada, Jiao pun memanggilnya. “Shuwan!”
Shuwan tersadar dari lamunannya. “Ah.... Ada apa, Jiao?”
“Aku membawakanmu manisan kesemek. Makanlah, setidaknya jika kau tidak nafsu memakan nasi, isilah perutmu. Aku takut kesehatanmu jadi buruk karena menunda makan.”
Shuwan tersenyum simpul. “Terima kasih,” balasnya.
“Kalau begitu aku langsung masuk ya? Aku tidak ingin mengganggumu. Semoga apa yang menyulitkanmu bisa segera selesai,” kata Jiao seraya tersenyum.
Shuwan mengangguk. Jiao pun berjalan menjauh meninggalkan Shuwan kembali.
Kini Shuwan tak sendiri lagi. Ia ditemani stoples penuh manisan kesemek, dan juga segelas minum yang berwarna bening.
Ia mulai membuka stoples itu untuk mengambil manisan. Setelah mendapatkannya, ia pun langsung menggitnya. “Um... Manisan kesemek memang yang terbaik,” puji Shuwan setelah memakan makanan kesukaannya.
“Shifu, rencanamu berhasil. Dia memakannya begitu aku pergi,” kata Jiao kegirangan setelah mengintip Shuwan dari balik jendela.
“Tentu saja. Rencanaku memang yang terbaik,” kata Luo Shu dengan percaya dirinya.
“Kalau begitu aku akan ke kamar untuk istirahat. Kau juga jangan lupa istirahat Shifu. Jangan sampai penyakitmu kambuh lagi,” ucap Jiao seraya menutupi mulutnya ketika membicarakan penyakit Luo Shu.
“Aku mengerti. Tubuh tuaku memang sudah butuh istirahat.”
Jiao lalu pergi meninggalkan Luo Shu dan masuk ke kamar. Pun berselang beberapa menit, Luo Shu juga kembali ke ruang bacanya di belakang.
Kini rumah menjadi sepi. Namun, tidak dengan pikiran Shuwan yang masih kusut memikirkan rencana untuk misinya.
Tidak terasa, Shuwan telah menghabiskan satu buah manisan kesemek yang tadi dimakannya. Setelahnya ia pun meraih gelas yang berisikan air minum untuknya.
Saat baru meneguk sekali, tiba-tiba saja sesuatu mengagetkannya.
“Permisi!”
__ADS_1