1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Kerusuhan di Kedai


__ADS_3

Semula kedai begitu tenang. Tampak Shuwan dan yang lainnya masih fokus pada makanannya masing-masing. Tidak lama, sesuatu yang buruk pun terjadi.


Brakk...


Seorang pria paruh baya terpelanting ke dalam kedai. Ia menubruk meja hingga terjatuh. Sontak para pengunjung yang ada di sana menjadi kaget dan bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Zhang berdiri dan memandangi peristiwa itu dengan sorot tajam. “Siapa yang berani membuat keributan di tempat umum ini?”  


Sekelompok orang berjumlah 10, dan berpakaian preman yang dipimpin pria bercodet di wajahnya pun masuk dengan sombongnya. 


Pria yang tadi terpelanting pun tampak ketakutan. Preman-preman itu pun semakin mendekatinya. Menunjukkan kesangaran, seolah seperti singa yang hendak memangsa buruannya.


“Ampun, Tuan. Tolong jangan bunuh aku,” pinta pria paruh baya itu dengan lirih.


Krakk...


Pimpinan bercodet itu menginjak lengan pria paruh baya itu hingga tulangnya patah. Ia tersenyum puas melihat mangsanya kesakitan.


“Ah!!!” pria tua itu mengerang kesakitan. Bahkan air matanya mengalir akibat rasa sakit yang dideritanya.


Para preman itu tak habis-habisnya menggertak pria tua yang sudah semakin lemah itu. “Sebaiknya cepat serahkan upeti yang harus kau serahkan pada kami. Kalau tidak, maka istri anak, beserta tempat ini akan hangus binasa!” gertak salah seorang.


“T-tapi, Tuan. Kedaiku tidaklah ramai. Pendapatan yang kami peroleh pun pas-pasan. Hanya cukup untuk makan sehari-hari, dan juga biaya operasional tempat ini,” jawab pria tua itu berusaha mempertahankan harta miliknya.


“Kau pikir kami peduli dengan urusan rumah tanggamu? Cepat! Serahkan upeti itu. Atau, kau bisa memilih kami untuk menghabisi hal penting milikmu. Hahaha!”


Bukan hanya salah seorang. Tapi preman-preman itu tertawa puas setelah berhasil membuat pria tua dan juga orang-orang yang ada di sana gemetaran karena takut.


Zhang yang sedari tadi hanya menjadi saksi bisu pun mulai bertindak. “Hei! Kalian benar-benar brengsek ya? Beraninya menindas orang tua. Bikin malu saja.”


“Siapa kau? Berani-beraninya mengatai kami brengsek. Apa kau ingin kami habisi juga?”


Zhang tersenyum sinis. “Heh, sombong sekali kalian. Kita akan tahu hasilnya saat pertarungan selesai. Apakah aku yang akan habis, atau kalian para cecenguk sampah,” imbuh Zhang dengan tatapan tajam, dan juga rasa kepercayaan diri yang tinggi.


“Tuan, orang ini terlihat sangat kuat. Apakah yakin akan melawannya?” bisik salah seorang yang berkepala plontos kepada pria bercodet yang sedari tadi berdiri di depan.


“Kita adalah pembunuh nomor satu di tempat ini. Bagaimana mungkin akan kalah dengan bocah bawang seperti mereka?”


“Bocah bawang? Bicaramu tinggi sekali ya? Belum bertarung tapi sudah menilai orang semaunya,” Yu Hao menimpali dengan ucapan yang sengak.


Zhang dan Yu Hao yang telah menguatkan ikat pinggangnya pun saling lempar pandang. Seolah yakin bisa mengalahkan para preman itu dengan sekali serang.


Jiao yang sedari tadi duduk diam pun mendekati Shuwan. “Shuwan, kau duduk diam saja di sini. Biar ini menjadi urusan kami. Sudah saatnya, kami yang melindungimu,” kata Jiao seraya menepuk kedua bahu Shuwan.


Shuwan mengangguk. Kini giliran dirinya yang menjadi penonton dari pertarungan teman-temannya. Apa tidak mengapa jika begini? Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak. Kalau begitu, aku akan menjadi saksi pertandingan ini. Tapi kalau kalian terluka sedikit saja, aku akan segera bertindak.


“Kalau begitu langsung kita buktikan saja. Hyaat!” pimpinan preman itu pun langsung maju untuk menghadapi Zhang, Jiao, dan Yu Hao.


Zhang mendorong meja di hadapannya dengan kaki kanannya. Tapi meja itu berhasil dihancurkan oleh pimpinan bercodet yang membawa godam.


Blarr...


Meja itu hancur menjadi berkeping-keping dalam sekali hantam. 


Pria ini bukan orang biasa. Aku bisa merasakan kekuatannya yang besar. Batin Zhang dipenuhi rasa penasaran setelah melihat cara bertarung pria bercodet itu. “Yu Hao, Jiao, kalian harus berhati-hati!” teriak Zhang pada kedua temannya di sudut ruangan yang lain.


Yu Hao dan Jiao yang sedang fokus bertarung pun mengalihkan pandangannya pada Zhang. Mereka mengerti, dan memberikan isyarat anggukan sebagai balasan.


“Wah, sepertinya ini akan seru!” kata Yu Hao seraya mematahkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Tak lupa jari-jari tangannya pun dibunyikan.


Jiao hanya menatap aneh perilaku Yu Hao, “Gayamu terlalu mencolok. Biar bagaimana pun, fokus, dan jangan meremehkan mereka,” Jiao memperingatkan Yu Hao.


“Tenang saja. Aku pasti bisa mengalahkan mereka. Lagi pula, ada kau juga yang bertarung bersamaku. Jadi, aku semakin merasa yakin bisa memenangkan pertarungan ini,” imbuh Yu Hao dengan jurus rayuannya.


“Cih. Mulut laki-laki memang terlalu manis, dan sulit dipercaya,” balasa Jiao. “Hyaat!” Jiao kembali maju melawan para bawahan dengan kemampuan berpedangnya.

__ADS_1


“Wanita memang sulit dimengerti, ya? Tapi aku pasti bisa menaklukanmu,” kata Yu Hao yang imajinasinya bergerak liar di pikirannya.


Sriingg!


Sebuah serangan ditujukan pada Yu Hao yang lengah karena lamunannya. Tapi karena refleksnya yang bagus, ia pun berhasil menghindarinya dengan memalingkan tubuhnya.


“Hufft... Nyaris saja!” kata Yu Hao sambil mengelus-elus dadanya.


Sementara itu, Zhang dan pria bercodet masih pada pertarungannya.


“Heh, sudah begini, kau masih saja memperingati kawanmu ya? Benar-benar orang yang setia. Bagaimana jika kau menjadi pengikutku?”


“Mimpi saja kau! Aku tidak akan pernah menjadi pengikutmu!” kata Zhang dengan lantangnya.


“Aku sudah terlalu lunak padamu. Kalau begitu rasakan ini!”


Boom! Suara godam itu pun terdengar hingga menggema dalam telinga. Lantai kedai itu hancur berlubang akibat hantamannya.


Aku tidak boleh menghancurkan tempat ini. Sebaiknya aku alihkan mereka keluar dari tempat ini. Batin Zhang setelah memikirkan sebuah rencana agar tidak menghancurkan kedai tempat mereka singgah.


Zhang dan Yu Hao cukup lincah. Sedangkan Jiao, dia ahli dalam pertarungan jarak dekat. Ini akan jadi tim penyerang yang bisa diandalkan di medan pertempuran. Jika saja aku juga bisa menari dengan pedangku, sudah pasti aku akan membelai leher bandit-bandit itu dengan pedangku. Batin Shuwan yang menyesalkan dirinya tidak dalam kondisi baik untuk bertarung.


Pertarungan berlangsung sengit. Zhang merasa sedikit terdesak karena serangan pria bercodet yang terus menerus. Ia berusaha menggiringnya keluar. Tapi usahanya sia-sia. Pria ini, dia benar-benar kuat. Mungkin serangan langsung tidak akan berguna padanya. 


Duarr...


Sebuah serangan tiba-tiba saja hampir mengenai Zhang. Beruntung ia dapat menghindarinya. Sial! Aku tidak boleh kalah. Aku harus bisa menepati janjiku untuk melindungi Shuwan. Selama ini, aku selalu merepotkannya. Kali ini, kali ini tidak boleh kalah!  “Hyaat!”


Serangan belati milik Zhang mengenai perut pria bercodet itu. Seketika orang itu tumbang karena luka yang dideritanya.


“Ahh!” pria bercodet itu mengerang kesakitan, seraya memegangi perutnya yang terluka. “Kurang ajar kau!” gertaknya.


Kau berhasil, Liem. Kau akhirnya bisa melindungiku. Jadi, kau bisa tenang dan tidak perlu terbebani lagi. Batin Shuwan yang memuji serangan Zhang hingga membuat lawannya tumbang.


Sifat sombongnya benar-benar tidak bisa berkurang ya? Shuwan merasa benar-benar bersalah sudah kagum padanya.


Di sisi lain, Yu Hao dan Jiao juga telah berhasil melumpuhkan bawahan pria bercodet itu. Mereka sudah berada dalam pengawasan. Yu Hao pun telah meminta tolong kepada aparat desa untuk menyiapkan hukuman bagi para preman itu.


“Sebaiknya kau menyerah. Kalau tidak, aku tidak sungkan akan menghabisimu,” ancam Zhang.


“Heh, yang benar saja. Lebih baik aku mati ketimbang menyerah pada bocah seperti kalian!”


Karena merasa sudah berhasil mengalahkan kawanan preman itu, Shuwan dan yang lainnya merasa sedikit lega dan tenang. Namun siapa mengira bahwa sebuah serangan tiba-tiba saja mengenai Shuwan.


Jlebb....


Semua mata yang ada di sana terbelalak kaget mendapati seseorang menyerang Shuwan dengan sebuah jarum beracun. 


“Ugh!” Sial! Bisa-bisanya aku lengah.


Brukk...


Shuwan yang masih duduk di meja tempatnya makan pun tumbang setelah jarum itu mengenai perutnya.


‘Shuwan!” Zhang langsung berlari menuju Shuwan. Tapi tiba-tiba serangan jarum lainnya datang menghampiri.


“Zhang awas!” teriak Jiao.


Dengan lincahnya Zhang bisa mengelak dari serangan itu. Matanya pun masih mencari orang yang menyerang Shuwan. Dan tertuju pada sudut yang ada di atas atap kedai.


Rupanya dia! Batin Zhang setelah mendapati orang yang menyerangnya tiba-tiba.


“Hahaha!” pria bercodet yang telah terluka tiba-tiba saja tertawa. “Hah, anak muda. Aku masih belum kalah. Sebaiknya kau cepat obati temanmu, kalau tidak, dia akan mati dalam waktu dua hari. Hahaha!”


Wajah Zhang tampak merah padam karena marah. Ia pun berjalan mendekati pria bercodet itu. “Kau! Cepat berikan penawarnya!” kata Zhang sambil mencengkeram erat kerah baju pimpinan preman itu.

__ADS_1


“Jangan harap!” Pria bercodet itu pun langsung menggigit lidahnya sendiri. Seketika itu juga ia pun tewas.


Sedangkan pria yang menyerang Shuwan dengan jarum, juga tiba-tiba saja langsung bunuh diri.


Brukk...


Penyerang jarum beracun itu terjatuh dari atas pilar yang ada di atap kedai itu, dengan luka sayatan yang ada di lehernya.


“Sial! Siapa dalang dibalik semua ini!” Zhang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya. “Shuwan!” secepat mungkin ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Shuwan. “Jarum ini, jarum ini mengenai ulu hatinya. Jiao! Cepat tolong Shuwan.”


Jiao pun tergopoh mendekati Shuwan, ia memeriksa nadinya. “Shuwan masih hidup. Tapi aku tidak bisa menjamin seberapa lama ia bisa bertahan.”


Pemilik toko yang sempat menjadi bulan-bulanan preman itu pun mendekati mereka. “Para preman itu dikenal memiliki racun Kristal Darah. Siapa pun yang terkena racun itu, ia akan segera mati,” imbuhnya.


Zhang terkesiap mendengarnya. “Lalu, bagaimana... Bagaimana menghilangkan racunnya?” tanya Zhang dengan lirih.


“Hanya orang-orang Negeri Awan lah yang punya penawarnya,” kata pemilik toko.


“Bukankah tempat itu masih jauh? Bagaimana jika sebelum sampai sana Shuwan sudah...”


“Tempat itu, sebentar lagi kau bisa mencapainya. Setelah hutan yang memagari desa ini, kau akan menemukan tebing batu yang seperti menjulang sampai ke langit. Kau harus memanjatnya untuk sampai di jalan yang menghubungkan Negeri Awan.”


“B-benarkah?”


Pemilik kedai mengangguk. “Kita bisa menghambat penyebaran racunnya. Tapi tidak bisa menghilangkan sepenuhnya. Bawa temanmu ke kediamanku. Biarkan tabib memeriksanya.”


Shuwan pun dibawa ke kediaman pemilik kedai. Seorang tabib yang sudah sepuh pun memeriksanya.


Setelah sekitar 1 jam, tabib itu selesai. “Aku sudah sedikit mengeluarkan racunnya. Tapi racun itu masih menyebar dalam hatinya. Kalian harus bergegas mencari penawarnya,” kata sang tabib pada Zhang dan yang lainnya.


“Siapa orang yang harus kami temui di Negeri Awan untuk mendapatkan penawar itu?” tanya Zhang.


“Temuilah seorang alkemis bernama Luo Shu. Dia adalah orang yang ahli dalam menawar racun.”


Mereka berempat pun akhirnya berangkat melanjutkan perjalan. Pemilik kedai yang baik itu pun memberi mereka beberapa bekal. Seperti minuman, makanan, dan beberapa alat daki.


Kalian harus berhati-hati saat mendaki tebing itu. Salah langkah saja, kalian bisa terjatuh dan langsung mati. Hanya dengan keyakinan yang kuat, serta ketulusan yang bisa membuat kalian selamat sampai di atas. Jika lancar, hanya dalam waktu sehari kalian bisa sampai. Tapi jika tidak, maka bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Semua itu, tergantung pada diri kalian masing-masing.


Di tengah laju kudanya, Zhang masih saja terngiang-ngiang oleh ucapan pemilik kedai itu. 


“Hya!” Zhang menambah kecepatan kudanya. Shuwan kau harus bertahan!


Mereka pun terus melaju dalam belantara dengan kecepatan penuh, tanpa mengkhawatirkan diri mereka sendiri.


Setelah setengah hari berjalan tanpa rehat, akhirnya mereka sampai di dasar tebing.


Jiao takjub melihat tebing itu. “Tebing ini benar-benar menjulang ke langit. Puncaknya benar-benar tertutup awan,” katanya takjub.


“Kau benar. Ini adalah tantangan yang harus kita taklukan!” Yu Hao menimpali. Pandangannya lalu tertuju pada Zhang yang baru saja turun dari kuda. “Zhang, lalu bagaimana kita akan membawa Shuwan naik ke atas?” 


“Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan menggendongnya di punggungku,” kata Zhang.


Jiao dan Yu Hao saling lempar pandang. 


“Apa kau yakin itu akan berhasil?” Jiao berupaya memastikan.


Zhang mengangguk. “Aku sudah bertekad. Aku harus bisa. Shuwan tidak boleh mati!”


“Baiklah kalau begitu. Kau harus lebih berhati-hati. Aku akan mendaki di belakangmu, dan Yu Hao akan mendaki di depan. Dengan begitu, jika terjadi sesuatu kita bisa saling mengandalkan,” terang Jiao.


Yu Hao dan Zhang pun mengangguk mengerti.


Zhang lalu menggendong Shuwan yang masih tidak sadarkan diri ke punggungnya. Ia mengikatkan selendang merah yang selalu dibawanya pada Shuwan agar ia tak jatih saat Zhang mulai mendaki. Kau harus baik-baik saja, Shuwan! Aku akan berusaha seupaya kita cepat sampai.


Perjalanan berat nan terjal pun akhirnya dimulai.

__ADS_1


__ADS_2