
Shuwan sudah bersiap untuk mengajar. Ketika ia memasuki ruang tengah, terlihat bahwa Feng sudah ada di sana. Ia kemudian berjalan mendekati Shuwan dan menyerahkan sebuah gulungan kertas.
“Ini, di dalamnya ada daftar materi yang harus kamu sampaikan sebagai seorang guru musik,” kata Feng.
Shuwan menerima gulungan itu dan membacanya, “Aku mengerti, masalah bagaimana teknisnya aku akan menyesuaikan dengan kondisi di sana,” ujar Shuwan sembari menggulung kembali kertas itu. “Kau terlalu sering datang kemari bukankah bisa menyebabkan kecurigaan pada keluarga Liu?” tanya Shuwan pada Feng.
“Yang kau katakan benar. Tapi aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” Feng menjawab pertanyaan Shuwan.
“Heh... Aku sudah besar dan tahu bagaimana menjaga diri. Lagi pula aku tidaklah sendirian, ada Zhang dan juga yang lainnya. Apa yang harus aku takutkan?” Shuwan duduk di bangku yang melingkar di sekitar meja untuk meminum tehnya.
Feng juga duduk di sebelahnya, “Tentu ada, yaitu mulut manis Tuan Muda Liu. Aku khawatir kau termakan oleh rayuannya,” ujarnya.
“Mulut dan kata-kata sampah yang keluar dari mulut kalian itu sama saja. Satu hal yang perlu kau tahu, aku Lin Shuwan tidak akan pernah termakan oleh kata-kata sampah itu. Mengerti?” Shuwan sedikit menggertak agar Feng tidak lagi mengganggu dirinya.
“Kalian? Eh.. Itu artinya termasuk aku?” Feng baru menyadari perkataan Shuwan.
“Tentu saja. Bagus juga jika kau sudah menyadarinya,” Shuwan menimpali.
Di balik perbincangan Shuwan dan Feng, Zhang mengupingnya dari balik dinding. Hatinya kalut melihat Shuwan begitu akrabnya dengan Feng. Melihat Shuwan dekat dengan banyak pria hatiku benar-benar tidak bisa tenang.
Zhang tidak menyadari bahwa Yu Hao berdiri tepat di belakangnya. “Sepertinya asap-asap cemburu mulai keluar dari persembunyiannya,” celetuk Yu Hao yang sontak membuat terkesiap.
“K-kau! Sejak kapan kau berdiri di sana?” kata Zhang yang kaget karena Yu Hao tiba-tiba saja berada di belakangnya.
“Sejak kau memperhatikan mereka,” Yu Hao setengah terkekeh.
Zhang tidak membalasnya dan langsung meninggalkan Yu Hao dengan wajah kesal. Ia mendekati Shuwan.
“Sebaiknya kita segera berangkat, takutnya akan terlambat sampai sana,” ajak Zhang.
“Kalau begitu ayo,” Shuwan beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk berangkat.
Tiba-tiba Feng memanggilnya, “Shuwan!” Ia berjalan mendekati Shuwan, “Berhati-hatilah,” pinta Feng.
Shuwan mengangguk dan melanjutkan langkahnya meninggalkan kediaman Feng bersama tiga temannya. Feng hanya memandangi Shuwan yang perlahan meninggalkannya di kediaman itu.
Shuwan, apakah aku bisa memenangkanmu? Kau selalu membuatku penasaran. Batin Feng yang kini dipenuhi dengan bayang-bayang Shuwan.
Dalam perjalanan, Jiao dan Shuwan berjalan di depan, sedangkan Zhang bersama Yu Hao mengikuti di belakangnya. “Shuwan, tidakkah kau menyadarinya bahwa Feng itu menyukaimu?” tanya Jiao memastikan Shuwan.
Zhang yang mendengar pertanyaan Jiao pada Shuwan pun juga penasaran dengan jawabannya.
“Masalah perasaan suka atau semacamnya aku tidak peduli,” Shuwan menegaskan.
“Begitu rupanya, tapi...” Jiao terputus. Ia jadi teringat apa yang dikatakan Shuwan di gubuk tua waktu itu. Bahasan tentang perasaan dan cinta sangat sensitif untuk Shuwan. Sebaiknya aku tidak menyinggungnya lagi.
__ADS_1
Cinta, heh.. Sebenarnya aku tidak masalah jika tidak bisa merasakannya. Tapi kakek tua itu selalu khawatir kalau aku akan menjomblo seumur hidup karena tidak bisa menerima cinta dari lelaki mana pun. Benar-benar mengesalkan. Batin Shuwan menggerutu.
Zhang yang mendengar perkataan Shuwan hanya diam membatin. Sebenarnya kenapa kau menolak semua perasaan itu Shuwan? Rahasia apa yang kau sembunyikan?
Tidak terasa mereka tiba di kediaman Liu, dan mendapati Tuan Muda Liu sudah menunggunya di sana.
Ketika melihat Shuwan telah datang, ia pun bergegas mendekatinya. “Akhirnya kau datang, kalau begitu ayo ikut ke ruang belajarku,” pinta Feng dengan semangatnya.
“Baiklah,” singkat Shuwan. Ia kemudian mengikuti putra sulung Liu Han Ji menuju ruangannya.
“Nah, kita sudah sampai. Silakan masuk,” Liu Han Ji mempersilakan. Ketika ketiga teman Shuwan akan masuk, Liu Han Ji menghentikan mereka. Ia membentangkan tangannya seraya berkata, “Maaf, tapi kalian para pengawal harus menunggu di luar. Hanya aku dan juga guruku yang ada di dalam.”
Mata Zhang terbelalak, ia nampak bertambah kesal. Namun Shuwan telah memberikan sinyal untuk meninggalkan mereka. Yu Hao menepuk bahu Zhang, “Kita turuti saja keinginannya,” kata Yu Hao. Dengan berat hati, Zhang menyetujui permintaan itu. Ia, Yu Hao, dan Jiao menunggu di luar ruang belajar.
Entah apa yang akan mereka lakukan di dalam. Aku hanya percaya Shuwan bisa menyelesaikan tugasnya. Batin Zhang yang merasa kesal dengan perlakuan Tuan Muda Liu itu.
Sementara di dalam, Shuwan hanya bisa bersikap waspada. Apa yang mau dilakukan oleh tuan muda ini? Biar bagaimana pun, aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri saat ini. Batin Shuwan.
Tuan Muda Liu menyeret kursi dan meminta Shuwan untuk duduk di sana, “Silakan kau duduk di sini. Sebelum belajar, aku ingin menjamu tamuku dengan teh kualitas terbaik di wilayah ini. Anggap saja sebagai penyambutan karena sekarang kau sudah resmi menjadi guruku,” terangnya.
“Baiklah, terima kasih,” balas Shuwan singkat.
Tuan Muda Liu menuangkan teh kedalam gelas Shuwan. Sebelum meminumnya, Shuwan menyelidiki teh itu.
Karena menyadari Shuwan hanya berpura-pura meminum tehnya, Tuan Muda Liu mengatakan sesuatu. “Kau tidak perlu khawatir kalau minuman ini diberi obat atau semacamnya. Meskipun aku suka bermain dengan wanita, tapi aku juga tidak ingin memaksa mereka,” ucapnya dengan lembut.
Shuwan meletakkan cangkirnya, “Maaf jika ini menyinggungmu. Sebagai seorang wanita biasa aku harus bisa berhati-hati dan menjaga diriku sendiri,” Shuwan menimpali.
“Tidak masalah, aku mengerti,” kata Tuan Muda Liu. “Em.. Ngomong-ngomong, kita sepertinya seumuran. Apakah boleh jika aku memanggilmu Shu’er?” tanya Tuan Muda Liu dengan wajah yang sedikit malu.
Shuwan tersenyum tipis, “Apakah ini tidak masalah? Aku adalah gurumu, dan kau ingin memanggilku dengan namaku?” Shuwan kembali melemparkan pertanyaan.
“Aku hanya merasa sedikit canggung bila harus memanggilmu guru,” ucap Tuan Muda Liu. “Selain itu, kau juga bisa memanggilku Han Ji supaya kita bisa lebih akrab,” lanjutnya dengan wajah tersenyum pada Shuwan.
“Baiklah, kamu bisa memanggilku Shu’er. Tapi dengan syarat, hanya memanggil namaku langsung saat kita hanya berdua,” pinta Shuwan.
Liu Han Ji tersenyum senang dan mengangguk tanda setuju. “Lalu, di manakah kau tinggal, Shu’er?” tanya Han Ji.
“Aku menyewa kediaman Tuan Muda Feng. Karena kebetulan ketika bertanya pada orang di pasar, mereka mengarahkan kami padanya,” Shuwan menjelaskan dengan yakin agar pemuda di hadapannya itu tidak menaruh curiga.
Han Ji terkesiap ketika mendengar nama Feng, ia langsung berdiri dari tempat duduknya. “Feng? Apakah maksudmu Fengying?”
Tanpa ekspresi berlebihan Shuwan langsung menjawabnya, “Benar. Namanya Wu Fengying. Kelihatannya kau mengenalnya?” Shuwan mulai mengarahkan pembicaraan.
“Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya. Anggota keluarganya, pernah terlibat dalam rencana pemberontakan,” kata Han Ji memperingatkan Shuwan.
__ADS_1
“Pemberontakan? Apa yang sebenarnya terjadi?” Shuwan mencoba menggali informasi lebih dalam lagi.
Terlihat bahwa Han Ji seperti menyembunyikan sesuatu. “Soal ini, alangkah baiknya kau tidak perlu tahu,” ujarnya mencoba mengakhiri pembahasan masalah pemberontakan.
Dia mencoba menyembunyikannya dariku. Aku harus berusaha lebih keras lagi. “Begitu,” celetuk Shuwan.
Han Ji langsung menatap Shuwan setelah mendengar celetukannya. Ia kemudian berkata, “Shu’er, apakah kau marah karena aku tidak bisa menceritakannya padamu?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku hanya sedikit kecewa. Aku memberitahumu tentang diriku. Tapi, kau malah menyembunyikan hal lain di hadapanku. Yah... Mungkin itu adalah kehidupan pribadimu. Aku memaklumimu dan tidak akan memaksamu lagi. Selain itu, aku juga hanyalah orang asing yang kebetulan menjadi guru musik sementaramu saat ini,” terang Shuwan berusaha memancing kembali arah pembicaraan.
Han Ji langsung tertunduk lesu. Bibirnya menjadi bisu. Ia takut membocorkan insiden itu pada pihak luar, dan membahayakan keluarganya. Namun di sisi lain ada wanita yang membuatnya terpana di hadapannya saat ini. Hatinya jadi kacau tak karuan dibuatnya.
“Karena waktu sudah semakin siang, alangkah baiknya kita memulai pelajaran,” ucap Shuwan memecah keheningan yang mencengkeram mereka kala itu.
“B-baik,” jawab Tuan Muda Liu itu dengan pandangan yang masih tertunduk. Hatinya masih dilema, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap tutup mulut demi keluarganya.
Hari itu, Shuwan mengajari Han Ji dasar-dasar bermain Guzheng agar menghasilkan permainan yang sempurna. Tidak terasa, waktu sudah hampir malam, Shuwan pun berpamitan untuk pulang.
“Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Besok aku akan datang seperti tadi pagi. Jangan lupa untuk mengulas kembali apa yang telah kita pelajari hari ini,” kata Shuwan mengingatkan.
“Baik. Terima kasih untuk hari ini,” Han Ji berterima kasih pada Shuwan. “Sebagai permintaan maaf, besok aku ingin mengajakmu minum. Bagaimana? Apa kau bersedia, Shu’er?” sambungnya.
“Mungkin bisa, setelah pelajaran besok selesai,” Shuwan menjawabnya tanpa ragu. Aku bisa memanfaatkan situasi besok. “Kalau begitu aku dan pengawalku pamit dahulu,” Shuwan kembali berpamitan.
Han Ji mengangguk, “Aku menantikan hari esok,” sambungnya dengan senyum yang tulus.
Shuwan beranjak meninggalkan Han Ji, dan keluar dari kediaman Liu. Sesampainya di rumah, lagi-lagi ia mendapati Feng yang sudah duduk manis di bangku ruang tengah.
Ia kemudian melemparkan pertanyaan pada Shuwan yang baru saja tiba, “Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?” katanya secara gamblang.
Shuwan menghela napas, “Maaf, aku belum mendapatkan apa pun hari ini. Besok Han Ji mengajakku minum. Aku akan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin untuk menggali informasi,” ucap Shuwan menjelaskan rencananya.
“Minum? Shuwan apakah kamu yakin?” celetuk Zhang.
Shuwan tersenyum, dan membatin. Rupanya kondisi hatinya sudah membaik. “Kau tenang saja, aku bisa minum sedikit dan aku akan menjaga diriku darinya,” kata Shuwan berusaha menenangkan Zhang.
“Kalau begitu baiklah. Aku hanya ingin mengatakan bahwa waktu yang kita miliki saat ini semakin terbatas. Dalam waktu 3 hari ke depan, jika aku tidak berhasil menemukan bukti itu, pamanku akan di eksekusi,” Feng mencoba menjelaskan situasi terburuknya.
“Begitu rupanya. Aku akan berusaha yang terbaik. Dalam waktu 2 hari, aku yakin bisa menemukan bukti itu,” sahut Shuwan. Aku pasti bisa memenangkan pertarungan ini.
“Aku percaya pada kalian. Baiklah, karena hari sudah semakin malam, kalian beristirahatlah. Aku tahu hari ini dan hari-hari selanjutnya akan melelahkan. Selamat beristirahat,” Feng mempersilakan orang-orangnya untuk istirahat.
Shuwan yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya terus-terusan melamun. Bagaimana jika gagal? Apakah aku dan yang lainnya akan dipenggal? Ah... Tidak-tidak. Aku harus berhasil supaya bisa segera pulang ke rumah.
Setelah menyelesaikan pergulatan batin, Shuwan akhirnya terlelap juga. Ia tidur bersama Jiao yang sudah terlelap sedari tadi.
__ADS_1