1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Perpisahan


__ADS_3

Shuwan menatap pria bertubuh besar dan kekar itu. Air matanya sudah terkumpul dan hendak menetes. Tapi ia berusaha menghapusnya, dan kembali menatapi orang itu dengan amarah.


“Kalau kau bisa, coba kenai aku!” kata Shuwan.


“Kau yang memintanya. Jadi rasakan ini!”


Ketika orang itu hendak menyerang Shuwan dengan mana nya, tiba-tiba sebuah belati melaju begitu cepat hingga tak terlihat oleh mata.


SRING... JLEB!


Shuwan terbelalak, ia kaget karena belati itu menusuk tepat di jantung pria yang hendak menyerangnya.


“Argh!” pekik pria itu diiringi tubuhnya yang tumbang ke atas titian. Pria itu mengerang kesakitan sebelum akhirnya mati begitu saja.


Shuwan menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang melemparkan belati itu, dan lagi-lagi ia dibuat terkejut mendapati Zhang yang berdiri di hadapannya.


Ya, belati itu adalah milik Zhang. Dia yang menyerang penjahat itu dengan belatinya dari jarak jauh. Shuwan tak sanggup bicara lagi. Ia merasa bersalah karena sudah membius Zhang dan meninggalkannya untuk bertarung.


Shuwan langsung mengalihkan pandangannya, ia teringat Zhi Qiang yang masih ada di dasar sungai. Secepat mungkin Shuwan melangkah ke ujung titian. Ia meletakkan pedangnya.


Saat hendak melompat ke dalam air, Zhang menarik tangannya. “Apa yang mau kau lakukan?” bentaknya.


“Aku mau menyelamatkan Zhi Qiang. Dia ada di dasar sana!” kata Shuwan seraya menunjuk ke arah sungai.


“Itu berbahaya. Kau tidak boleh pergi!”


Shuwan menarik tangannya yang dipegang Zhang dengan paksa. Ia menatap Zhang dengan amarah. “Aku tidak peduli.”


Tanpa menunggu respon dari Zhang, Shuwan langsung melompat ke dalam air.


BYURR!


“Shuwan!” teriak Zhang. Zhang yang kehilangan akal pun hendak menyusul Shuwan, tapi ia dihentikan oleh Yu Hao dan Jiao.


“Lepaskan! Aku mau menyusul Shuwan!” teriak Zhang yang mencoba memberontak dari Yu Hao dan Jiao.


“Hentikan kebodohanmu, Zhang! Shuwan pasti tidak akan senang melihatmu begini! Bukan ini yang dia inginkan!” Yu Hao kembali meneriaki Zhang yang mulai kehilangan akal sehatnya.


“Apa dia pernah memikirkanku? Dia selalu saja bersikap semaunya tanpa memikirkan perasaanku!”


Yu Hao membuang napasnya, dan berusaha melanjutkan perkataannya. “Kau salah Zhang. Mungkin dia selalu berbuat semaunya, tapi itu karena dia peduli padamu. Dia hanya tidak ingin melihatmu terluka. Makanya, dia rela menahan semua rasa sakit seperti ini. Jadi aku mohon, jangan seperti ini lagi Zhang!” 


Zhang perlahan mulai tenang. Ia terduduk lemas setelah emosinya meledak-ledak. Air matanya yang hangat pun mulai membasahi pipi. 


Sementara itu, Shuwan masih fokus menyelam dan berusaha menemukan Zhi Qiang. Untungnya sungai ini airnya jernih. Aku masih bisa melihat di dalamnya.


Shuwan menyelam semakin dalam dan mencari keberadaan Zhi Qiang. Hingga akhirnya ia pun berhasil menemukannya. 

__ADS_1


Shuwan meraih tubuh Zhi Qiang. Setelah mendapatkannya, Shuwan berusaha berenang ke permukaan dengan susah payah. Kau harus tetap hidup, Qiang’er!


Setelah berjuang begitu payahnya, akhirnya Shuwan bisa mencapai permukaan.


“Hah... Hah... Hah...” Shuwan tampak terengah engah begitu kepalanya menyembul keluar dari dalam air.


“Shuwan!” Zhang langsung berlari menuju tepi titian. Ia membantu Shuwan menaikan Qiang’er dan juga membantu Shuwan untuk naik.


Begitu mendarat dengan selamat, Shuwan langsung membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Zhi Qiang. Tubuhnya bergetar hebat saat mengikatnya. Ada ketakukan yang begitu menyesakkan dadanya.


Setelah berhasil membuka tali-tali itu, Shuwan langsung mendekatkan telinganya ke dada Zhi Qiang. Tidak ada napasnya! Tidak boleh begini! 


Dengan hati kacau, Shuwan melakukan CPR berharap kalau Zhi Qiang bisa tertolong. Ia tidak peduli pada Zhang, Yu Hao, Jiao, dan Xin Ru yang memperhatikannya.


“Kau harus bangun! Kau tidak boleh mati! Ini perintah!” Teriak Shuwan yang masih menekan-nekan dada Zhi Qiang. Air matanya yang hangat pun meleleh karena melihat Zhi Qiang yang tak memberikan respon apa pun.


Zhang melihatnya dengan iba. Ia pun mendekati Shuwan dan langsung memeluknya dari belakang. “Shuwan, tenanglah.” 


“Bagaimana aku bisa tenang? Zhi Qiang tidak mau bangun meski sudah aku perintahkan!” Shuwan menangis sejadi-jadinya, sementara Zhang memeluknya dengan erat.


Xin Ru merasa dunia seolah runtuh. Orang yang selama ini ia lindungin bisa mati begitu saja di hadapannya. “...Tuan....” ucapnya lirih. Xin Ru yang terlihat begitu dingin dan acuh pun menangis melihat Zhi Qiang yang diam tanpa ada tanda kehidupan.


Shuwan yang masih menangis dalam pelukan Zhang tiba-tiba teringat sesuatu. Ia ingat kalau sebelum Zhi Qiang diceburkan ke sungai ia diserang dengan mana penjahat itu. Shuwan langsung duduk dengan tegak. Ia menghapus air matanya yang membasahi pipinya.


“Benar. Aku masih punya benda itu!” Mata Shuwan berbinar. Ia merasa masih ada harapan untuk menyelamatkan Zhi Qiang.


“Air Mata Naga (baca di eps. 21). Sebelum dibuang ke sungai, Zhi Qiang terkena mana dari penjahat ini. Dengan meminumkan Air Mata Naga itu, semoga Qiang’er bisa sadar kembali.”


Shuwan langsung membentuk segel di tangannya. Mencoba mengeluarkan botol yang berisi Air Mata Naga itu dari dalam tubuhnya.


Seketika sebuah cahaya muncul di telapak tangan Shuwan yang menengadah, dan botol itu pun sudah terlihat di depan mata. “Qiang’er kau harus bangun!”


Shuwan meminumkan Air Mata Naga itu langsung kepada Zhi Qiang. Sebisa mungkin ia membantu menggerakkan tubuh Zhi Qiang agar bisa menelan cairan itu.


Setelah memastikan cairan itu tertelan, Shuwan pun menunggu reaksi selanjutnya. Ternyata tubuh Zhi Qiang mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata. Semua yang ada di sana pun menutupi mata mereka dari sinar yang menyilaukan itu.


Akhirnya setelah menunggu dengan sabar, sinar itu perlahan meredup dan hilang.


Shuwan kembali memandangi wajah Zhi Qiang dengan harap. Perlahan namun pasti, Zhi Qiang mulai mengerjapkan matanya.


Shuwan langsung berbinar, ia seakan tak percaya bahwa Zhi Qiang kembali hidup. “Qiang’er...” panggilnya lembut.


Zhi Qiang langsung menyipitkan matanya dan memandangi Shuwan. “Shuwan....” Zhi Qiang pun langsung bangkit dan duduk. Ia memandangi Shuwan yang menangis. “Kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya Zhi Qiang cemas.


Shuwan menggeleng. Ia lalu mengusap air matanya dan menatap Zhi Qiang. “Syukurlah kau baik-baik saja sekarang.”


Zhi Qiang bingung. Ia lalu mengedarkan netranya dan mendapi orang-orang yang ada di sana tampak seperti habis menangis. “Kalian ini kenapa sebenarnya?”

__ADS_1


Xin Ru langsung bersimpuh di hadapan tuannya. “Tuan, kau baru saja bangkit dari kematian. Tidakkah kau merasakannya?”


Zhi Qiang mengeryitkan dahinya. Tampak wajahnya bingung. “Tadi aku hanya ingat kalau penjahat itu menyerangku dengan mana nya. Lalu aku merasa seperti terbakar dan tidak tahu lagi apa yang terjadi.”


“Tuan...” tanpa disangka Xin Ru langsung menjatuhkan pelukannya pada Zhi Qiang.


“Hei, hei, hei... Apa yang sedang kau lakukan? Di sini ada Shuwan. Bagaimana aku akan menjaga wajahku dihadapannya kalau kau seperti ini?” Zhi Qiang berusaha melepaskan pelukan Xin Ru, tapi Xin Ru masih enggan untuk melepaskannya.


Sementara itu, Shuwan hanya tersenyum-senyum sendiri menyaksikannya. Hingga ia pun mulai merasakan ada yang aneh dengan dirinya.


Shuwan menjatuhkan pandangannya pada kedua tangan yang tampak seperti tembus pandang. Tubuhnya mulai bersinar redup. 


“Shuwan... Kau...” Zhang panik hingga membuatnya berdiri melihat Shuwan yang seperti itu.


Bukan hanya Zhang, tapi juga orang-orang yang ada di sana pun kaget bukan kepalang melihat tubuh Shuwan yang demikian.


Shuwan hanya bisa memasang senyum. Ia lalu meraih pedangnya dan berdiri. Ditatapnya wajah-wajah kelima orang yang bersamanya di atas titian. “Sudah saatnya aku pergi,” kata Shuwan.


“Tapi kau mau pergi ke mana, Shuwan?” tanya Jiao. “Dan kenapa tubuhmu bisa menjadi tembus pandang seperti itu?” Air mata Jiao menetes begitu saja. Ia tidak tahu kenapa, tiba-tiba terasa begitu sedih hatinya.


Shuwan kembali tersenyum. “Aku tidak berasal dari dunia ini, makanya aku harus kembali. Aku datang karena suatu misi. Dan, menyelamatkan putra mahkota adalah misi terakhirku. Akhirnya aku akan pulang ke duniaku lagi.”


Semua orang menjadi sedih mendengarnya, terlebih Zhang. Ia lalu berjalan mendekati Shuwan. “Haruskah kau pergi sekarang Shuwan?” tanya Zhang dengan suara yang bergetar.


Shuwan mengangguk pelan. “Bukankah takdir pertemuan dan perpisahan itu sudah ditetapkan sebelumnya? Liem, biar bagaimana pun aku harus pergi sekarang.”


Zhang menggenggam erat-erat benda yang ada di genggamannya. Ya, benda itu adalah liontin giok angsa milik Shuwan yang tidak sengaja ia jatuhkan saat membuat Zhang pingsan. “Lalu bagaimana denganku? Kau belum menjawab pertanyaanku ketika di atas kuda semalam!”


Shuwan membuang napasnya, tubuhnya terlihat semakin transparan dan sudah akan menghilang. Dengan tenang ia menanggapi Zhang. “Jika suatu hari nanti, entah itu di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu lagi, aku akan bersedia menikahimu.” Shuwan memberikan senyum termanisnya pada Zhang.


Ia lalu berjalan mendekati Zhang. “Tapi sekarang aku harus pergi. Maaf... Untuk segala hal yang pernah kulakukan,” ucapnya seraya melangkah semakin dekat dengan Zhang.


Ketika telah dekat dengan Zhang, Shuwan pun menjinjitkan kakinya, dan....


CUP


Sebuah kecupan hangat ia daratkan di pipi kiri Zhang. Segera setelah memberikan ciuman perpisahan, Shuwan kembali melangkah mundur. Kini tubuhnya pun perlahan mulai menghilang, bersama sinar matahari yang muncul dari langit timur. “Kalian harus tetap hidup...” 


Kalimat terakhir dari Shuwan itulah yang menjadi kalimat perpisahan, sebelum ia benar-benar menghilang seperti sekarang.


Kini hanya bias dari senyumannya yang masih tersisa di tempat itu. Bersama dengan sekeping hati yang masih penuh dengan harap.


Shuwan, kita akan bertemu lagi. Aku pasti akan menemukanmu kembali. Batin Zhang seraya memandangi matahari terbit. Ia kembali menggenggam erat-erat liontin giok angsa yang Shuwan tinggalkan tanpa sengaja.


Yu Hao mendekati Zhang dan menepuk bahunya. Mereka yang ada di sana pun saling memberikan semangat dan kekuatan. Terlebih untuk Zhang yang baru saja kehilangan.


Ada kesedihan juga yang tersirat di wajah Zhi Qiang. Andai aku yang lebih dahulu bertemu denganmu, apakah kau juga akan langsung bersedia menikah denganku, Shuwan?

__ADS_1


__ADS_2