
Shuwan yang kelelahan karena menangis perlahan terlelap. Dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang pria memakai pakaian serba putih, tidak terlihat jelas wajahnya.
“Siapa kau?” teriak Shuwan.
“Siapa aku bukanlah hal yang penting sekarang. Jika kamu ingin mengembalikan teman-temanmu, maka kamu harus bisa menyelesaikan kunci pembukanya untuk bisa membuka segel peti dan juga keluar dari tempat ini,” ucap pria itu.
“Kunci? Bagaimana aku bisa? Di sini tidak ada apapun selain peti itu,” kata Shuwan dengan keraguan yang melanda hatinya.
“Akan ada yang memandumu untuk mempelajari itu ketika kau sadar nanti,” pesan pria itu yang kemudian menghilang dalam cahaya yang begitu menyilaukan.
Shuwan menutupi matanya dari cahaya itu.
Ia pun terbangun dari tidurnya. Perlahan namun pasti, ia mulai membuka matanya dan melihat sekeliling. “Aku masih ada di sini. Itu artinya, yang tadi hanyalah mimpi. Apa maksud perkataan pria misterius itu dalam mimpiku tadi?” Shuwan kebingungan, hingga, ia mendengar suara seekor kucing di dekatnya.
Sontak saja Shuwan menjadi kaget. Ia menengok ke belakang dan mendapati memang ada seekor kucing di sana.
“Seekor kucing? Bagaimana bisa ada di sini? Padahal sejak kami masuk tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini,” ucap Shuwan yang kebingungan dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
Shuwan mengalihkan perhatiannya, dan mendekati kucing itu. Kucing yang ditemukan Shuwan terlihat baik-baik saja dan sehat. Bulunya berwarna putih bersih, dengan pupil yang besar karena ruangan tempat mereka berada memiliki penerangan yang terbatas.
“Kucing kecil, apakah kau tersesat juga? Kenapa bisa ada di sini juga?” ucap Shuwan sembari mengelus kucing itu.
Namun siapa menduga, terjadi hal yang mengejutkan rasionalitasnya saat itu juga.
“Jangan sembarangan menyentuhku. Aku tidak suka disentuh oleh orang-orang seperti kalian.”
Kucing ini bisa berbicara? Mata Shuwan terbelalak. Ia menjadi ketakutan dan menjauhkan diri dari kucing itu.
“K-kau.. Bagaimana mungkin seekor kucing bisa berbicara?” tanya Shuwan dengan suara yang gemetaran karena takut.
“Hei... Tidak perlu sampai seperti itu ‘kan? Aku ini kucing berkelas dan juga tampan, loh. Apa kau masih takut denganku?” tanya kucing itu dengan percaya.
Kucing ini narsis sekali. “Bagaimana bisa kau ada di sini? Padahal selama aku dan teman-temanku berada di sini, tidak ada makhluk hidup lain yang berkeliaran,” ujar Shuwan.
__ADS_1
“Aku adalah hewan roh yang akan menjadi pemandumu sekaligus gurumu,” ucap kucing itu dengan nada yang begitu sombongnya.
Shuwan terdiam. “Memandu? Guruku? Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan saat ini? Teman-temanku sedang terkunci dalam peti itu, dan kau, tiba-tiba saja datang lalu mengatakan hal konyol seperti ini?” Emosi Shuwan menggebu-gebu dalam dada. Ia teringat dengan teman-temannya yang menghilang secara misterius.
“Bukankah kau sudah bertemu dengannya? Pria berbaju serba putih itu,” ucap kucing itu memberi petunjuk.
Pria berbaju putih? Apakah maksudnya adalah orang yang kutemui dalam mimpi? Batin Shuwan.
“Aku adalah Liko, roh yang diutus oleh orang itu untuk mengajarimu menyelesaikan kunci pembuka peti itu. Bukankah kamu ingin mengeluarkan mereka?” sambung kucing itu.
Shuwan mengiyakan dengan anggukkan sembari menatap kucing itu penuh keyakinan.
“Kalau begitu ikuti aku,” mereka pun mendekati peti tempat teman-teman Shuwan menghilang hanya dalam kedipan mata.
Kucing itu memulainya dengan menceritakan kisah di balik peti itu.
“Peti yang lebih tampak seperti Kotak Pandora ini merupakan pusaka milik seorang cenayang yang pernah tinggal di sini. Pusaka ini diberi nama ‘Pusaka Pengikat Jiwa.’ Kotak ini berisi emosi, kebencian, rasa sakit, dan juga dendam yang dimiliki manusia. Cenayang itu menggunakannya sebagai wadah untuk menaklukkan lawannya dan menghukum siapa saja yang mencoba membuka peti itu secara paksa tanpa seizinnya. Teman-temanmu sedang berada disana menjalani hukuman itu. Mereka akan menderita karena rasa sakit, dan juga kebencian yang selama ini mereka pendam. Emosi mereka diaduk-aduk hingga membuat mereka menyerah dan memilih untuk mati saja,” Liko sedikit menjelaskan pada Shuwan.
“Cenayang itu tidak memiliki keturunan, atau mengikuti sekte apa pun. Sehingga tidak ada orang yang bisa mengendalikan kekuatannya selain dia. Namun, hidupnya tidaklah berlangsung bahagia. Ia datang ke kerajaan ini, lalu raja memanfaatkannya untuk mencapai ambisinya sendiri. Setelah ambisi sang raja tercapai, ia dibunuh secara tidak adil oleh raja. Karena ini juga, cenayang itu melempar kutukan pada kerajaan ini. Sehingga, kerajaan ini tampak seperti yang kamu lihat saat ini,” sambung Liko.
Hati Shuwan masih dipenuhi dengan rasa penasaran, “Apakah ini kisah yang dimaksud dalam ukiran di dinding luar istana ini?”
Liko pun kembali menjelaskan, “Benar. Cenayang itu mengutuk kerajaan ini dengan wabah penyakit menular dan juga krisis ekonomi. Banyak yang meninggal akibat wabah menular ini. Mereka juga saling membunuh demi bertahan hidup di tengah krisis. Kerajaan ini pun kacau balau. Tidak ada satupun kerajaan lain yang ditaklukan sang raja membantunya menghadapi krisis ini, karena takut tertular wabah. Hingga akhirnya, membuat kerajaan ini runtuh begitu saja.”
“Jika kerajaan ini runtuh karena penyakit serta krisis, lalu kenapa istana ini bisa baik-baik saja?” tanya Shuwan kembali.
“Heh... Kau ini rupanya gadis yang suka banyak bertanya ya?” ucap Liko pada Shuwan yang bertanya seperti seorang wartawan.
“Tentu saja. Aku harus mengetahui detailnya. Teman-temanku tidak ada di sini, dan semua itu karena peti itu,” ujar Shuwan dengan lantangnya.
“Baiklah, karena sudah bertanya, aku akan memberikan informasi yang kamu butuhkan. Karena dinding pelindung yang sudah dibuat inilah yang membuatnya tetap utuh. Seorang biksu bersama muridnya pernah berkunjung ke sini. Ia telah mendengar kisah runtuhnya kerajaan yang ada di gurun ini. Ia dan muridnya berinisiatif untuk membuat dinding-dinding agar dapat melindungi istana ini, dan membuat ukiran dari tragedi yang menimpa kerajaan ini sehingga dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mengunjunginya.”
“Lalu, bagaimana sekarang tempat ini bisa terkubur di bawah pasir?” Shuwan menimpali.
__ADS_1
“Tentu saja karena badai pasir yang datang terus menerus,” singkat Liko.
Shuwan pun masih penasaran, “Tapi aku heran, bagaimana kami bisa masuk ke sini? Seandainya memang ada lubang, kenapa pasir itu tidak masuk juga ke sini?”
“Kalian masuk melalui lubang dimensi yang terbentuk dalam pasir isap. Jadi itu bukan lubang biasa. Tempat ini tentu saja dilindungi dengan kekuatan magis,” terang Liko pada Shuwan.
Shuwan pun terdiam, ia kemudian kembali bertanya, “Lantas pusaka miliki cenayang itu, kenapa tidak ada yang mengambilnya?”
“Itu percuma, pusaka itu akan tetap ada di sini karena pemiliknya mati di tempat ini. Jangankan dipindahkan, di angkat pun tidak akan bisa,” ujar Liko.
Shuwan masih tidak percaya, “Benarkah seperti itu?” ucapnya.
“Jika kamu tidak percaya silakan coba angkat saja,” Liko menantangnya.
Benar saja, Shuwan tidak berhasil mengangkatnya, sekeras apapun dia berusaha.
“Kau bilang, kau datang untuk menjadi pemandu dan juga guruku. Kalau begitu apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan kunci pembuka itu?” tanya Shuwan pada inti pembicaraan.
“Kunci itu bukanlah seperti kunci pembuka ia pintu. Itu berbentuk seperti sebuah kekuatan magis pemanggil jiwa. Untuk membentuknya, kamu perlu menyelesaikan Tarian Pedang Naga. Karena peti itu hanya bisa dibuka oleh si cenayang, maka kamu perlu melakukan tarian itu untuk memanggil jiwanya kembali dan membebaskannya,” ujar Liko.
“Ta-tarian Pedang Naga? Memanggil jiwa?” kata Shuwan bingung.
“Benar. Kamu adalah orang yang ditakdirkan untuk menghancurkan pusaka itu, setelah penantian selama ribuan tahun. Cenayang itu terikat dengan pusakanya, jika pusakanya dihancurkan ia pun akan bebas dan dapat melakukan reinkarnasi,” jawab Liko.
Shuwan terlihat bingung, ia kemudian mengatakan, “Orang yang ditakdirkan? Bagaimana bisa?”
Liko dengan tenang pun menjawab pertanyaan Shuwan, “Coba kau lihat pedang yang selalu kamu bawa itu. Bukankah di sana ada ukiran sepasang naga?”
Shuwan pun mengangguk. “Itu adalah bagian dari takdirmu. Kedatanganmu kemari juga karena sebuah panggilan untuk menyelesaikannya,” terang Liko.
Shuwan terdiam, ia kemudian bertanya kembali pada Liko, “Kalau begitu, bagaimana aku harus memulainya?” ucap Shuwan dengan wajah tegas.
Liko pun tersenyum, “Ikuti gerakanku,” singkat Liko.
__ADS_1