
“Tuan, apa maksud dari perkataan Anda?” tanya Zhang dengan memasang senyum terpaksa. Kurang ajar sekali pemuda ini, berani-beraninya dia mencoba menjadikan Shuwan sebagai istrinya. Batin Zhang yang di selimuti rasa cemburu.
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Zhang. Ia menutup kipas di tangannya, dan perlahan mendekati Shuwan. “Bagaimana nona yang cantik, apakah kau berminat dengan tawaranku?” tanya pemuda itu pada Shuwan.
Shuwan melipat kedua tangannya di depan, “Aku tidak tahu apa yang membuat Tuan sangat tertarik padaku, bukankah ini adalah kali pertama kita saling bertemu?” kata Shuwan sembari menyipitkan matanya.
“Tidak butuh alasan lebih untuk sekedar mendekati gadis sepertimu, hanya dengan mengeluarkan beberapa uang dan emas, kamu pasti akan bersedia,” ucap pemuda itu mencoba menggoda Shuwan.
“Hanya karena kau anak orang kaya, punya banyak uang dan harta, bukan berarti kau akan mendapatkan segalanya termasuk mendapatkanku. Biar kuberitahu, aku sama sekali tidak tertarik pada pria yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang dan bermain dengan banyak wanita sepertimu,” kata Shuwan dengan nada yang sedikit meninggi.
“Pfft..” pemuda itu tertawa, “Aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius,” ujar pemuda itu menggampangkan.
“Apa kau sama sekali tidak belajar mengenai etika? Bertemu dengan orang baru, lalu begitu mudahnya kau permainkan. Bercandamu benar-benar sangat tidak berkelas,” Shuwan menimpali.
“Kalau begitu aku minta maaf, ya?” kata pemuda itu sambil tersenyum. Ia pun menjelaskan maksudnya, “Sebenarnya aku tertarik karena aku punya misi penting untuk kalian jalankan. Jadi, aku akan menyewa kalian untuk menjalani misi ini. Masalah bayaran, aku akan memberikan 1 peti berisi 100 batang emas jika berhasil menyelesaikannya. Bagaimana? Apakah tertarik dengan tawaranku?” sambungnya.
Zhang melayani negosiasi dengan pemuda itu, “Jika Anda memberikan harga yang begitu tinggi, sudah pasti itu bukanlah misi yang mudah bukan?” tanya Zhang.
“Kau benar,” singkat pemuda itu. “Kalau begitu apa kalian bersedia? Termasuk nona yang cantik ini,” pemuda itu tidak hentinya menggoda Shuwan.
“Baiklah, kami menyetujuinya. Tapi, misi seperti apa yang ingin tuan berikan pada kami?” tanya Zhang penasaran.
“Kalian ikut ke kediamanku, aku akan menjelaskannya pada kalian di sana. Tempat ini sangat tidak aman untuk bertukar informasi,” saran pemuda itu.
“Bukankah kediamanmu akan lebih berbahaya? Tidak tahu apa yang akan kamu lakukan pada kami di sana,” celetuk Shuwan.
“Ternyata kau wanita yang sangat cerdas dan sangat berhati-hati ya? Aku jadi semakin tertarik denganmu,” ucap pemuda itu.
Shuwan hanya terdiam, kemudian itu berkata, “Sebaiknya kau bertindak cepat, setiap waktu yang kita lalui itu sangatlah mahal. Ada harga yang harus dibayar untuk itu.”
“Baiklah, baiklah... Jangan marah lagi ya. Kalau begitu ikuti aku,” ajak pemuda yang mereka temui di pasar.
Mereka pun pergi menuju kediaman pemuda itu, setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di kediaman pemuda itu. Shuwan hanya membatin, sudah kuduga kalau dia hanyalah anak orang kaya yang genit dan manja.
__ADS_1
Pemuda itu mengarahkan mereka ke ruang belajarnya, ia kemudian meminta seorang pelayan untuk menghidangkan teh dan mempersilakan Shuwan beserta ketiga temannya untuk duduk.
“Selamat datang di kediamanku. Namaku adalah Wu Fengying, kalian bisa memanggilku Feng. Orang tuaku adalah saudagar kain sutra di wilayah ini. Tapi, ia juga adalah seorang petualang. Bersama ibuku, mereka memutuskan untuk menjelajahi berbagai tempat dan memintaku untuk menjalankan serta mengembangkan bisnis yang mereka tinggalkan hingga mereka kembali,” Feng mencoba menjelaskan identitasnya pada Shuwan dan yang lainnya.
“Kelihatan bahwa kau masih begitu muda tapi sudah mampu menjalankan bisnis hingga begitu suksesnya. Jujur aku menjadi kagum padamu,” Zhang memuji Feng.
“Ah... Ini bukan apa-apa. Aku hanya menjalankan apa yang sudah ada, bukan apa yang aku bangun sendiri. Jadi, jangan memujiku secara berlebihan,” ujar Feng tersipu malu. “Uhm... Bolehkah aku tahu siapa nama kalian?” Feng bertanya pada Zhang dan yang lainnya.
“Perkenalkan aku Zhang, ini Yu Hao, gadis ini adalah Jiao, dan perempuan yang kau goda tadi adalah Shuwan,” kata Zhang memperkenalkan dirinya dan anggota timnya.
“Begitu ya? Sepertinya kalian bukanlah orang sini,” Feng penasaran.
Zhang telah menjadi juru bicara dalam kelompok perjalanan ini, ia pun terus menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan Feng. “Benar, kami adalah seorang pengelana. Kebetulan kami melintas di sini dan kekurangan uang untuk membeli persediaan. Sehingga, kami membuka perkerjaan ini,” terangnya.
“Aku meminta kalian untuk menjalankan suatu misi. Yaitu mencari bukti untuk membebaskan pamanku,” kata Feng.
Shuwan pun menyela, “Bukti? Memangnya kenapa dengan pamanmu?”
“Dia difinah telah bersekongkol untuk melawan pemerintah. Ada orang yang berusaha menjatuhkan keluarga kami. Aku sudah melakukan berbagai cara, tapi tetap saja tidak ada yang berhasil,” ucap Feng yang kini wajahnya menjadi muram.
“Ini ada hubungannya dengan keluarga Liu,” singkat Feng. “Mereka merupakan saingan dagang keluarga Wu, karena tidak berhasil menjatuhkanku secara langsung, mereka mulai mengeliminasi satu per satu keluargaku yang lain. Dengan begitu, aku akan kesulitan karena tidak mempunyai dukungan,” sambungnya.
“Begitu rupanya. Jika kita berhasil menemukan bukti itu, pamanmu akan bebas, dan keluarga Liu akan menggantikan posisi pamanmu. Benarkan?” celetuk Shuwan.
Feng tersenyum, “Kau memang benar-benar wanita yang cerdas, tidak salah jika aku menjatuhkan pilihan padamu,” Feng kembali menggoda Shuwan.
“Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu, maka aku tidak sungkan untuk menebas lehermu,” ancam Shuwan.
“Baiklah, baiklah... Aku akan berhenti,” kata Feng. “Masalah ini, aku sudah memikirkan sebuah rencana. Shuwan akan menjadi pemeran utamanya,” ucapan Feng ini mengagetkan mereka yang ada di sana kala itu.
“Shuwan? Sebagai pemeran utama?” tanya Zhang seakan tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Feng.
“Tuan muda dari keluarga Liu yang merupakan anak tertua sangat menyukai wanita cantik berbakat. Berbeda dengan adiknya yang tertarik dengan bisnis dan keuangan. Jika Shuwan bisa masuk dan mendekatinya, pasti kita bisa lebih dekat dengan bukti itu,” terang Feng.
__ADS_1
“Aku tidak setuju! Kau menggunakan Shuwan untuk masuk kekeluarga itu dengan cara seperti ini? Benar-benar di luar dugaan,” emosi Zhang seketika meluap.
Yu Hao dan Jiao pun berusaha menahan Zhang agar tidak gegabah.
“Aku membayar mahal kalian untuk menjalankan misi ini. Tentu harga yang sepadan bukan?” ucap Feng sembari menyeruput teh yang ada dihadapannya.
“K-kau!” Zhang berteriak pada Feng.
“Tenanglah, Zhang,” Shuwan menahan tubuh Zhang dan mencoba menenangkannya. “Feng, lanjutkan rencanamu,” pinta Shuwan pada Feng untuk melanjutkan penjelasan dari rencananya.
“Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, Shuwan. Apakah kamu bisa bermain musik?” tanya Feng.
Shuwan menanggapi pertanyaan Feng, “Aku bisa memainkan beberapa alat musik petik, tiup, dan juga gesek,” singkatnya.
“Kalau begitu, kita bisa memanfaatkannya untuk mendekati keluarga Liu. Kudengar mereka sedang mencari guru guzheng untuk putra tertua mereka. Kau bisa mencoba untuk melamar menjadi gurunya. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah untuk mencari bukti itu dan menyelediki keluarga Liu,” jelas Feng. “Selain itu, kau tidak perlu khawatir, kami akan ada di sana untuk menemanimu. Tentunya dengan penyamaran,” sambungnya.
Setelah mempertimbangkannya dengan matang, Shuwan pun memberi keputusan, “Baiklah, aku setuju dengan rencanamu.” Semoga ini pilihan yang benar. Batin Shuwan.
"Tapi Shuwan..." ucap Zhang terputus.
"Tenanglah, Zhang. Kita bisa mempercayai Feng. Meskipun dia genit dan manja, tapi aku bisa melihat ketulusan dari sorot matanya, kata Shuwan mencoba meyakinkan Zhang.
Zhang terdiam, setelah merasa tenang ia berkata, "Em... Baiklah, aku akan mengikuti keputusanmu."
“Karena kalian adalah tamuku, maka aku akan memenuhi kebutuhan kalian selama di sini,” terang Fengying. “Pelayan... Antarkan mereka ke kamarnya masing-masing, dan penuhi kebutuhannya,” Feng memanggil pelayannya untuk mengantarkan Shuwan dan yang lainnya beristirahat.
Malam itu juga, Shuwan diajak ke ruang musik pribadi Feng. “Kau bisa memakai guzheng milikku untuk misi itu. Jika kau membutuhkan yang lainnya, panggil pelayan atau bisa juga memanggilku,” katanya.
“Baiklah,” jawab Shuwan singkat.
Feng pun berbalik dan akan bergegas meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba langkahnya terhenti, “Mengenai perkataanku yang menyinggungmu hari ini, aku secara pribadi benar-benar meminta maaf. Dan... Aku rasa, aku telah jatuh hati padamu saat pandangan pertama. Mungkin kau merasa aku pria yang aneh, tapi aku serius dalam hal perasaan. Semoga kau bisa mempertimbangkanku,” kata Feng.
Setelah menyelesaikan perkataannya, Feng pergi meninggalkan Shuwan di ruangan musik pribadinya. Shuwan yang mendengarkan kejujuran hati Feng hanya terdiam sembari memegang senar guzheng yang terpajang di sana.
__ADS_1
Feng, kau adalah orang yang kesekian kalinya mengungkapkan perasaan padaku. Namun, sungguh, aku tidak bisa membalasnya. Mungkin aku sangat berdosa karena terlihat seperti mempermainkan perasaan orang lain. Tapi aku juga tidak punya pilihan. Perasaan cinta yang seperti itu, aku benar-benar tidak bisa merasakannya. Shuwan membatin dalam keheningan malam dan kehampaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya ini.