1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Hiruk Pikuk Pasar


__ADS_3

“Hufft...” Zhang telah menyelesaikan pertapaannya. Ia menurunkan kedua tangannya dari posisi sejajar. Pandangannya tertuju pada sisa lebam yang ada di dada sebelah kirinya. Disentuhnya dengan telapak tangan kanan. Tinggal sedikit lagi. 


Zhang lalu bangkit, dan melihat temannya yang tertidur bersandar pada tiang yang tampak seperti gapura. Dia pasti lelah menemaniku. Gumam Zhang.


Saat Zhang akan melangkah keluar dari kolam, tiba-tiba saja ia tersandung. 


“Ugh!” Zhang terjatuh tepat ke atas lantai.


Seketika Yu Hao yang sejak tertidur pun kaget mendengar rintihan Zhang. 


“Zhang!” Yu Hao berlari mendekati Zhang yang masih belum bangkit. “Kau tidak apa?” tanyanya dengan pandangan yang gusar.


“Aku tidak apa. Tadi aku terpeleset. Maaf ya, sudah membangunkanmu.”


“Seharusnya memang bangunkan aku jika kau sudah selesai.”


“Tapi kau tampak nyenyak. Bagaimana mungkin aku mengganggu mimpi indahmu itu?”


“Kau ini bisa saja. Ini bajumu.” Yu Hao menyerahkan pakaian yang dititipkan oleh Zhang.


“Terima kasih.” Zhang mengambilnya dari tangan Yu Hao dan langsung mengenakannya.


Sesuatu hal tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. “Zhang, apa yang harus dilakukan selanjutnya?”


“Setelah ini, aku harus obat yang terbuat dari Lotus Salju selama seminggu,” jawab Zhang seraya merapikan pakaiannya.


“Lalu, siapa yang membuatnya?”


“Aku sudah menyiapkannya.” Biksu bersama seorang tabib istana tiba-tiba saja masuk ke tempat itu. “Ini, kau harus meminumnya secara rutin, pagi dan malam.” Biksu itu menyerahkan mangkuk berisi ramuan obat kepada Zhang.


Zhang mengambilnya dengan sopan dan langsung meminumnya. Ugh... Terasa getir. Gumam Zhang setelah ramuan itu masuk ke dalam mulutnya.


“Kau harus meminumnya dengan rutin. Aku akan membantu memeriksamu setiap hari,” kata tabib yang berdiri di samping sang biksu.


“Terima kasih untuk bantuannya,” Zhang mengepalkan kedua tangannya kedepan. Kepalanya ditundukkan sedikit sebagai tanda penghormatan. Seminggu lagi. Dan aku akan sembuh.


***


Jiao sedang duduk menunggu di depan pintu. “Haish... Apa yang sebenarnya Shuwan lakukan di dalam? Kenapa hanya ganti saja begitu lama?” Jiao lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu mengetuk pintu itu. “Shuwan... Shuwan... Apa kau ketiduran?” teriak Jiao.


“Sebentar lagi!” sahut Shuwan dari dalam. 


“Berapa lama lagi? Jika kau terus berlama-lama maka pasarnya bisa bubar.”


Tanpa disangka Shuwan pun akhirnya membuka pintu kamar. 


“Haruskah aku mengenakan pakaian seperti ini?” protes Shuwan yang mengenakan baju berwarna merah muda. Tidak lupa juga tusuk rambut kupu-kupu yang pernah diberikan Ying Jie padanya. 


“Kau terlihat cantik. Ini lebih baik daripada kau hanya mengenakan pakain hitam yang polos.”


“Sudahlah, tidak ada waktu.” Jiao langsung menarik tangan Shuwan. 


Mereka pun pergi ke pasar yang ada di pusat Negeri Awan dengan menunggangi kuda. Jiao yang menjadi pengendali kudanya. Sedangkan Shuwan, ia diminta tetap tenang menjadi penumpang di belakang Jiao.


“Berapa lama kita harus berjalan?” tanya Shuwan penasaran.


“Sekitar 3 jam.”


“T-tiga jam? Hanya untuk ke pasar kita harus menempuh waktu 3 jam?” Shuwan kaget mendengar jarak waktu yang begitu lama hanya untuk pergi ke pasar.


“Kita pergi ke pasar pusat yang lebih lengkap. Dan, itu berada di pusat Negeri Awan. Jaraknya memang sekitar 3 jam dari tempat Shifu.”


Shuwan menepuk jidatnya. Astaga! Tulangku yang baru saja pulih ini, bisa retak lagi jika menempuh perjalanan selama itu! 

__ADS_1


Kuda yang ditunggangi Shuwan dan Jiao terus melaju melewati batas-batas daerah di Negeri Awan. Shuwan hanya terkagum melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya.


Hingga, waktu 3 jam berlalu. Mereka pun sampai di pasar pusat.


“Woah... Ini benar-benara keren.” Shuwan terkagum-kagum melihat hiruk pikuk pasar yang sangat luas.


Berbagai macam toko saling berjajar dan berhadapan. Para pedangan sedang sibuk menawarkan, dan juga memperjual belikan dagangannya.


Jiao yang sedang memarkirkan kudanya pun sampai keharanan. “Bocah ini apa tidak pernah melihat pasar?” Gumamnya.


“Aku sangat ingin membeli manisan dan juga makanan-makanan enak lainnya.”


Kini giliran Jiao yang menepuk jidatnya. Apakah yang ada di otaknya hanya makanan manis? “Shuwan, ayo kita ke toko herbal. Aku mau mencari bahan-bahan obat.” 


“Baik, kita pergi ke toko herbal dahulu. Tapi, nanti tolong belikan aku gulali ya?”


“Oke. Tapi hanya satu ya?”


“S-satu. Dua ya? Ku mohon. Aku tidak akan merepotkanmu dan meminta yang lainnya,” kata Shuwan seraya memelas.


“Ya, baiklah. Ayo kita pergi sekarang.”


Shuwan dan Jiao mengelilingi toko herbal yang ada di sana. Setelah mendapat cukup bahan, mereka pun beristirahat di tukang gulali.


Shuwan terlihat seperti anak kecil yang kegirangan mendapat permen. Ia seolah lupa dengan apa yang meresahkan pikiran dan juga hatinya.


Jiao lalu memandangi Shuwan yang dengan sabar menunggu gulalinya jadi. Setidaknya dia sedikit terhibur. Dia terlalu banyak bertengkar dengan Zhang, bersikap dingin, dan juga murung beberapa hari ini.


Setelah Shuwan selesai membeli gulalinya, Jiao mengajaknya menepi di depan sebuah kedai yang tak terlalu ramai.


Jiao pun membuka tas belanjaannya dan memastikan bahwa bahan yang diperlukan oleh gurunya sudah lengkap.


Sementara Shuwan masih mengulum gulalinya dengan tenang.


“Ah... Aku melupakan sesuatu,” celetuk Jiao.


“Tadi Shifu titip teh putih, dan aku lupa. Bisakah kau tetap menunggu di sini? Aku akan mencari toko teh dan segera kembali kemari,” imbuhnya.


“Pergilah Jiao. Aku akan menunggu di sini dan menghabiskan gulaliku. Hehe.”


“Kalau begitu aku pergi dahulu.” Jiao bergegas pergi dengan setengah berlari. Kembali menjejaki pasar dan mencari kedai yang menjual teh kering. 


Sementara Shuwan ia masih menunggu di depan kedai tempatnya beristirahat. Shuwan terus menunggu, hingga gulali yang dimakannya pun habis.


Shuwan mendecak. “Kenapa Jiao lama sekali? Apa terjadi sesuatu? Sebaiknya aku mencarinya saja.” 


Shuwan pun berjalan santai meninggalkan tempat itu. Matanya memandang cermat setiap toko yang ada di pasar. “Hah... Sepertinya butuh waktu lama untuk menemukannya. Di sini terlalu ramai.”


Baru saja Shuwan mengalihkan pandangannya sebentar, tiba-tiba saja ada seekor kuda yang sedang berlari kencang di tengah pasar hendak menubruknya.


“Nona awas!” 


Seorang pria entah muncul dari mana tiba-tiba memeluk Shuwan dan mendorongnya agar tidak tertabrak kuda yang sedang melaju.


Tusuk rambut Shuwan terjatuh, dan rambutnya hitam panjangnya tergerai begitu saja. Keduanya kemudian jatuh ke tanah dengan tumpang tindih.


Pria itu berada di atas tubuh Shuwan. Tangan kanannya melindungi kepala Shuwan ketika terjatuh tadi. Sedangkan tangan kiri menahan tubuhnya agar tidak menindih Shuwan.


Keduanya yang dalam posisi tersebut pun saling melempar pandang.


Cantik... Batin pria itu setelah beradu pandangan dengan Shuwan.


Shuwan yang risih karena orang-orang di pasar memperhatikan mereka pun segera mengambil tindakan. “Bisakah kau segera menyingkir?” ucap Shuwan sedikit keras.

__ADS_1


Pria yang menabrak Shuwan pun terlihat gugup. Ia pun segera bangkit. “Eh... Maafkan aku.” Tangan kanannya segera memegangi tengkuknya. “Apa... Kau baik-baik saja?” tanya pria itu.


Shuwan kemudian berdiri, dan menjawabnya, “Seperti yang kau lihat aku masih bisa berbicara denganmu sekarang.”


Bicaranya benar-benar frontal. Apakah wanita anggun sepertinya tidak belajar etiket? Batinnya yang kaget mendengar cara Shuwan berbicara. “Begitu ya. Syukurlah.”


Shuwan mendengus kesal. Ia memaki kuda yang hendak menabraknya. “Kuda milik siapa sih yang melaju dengan kecepatan seperti itu di keramaian? Bagaimana kalau sampai melukai orang lain?” geram Shuwan.


Pria itu terkekeh kecil. Ia lalu menanggapi omelan Shuwan. “Itu adalah prajurit istana. Mereka sedang mencari seseorang kelihatannya.”


“Seseorang? Apakah itu penjahat?”


Pria itu menghela napas. “Pangeran mahkota pergi dari istana. Jadi, Yang Mulia Raja meminta para pengawal untuk mencarinya.”


“Pergi dari istana? Apa dia tidak menyukai kehidupan yang nyaman? Manusia yang aneh.”


“Kebanyakan yang dilihat orang di luar istana memang seperti itu. Tapi di dalamnya sendiri penuh dengan ranjau yang mematikan. Aku rasa pangeran mahkota tidak menyukai politik. Makanya dia pergi mencari kebebasan.”


Shuwan menyipitkan matanya. Ia memandang tajam pria di depannya itu. “Bagaimana kau tahu banyak tentang putra mahkota?”


“Kebetulan aku berteman baik dengan putra mahkota.” Pria itu tersenyum lembut pada Shuwan. 


“Itu artinya... Kau adalah orang istana?”


Pria itu mengangguk. “Aku bekerja di perpustakaan istana.”


Rupanya dia seorang pustakawan. “Ehem... Tuan pustakawan, terima kasih karena tadi sudah menyelamatkanku. Kelak jika kau memerlukan bantuanku, aku pasti akan membantumu dengan senang hati.”


Rambut Shuwan yang kini terurai pun terlihat menari-nari seirama hembusan angin. Pria itu memandanginya penuh arti. Seketika pipinya merona. “Iya... Sama-sama...” sahutnya dengan pandangan tak lepas dari Shuwan. 


“Apakah ada yang aneh di wajahku? Kenapa kau melihatku seperti itu?”


“A-ah... Tidak ada yang aneh dengan wajahmu.” Yah... Kau hanya terlihat semakin cantik saat rambut panjangmu yang terurai itu tertiup angin.


Tidak lama, terdengar suara seorang wanita yang memanggil Shuwan. Suara yang tak lagi asing baginya.


“Shuwan!” Jiao berlari menghampirinya. “Apakah terjadi sesuatu padamu?” tanya Jiao khawatir.


“Aku tidak apa-apa. Tadi hanya ada sedikit insiden.”


“Syukurlah. Maaf karena membuatmu menunggu lama. Toko tehnya ada di ujung tempat ini, jadi cukup lumayan berjalan kaki ke sana.”


“Sudah tidak apa. Yang penting kau juga sudah kembali lagi bukan?”


Jiao mengangguk. “Kalau begitu ayo pulang! Shifu pasti sudah menunggu lama.”


“Um... Ayo!” 


Jiao pun langsung menarik tangan Shuwan, dan Shuwan pun langsung mengikutinya.


Sebelum terlalu jauh dan tertutup banyak orang, ia sempat menengok ke arah pria yang menolongnya, dan kemudian mengembalikan pandangannya lurus ke jalan.


Sementara pria itu masih terdiam mematung. Tampaknya ia terpesona dengan Shuwan pada pandangan pertama.


“Hei! Bagaimana bisa Yang Mulia meninggalkanku sendirian begitu saja? Apa Yang Mulia tahu aku hampir mati ketakutan?” Seorang pria lainnya yang tampak seperti prajurit bayangan datang menghampiri orang yang dipanggilnya ‘Yang Mulia.’


Namun pria itu masih memandang lurus ke depan ke arah Shuwan menghilang dalam keramaian. “Aku bosan, makanya aku pergi. Para pengawal itu rupanya sudah berkeliaran sampai kemari.”


Prajurit bayangan itu tampak kebingungan melihat orang yang ada di sampingnya itu terus memandang ke depan. “Sebenarnya Anda sedang mencari apa?” tanyanya.


“Angsa betina.”


“Hah?” pengawal itu semakin bingung dibuatnya. “Hm... Yang Mulia, sebaiknya kita bergegas kembali ke istana. Sebentar lagi akan ada pertemuan dengan para bangsawan.”

__ADS_1


Pria yang dipanggil ‘Yang Mulia’ itu pun menganggk. Saat ia akan beranjak pergi, matanya tertuju pada sebuah tusuk rambut yang terjatuh di tanah. Ia lantas mengambil, dan menggenggamnya dengan erat. “Shuwan ya? Aku akan mengingat namanu,” gumamanya.


Pria itu lalu pergi bersama pengawalnya, dan menghilang di keramaian pasar.


__ADS_2