
Hari sudah menjadi malam. Shuwan menangis begitu lama dalam pelukan Zhi Qiang, hingga membuatnya telelap di sana.
“Apa yang membuatmu begitu sedih, Shuwan? Apakah karena Zhang?” Zhi Qiang membelai lembut rambut hitam Shuwan. Ia mencium wangi rambutnya.
Xin Ru yang sedari tadi menunggu Zhi Qiang di sudut lain pun mendekatinya. “Tuan, hari sudah gelap. Tidakkah kau ingin kembali ke kediamanmu?”
“Sst... Pelankan suaramu, atau dia akan terbangun.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan padanya?”
Zhi Qiang membenarkan posisi Shuwan, ia kemudian bangkit dan membopong tubuhnya. “Dia akan bersamaku.” Zhi Qiang berjalan membawa tubuh Shuwan.
Sementara itu, Xin Ru hanya memandanginya. “Tuan, kau berusaha melepaskannya, tapi kau tidak bisa bukan?”
Zhi Qiang membawa Shuwan menyusuri lorong, menuju kediamannya. Sesekali ia memandangi wajah Shuwan yang terlelap.
Para penjaga yang berjaga pun tersenyum-senyum sendiri melihat putra mahkota mereka menggendong seorang wanita. Begitu pula para pelayan yang masih berlalu lalang.
Zhi Qiang tidak menggubris orang-orang di sekitarnya. Ia hanya fokus pada Shuwan.
Sesampainya di kediaman, Zhi Qiang membawa masuk Shuwan ke kamarnya. Ia membaringkan Shuwan ke tempat tidurnya. Ia lalu beranjak kembali untuk menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Setealahnya, ia kembali ke sisi Shuwan. Dengan lembut ia melepaskan sepatu Shuwan. Ia juga melepas jubah dan juga sepatunya.
Zhi Qiang kemudian merebahkan dirinya di samping Shuwan. Ia lantas menarik kelambu dan menutup ranjang itu secara total. Tak luapa, ia pun menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan Shuwan sebatas dada. Zhi Qiang pun berbagi tempat tidur sekaligus selimut dengan Shuwan.
Pandangannya tak terlepas dari wajah Shuwan. Entahlah, dia hanya merasa sangat senang sekarang. Sejenak ia mengabaikan masalah besar yang menantinya esok hari.
“Shuwan, kau pasti sangat lelah bukan? Istirahatlah... Aku akan menajgamu,” kata Zhi Qiang seraya membelai lembut wajah Shuwan.
Sementara itu Xin Ru bingung harus bagaimana menyikapi tuannya yang kini sedang berbagi ranjang dengan Shuwan.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengabari Yu Hao dan Jiao.
Sesampainya di hunian khusus diplomat, Xin Ru mendapati kamar yang dihuni oleh Zhang dan Yu Hao terbuka. Ia lantas berdiri di sana, dan mendapati Zhang yang tampaknya sudah terlelap.
Yu Hao dan Jiao yang menyadari kedatangan Xin Ru pun langsung keluar. Mereka menemui Xin Ru.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Yu Hao.
“Ada hal penting yang perlu aku katakan padamu,” balas Xin Ru.
__ADS_1
“Mengenai?”
“Shuwan,” singkat Xin Ru.
Netra Jiao membulat sempurna. “Shuwan? Kau tahu di mana dia? Sejak sore tadi dia belum kembali,” kata Jiao cemas.
Xin Ru membuang napas beratnya. Ia sedikit khawatir untuk mengatakannya. Tapi ia harus tetap melakukannya. “Shuwan aman. Dia sedang tidur bersama putra mahkota.”
Jiao dan Yu Hao langsung terkesiap. Netra mereka membulat sempurna, seakan tidak percaya mengenai hal yang baru saja dikatakan Xin Ru.
“A-apa kau bilang? Tidur bersama putra mahkota?” Yu Hao terbata.
Xin Ru mengangguk yakin.
Yu Hao meraih kerah Xin Ru dan menariknya dengan kuat. “Bagaimana mungkin kau membiarkannya? Kau harusnya tahu kalau Shuwan adalah orang yang sangat berharga bagi Zhang! Kenapa kau tidak mencegah mereka?” Dengan amarah Yu Hao memberondong Xin Ru dengan berbagai pertanyaan.
“Aku hanya tidak tahu harus berbuat bagaimana. Tuanku juga menyukai Shuwan. Bahkan kediaman dan juga raja sudah mengetahui Shuwan sebagai istrinya.”
“Kau harusnya tahu kalau itu hanya sandiwara bukan? Kenapa kau tidak mencegahnya?” Sekali lagi Yu Hao berbicara dengan ketus pada Xin Ru.
Xin Ru tak lagi menanggapinya. Ia sadar bahwa orang yang ada di hadapannya kini sedang marah. Ia lantas memilih diam agar tidak terjadi keributan.
Sementara itu Jiao merasa kakinya mulai lemas. Ia meneteskan cairan hangat yang sejak tadi sudah bermuara di netranya.
“Kenapa... Kenapa semuanya jadi seperti ini?” Jiao menangis begitu saja. Temannya yang satu sakit, dan yang satunya lagi kini sedang berbagi ranjang dengan lelaki lain yang baru saja dikenalnya. Hatinya tidak kalah sakit melihat satu demi satu kemalangan menimpa mereka.
Xin Ru merasa bersalah karena tidak menghentikan tuannya. Ia lalu pergi meninggalkan Yu Hao dan Jiao tanpa kata perpisahan.
Yu Hao hanya memandangi punggung Xin Ru yang perlahan menjauh. Netranya lantas kembali pada Jiao. Ia berusaha menenangkan Jiao dalam pelukannya. “Tenanglah, Jiao. Pasti masih ada sesuatu yang belum kita ketahui. Kita sabar saja dan tunggu keadaannya membaik.”
***
Sementara itu, di kediaman menteri keuangan, berkumpulah sekawanan pemberontak yang sudah siap siaga menyerang istana.
Seorang pria bertubuh kekar, dengan pakaian serba hitam pun duduk dengan seorang pria yang rambutnya hampir putih semua.
“Kau sebaiknya menepati janjimu, Pak Tua?! Kalau tidak aku juga akan menghabisimu di depan semua orang!” kata pria kekar itu.
“Kau tenang saja. Begitu kita berhasil menggulingkan tahta, kau akan menjadi rajanya,” ucap pria tua itu.
“Dia benar. Kami pasti akan menjadi abdimu,” kata pria tua lainnya.
__ADS_1
Yah, itu adalah pemimpin Kelompok Mawar Hitam sesungguhnya, dan juga para menteri yang berkhianat.
Ada tiga orang menteri yang berkoalisi untuk melengserkan pemerintahan saat ini. Diantaranya adalah Bai Long menteri perpajakan, Duan Jung menteri pertahanan, dan Zhu Yong menteri kesekretariatan negara.
Ketiganya merupakan bagian penting di pemerintahan Negeri Awan saat ini. Tentu saja mereka memiliki banyak kaki tangan di dalam dan luar istana yang bisa dimanfaatkan.
Mereka pun bekerja sama dengan Kelompok Mawar Hitam yang menjadi kelompok bandit paling ditakuti. Zhuting, adalah pimpinan utama kelompok itu.
Dengan pembagian peran masing-masing, rencana mereka pun telah siap. Meluncurkan serangan di hari penting bagi Negeri Awan pun menjadi pilihan mereka. Saat rakyat dan istana sedang bersuka cita merayakan, serangan tiba-tiba juga akan diluncurkan.
Tentu saja, pasti ini akan memakan korban. Tapi itu juga menjadi sebuah peringatan, bahwa siapa pun tidak akan bisa mewalan mereka yang kini duduk di posisi tertinggi dalam pemerintahan.
***
Sementara itu di kamarnya, Zhi Qiang masih memandangi Shuwan. Padahal hari sudah semakin larut. Harusnya ia sudah beristirahat untuk hari yang panjang esok. Namun, karena hatinya yang bahagia, ia juga tidak bisa berhenti memandangi Shuwan dan terlelap.
Tangannya sangat suka memainkan rambut hitam Shuwan. Tak jarang ia menciumi rambut Shuwan. Ia berbicara pada Shuwan yang tengah terlelap. “Shuwan... Apakah aku bisa menahanmu untuk tidak menghilang? Bisakah kau tetap ada di sisiku? Aku mengatakan cinta padamu, tapi kau langsung menolaknya. Kau tahu betapa terlukanya hatiku.”
Zhi Qiang membuang napasnya lagi. Ia kemudian mengalihkan pandangannya sejenak ke langit-langit kelambu yang kini melindungi dirinya dan Shuwan.
Ia lalu memiringkan tubuhnya dan menghadap ke Shuwan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Shuwan. Dengan lembut, ia memegangi wajahnya. “Shuwan... Biar kukatakan sekali lagi padamu.” Zhi Qiang mengarahkan bibirnya ke telinga Shuwan. “Aku mencintaimu.” Bisik Zhi Qiang.
Setelah menyelesaikan ungkapan cintanya, Zhi Qiang mengecup kening Shuwan, lalu tenggelam dalam aroma wangi rambut Shuwan.
Malam itu, cinta segumpal daging bernyawa berdesir dengan syahdunya. Rembulan dan bintang-binta yang bersinar di langit malam hanya menjadi saksi bisu dari cinta itu.
***
Hunian Khusus Diplomat
Wajah Yu Hao dan Jiao semakin cemas. Melihat kondisi Zhang yang tak kunjung membaik. Bahkan, malam ini pun ia demam tinggi.
“Jiao, bagaimana kondisinya?” tanya Yu Hao.
Jiao melepaskan tangannya yang memeriksa nadi Zhang. “Nadinya cukup lemah untuk saat ini. Kita harus memberinya obat secara teratur sampai hari esok.”
“Kalau begitu segera buatkan. Aku akan mengompresnya selagi kau menyiapkan obatnya,” kata Yu Hao.
Jiao mengangguk. Dibantu tabib istana Jiao meramu obat. Sementara Yu Hao, fokus mengompres Zhang yang masih demam.
Shuwan, aku harap kau cepat kembali dan menjelaskan semuanya pada Zhang. Andai kau ada di sini, akankah kau hanya duduk dengan tenang begitu saja? Batin Yu Hao dilingkupi rasa sedih. Shuwan tak ada di sana, sedangkan Zhang terbaring tak berdaya.
__ADS_1
Disisi lain malam itu, ada yang sedang jatuh cinta dengan sang pujaan hati, namun di sisi lainnya ada yang sedang jatuh sakit menanti sebuah penjelasan. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan di malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat.