
Pagi hari telah tiba. Shuwan kembali berlatih dengan pedangnya.
Entah kenapa semalam aku susah sekali untuk tidur. Sekarang, mataku tidak ada bedanya dengan mata panda. Ugh... Menyebalkan...
Shuwan merasa sedikit tidak fokus karena kekurangan tidur. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sulit untuk tidur.
Apakah insomniaku kambuh lagi? Apa di zaman ini sudah ada obatnya?
Setelah menyelesaikan lamunannya, Shuwan menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tangan. “Ayo, Shuwan, kau harus tahan, dan mulailah latihan.”
Cukup lama kedua tangannya menepuk-nepuk pipinya. Kini yang tersisa adalah tanda merah dari cap tangannya.
Shuwan masih duduk untuk meditasi. Melatih pernapasannya supaya teratur, dan mengumpulkan fokusnya.
Begitu selesai meditasi, ia melanjutkan latihan fisik sebagai pemanasan. Seperti push up, sit up, dan lari di tempat. Selama ini Shuwan merasa sudah terlalu memanjakan fisiknya ketika sakit. Sudah saatnya untuk kembali memporsir latihan.
Kini tubuhnya terasa lebih ringan setelah latihan fisik. Di tangan kanannya, sudah dipegang pedang kebanggaan turun temurun. Shuwan menggenggamnya dengan erat.
Ia pun mulai menarikan pedangnya. Kakinya melangkah rapi mengikuti gerakan tangan. Tampak harmonis gerakan yang dibuat oleh Shuwan.
Tanpa ia sadari, dua pasang mata tengah memperhatikannya di depan pintu rumah.
“Shifu, menutumu bagaimana dengan tarian pedang Shuwan?” tanya Jiao.
“Dia mampu menyesuaikannya dengan apik,” puji Luo Shu.
“Menyesuaikan?” Jiao bingung karena ia tak begitu paham mengenai seni berpedang. Ia hanya tahu menggunakannya untuk melawan orang.
“Ketika dia hanya latihan atau sedang tidak melawan siapa pun, pemilik dan pedangnya seolah menari seperti kebanyakan penari. Sedangkan ketika melawan seseorang, Shuwan bisa menjadi sebilah mata pedang. Pandangannya tajam dan luas, namun tetap berada pada batas fokus.”
Jiao hanya manggut-manggut mendengar gurunya berbicara.
“Aku akan mencoba mengetesnya.”
Tanpa disangka-sangka, Luo Shu mengambil pedang yang selama Shuwan dan yang lainnya di sana hanya menjadi sebuah pajangan.
Luo Shu kemudian melompat tinggi layaknya pendekar pada umumnya untuk menyerang Shuwan dari atas secara tiba-tiba.
Shuwan menyadarinya. Ia pun menangkis pedang milik Luo Sshu.
Sedangkan Jiao, dia fokus menjadi penonton dari duel pedang kedua orang itu.
“Jika kau mampu mengalahkanku, maka aku akan mengizinkanmu untuk pergi ke istana,” kata Luo Shu.
Shuwan tersenyum sinis. “Benarkah? Bukannya kau memang sudah mengizinkannya?”
“Jadi kau mendengar percakapanku dengan Jiao?”
“Bukanlah hal sulit hanya untuk mendapatkan informasi. Terlebih di tempat yang tidak ada bahaya seperti di sini.”
“Karena kau sudah mendengarnya, aku akan mengubah kembali keputusanku.” Luo Shu mencoba menggertak Shuwan dengan ancaman izinnya.
“Cih... Kau benar-benar licik, Tuan Shu!”
Shuwan mendorong pedangnya yang masih menahan serangan Luo Shu yang berasal dari atas tubuh.
Luo Shu terpental, tapi ia tak sampai jatuh. Hanya mundur beberapa langkah karena menahan kekuatan tolakan dari Shuwan.
Tidak kusangka kalau dia memiliki kekuatan sebesar ini. Padahal waktu ia sekarat, aku tidak bisa merasakan aura pelatihannya. Tapi sekarang, aku menarik kembali kata-kataku.
__ADS_1
Luo Shu masih memandangi Shuwan yang berada beberapa meter darinya. Ia kemudian mulai melangkah menyerang Shuwan kembali. Berkali-kali ia mencoba untuk mengenai atau bahkan sekedar membuat Shuwan menjatuhkan pedangnya. Tapi, semua usahanya sia-sia.
Shuwan tidak banyak bicara ketika bertarung. Ia lebih fokus pada teknik dan juga musuh di depan matanya.
“Bagaimana, Tuan Shu? Apakah kau sudah menyerah? Jangan sampai karena nekat melawanku, penyakitmu itu jadi kambuh lagi.”
Dasar bocah kurang ajar! Beraninya menyinggung penyakitku. Batin Luo Shu tidak terima dengan perkataan Shuwan. “Aku masih belum mau menyerah. Kalau begitu rasakan ini!”
Luo Shu menyerang Shuwan kembali dengan tiba-tiba. Shuwan menahan pedangnya sampai terdorong mundur ke belakang.
Tapi, lagi-lagi Shuwan sudah memikirkan trik untuk mengalahkan Luo Shu.
Trik seperti ini, aku sudah menghadapinya berkali-kali. Jangan salahkan aku jika aku sedikit memberikan kejutan untuk pinggang rapuhmu itu! Hehehe! Batin Shuwan tertawa sadis setelah merencanakan sesuatu.
Kenapa bocah ini tersenyum dengan mengerikan seperti ini? Apa yang dia rencanakan? Luo Shu menjadi sedikit khawatir setelah melihat ekspresi Shuwan barusan.
Shuwan tidak melakukan perlawanan, hingga ia tersudutkan di sebuah pohon yang ada di halaman rumah Luo Shu.
Sudah saatnya! Shuwan memanfaatkan situasinya saat ini. Shuwan tidak tinggal diam. Kini kakinya digunakan untuk menumpu pada batang pohon, lalu ia pun melakukan lompatan seperti kayang, dan mendarat tepat di belakang Luo Shu.
Sebelum Luo Shu menoleh, Shuwan pun menendang pinggang pria tua itu.
“Ah! Pinggangku!” teriak Luo Shu.
“Shifu!” Jiao yang sedari tadi menonton pun langsung berlari mendekati Luo Shu yang jatuh tersungkur di tanah. “Shuwan, aku rasa ini dicukupkan saja. Shifu, sudah sampai seperti ini, apa kau masih ingin melawannya?”
Shuwan membuang napasnya. “Bukankah tadi dia sendiri yang menantangku? Jadi, anggaplah ini pelajaran untuknya agar tidak tawar menawar denganku.”
Jiao menelan salivanya dengan susah payah. Apakah dia benar-benar Shuwan yang ku kenal? Tidak kusangka, ternyata dia akan semenakutkan ini jika sedang serius bertarung.
“Ugh!” Luo Shu mencoba berdiri.
Jiao yang ada di sana pun membantu memapahnya.
“Kau tenanglah di rumah. Aku tidak akan menciptakan masalah untukmu. Lagi pula, hal semacam itu sama sekali tidak ada untungnya bagiku.”
“Baguslah kalau kau sudah mengerti.” Luo Shu lalu mengalihkan pandangannya pada Jiao yang ada di sana. “Jiao, bisakah kau membantuku menumbuk beberapa obat untuk mengobati pinggangku?”
“Tentu saja, Shifu!” Jiao memapah Luo Shu berjalan menuju rumah.
“Hah... Sudah sejak lama ada lagi anak yang berani menyakiti pinggangku. Anak muda benar-benar punya stamina yang kuat ya?”
“Katamu ‘sudah sejak lama’? Apakah sebelum Shuwan ada yang telah melakukannya juga padamu, Shifu?”
Luo Shu tertunduk. “Anak itu, adalah putra semata wayangku yang sudah tiada.”
Jiao tersentak. Perasaannya menjadi tidak enak setelah membuat gurunya memunculkan ekspresi sedih itu.
“Shifu, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.”
“Hahaha! Sudahlah, tidak apa. Di dunia ini memang tidak ada yang abadi. Sebentar lagi, aku pasti juga mati.”
Ada raut kesedihan di wajah Jiao ketika gurunya mengucapkan ini. “Shifu, tidakkah kau punya saudara? Kenapa kau hanya tinggal dengan pelayan-pelayanmu saja di sini?”
“Hah... Aku punya. Tapi mereka sibuk dengan usahanya masing-masing. Aku bergerak dibidang kimia, sedangkan mereka, rata-rata berusaha di bidang bisnis.”
“Begitu rupanya.”
Sementara itu Shuwan masih berada di halaman kediaman Luo Shu.
__ADS_1
Seekor burung rajawali dengan perawakan yang besar membumbung tinggi di udara. Shuwan terperangah setelah mendengar suara burung itu.
“Kenapa tiba-tiba ada Rajawali?” Shuwan penasaran.
Tanpa Shuwan sangka, burung itu tiba-tiba turun dengan menukik hingga membuat Shuwan panik.
“B-burung itu... Apa dia akan menyerangku?”
Shuwan tidak mengira kalau burung itu ternyata bertengger di sebuah palang kayu yang ada di dekat pohon.
“Kupikir burung ini sengaja akan menyerangku. Ternyata aku salah.”
Shuwan mengamati dengan seksama burung di depannya itu. Tiba-tiba saja ia menjadi teringat akan sesuatu.
“Burung ini... Kenapa sangat mirip dengan yang menolongku di padang ilalang (Eps. 40)? Apa jangan-jangan memang benar burung ini? Tapi, bagaimana mungkin?”
Banyak pertanyaan di benak Shuwan mengenai Rajawali itu. Ia lalu menjatuhkan pandangannya pada sebuah gulungan yang dibawa di punggung burung itu.
“Apakah burung ini adalah pengantar surat? Tapi... Siapa yang mengirimkannya?”
Shuwan bergegas mengambil surat itu. Ia lalu membacanya.
Untuk Nona Angsa Hitamku...
Aku mengerti keadaanmu, dan aku akan menunggumu sampai datang ke istana. Semoga saja si Pak Tua itu segera sadar supaya bisa memberikan keputusan.
Aku sangat berharap kalau kau akan diizinkan untuk pergi. Aku benar-benar ingin berbincang banyak denganmu. Di samping kita mempersiapkan acara perayaan itu.
Selain itu, aku ingin mengajakmu pergi ke festival lampion di malam perayaan itu. Bagaimana? Kita akan menuliskan harapan di sana, lalu menerbangkannya. Aku benar-benar ingin melakukannya dengamu.
Ah... Iya. Mulai sekarang kau bisa membalas suratku dengan Rajawali ini supaya tidak perlu jauh-jauh datang ke istana hanya untuk mengantar surat.
Nama Rajawali itu San. Itu adalah Rajawali kesayanganku. Biasanya hanya digunakan untuk mengirim surat penting saja. Karena kau sekarang juga penting bagiku, jadi burung ini kuutus untukmu.
Kalau begitu sampai sini saja. Ku tunggu kehadiranmu di istana. Dan... Aku merindukanmu...
Tertanda: Penjaga perpustakaan, Qiang’er.
“Jadi namanya Qiang’er? Huh.. Suratnya terlalu manis.” Shuwan masih mengingat kalimat terakhir, ‘aku merindukanmu.’ Dia berusaha menampiknya jauh-jauh, sama seperti yang ia lakukan terhadap Zhang.
Netranya kembali menatap Rajawali yang gagah milik putra mahkota. “Terima kasih sudah mengantarkan surat ini. Aku akan ke dalam untuk menuliskan balasannya. Kau tunggu di sini ya?” pinta Shuwan.
Shuwan pun pergi meninggalkan Rajawali itu di luar. Ia berjalan masuk untuk menuliskan balasannya.
Sesampainya di dalam kamar, Shuwan langsung mengambil secarik kertas dan juga kuas untuk menulisnya.
Digoreskannya kuas itu tanpa ragu. Huruf demi huruf telah terukir menjadi kata, dan kata demi kata terajut sempurna menjadi kalimat.
Shuwan langsung menyelesaikannya dalam hitungan menit. Ia menulis surat yang tidak berbelit-belit seperti milik seseorang yang mengiriminya baru saja.
Begitu selesai, Shuwan langsung menggulung surat itu, dan memasukkannya ke dalam tabung yang digunakan untuk melindungi surat.
Setelah menyelesaikan urusan surat menyuratnya, Shuwan lalu pergi ke dapur, dan mengambil beberapa potong daging dengan ukuran kecil yang akan ia berikan pada Rajawali itu.
Ia kemudian kembali ke Rajawali yang sedang bertengger, dan mengikatkan surat balasan dalam tabung itu ke punggung Rajawali itu. Sama persis seperti yang dilakukan pengirim sebelumnya.
“Nah, kau antarkan ini pada tuanmu,” kata Shuwan setelah selesai mengikatkannya. “Dan, ini adalah bonus untukmu.” Shuwan menyuapi Rajawali itu dengan daging yang sudah ia bawa.
Begitu selesai melahap satu per satu daging yang diberikan Shuwan, Rajawali itu terbang bebas ke cakrawala, dan menjatuhkan sehelai bulu berwarna hitam dan putih.
__ADS_1
Shuwan meraih bulu itu, dan ia menyadarinya. “Bulu ini sama persis. Apakah mungkin benar burung itu yang menolongku? Tapi, bagaimana mungkin terjadi secara kebetulan begitu saja?”
Shuwan masih bingung, netranya lalu terarahkan pada Rajawali yang mulai menjauh dan menghilang di tengah kabut pagi.