1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Sebuah Pemberian


__ADS_3

Zhi Qiang telah menyelesaikan suratnya. Kini tiba ia mengirimkan ke tujuan yang seharusnya.


“Kau ingin mengantarkannya sendiri? Atau menyuruh orang lain?” tanya Shuwan.


Zhi Qiang tersenyum. “Aku punya San yang akan mengirimkannya. Tidakkah kau mengingatnya?”


Shuwan diam.


“Jika aku atau orang lain yang pergi, itu akan membutuhkan banyak waktu. Maka dari itu aku akan mengirim San. Dengan begitu, mereka akan tiba besok pagi.”


Zhi Qiang mendekati San yang berada di luar kediamannya. San tampak sedang bertengger di batang khusus yang disiapkan untuk bertengger. 


Shuwan mengikuti Zhi Qiang. Ia masih penasaran dengan rajawali yang dahulu menolongnya dari serangan ular di padang ilalang. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Apa itu?” kata Zhi Qiang seraya memasukkan gulungan surat ke dalam tabung yang diikat di punggung rajawali itu.


“Sewaktu aku dan yang lainnya melakukan perjalnan menuju kemari, kami beristirahat di padang ilalang. Tidak mengira kalau kami akan diserang oleh segerombolan ular di padang itu. Waktu itu kebetulan malam hari, tidak tahu mengapa tiba-tiba saja ada rajawali yang menolong kami. Dan kau tahu, rajawali itu mirip dengan San. Apa mungkin benar San sering melakukan perjalanan malam hari?”


“San memang suka melakukan perjalanan, kapan pun dia suka.” 


“Begitu rupanya.”


Selesai mengikatkannya, Zhi Qiang kemudian membiarkan San terbang mengudara. Membabat batas cakrawala menuju wilayah barat daya Negeri Awan.


Keduanya lalu kembali masuk ke ruangan. Masih ada hal penting yang perlu mereka lakukan.


“Shuwan, mengenai lampion kita harus bagaimana?” tanya Jiao.


“Kau benar. Kita masih punya satu masalah lagi.”


Xin Ru yang diam pun mulai membuka suara. “Mengenai lampion, aku sudah meminta bantuan pada para pengrajin yang kupercayai untuk membuat 1000 lampion. Mereka sedang menyelesaikannya di tempat aman.”


“Kita akan menukar lampion-lampion itu besok.” Zhi Qiang menimpali.


“Lalu, bagaimana dengan lampion yang bermesiu itu?” tanya Yu Hao.


“Soal itu kau tenang saja. Aku sudah punya rencana lain,” Zhi Qiang tersenyum setelah mengatakannya. Tidak tahu apa yang sedang ia rencanakan.


“Baiklah. Kalau begitu kuserahkan masalah lampion padamu. Aku akan kembali menemui Zhang.” Shuwan berpaling dan hendak meninggalkan kediaman putra mahkota.


“Shuwan aku ikut!” sahut Jiao dan Yu Hao berbarengan.


Zhi Qiang tersenyu, ia kemudian memanggil Shuwan. “Shuwan!”


Shuwan yang berada di depan pintu pun menoleh. 


Zhi Qiang berjalan mendekatinya. Shuwan kaget dengan apa yang ada di tangan Zhi Qiang.


“Ini, kau....”


Zhi Qiang memasangkannya di rambut Shuwan. “Benda ini terjatuh di pasar. Jadi aku mengambilnya untuk dikembalikan padamu.”


Yu Hao menyenggol lengan Jiao. “Bukankah ini tandanya saingan Zhang menjadi sangat berat?” bisiknya.


“Kau benar. Hah.... Aku hanya berharap kalau Shuwan bisa berakhir dengan Zhang,” ucap Jiao.


Shuwan dan Zhi Qiang kini beradu tatapna.


DEG! 


Jantung Zhi Qiang berdegub kencang ketika menyentuh rambut Shuwan. Tampak wajahnya jadi merona.


Begitu selesai, ia pun langsung mengeluarkan sebuah benda yang telah ia simpan di sakunya. Ya, itu adalah sebuah kalung.


“Aku ingin memberikan ini sebagai hadiah,” kata Zhi Qiang seraya menunjukkan kalung dengan permata biru berbentuk lotus.


“Kenapa kau memberiku hadiah? Aku tidak melakukan apa pun,” kata Shuwan.


Zhi Qiang tersenyum. “Kau sudah hadir di hidupku Shuwan, dan itu adalah hal yang indah. Makanya aku ingin memberimu kalung ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah hadir di sini.”


Shuwan tidak mengerti jelas apa maksud pemuda di hadapannya. Ya, soal hati Shuwan memang awam. Dengan polosnya dia pun menerima kalung itu. “Baiklah. Tapi kau tidak bisa mengambilnya lagi suatu hari nanti.”


“Aku tidak pernah mengambil kembali apa yang sudah aku berikan. Lagi pula ini adalah satu-satunya dan aku  rasa hanya kau yang layak menerimanya.”


Zhi Qiang bergerak mulai memasangkan kalung itu di leher Shuwan. “Anggaplah ini anugerah dan kehormatan bisa memasangkan sebuah kalung padamu,” katanya.

__ADS_1


Shuwan lagi-lagi harus berdekatan dengannya, dan berharap ini segera selesai. Tanpa sengaja Shuwan mencium aroma parfum yang digunakan Zhi Qiang.


Aroma ini... Aku seperti pernah menciumnya. Batin Shuwan merasa familiar dengan parfum yang digunakan Zhi Qiang.


Shuwan... Selama kau belum menjadi milik siapa pun, aku pasti akan terus berjuang untuk memenangkanmu. Tapi jika memang pada akhirnya tidak ditakdirkan, aku hanya bisa melepasmu, demi kebahagiaanmu. Batin Zhi Qiang.


"Jagalah kalung itu. Benda itu sangat berharga bagiku." Pesan Zhi Qiang.


"Berharga?" Shuwan bingung.


"Itu adalah kalung peninggalan ibuku. Aku memberikannya padamu karena aku merasa kau sangat cocok mengenakannya."


Kenapa orang-orang ini memberikan barang berharga padaku? Tidak Zhang, tidak pula putra mahkota. Lelaki memang makhluk yang aneh. Batin Shuwan.


Setelah selesai memaikan kalung itu, Zhi Qiang mundur beberapa langkah. Ia lalu tersenyum pada Shuwan. “Sekarang kau boleh pergi Shuwan. Temuilah Zhang. Dan mengenai perjanjian kita, aku akan menjelaskannya pada ayah.”


“Apakah kau tidak takut kalau dia marah?”


“Kau jangan khawatir. Aku sudah biasa mendengarkan dia mengoceh seharian. Telingaku sudah kebal dengannya.”


Shuwan hanya ber-oh saja mendengar penjelasan Zhi Qiang. Dia pun kemudian membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan kediaman putra mahkota.


Xin Ru kemudian berjalan mendekati Zhi Qiang. “Apakah kau melepaskannya?”


Zhi Qiang tersenyum. “Jika kita ditakdirkan bersama, waktu akan menjawabnya. Namun jika tidak, maka aku hanya bisa berharap untuk bisa menjadi orang terdekatnya, dan melindunginya.”


Xin Ru hanya memperhatikan tuannya. Sungguh, terkadang ia menjadi manusia paling bodoh untuk bisa memikirkan perasaan orang lain, terlebih tuannya.


Selama perjalanan menuju ke tempat Zhang, Shuwan hanya diam. Perasaan yang kacau selalu membayanginya. Ada Zhang yang terluka, ada pula kekacauan yang akan terjadi.


Keinginan hidup dengan tenang, dan juga aman begitu dasyatnya mengoyak hati dan pikirannya. Rumah, tempat yang selalu menjadi kerinduan terdalam bagi seorang Shuwan.


Jiao dan Yu Hao yang berjalan di belakang Shuwan hanya diam. Mereka ingin mengajaknya bicara, namun lidah tak kuasa berkata.


Tanpa terasa, langkah kaki kini telah sampai di depan pintu kamar, di mana Zhang masih terbaring.


Shuwan membukanya, dan ia terperangah karena Zhang ternyata sudah sadar, dan dalam posisi duduk.


Shuwan terdiam mematung. Sementara Yu Hao dan Jiao langsung berlari dan memanggil nama Zhang. Mereka langsung duduk di tepian ranjang, dan bertanya mengenai perasaan Zhang. Ada senyum simpul yang lembut terlukis di sana.


“Tidakkah ada yang perlu kau jelaskan padaku, Shuwan?” 


Shuwan membalik kembali tubuhnya. Tampak matahari telah condong dan membuat bayangan Shuwan menjadi semakin panjang di lantai itu. Dipandanginya Zhang yang pucat kulit dan juga bibirnya.


Namun, tidak dengan Zhang. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Shuwan karena ia membelakangi sinar matahari.


Shuwan mempersiapkan dirinya, ia membuang napas beratnya. “Tidak. Tidak ada yang perlu aku jelaskan. Kau sebaiknya jangan banyak bertanya, dan tetaplah istirahat.” Shuwan langsung membalik badannya. Ia tidak sanggup melihat kondisi Zhang yang lemah karena dirinya.


Ia buta dengan perasaan yang ada di hatinya. Apakah itu adalah rasa iba, ataukah cinta? Jika itu cinta, Shuwan menampiknya, sebab ia adalah orang yang tidak pernah ataupun bisa jatuh cinta.


Zhang terkesiap. Bukan itu jawaban yang ia ingin dengar. Bukan itu pula hal yang ia nantikan.


Dengan langkah berat, Shuwan pergi meninggalkan ruangan. Tanpa menoleh, atau pun pamit.


Zhang berusaha mengejarnya, ia beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu. Saat ia berhasil keluar beberapa langkah dari pintu, ia terjatuh, tersungkur ke lantai. Ia meringis kesakitan, namun rasa itu sesaat diacuhkannya, dan mengumpulkan segenap kekuatan untuk berteriak memanggil orang yang kini mulai pergi menjauh darinya.


“Shuwan!” teriak Zhang sekeras mungkin.


Tapi Shuwan tetap diam, dan terus melanjutkan langkahnya. Ia pun bingung sebenarnya hendak ke mana. Yang penting, ia pergi, dan menjauh dari Zhang.


Yu Hao dan Jiao lantas bergegas mendekati Zhang. Mereka lantas berusaha membantu Zhang untuk berdiri.


“Zhang, ayo kita ke dalam saja,” kata Yu Hao.


“Aku ingin mendengarkan penjelasan dari Shuwan. Kalian tidak bisa mencegahku.” Zhang mencoba berontak, dan ingin kembali mengejar Shuwan. Tapi tenaganya tidak cukup untuk melawan kekuatan Yu Hao yang kini menahannya.


“Kau masih tidak cukup sehat untuk mengejarnya, Zhang. Istirahatlah dahulu. Besok, dia pasti akan mejelaskannya padamu,” tandas Yu Hao.


“Aku tidak mau! Aku mau sekara-“


Belum selesai ucapan Zhang, Yu Hao memukul tengkuk Zhang untuk membuatnya pingsan.


“Maafkan aku Zhang. Tapi kau tidak bisa pergi sekarang.”


Jiao yang melihatnya hanya diam dan pasrah. 

__ADS_1


“Jiao, bantu aku membawanya kembali,” pinta Yu Hao.


Jiao pun membantu Yu Hao memapah Zhang kembali ke tempat tidurnya.


“Yu Hao, haruskah kita mengatakan kebenarannya pada Zhang? A-aku tidak suka melihat mereka terus salah paham seperti ini,” kata Jiao.


“Kau pikir aku suka? Tapi Shuwan sendiri tidak ingin menjelaskannya. Kita juga tidak punya hak untuk membicarakannya.”


“T-tapi...”


“Sudahlah, Jiao. Kita fokus penyembuhan Zhang saja. Selain itu, juga hal penting yang akan terjadi besok.”


Jiao tertunduk lesu. Konflik internal antara Shuwan dan Zhang juga mempengaruhi pikiran mereka.


Shuwan yang meninggalkan kamar Zhang pun dari tadi hanya mengelilingi istana. Hari mulai gelap, dan kakinya juga mulai terasa lelah. Pandangannya yang tadi mengawang lurus ke dapan, kini tertuju pada sepasang ayunan yang ada di sebuah taman kecil di sudut istana.


Di sana tidak ada orang berlalu lalang. Shuwan akhirnya memutuskan untuk duduk di ayunan itu.


Begitu duduk, pandangannya kosong. Berulang kali ia membuang napas nya agar hatinya kembali tenang. Namun tetap saja, tidak berkurang kegundahan yang ada di hatinya.


“Maaf, Zhang. Aku hanya tidak sanggup untuk berhadapan denganmu.” Shuwan mulai menggerakkan kakinya untuk memberikan tolakan yang kuat agar ayunan itu bergerak.


Ia tidak menghiraukannya lagi, dan terus duduk di sana.


Di sisi lain, ternyata Zhi Qiang memperhatikan Shuwan yang ada di ayunan itu. Ia pun meminta Xin Ru agar tidak mengikutinya. Zhi Qiang melanjutkan langkahnya mendekati Shuwan yang sedang berayun.


“Apa karena pemberontakan membuatmu gusar, Shuwan?” ucap Zhi Qiang yang tiba-tiba menegur Shuwan.


Rupanya Shuwan melamun, ia tidak mendengarkan suara Zhi Qiang.


Zhi Qiang masih menunggu. Namun, karena tak mendapatkan respon, Zhi Qiang berdiri di depan ayunan Shuwan. 


Tentu saja Shuwan kaget. Ia tidak bisa menahan ayunannya yang mengarah ke depan dan akan menabrak Zhi Qiang.


Mengetahui itu, Zhi Qiang menarik salah satu tangan Shuwan.


BRUKK!


Keduanya terjatuh. Shuwan menimpa tubuh Zhi Qiang.


“Ugh!” Shuwan segera membenarkan posisinya seperti posisi push up. Ia kaget karena Zhi Qiang ternyata menjadi bantalannya. Mereka berdua pun kembali beradu pandangan.


“Bukankah posisi ini sangat familiar?” goda Zhi Qiang.


Shuwan membuang pandangan dan langsung duduk. “Kenapa kau bisa ada di sini?” kata Shuwan tanpa memandang Zhi Qiang.


Zhi Qiang kemudian bangkit, dan duduk. Ia lantas memandangi wajah Shuwan dalam kegelapan. 


“Kau bergurau? Ini istanaku, tentu saja aku akan berada di sini,” jawab Zhi Qiang.


Shuwan mendengus kesal. Benar juga yang dikatakannya. “Kalau begitu aku pergi saja!” Shuwan bangkit dan akan melangkah. Tapi ia gagal, karena Zhi Qiang menarik tangan Shuwan dan membuatnya jatuh kembali dalam pelukannya.


“K-kau! Dasar mesum! Lepaskan!” teriak Shuwan.


Zhi Qiang tidak bergeming. Ia justru semakin kuat memeluk Shuwan. “Kau adalah istriku, itu adalah hal yang wajar bukan?”


“Itu hanya sandiwara, bagaimana mungkin kau melakukannya sungguhan!” Shuwan mulai merasa kesal. Ia benar-benar ingin melepas pelukan itu, tapi tak kuasa melawan tenaga Zhi Qiang yang lebih besar darinya.


“Jika aku tidak ingin semua itu hanya sandiwara bagaimana?” Zhi Qiang tidak habis-habisnya menggoda Shuwan.


“Itu hanya akan menjadi anganmu saja! Jangankan Zhang, kau juga tidak akan bisa memiliki diriku. Begitu aku selesai membantu menghabisi pemberontak itu, aku akan segera menghilang dari dunia ini! Hahaha!” Shuwan tertawa dengan kerasnya, namun selanjutnya ia menangis tersedu-sedu.


Shuwan yang meracau begitu saja membuat Zhi Qiang terkejut. “M-menghilang? Kenapa kau harus menghilang Shuwan?” tanya Zhi Qiang seakan tak percaya.


“Heh... Aku tak perlu memberitahumu!”


Shuwan kembali dengan sikap dingin dan angkuhnya. Ia yang tak bisa melepaskan pelukan Zhi Qiang pun mencari cara. Digigitnya pundak Zhi Qiang dengan kuat.


Wajah Zhi Qiang tampak meringis kesakitan. Tapi ia masih tak mengendurkan pelukannya. “Gigitlah aku sekuat mungkin Shuwan. Aku tidak akan merasa keberatan.”


Shuwan sadar kalau gigitannya sudah membuat pundak Zhi Qiang berdarah. Ia kemudian melepaskan gigitannya. Dan tenggelam ke dalam dada bidang Zhi Qiang.


Cairan hangat yang bermuara di netra Shuwan pun meleleh. Menembus dan menyentuh kulit dada Zhi Qiang. Zhi Qiang bisa merasakan panasnya air mata Shuwan.


Sebegitu sedihnya kah dirimu?

__ADS_1


Sementara itu, Zhi Qiang sama sekali tidak berencana untuk melepaskannya.


__ADS_2