1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Egosentrisme


__ADS_3

Suara langkah kuda masih terdengar dalam riuhnya belantara. Mereka adalah kelompok Mawar Hitam yang sedang mengejar buronan mereka, Yu Hao.


“Kita tidak akan melepaskan mereka,” ucap salah seorang di antara mereka.


Yang lainnya menanggapi, “Benar. Meski pun jarak kita cukup jauh kita pasti bisa mengejar mereka dan menghabisinya!”


Kecepatan kuda pun mereka tambah agar bisa mengejar target yang ingin mereka tangkap.


***


Shuwan, dan ketiga temannya sedang mencoba alternatif lain agar tidak terkejar oleh kelompok yang memburu mereka itu.


“Apakah kita akan terus kejar mengejar seperti ini? Aku takut kalau orang-orang itu akan segera sampai disini dan mendapatkan kita,” kata Shuwan.


Yu Hao pun menanggapi pertanyaan Shuwan, “Jalan lain ada di dekat sini. Hanya saja kawasan itu tidak bisa dilewati dengan kuda. Jika ingin melewatinya kita harus berjalan kaki.”


“Tapi bukankah jalan kaki akan memakan waktu yang lama?” Tanya Zhang.


“Kau benar, Zhang. Hanya saja untuk saat ini aku rasa jalan yang terbaik. Apakah kau tidak menyadarinya kalau kuda yang kita tunggangi ini meninggalkan jejak yang dapat mereka lacak?” Terang Yu Hao menjawab pertanyaan Zhang.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan melanjutkan pembicaraan.


Shuwan pun membatin, dalam buku mereka terluka cukup parah setelah menghadapi kelompok Mawar Hitam itu. Apa mengambil jalan lain adalah pilihan terbaik? Kalau begitu bukankah jalan cerita buku itu akan berubah?


Jiao yang sedari tadi hanya menyimak pun mulai bicara, “Aku setuju dengan apa yang dikatakan Yu Hao. Karena jejak yang ditinggalkan kuda ini, cepat atau lambat kita akan terkejar oleh mereka. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya jika kita mencoba jalan lainnya.”


Zhang yang masih ragu terus mengajukan pertanyaan untuk memastikan bahwa pilihan yang mereka ambil adalah pilihan tepat. “Tapi, apakah itu tidak terlalu berisiko? Tujuan kita selanjutnya apakah bisa ditempuh dengan jalan itu?”


“Apa maksudmu adalah sebuah perkampungan yang ada di depan sana?” Yu Hao kembali bertanya pada Zhang.


Perdebatan terus terjadi di antara mereka. Shuwan dan Zhang yang masih ragu dengan pilihan itu, serta Yu Hao dan Jiao yang yakin dengan pilihan itu.


Zhang dan Yu Hao masih saling melemparkan argumen.


Zhang menanggapi pertanyaan Yu Hao, “Benar. Kita bisa mendapatkan bahan makanan untuk persediaan selama perjalanan.”


“Apakah kau tidak berpikir kalau kita melewati perkampungan itu tidak akan membawa kelompok Mawar Hitam itu datang dan membahayakan warga yang ada di sana?”


Pertanyaan Yu Hao seperti menohok Zhang hingga membuatnya terdiam.


Bagaimana ini? Apakah harus mengorbankan mereka terluka, atau memilih jalan lainnya? Jika jalan ceritanya berubah, aku tidak akan mengetahui apa yang kelak akan terjadi. Apakah jalan cerita ini akan tetap berakhir sama? Batin Shuwan terus bertengkar.


Shuwan pun mengajukan pertanyaan, “Tidak bisakah kita membuat suatu rencana untuk melawan mereka saat ini? Bukankah baik menghadapi mereka ataupun terus lari seperti ini kita akan tetap bertemu mereka? Aku tidak yakin mereka adalah kelompok yang akan menyerah begitu saja ketika tidak bisa menangkap kita sekarang.”


Mereka semua terdiam setelah mendengar perkataan Shuwan.

__ADS_1


“Apa yang dikatakan Shuwan juga masuk akal. Jika kita menghindari mereka, mereka pasti akan terus mengejar kita. Mereka tidak akan menyerah begitu saja, karena aku yang diicar oleh mereka adalah kunci yang memegang rahasia mereka.” Setelah mengatakannya, pandangan Yu Hao mengarah ke tempat lain.


Zhang kaget mendengar bahwa Yu Hao adalah kunci rahasia yang dimiliki oleh kelompok Mawar Hitam. Tanpa sadar bibirnya melontarkan pertanyaan beruntun, “Rahasia? Rahasia apa maksudnya? Dan, bagaimana bisa kau yang menjadi kuncinya?”


“Jika aku mengatakannya pada kalian, bukankah sama saja itu tidak lagi menjadi rahasia?” ucap Yu Hao.


Zhang hanya tersenyum sinis, dan berkata, “Aku pikir kamu mempercayai kami, tapi aku rasa kau masih belum bisa melakukannya. Yah, itu adalah hal yang wajar karena kita baru bertemu beberapa waktu yang lalu.”


Yu Hao hanya tertunduk diam dengan pandangan kosong.


“Sudahlah, jangan berdebat lagi. Sekarang yang jadi fokus kita adalah menghadapi orang-orang itu,” kata Shuwan untuk menyudahi perdebatan di antara mereka.


Jiao yang sedari tadi hanya menyimak pun mengajukan pertanyaan secara gamblang,“Kalau begitu, apa rencana yang bisa kita jalankan untuk membuat mereka jera mengejar kita?”


“Yu Hao, apakah di antara orang-orang itu ada yang memiliki kemampuan khusus?” tanya Shuwan.


Yu Hao mengangguk dan berkata, “Namanya adalah Shilin, dia adalah spesialis pedang diantara kami. Kemampuan pedangnya membuatnya dikenal dengan julukan ‘Raja Iblis’. Aku yakin dia juga diturunkan untuk melakukan pengejaran ini.”


“Aku tidak peduli dengan julukan seramnya itu, yang terpenting adalah bagaimana cara untuk mengalahkannya?”


“Aku juga tidak mengetahui itu, Shuwan. Selama latihan dan pergi menjalankan misi dengannya, aku tidak pernah bisa mengalahkannya. Mau seperti apa trik yang aku mainkan, tetap saja aku yang kalah. Sekuat apapun aku menyerangnya, dia tidak terluka sedikitpun oleh seranganku.”


Penjelasan Yu Hao membuat Shuwan berpikir keras. Ia pun kembali bertanya pada Yu Hao, “Apa mungkin dia memiliki kekuatan Perisai Jiwa?”


Yu Hao pun kaget dengan pertanyaan Shuwan, “P-Perisai jiwa? Aku belum pernah mendengarnya.”


“Aku akan mencoba menghadapi orang yang bernama Shilin itu.”


Shuwan pun tiba-tiba mengajukan diri yang membuat mereka bertiga kaget.


Jiao mengatakan, “Tapi Shuwan, itu sangat berbahaya. Jika orang sekuat Yu Hao saja tidak mampu mengalahkannya, apalagi denganmu?”


“Benar kata Jiao. Dia bukanlah orang biasa yang bisa kita hadapi. Salah langkah saja, nyawa kita bisa melayang,” Yu Hao menyela.


“Jiao, Yu Hao, aku tahu kalian khawatir karena mungkin aku terlihat lemah dan lagi aku adalah seorang wanita. Tapi, kalian tidak tahu aku. Mungkin kita berada pada usia yang sama, hanya saja aku sudah hidup melewati banyak pertempuran semacam ini. Kalian tidak akan mengerti apa saja yang sudah aku hadapi. Untuk itu, aku mohon agar kalian bisa percaya padaku,” ucap Shuwan meyakinkan teman-temannya.


Zhang yang terdiam dengan keputusan Shuwan pun angkat bicara. “Shuwan...”


Shuwan kembali memandang Zhang yang memanggil namanya.


“Haruskah kau melakukannya sampai seperti ini? Aku tahu kau bukanlah orang biasa, tapi tidak bisakah kau memikirkan perasaan orang yang memikirkanmu saat ini?” ucap Zhang melanjutkan perkataannya.


Shuwan pun membatin. Apa dia sedang mengkhawatirkanku? Tapi kenapa? Kita baru saja bertemu dan bersama melakukan perjalanan ini. Tidak mungkin ‘kan kalau dia...


“Jika kau hanya mengandalkan perasaanmu saja, bukankah itu artinya sebuah keegoisan? Aku tidak bisa membiarkan kalian terluka. Jadi, biarkan aku saja yang akan menanggung rasa sakit itu. Lagi pula, aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini," jawab Shuwan.

__ADS_1


“Ketika kita membicarakan masalah seperti ini, kau selalu saja mengatakannya dengan keegoisan. Lalu, apa bedanya dengan yang kau lakukan saat ini?”


Jiao dan Yu Hao hanya terdiam melihat pertengkaran antara Shuwan dan Zhang.


“Kau benar, akulah yang egois. Selalu ada alasan di balik semua keegoisan yang aku lakukakan. Dengan kalian tetap aman dan tidak terluka, itu akan membuatku merasa tetap baik-baik saja. Jadi aku mohon, jangan halangi aku. Itu semua demi kebaikan kita bersama.”


Shuwan hanya menatap Zhang dengan dingin. Ia tidak berekspresi sedikit pun.


Zhang masih mencoba berdebat dengan Shuwan. “Kebaikan katamu? Kebaikan apa yang harus sampai mengorbankan dirimu sendiri demi orang lain?”


“Jika tidak mengorbankan, maka kita yang akan dikorbankan. Aku rasa sebagai kaum terpelajar kau paham maksudnya.”


Zhang masih terdiam mendengar perkataan Shuwan.


“Aku tidak bisa melihat orang-orang yang ada di sekitarku terluka lebih banyak. Untuk itu, aku yang akan tetap menjadi tameng untuk mereka. Dan untuk alasan itulah, aku ada di sini bersama kalian.”


Jiao, Zhang, dan Yu Hao kaget mendengar pernyataan Shuwan. Zhang pun hanya tertunduk, seperti ada perasaan sedih yang menghantuinya setelah mendengar perkataan Shuwan.


Ia pun berjalan melewati Shuwan tanpa berbicara sepatah kata pun dan duduk dibawah pohon menyandarkan punggungnya. Ia membuang muka pada Shuwan karena marah.


Jiao kemudian mendekati Shuwan, “Shuwan haruskah kita seperti ini? Dengan terus menjadikanmu tameng?”


“Sekalipun tidak menginginkannya, tapi aku harus melakukannya, Jiao. Takdir yang aku miliki memang seperti ini. Mau aku berusaha seperti apa pun tidak bisa mengelak dari takdir itu.”


Setidaknya sampai aku menyelesaikan misi ini dan terlepas dari kutukan itu. Batin Shuwan.


“K-kalau begitu, apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?” tanya Jiao.


“Kalian bisa membantuku dengan mengalihkan perhatian orang-orang lainnya. Dengan begitu aku bisa fokus menghadapi orang bernama Shilin itu.”


Jiao mengangguk tanda mengerti. Shuwan kembali menyambung perkataannya, “Yu Hao, kamu pasti mengertikan bagaimana mengalahkan orang lainnya?”


“Ya.. Aku tahu, mereka berada pada level yang berada di bawahku,” ucap Yu Hao.


“Kalau begitu aku serahkan mereka pada kalian.”


Jiao dan Yu Hao mengangguk tanda setuju. Sementara Zhang masih menyendiri karena marah pada keegoisan Shuwan. Jadi ia memisahkan diri dan duduk berteduh di bawah pohon.


Shuwan mengalihkan pandangan padanya dan membatin, Zhang, maaf aku tidak bisa menurutimu. Aku hanya ingin kamu dan yang lainnya tetap selamat.


“Jiao, Yu Hao, bisakah kalian tetap bersama Zhang? Aku khawatir dia akan terus seperti itu. Apa lagi kondisi tubuhnya juga sedang tidak baik.


“Baiklah, kami akan tetap bersamanya dan menghadapi orang-orang yang dibawa Shilin,” kata Yu Hao pada Shuwan.


Akhirnya Jiao, Yu Hao, dan Zhang menunggu di bawah pohon. Ada ilalang yang secara tidak langsung menghalangi mereka agar tidak terlihat oleh musuh.

__ADS_1


Sedangkan Shuwan berada di atas pohon sendirian berseberangan dengan mereka bertiga untuk mengawasi dan menunggu kedatangan kelompok Mawar Hitam yang mengejar mereka.


__ADS_2