
Shuwan dan Jiao sampai di tempat penitipan kuda. Jiao pun langsung menaikinya begitu membayar biaya jaga.
Sejenak ia memperhatikan Shuwan. Tampak ada sesuatu yang kurang darinya. “Hm... Shuwan, di mana tusuk rambut kupu-kupumu?”
Shuwan langsung meraba-raba rambutnya. Ia baru sadar kalau rambutnya tergerai begitu saja dan kehilangan tusuk rambut itu. Pasti terjatuh saat ditolong oleh pustakawan itu.
Shuwan lalu menanggapi pertanyaan Jiao, “Sepertinya hilang saat tadi aku mencarimu,” katanya.
“Tapi, apakah kau tidak keberatan kehilangan barang pemberian itu? Kalau diperhatikan, tusuk rambut itu bukanlah yang murahan, seperti yang dijual di pasar-pasar.”
Shuwan mengalihkan pandangannya ke sisi lain. “Entahlah, Jiao. Aku tidak terlalu memperhatikan. Jika memang berjodoh, aku yakin tusuk rambut itu akan kembali padaku,” imbuh Shuwan. Tidak kembali juga tidak apa sih sebenarnya. Tapi, kenapa aku mengucapkan hal seperti ini?
“Kalau begitu, sebaiknya kita segera pergi. Aku takut kita akan terlalu malam sampai ke rumah.”
Shuwan pun mengiyakan, dan langsung naik ke kuda.
“Hyaa!” Jiao langsung memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Mengejar waktu yang kini sudah hampir sore.
***
Malam telah tiba. Putra Mahkota Negeri Awan masih duduk di meja belajarnya. Mengurusi berkas-berkas penting yang memerlukan bantuannya.
“Hufft... Kapan ini akan selesai? Setiap hari harus mengurusi berkas-berkas yang begitu tebal,” pria muda itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Netranya memandang lurus atap kamarnya. Pikirannya pun mengawang.
Sesekali ia kembali memfokuskan pandangannya ke meja belajar yang kini lebih tampak seperti meja kerja. Di atas meja itu pula, tusuk rambut kupu-kupu milik Shuwan diletakkan dengan apiknya.
Ia lalu mengambilnya. Dipandanginya lekat-lekat tusuk rambut indah berwarna perak itu. Senyum simpul pun terlukis di wajahnya.
“Kenapa aku masih memikirkan nona itu?” gumamnya. Ia masih terngiang-ngiang rupa Shuwan, dan ketika memakai tusuk rambut perak yang kontras dengan rambutnya yang hitam pekat nan panjang.
Setelah puas memandangi tusuk rambut itu, ia meletakkannya kembali di meja. Disingkirkannya berkas-berkas tebal yang banyak itu dari pandangannya.
Ia lalu berjalan ke arah rak buku yang ada di kamarnya. Diambilnya sebuah gulungan kertas dan beberapa cat warna. Ia kembali duduk ke tempatnya semula, dan melukis dengan luwesnya.
Lukisan yang hampir jadi itu membentuk sebuah figur seorang wanita. Seorang wanita yang kini telah menyita perhatiannya.
Dilukisnya sosok itu, yang mengenakan pakaian berwarna merah muda, rambut hitam panjang yang dihiasi tusuk rambut kupu-kupu, dan juga ukiran senyum lembutnya.
Terekam jelas bagaimana sosok itu mampu membuatnya terpana pada pandangan pertama. Putra mahkota pun melukis dan mewarnainya dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan.
Setelah memakan beberapa waktu lamanya, ia selesai melukisnya. Diletakkannya kembali kuas itu ke alasnya. Senyum simpulnya mengembang dengan indah di sana.
“Shuwan... Bisa-bisanya kau memenuhi pikiranku sekarang? Aku pasti akan segera menemukanmu,” gumamnya.
Tidak berapa lama, tiba-tiba saja lamunannya dipecahkan oleh kedatangan sang Raja ke kamarnya. Pria muda itu lantas memberikan penghormatan kepadanya.
“Salam Yang Mulia.”
Raja pun menepuk kedua bahu putranya. Dengan lembut, ia pun berkata, “ Qiang’er, saat kita bertemu secara pribadi seperti ini, panggil aku ayahanda.”
“Baik, Ayah.” Putra mahkota kembali menegakkan tubuhnya. Dengan sopan ia pun bertanya pada ayahnya. “Apa gerangan yang membuat ayahanda datang berkunjung ke kediamanku?”
Diliriknya meja belajar putra mahkota. Seketika sang raja pun tampak tertarik dengan lukisan yang ada di sana. “Siapa wanita dalam lukisan ini?” tanya raja seraya mengambil lukisan itu.
“Em... Dia...”
Raja pun tertawa. “Aku mengerti. Kau rupanya sudah dewasa ya? Apakah dia adalah wanita yang kau taksir?” Kata raja dengan pandangan yang kini menatap putranya.
Putra mahkota tampak salah tingkah mendengar ucapan raja. Ia lalu memberanikan diri untuk mengatakannya.
“Sebenarnya, dia adalah gadis yang kutemui tadi di pasar. Aku tidak sengaja menyelematkannya dari kuda yang melaju kebut di jalanan.”
__ADS_1
“Jadi, apakah kau sudah jatuh cinta padanya?”
“Aku tidak tahu. Apakah itu jatuh cinta, atau hanya sebatas rasa penasaranku saja.”
Gulungan lukisan yang ada di tangan raja pun diletakkan kembali ke meja. Ia pandangi lagi putranya. “Kalau begitu, kau ajak saja gadis itu kemari.”
Seketika putra mahkota gelagapan mendengar ucapan ayahnya.
Deg! Kenapa ayah bisa mengatakannya begitu saja? Mati aku!
“Ah... Ayah, itu... Sebenarnya ada masalah dengannya.”
Sang raja lantas mengeryitkan dahinya. Ia bingung dengan putranya. “Masalah? Apa masalahnya?”
Kedua tangan putra mahkota meremas erat-erat ujung pakaiannya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya. “A-aku tidak tahu tempat tinggalnya, hanya tahu panggilannya saja. Jadi, aku belum bisa membawanya ke hadapanmu.”
“Haish....” Raja memijat pangkal hidungnya. Ia senang karena akhirnya putra kesayangannya itu menemukan gadis yang menarik hatinya. Tapi di sisi lain, ia juga bingung karena putranya menyukai seorang gadis tanpa tahu di mana tinggalnya.
Sang raja kemudian menghela napas, dan melepaskan pijitan di pangkal hidungnya. “Begini saja, kau cari tahu dahulu di mana wanita itu tinggal, nanti bawa menghadapku,” imbuhnya.
“Kenapa ayah sangat ingin bertemu dengannya?” tanya putra mahkota penasaran.
“Aku hanya penasaran, wanita seperti apa yang telah membuat pikiran putraku dipenuhi olehnya.”
Putra mahkota tertawa kecil mendengar omongan nyeleneh dari ayahnya yang selama ini selalu terlihat serius dan berwibawa.
“Baiklah, karena hari sudah malam, aku akan kembali ke kamarku.”
“Hanya itukah yang ingin kau sampaikan padaku, Ayah?” Putra mahkota mencoba memastikan.
“Sebenarnya ada hal lain yang ingin ku katakan padamu.”
“Jangan suka kabur dari istana. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padamu? Kau sudah sering melakukannya bukan?”
Putra mahkota mengedarkan netranya, menyusuri langit-langit kamarnya. Berharap bahwa sang ayah segera berhenti menceramahinya.
“Tadinya aku ingin marah. Tapi setelah melihatmu membawa kabar baik, aku tidak jadi melakukannya.”
Syukurlah. Putra mahkota mengelus dadanya.
“Tapi ingat! Segera bawa wanita itu kehadapanku, atau kau akan kunikahkan langsung dengan wanita lainnya.”
“B-baik ayah,” kata putra mahkota tergagap.
“Kalau begitu aku pergi dahulu.” Raja pun pergi meninggalkan kamar putra mahkota. Meninggalkan putra mahkota yang perasaannya menjadi kurang baik setelah membicarakan pernikahan.
Putra mahkota lalu terduduk kembali di meja belajaranya. “Aku bisa memilih pendampingku sendiri, Ayah. Kau tidak perlu mencarikannya untukku. Apalagi menjodohkanku dengan anak para pejabat yang hanya mementingkan urusannya sendiri itu. Hah... Andai saja aku terlahir dari rakyat biasa, aku pasti lebih bahagia dan hidup leluasa.”
Tampak wajah putra mahkota berubah sedih karena memikirkan kepentingan kerajaannya kelak.
Setelah melamun beberapa waktu, ia pun memberikan perintah kepada pengawal bayangannya.
“Xin Ru...” panggil putra mahkota.
Secepat kilat pengawal bayangan kepercayaannya pun muncul di hadapannya.
“Berikan perintahmu, Yang Mulia,” jawabnya dengan santai namun tegas.
“Aku ingin kau mencari tahu keberadaan seorang wanita yang bernama ‘Shuwan’, sekaligus pemilik tusuk rambut ini.” Kata putra mahkota seraya menunjukkan tusuk rambut kupu-kupu yang ada di hadapannya.
“Apakah aku tidak salah dengar? Yang Mulia memintaku mencari seorang wanita?”
__ADS_1
“Ya... Kau tidak salah dengar. Aku serius mengenai hal ini. Ayah ingin bertemu dengannya. Jadi, aku harus mencari tahu tentangnya, dan membawanya kemari.”
“Akhirnya kau sudah menetapkan pilihan, dan tidak akan menjadi pujangga yang melajang seumur hidupnya,” Xin Ru pun terkekeh.
“Aku hanya berusaha menghindari pernikahan politik. Selain itu juga, wanita itu berhasil merebut perhatianku,” imbuh putra mahkota. Netranya lalu tertuju pada lukisan yang baru ia buat. “Ah... Aku rasa kau memerlukan ini.” Putra mahkota kemudian menyerahkan lukisannya pada Xin Ru.
Xin Ru kemudian melihat lukisan itu. Ia hanya membatin. Pantas saja Yang Mulia penasaran, wanita ini terlihat anggun dan cantik. Kelihatannya dia juga bukan orang sembarangan.
“Itu adalah orang yang harus kau selidiki. Akan kuberikan waktu maksimal 2 hari untuk menemukan keberadaannya,” kata putra mahkota seraya memainkan kukunya.
“D-dua hari? Tidakkah itu terlalu cepat? Negeri Awan cukup luas jika mencarinya hanya dalam waktu singkat,” protes Xin Ru.
“Aku tahu kau bisa diandalkan. Dan, aku yakin kau akan menemukannya segera.”
Orang ini... Bisa tidak sih memberikan perintah yang agak santai? Bicaranya selalu saja semaunya.
Xin Ru membuang napasnya. “Akan aku usahakan. Kalau begitu aku keluar dahulu.” Xin Ru memberikan penghormatan.
Saat Xin Ru hendak pergi keluar dari kamar, tiba-tiba saja putra mahkota menghentikannya.
“Tunggu!” pekiknya.
Xin Ru pun menoleh. “Apa lagi yang harus aku kerjakan?” imbuhnya.
“Jika kau berhasil menemukan wanita itu, lalu ketahuan, maka jangan beritahu bahwa putra mahkota mencarinya. Katakan saja penjaga perpustakaan istana membutuhkan bantuannya.”
Hah? Dia ini memang aneh-aneh saja permintaannya. “Um... Baiklah. Apakah ada lagi?” Xin Ru memastikan.
“Tidak. Aku rasa cukup. Kau boleh mulai menjalankan tugasmu.”
Xin Ru pun memberi hormat lagi, dan kali ini berhasil pergi dari kamar putra mahkota tanpa hambatan.
Xin Ru merupakan pengawal bayangan putra mahkota saat ini, Li Zhi Qiang. Selain itu, Xin Ru adalah sahabat masa kecil putra mahkota. Sehingga tidak heran jika dirinya menjadi tangan kanan putra mahkota. Yah, meskipun kadang tugas yang diberikan putra mahkota termasuk aneh dan nyeleneh. Tapi Xin Ru berhasil menyelesaikannya sesuai harapan. Dia adalah pengawal terbaik yang dimiliki putra mahkota.
***
Hunian khusus diplomat Istana Negeri Awan.
Zhang merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Kedua tangannya dilipatkan ke belakang kepala menjadi bantalan. Pandangannya mengawang bebas ke arah langit-langit kamar. Ada perasaan rindu yang membuncah di hatinya. Teringat, bagaimana keadaan wanita yang telah menawan hatinya itu.
Shuwan... Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Baru 2 hari berpisah denganmu, tapi aku sudah merasa begitu rindu. Aku harap, waktu bisa cepat berlalu. Agar aku, bisa kembali bertemu denganmu.
Begitulah isi lamunan Zhang. Hati dan juga pikirannya dipenuhi oleh Shuwan. Sementara itu, Yu Hao di seberangnya pun sedang membaca secarik kertas, yang tak lain dan tak bukan adalah surat dari sang raja.
“Zhang, besok Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan kita. Aku rasa, dia ingin menagih janjimu,” kata Yu Hao setelah membaca isi surat.
Zhang pun tersadar dari lamunannya, dan merespon perkataan temannya itu. “Kalau ingin bertemu maka bertemulah. Lagi pula, hal itu memang sudah aku janjikan.”
Yu Hao mengangguk pelan. Dilipatnya lagi surat itu dan diletakkan di atas meja yang berada di antara ranjangnya dan juga Zhang.
Setelah meletakkannya, tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang terngian di kepalanya.
“Zhang, apa kau berencana menikahi Shuwan?” tanya Yu Hao sedikit serius.
Zhang yang sedari tadi tenang mendadak kaget mendengar pertanyaan temannya. Tanpa mengubah posisi dan pandangannya ke langit-langit kamar, ia pun menjawabnya. “Kau benar. Saat aku sembuh, aku akan melakukannya.”
Yu Hao kembali mengangguk pelan. “Yah, sebagai temanmu aku hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu. Semoga semuanya berjalan lancar.”
Zhang tersenyum, ia lalu memandang Yu Hao yang masih duduk di tepi ranjang. “Terima kasih,” dua kata yang sederhana terlontar dari mulut Zhang untuk doa dan harapan dari temannya itu.
Yu Hao membalasnya dengan senyuman. Ia kemudian merebahkan tubuhnya juga, dan mulai terlelap.
__ADS_1